
" Karena itu berbahaya, ******* seperti itu pasti hanya memanfaatkan ketampanannya saja untuk merayu mu, lalu mereka akan melukai mu, atau~"
" Wah... Bijaksana sekali... Jadi, kakak sedang mencoba untuk memberi tau ku betapa berbahayanya aku berteman dengan mu ya?" Ucapnya memotong kata- kata ku dengan menaikan sebelah alisnya. Tersenyum dengan sedikit semburat kemenangan.
" Tidak begitu, kau sal~"
" Ini," dia mengangkat tangan kami yang saling bertautan.
Dia benar- benar telah membuat ku terpojok.
" Tampan, suka merayu, menggandeng tangan~"
" Tunggu- tunggu, tapi aku tidak akan pernah melukai mu," jawab ku sekenanya.
" Memangnya aku akan percaya pada mu?"
" Harus, karena kau adalah mate ku, hem... Bagaimana?" Jawab ku enteng.
" Aku buaknlah mate mu kak... Itu, sungguh kuno jika kau memercayai hal seperti itu. Pertanyaannya, kenapa kakak selalu menganggap ku adalah orang yang sangat dekat dengan mu sebelumnya? Padahal aku benar- benar merasa tidak pernah mengenal mu lebih baik dari ini,"
" Hufff..." Aku hanya bisa menghembuskan nafas berat. Kenapa rasanya sangat sakit ya?... Tidak di anggap oleh mate mu sama sekali, padahal kita adalah sebuah ikatan yang sah...
" Boleh aku bertanya? Banyak sekali kejadian- kejadian di luar logika di sekitar ku akhir- akhir ini," Timpalnya.
" Sejak kapan?" Tanya ku.
" Sejak aku meniup lilin bertuliskan angka satu dan angka delapan, beberapa minggu yang lalu... Satu hari sebelum kita bertemu waktu itu,"
AUTHOR
Seorang berpakaian kuning ke emasan dengan perpaduan warna putih mengkilat mengepakkan sayap senadanya untuk menukik turun pada sebuah kawasan terkutuk Negri Bawah.
Tempat legenda pertumpahan darah 450 tahun yang lalu itu terjadi.
Typherus.
Sebuah kerajaan bagian Havricaslia yang di kelilingi perhutanan besar dengan sumber daya yang selalu di akui oleh banyak orang.
Sekarang, hanya tinggal sebuah cerita, atau bahkan dongeng mendebarkan pengantar tidur anak- anak. Kejadian itu benar- benar nyata, tapi juga telah di rahasiakan kepada warga sipil, juga orang- orang yang sebelumnya memang tidak pernah terlibat.
Yang tau biar tau, itu pun jika ingatan mereka belum rusak, dan yang tidak, maka sebaiknya tak mengetahuinya sama sekali. Itu adalah keputusan mereka bersama beratus- ratus tahun yang lalu. Para Lord seluruh Klan setiap dunia, serta para Knight dan Dewa, dan juga, perjanjian mereka dengan sang Queen.
Seperti sumpah sang Queen untuk memberi pelajaran bagi Typherus dan semua orang. Sekarang, bahkan Typherus tak lebih hebat dari tempat sampah. Hanya persinggahan bagi mereka- mereka yang keji berdarah gelap dan tak termaafkan, mereka semua yang terbuang, dan yang tidak di inginkan oleh dunia.
Sisanya, adalah erangan jiwa- jiwa yang tersegel 450 tahun yang lalu, dan puing- puing Typherus yang berserakan hampir rata dengan tanah.
Lelaki yang di tangan kanannya membawa sebuah senjata berbentuk seperti petir yang memanjang gagah itu terus melangkah memasuki kawasan hutan lebih dalam. Seorang diri.
Berjalan menuju pusat kota mati yang dulunya terkenal sangat makmur. Tepat di mana bangunan besar dengan satu tiang batu di atas simbol bintang enam sudut Shoecha itu berada.
Tempat jiwa kegelapan dan ambisi abadinya di segel pada dimensi terbawah seluruh dunia.
Banyak burung- burung karnivor berwarna hitam dengan banyak jenis marga mengeluarkan suara- suara mengerikan mereka beterbangan menjauh dari pusat kota.
Nuansa Typherus yang kelam seketika berasa bertambah pekat dengan munculnya aura kekuatan besar yang mendobrak portal antar dunia.
" Astaga! Apa ini???? Apa jangan- jangan..."
Pria tegap itu mengepakkan sayapnya rendah. Mengikuti di mana aura itu bersumber. Dia di buat terkejut akan sesuatu.
🌀🌀🌀
Dua orang remaja terlihat berjalan beriringan di bawah langit dengan awan jingga yang menggantung indah. Mengobrol satu sama lain tanpa tau seseorang tengah mengintai waktu ke duanya lengah.
" Beraninya!" Beo nya, membuat gadis cantik yang berada di sisinya saat itu menatapnya dengan tatapan menelisik kebingungan.
" Dia memiliki aura seorang bangsawan yang menguar dari tubuhnya. Aku tidak tau dia, dan tidak mengenal siapa dia, juga, berasal dari Klan sebelah mana. Tapi sepertinya, dia juga telah menyadari keberadaan dan status ku," gumam sosok itu seorang diri.
...
...
...
" Karena itu berbahaya, ******* seperti itu pasti hanya memanfaatkan ketampanannya saja untuk merayu mu, lalu mereka akan melukai mu, atau~"
" Wah... Bijaksana sekali... Jadi, kakak sedang mencoba untuk memberi tau ku betapa berbahayanya aku berteman dengan mu ya?" Ucapnya memotong kata- kata si lelaki dengan menaikan sebelah alisnya. Tersenyum dengan sedikit semburat kemenangan.
" Ah, kau... Rupanya diri mu sangat lucu saat sedang merasa takut untuk kehilangan..."
Katanya, tepat saat itu tiba.
Saat ia bisa melesat dengan gerakan lincah. Kelelawar yang memiliki kepiawaian bersembunyi di balik gerak angin.
Tujuannya adalah tengkuk jenjang gadis itu. Sang Queen...
Angin yang ia ciptakan terasa begitu kencang. Membuat perempuan itu limpung karena tidak mampu menahan keseimbangan berat tubuhnya. Dia, terjatuh, hampir terantuk sebuah pohon yang sebagian dedaunannya tengah menguning dan gugur ke bawah.
" Kita harus segera pulang," Pinta Alberta khawatir.
" Aku tidak selemah yang kau kira kak, aku hanya hampir terjatuh saja tadi..." sangkalnya.
Alberta meraih tangan Variella sebelum tubunya tadi benar- benar menyapa tanah, memosisikan mate nya dalam dekapan hangat yang dia bisa. Alberta dapat dengan jelas mendengar betapa jantung kekasihnya itu bisa berdebar begitu kencang.
Sedangkan kelelawar aneh itu, dia telah sempurna mendapatkan apa yang ia mau. Sebuah goresan dan sesapan kecil gigi runcingnya tepat mengenai tengkuk Variella.
Dia melakukannya dengan sangat cepat sebelum kembali terbang sembarangan untuk bertengger di rerantingan pohon. Semua terlihat baik- baik saja, seperti benar- benar tidak pernah terjadi apa pun, kecuali, angin yang begitu keras menyapa ke duanya
" Bodoh!..." Kata sosok itu dalam hatinya jika dia masih memiliki hati.
Seorang lain telah menyadarinya sejak pertama ia datang ke sekolah itu dan mengintai. Laki- laki yang ada di sebelah Queen...
Harusnya, dia bukanlah orang biasa- biasa saja...
Setelah beberapa lama dan merasa puas, sosok itu ikut berlalu, pergi.
Melesat mencapai portal antar dunia, terus mengarungi langit ke arah barat daya, menuju sebuah Negri yang amat disiplin yang di prakarsai oleh angkatan lautnya yang sangat di segani, Kerajaan Sykralipe.
Dia menerobos masuk dengan ringan ke sebuah ruangan lewat ventilasi udara. Lalu merubah wujudnya menjadi seorang laki- laki gagah yang banyak di puja.
Laki- laki itu memuntahkan isi mulutnya ke dalam sebuah cawan yang di buat dari emas kegelapan yang dia ambil dari Typherus. Tidak banyak memang...
Tapi sudah sangat lebih dari cukup. Lalu dia memindahkannya ke dalam sebuah botol kaca kecil, menyimpannya.
" Apa tadi itu, termasuk ciuman secara tidak langsung," timpalnya mengusap mulut.
" Memuaskan,"
Hingga beberapa jam setelah itu, di sinilah dia.
Typherus.
Tepat di hadapan segel Jiwa Kegelapan. Bersama Lord nya, dan seorang Wizard aliran hitam, yang terusir dari Klannya karena sebuah penghianatan.