Shoecha

Shoecha
Ch 32- Tidak Berdaya



VARIELLA


Dia menginginkan ku, aku masih mengingatnya. Orang itu, dia adalah orang yang sama dengan laki- laki yang waktu itu pernah menyerang ku dan Zere sepulang sekolah.


Sebenarnya, sepenting apakah aku untuk mereka? Kenapa mereka benar- benar mengejar ku dengan berbagai macam cara seperti ini. Kemampuan- kemampuan aneh yang mereka miliki itu...


Tubuh ku benar- benar terasa ringan, lebih tepatnya, terlalu sakit untuk dapat ku rasakan. Setiap centi kulit ku, bahkan tulang- tulang ku yang terasa hampir patah, dan organ- organ ku yang seperti di cabuti satu per satu dari tempatnya. Perasaan apa ini?


Falisya memapah ku, dia masih tetap kekeh melindungi ku meski aku bilang tidak papa jika aku bersama dengan orang itu. Apa benar orang yang terlihat berwibawa sepertinya akan sembarangan membunuh seseorang? Pasti tidak akan kan?


Saat mata ku semakin berat untuk terbuka, suara ledakan terdengar sangat kencang di dekat kami. Mungkin seperti suara bom dinamit, itu cukup memekakan telinga.


" Kalian terlalu berani membuat keributan di siang bolong," itu suara Zere, aku mengenalinya. Dia tidak sendiri, ada bayangan seseorang yang datang bersamanya, tapi aku tidak tau siapa perempuan yang ada di sebelahnya itu, wajahnya terlihat kabur di mata ku.


Aku tidak tau apa yang terjadi dengan hidup ku, seakan- akan itu semua berjalan semakin jauh menuju kekacauan. Bahkan, Falisya, benar kata Zere, dia juga bukan manusia. Tapi apa dia mendekati ku juga karena menginginkan ku?


Saat aku sibuk dengan fikiran ku sendiri, tiba- tiba saja Falisya menggendong ku, aku bisa merasakan dia sedang membawa ku berlari dengan sangat cepat. Dia jelas berlari, tapi tekanan udara di sekitar kami begitu kuat, ini tidak seperti dia tengah berlari di atas tanah. Lebih tepatnya, mungkin berlari di udara, tapi aku tidak bisa memastikannya.


" Cecunguk! Berani sekali mengikuti ku!" Terka Falisya ketika mendapati beberapa orang berjubah hitam dengan aura membunuh yang sangat pekat tadi mungkin masih saja mengejar kami.


Falisya terus menambah kecepatan berlarinya, mungkin dia tidak ingin menyerang karena ada aku yang membuatnya sulit untuk bergerak.


Saat itu aku masih bisa merasakan sekitar ku, hanya saja ke dua kelopak mata ku terlalu berat untuk di buka.


" Siapa sebenarnya diri mu, El? Kenapa kau tidak pernah memberi tahu ku?" Tanyanya, sulit bagi ku untuk membuka mulut.


Falisya, andai kau tau, ada banyak hal yang juga ingin ku tanyakan kepada mu. Bahkan, mungkin tentang diri ku sendiri. Aku tidak tau siapa aku sebenarnya. Aku tidak pernah memiliki niat untuk menyembunyikan sesuatu dari mu, percayalah.


Kau pernah berkata pada ku, kalau kekuatan dalam diri ku lahir, adalah untuk melindungi orang- orang yang sangat ku sayangi nantinya. Iya, aku sudah menerimanya sejak saat itu.


" Aku tau kau orang baik, aku percaya, dan akan selalu mempercayai mu," gumam Falisya menambah lagi kecepatan berlarinya berkali- kali lipat.


Orang- orang berjubah hitam itu memang sangat tangkas dan tidak punya lelah. Entah sudah berapa lama Falisya berlari sambil menggendong ku.


Di tengah- tengah Falisya berlari, aku dapat mencium bau tanah dan kayu basah yang menyengat. Di mana ini sebenarnya.


" Hup!!" Aku sudah tidak merasa melayang- layang dan terguncang, Falisya sudah menghentikan larinya, menurunkan ku di suatu tempat, mungkin menyandarkan ku di sebuah pohon yang besar.


Dia meneteskan sesuatu di atas lengan ku, sangat kental.


" El, aku harus pergi dulu, aku tidak bisa terus membawa mu melawan mereka, kekuatan ku sudah terkuras habis akibat Jurus Penyerap Jiwa tadi. Bersama ku hanya akan membuat mu semakin berada di dalam bahaya. Aku sudah meneteskan darah ku pada tubuh mu, itu akan membimbing Zere dan Anasita menyelamatkan mu nanti, aku harus pergi, aku menyayangi mu," Dia berbisik di dekat ku. Lalu menggenggam tangan ku cukup lama.


Jadi perempuan berambut panjang yang tadi bersama Zere adalah Anasita, seingat ku, dia juga seorang Knight.


" Kau harus bertahan sampai mereka datang, kau akan baik- baik saja, percayalah pada ku, aku akan terus berlari untuk mengelabuhi orang- orang itu untuk mu," lanjut Falisya, aku tidak tau apa yang selanjutnya dia lakukan, langkah kakinya semakin menjauh dari ku. Dia pergi.


Falisya, dia pergi seorang diri, aku ingin mencegahnya, tapi aku tidak bisa. Kenapa? Kenapa aku harus menjadi orang lemah yang selalu di lindungi? Kenapa aku tidak bisa menjadi sedikit lebih berguna? Kemana kemampuan aneh ku di saat kritis seprti ini?


Kenapa semua ini harus terjadi pada ku?


Tiba- tiba saja fikiran ku melayang, waktu di mana semua orang menjadikan dirinya perisai untuk keselamatan ku.


Kak Aleta...


.


.


Zere...


.


Anasita...


.


Falisya...


Kapan aku yang akan berada di depan mereka?


Aku menundukan kepala ku, air mata ku merembes tanpa komando.


Terima kasih... Apa pun alasannya kau mau menjadi sahabat ku, yang ku tau, hari ini kau sudah menggadaikan nyawa mu untuk ku. Dan seluruh kebersamaan kita, semua itu bukan sandiwara kan? Aku tak perlu jawaban mu. Aku juga menyayangi mu, Falisya...


" Uh," Tubuh ku terasa sangat sakit, rasa sakitnya terus bertambah setiap detiknya.


" Tak... Tak... Tak..."


Suara langkah kaki, siapa?


Apakah Falisya? Tidak, Falisya tidak mungkin kembali ke sini lagi.


Zere? Anasita? Apa mungkin itu kalian? Tapi kenapa langkah kaki ini terdengar sangat terjaga, tempat ini masih terasa hening, hanya meninggalkan suara hentakan sepatu keras dengan tanah berumput yang sama kerasnya.


Jantung ku berdegup sangat kencang. Bahkan dalam ketidak berdayaan saja nafas ku masih bisa berhembus tak beraturan.


Apa jangan- jangan, orang- orang berjubah hitam itu akhirnya bisa melukai Falisya dan menemukan ku di sini?


Tidak, aku percaya Falisya akan baik- baik saja, aku yakin orang- orang itu tidak akan bisa melukai Falisya.


Orang itu semakin dekat dengan ku. Dia sangat dekat. Dia mengatakan sesuatu yang tidak telalu jelas di telinga ku.


..........


..........


..........


Dia mengelus kening ku. Tangannya sangat dingin, tekanannya membuat bulu kuduk ku berdiri.


Sudahlah, hidup ku sudah di tentukan. Jika memang harus mati, ya mati saja. Tapi jika aku masih bisa hidup, aku berharap aku memang masih bisa hidup setelah ini.


Aku ingin membalas semua orang, aku ingin menjadi yang berguna untuk kalian semua.


" To... Long..." Aku juga tidak percaya kata itu bisa muncul dari mulut ku meski terdengar bergetar.


Hah, tolong?...


Padahal aku sendiri saja tidak tau siapa orang yang sekarang berada di hadapan ku ini.