Shoecha

Shoecha
Ch 36- Luka Pertarungan



Flash back on.


" Huh huh huh..." Zere sudah terengah- engah karena kehabisan banyak tenaga dalam pertempuran. Begitu juga dengan Anasita.


" The Secon Knight Zere, Jurus Pemanggil, the Blue- Striped Snow Wolf Elena!!!" Terka Zere setengah berteriak, menyatukan ke dua tangannya ke depan dada membentuk simbol khusus.


Lalu sesuatu terlihat berlari mendekati Zere dan Anasita melewati portal. Itu adalah Elena, srigala berwarna putih milik Zere yang sudah membesar berkali- kali lipat pada kondisinya yang sebenarnya.


Mereka maju bersama, saling baku hantam antara satu sama lain.


" Hah, lemah!" Cibir Saifar, urusannya adalah dengan Zere, Anasita dan Elena sudah habis- habisan di kepung oleh para Vampir bawahannya.


" Duk!" Seseorang menendang tepat di depan dada Saifar, membuat celah untuk pergerakan mundur Zere.


" Kau?" Tanya Saifar agak ragu.


" Aku Aleta, Yang Mulia Saifar, Mungkin anda lebih mengenal ku sebagai Arguza," jawab Aleta yang saat itu datang karena kebetulan merasakan hawa pertarungan yang cukup besar di sekolah.


" Urusan kita belum selesai, Knight, aku akan kembali lagi, untuk mengambil Queen kalian," kata Saifar memberikan tanda bagi para pengikutnya, lalu melesat pergi entah ke mana dalam sekejap.


" Apa kau baik- baik saja?" Tanya Aleta memapah Zere yang sudah di penuhi dengan banyak luka ke tempat yang lebih datar setelah portal itu hilang dengan sendirinya.


" Aku baik," jawab Zere tersenyum. Elena sibuk menjilati wajah Anasita yang sudah sangat kepayahan.


" Ngghhuuk.."


" Ha ha, aku juga baik, aku bukan orang lemah, kau tidak perlu memasang wajah memelas seperti itu," terka Anasita menenangkan Elena yang terlihat khawatir.


" Kita pergi ke rumah sakit," kata Aleta kepada Zere dan Anasita seperti meminta persetujuan.


" Tapi gadis lemah itu, dia, dia di bawa pergi oleh seorang Rubah Klan Lin," terka Anasita menjawab perintah Aleta. Seperti tidak rela.


" Aku tau, aku akan mencarinya setelah mengantar kalian, dia tidak akan melukai Variella," timpal Aleta merasa khawatir pada Zere dan Anasita.


" Mereka berdua masih dalam pengejaran Vampir bangsa Santania, itu akan sangat berbahaya," kata Zere juga merasa tidak rela harus meninggalkan Queen nya dalam bahaya.


" Elena, bawa mereka berdua masuk ke dalam mobil, aku yang akan mencarinya," kata Aleta tanpa perlu persetujuan. Langsung berlari ke arah barat. Tentunya sebagai seorang Demon dengan setengah jiwa Werewolfnya, dia bisa menemukan titik keberadaan Variella dan Falisya dengan lebih akurat dari siapa pun.


Setelah berlari beberapa lama, Aleta dapat mencium aroma darah Faisya menuju hutan di pinggiran kota, karena hutan itu terlalu rimbun untuk di lalui oleh manusia biasa, dia memutuskan untuk mentransformasikan bentuknya ke dalam wujud seekor Srigala berwarna hitam dengan garis- garis putih. Ada simbol seperti kobaran api di keningnya.


" Sisanya serahkan pada ku," kata bagian Wolf dalam dirinya, Arguza.


" Jangan mengecewakan ku," terka Aleta menimpali, membiarkan sisi Wolf nya mendominasi.


" Auuuu..." Arguza berlari sangat cepat mengikuti aroma darah Falisya, tapi saat sudah lebih masuk ke kedalaman hutan, aroma itu terbagi menjadi dua. Yang satu mengarah ke arah matahari terbenam, dan yang satunya lagi mengarah ke sisi terdalam hutan. Setaunya, sisi terdalam hutan itu adalah salah satu portal menuju Dunia Bawah.


Karena aromanya semakin pekat, akhirnya Arguza memilih sisi terdekat dengan portal antar dunia.


" Suara pertarungan," kata Aleta dari dalam lautan fikiran.


" Persepsi ku lebih baik dari mu," jawab Arguza sinis. Melangkah pergi ke Dunia Bawah, mendekati suara pertarungan yang kemungkinan besar adalah Falisya.


" Duk!! Pengecut, wanita lemah saja kalian hajar hingga hampir mati..." Kata Arguza yang langsung berubah ke dalam wujud manusianya.


" Apa urusan mu? Jangan ikut campur urusan kami!" Gertak salah seorang di antaranya.


" Hah! Kalian mengusik orang ku, tapi kalian juga menyuruh ku untuk tidak ikut campur, apa kalian sudah gila karena ketakutan?" Kata Arguza datar- datar saja.


Seper sekian detik kemudian, Arguza sudah melesat maju memukul mundur pergerakan lawan hingga mereka tidak bisa berkutik sedikit pun.


" Lemah!" Cerca Arguza, dia mengacungkan jempolnya dalam keadaan terbalik ke arah lawannya yang kemudian melesat pergi.


Arguza berjalan ke arah Falisya yang terluka, seragamnya sedikit terkoyak di mana- mana, mungkin karena pertarungan yang tidak imbang, dia melepaskan kemeja hitam yang dia pakai dan mengenakannya pada Falisya. Membiarkan tubuh bagian atasnya telanjang tanpa penutup.


Falisya menatap ke arah Arguza bingung.


Apa yang sedang berada di hadapan ku ini benar adalah Kak Aleta? Tatapannya ketika sedang menghabisi musuhnya sangatlah menakutkan, seperti, bukan dia. Iris keperakan, rambut putih?~ Falisya.


" Di mana Variella?" Tanya Arguza sedikit melembut.


" Aesyel, dia, dia ada di luar portal, lima meter ke arah matahari terbenam, aku sudah memasang portal pelindung untuknya," jawab Falisya.


Aroma bercabang itu, ternyata begitu~ Arguza.


Arguza menggendong Falisya begitu saja, membuat Falisya yang masih di penuhi tatapan bertanya- tanya tidak bisa berkata- kata. Arguza melesat ke arah yang tadi di bilang Falisya dengan bimbingan penciumannya.


Sesampainya di tempat itu, Arguza menurunkan Falisya. Kosong. Tidak ada apa- apa, atau siapa- siapa.


" Tapi kak, tadi El, dia," Falisya terlihat ketakutan, satu karena khawatir, satu karena dia tidak akan bisa menjelaskannya pada Zere nantinya.


Arguza berjalan ke arah depan, melihat bayangan portal yang sudah di buka, lalu mengambil segenggam tanah di bawahnya. Menciumnya lekat- lekat.


" Kak Al?" Tanya Falisya cemas. Arguza membuang tanah itu asal.


" Dia!" Gumamnya.


" Kita pergi!" Kata Arguza kepada Falisya, menggendongnya lagi, melesat kembali ke arah sekolah dengan kecepatan tinggi. Zere dan Anasita sudah tidak ada di tempat dia meninggalkannya tadi, jadi Arguza langsung menuju mobil.


Dan, benar saja, Elena sudah membawa mereka ke dalam mobil.


" Masuklah," kata Arguza membukakan pintu di samping kemudi untuk Falisya. Dengan tatapan bingung Falisya tetap masuk. Lalu Arguza berjalan memutar menuju pintu kemudi di sisi kanan.


Zere dan Anasita duduk bersandingan di jok belakang, dengan Elena yang sudah berada dalam mode kecilnya, masih sibuk menjilati Anasita sedari tadi. Ludah Elena memang bisa sedikit meringankan rasa sakit.


dan mengeringkan luka.


" Bagaimana dengan Variella?" Tanya Zere antusias. Menatap tajam ke arah Falisya yang juga dalam keadaan sangat lemah.


" Aku yang akan mengurusnya," jawab Arguza dingin yang bisa di mengerti oleh Zere. Rambut putih dan iris perak. Itu adalah sisi Wolf Aleta. Dia terdiam.


" Kita kembali dulu ke rumah, kalian semua perlu di obati," kata Arguza langsung menancap gasnya dalam- dalam.