Shoecha

Shoecha
Ch 8- Nervous



ALBERTA


Aku melihatnya keluar dari sport nevi, berbicara pada seseorang di balik kemudi, lalu berjalan menjauh dari parkiran. Di belakangnya, seorang perempuan berjalan berlawanan arah entah mau ke mana.


" Pagi, mine," sapa ku dengan senyum yang benar- benar tulus seratus persen. Dia berhenti,


" Please, i don't your mine, your princess, atau apalah," dan, dia melanjutkan langkahnya kembali. Aku hanya membuntut di belakangnya.


" Okey, okey, sekarang, aku harus memanggil mu apa?" Tanya ku.


" El, nama ku Aesyel Variella Quenner, jadi, panggil aku seperti yang lain memanggil ku, mengerti?" Katanya tanpa berniat untuk berhenti mau pun menoleh ke arah ku sedikit pun.


" Sepertinya terdengar tidak terlalu buruk," komen ku.


" Sungguh, karna itu memang nama ku, bodoh!" Ketusnya. Ada apa dengannya hari ini? Apa dia begitu jengkel dengan ku?


" Sepertinya kau sangat hobi manggil ku dengan kata bodoh, kau pasti akan menyesal nanti," jawab ku. Dia hanya terdiam.


" Kau tau? Satu- satunya hal yang membuat ku menyesal saat ini, adalah pernah mengenal mu, Alberta..." Jawabnya.


" Ku harap kau mau menarik kata- kata mu itu secepatnya dari pada mengambil resiko untuk menanggung rasa malu yang berlebihan suatu saat nanti,"


" Bagaimana kalau aku memanggil mu Variella, bukankah Tuan Holwis juga lebih sering memanggil mu dengan kata Nona Variella? Sepertinya panggilan itu juga terdengar tidak terlalu buruk," lanjut ku masih terus mengoceh.


" Karna itu juga nama ku, terserah kau mau memanggil ku siapa, asal jangan panggil aku dengan kata mine, sayang, atau princess,"


" Baiklah, kalau begitu aku akan memanggil mu cantik."


" Juga jangan menggunakan kata- kata menjijikkan yang sangat memuakkan," sanggahnya tidak suka. Aku tersenyum samar.


Lengang sejenak, sebelum akhirnya dia berhenti. Membuat ku juga turut berhenti setengah meter di belakangnya. Variella menoleh,


" Apa?" Tanya ku


" Jangan berjalan di belakang ku," aku terdiam. Gadis itu kembali melangkah. Aku yang sadar akan hal itu pun menyusulnya, dengan percikan- percikan rasa bahagia, dan senyum yang terus mengembang.


" Lebih baik aku berjalan di belakang mu, Var, karna aku tau kau akan lebih tidak suka lagi jika aku berjalan bersisihan dengan mu,"


Mungkin, ini akan sulit, tapi setidaknya, aku sedang berada satu langkah lebih dekat dengannya. Aku masih terus tersenyum. Aku rindu, semakin rindu dengannya. Variella ku.


Sayang sekali aku tidak bisa mengetahui apa yang sedang dia fikirkan. Heh, benar- benar segel sialan... Ingin rasanya aku menghancurkan segel itu, jikalau aku bisa, dan mau mengambil resiko terlalu dini.


" Ka~" dia berbalik dengan cepat. Membuat ku berhenti mendadak, jarak yang cukup dekat. Walau pun tidak sedekat pertama kali aku bertemu dengannya waktu itu.


Aku masih menatap manik mata indah itu dengan lekat.


" Kembalilah ke kelas mu sendiri, lonceng tanda masuk akan berbunyi lima menit lagi," katanya, buru- buru berbalik kembali memasuki kelasnya.


Aku menoleh ke segala sisi. Damn!


Aku benar- benar mengikutinya hingga ke kelas. Dan, oh, tadi itu, aku yakin, rona merah di pipinya. Dia, malu.


Aku benar- benar bersumpah, aku yang seorang Prince ini, hanya akan menjadi bodoh ketika semua hal itu bersangkutan dengan mu. Variella.


VARIELLA


Aku duduk di bangku ku, membuka asal buku apa pun yang tadi ku bawa. Mata- mata hijau itu benar- benar membuat ku risih.


Seakan- akan aku adalah musuh, atau santapan lezat, hanya karna aku berdekatan dengan si Alberta. Ambil saja jika mau, aku juga tidak nafsu. Toh, aku juga tidak memintanya selalu mendekati ku seperti lintah daratan yang selalu menempel kemana- mana.


Aku memejamkan mata, bodo amat dengan mereka.


Sekilas aku menelisik wajahnya yang terkejut, raut dan goresan itu, dia memang tampan.


Dia masih menatap manik mata ku dengan lekat.


" Kembalilah ke kelas mu sendiri, lonceng tanda masuk akan berbunyi lima menit lagi," kata ku, buru- buru berbalik kembali memasuki kelas.


Ada rasa panas yang tiba- tiba datang menghinggapi ke dua pipi ku. Aku, malu. Malu sekali. Spontan aku menutup wajah ku yang ku sandarkan ke meja dengan buku yang ku pegang.


Tiba- tiba aku mendengar suara jendela terbuka dan tertutup beberapa kali karna embusan angin yang nakal. Atau mungkin karna hati ku yang tiba- tiba saja berdebar- debar. Aku juga kurang tau.


Langit mulai gelap meski aku tak memastikannya. Karna terdengar jelas sekali suara air berjatuhan menimpa bumi, dan apa saja yang ada di atasnya. Gerimis.


Tunggu, apa ini benar- benar karna aku? Tadi langit terlihat sangat cerah, bahkan tidak ada tanda- tanda bahwa hujan akan turun. Biru bersih. Matahari pun juga bersinar hangat di atas sana.


" Eyy, ya!..." Seorang menepuk ke dua pundak ku keras, aku sedikit terjungkat. Menoleh ke arah si biang kerok.


" Fal, kau..." Umpat ku.


" Lagi bahagia ya?" Tanyanya.


" Biasa aja," jawab ku.


" Hm, sayangnya wajah merah mu itu tidak bisa berbohong El, dan sahabat cerdik mu ini juga memang tidak mudah untuk di bohongi," aku kembali tersenyum.


" Kau termakan oleh omongan mu sendiri, bagaimana? Kak Al memang benar- benar hebat, bisa- bisanya dia melelehkan karang es penuh kecongakan seperti diri mu ini," ocehnya.


" Apa? Hey, ini tidak ada hubungannya dengan si Alberta sialan itu, Falisya..." kata ku, menyangkal. Bodoh jika aku merasa Falisya akan memercayainya.


" Sekarang kau juga fan girls, apa? Sebentar, aku lupa, ah ya, seekor ular, yang matanya selalu tergiur oleh pesona, edisi limited edition pria tampan sesekolah," jawabnya di sertai tawa yang, ah, astaga...


" Matilah kau," lanjutnya terus menggoda ku.


" Berhenti mengatai ku seperti itu, Falisya... Siapa juga yang merasa tertarik dengan orang yang selalu membuat ku setiap hari di tatap sadis oleh mayoritas cewek di sekolah? Ha... Bahkan dia membuat ku sangat repot! *******!"


" Baiklah, kau tidak harus mengakuinya jika malu," Terka Falisya enteng.


" Aku tidak mengakuinya, dan aku tidak sedang malu, dan lagi, aku memang benar- benar tidak tertarik padanya sedikit pun!


" Apa coba bagusnya si Alberta itu, sangat membosankan, bukan tipe pria idaman ku sama sekali, hanya modal tampang untuk tenar," Kata ku.


" El, jaga bicara mu jika kau tidak ingin berumur pendek, kalau tidak mereka semua pasti akan mengeroyok mu," Pesan Falisya.


Huh...


" Okey, kau berhasil membuat ke tidak seimbangan emosi ku mereda," jawab ku lirih. Perempuan- perempuan fanatik yang mengerikan.


Benar kata Falisya, aku memang harus diam dan menjaga sikap, jika masih ingin melihat dunia ini lebih lama.


Aku menoleh ke sisi kiri, menengok keluar ke arah lapangan dari kaca jendela yang mengembun basah, gerimis di luar sana sudah mulai mereda.


Seorang lelaki menumpukkan ibu jari dan jari telunjuk kirinya membentuk sebuah simbol. Mengarahkannya kepada ku


Aku terhenyak.


Alberta...


Aku pun memutuskan untuk membuang muka.