Shoecha

Shoecha
Ch 12- Queen of Shoecha



Semua orang yang berada di situ langsung menatap perempuan cantik itu. Terpesona, dan juga terkejut dalam satu waktu. Tak terkecuali dengan Lord Izac sendiri.


" Wujud dari kekuatan Shoecha dalam diri Princess Variella, telah bangkit," kata lelaki bersurai putih itu lemah.


Dia mengangkat ke dua tangannya. Kemudian, cahaya keputihan menguar memenuhi sekitar. Di tangannya muncul sebuah alat musik mirip dengan tehyan, tapi bentuknya sangat unik dengan warna putih metalic bergaris- garis hitam.


Di bagian atasnya tergantung sebuah simbol batu bintang Shoecha sebagai bandol yang menjuntai. Nada yang di keluarkannya sangatlah lembut.


Nada ini...


Nada ini adalah nada dari lirik yang kerap di nyanyikan oleh seorang perempuan berambut toska dalam mimpi ku. Lirik yang mengabarkan tentang kehidupan, kesedihan, dan kesepian. Aku mengalihkan tatapan ku ke segala arah.


Berbagai macam jenis bunga dengan aroma wangi dan warna beragam tumbuh dari bekas ceceran- ceceran darah yang memenuhi tanah seiring alat musik itu di mainkannya. Tumbuhan- tumbuhan rindang pun berbuah banyak hingga rantingnya melengkung ke tanah.


Burung- burung dan kupu- kupu banyak beterbangan dari para mayat orang- orang berbaju cerah. Sedangkan mayat makhluk- makhluk hitam menjijikkan itu berubah menjadi kelinci.


Sungai hitam yang membentang melewati kerajaan kecil itu berubah menjadi putih bersih, dengan ikan yang terus berkecipuk di dalamnya, juga teratai yang mengambang dengan bunga berwarna violet dan merah muda.


Aura mematikan yang keluar dari sang jiwa kegelapan mulai memudar seiring cahaya matahari menerobos kegelapan hutan. Langit yang tadinya berwarna hitam lekat, sekarang sudah terasa normal seperti di tempat lain, biru bersih, dengan sedikit warna putih dari awan yang mengambang sembarangan.


Kemudian, cahaya yang sama juga melingkupi tubuh Kak Alberta, ke tujuh orang bersayap, dan orang- orang berbaju cerah lain yang tengah terluka, mereka semua mulai membaik perlahan- lahan.


Syukurlah...


" The Queen of Shoecha," terka lelaki dengan rambut putih bersayap itu. Aku menoleh pada si pria yang tidak asing. Juga perempuan itu.


Shoecha...


Ternyata, lagi- lagi semua ini, dan keanehan- keanehan yang mengikutinya, adalah sama- sama tentang Shoecha... Tapi, apa sebenarnya hubungan ku dengan tempat itu?


Dan, Kak Al?


" Arguza, the Leader of Knight," gumam perempuan itu, tersenyum sekilas.


Namanya, Arguza...


" Ternyata kau masih mengenali ku," yang di ajak bicara hanya mengangguk.


Aku kembali menatap wajah bersih kak Al yang memucat di lingkupi cahaya, nafasnya menderu cukup lemah, hampir tak terlihat. Kenapa? Kenapa Kak Al tidak lekas bangun?


" Queen kita telah kembali bangkit," ulang Arguza seakan memberi perintah, membuat ke enam lainnya ikut menundukkan tubuh mereka memberikan penghormatan dengan berlutut di tanah berumput itu.


" Kau?!" kecam sang jiwa kegelapan dengan nada dan ekspresi angkuhnya.


" Ya! Aku," jawab perempuan itu tegas.


" Keluarga?" Tanyanya sedikit meremehkan.


" Iya, Teriovalefi, dan semua orang yang berpihak pada kebaikan,


" Orang- orang yang dengan senang hati menyerahkan nyawa karena kecintaannya kepada ku," aku melihatnya menatap ke arah di mana aku dan kak Alberta berada, Cinta... Huuuuh... Apakah dia akan bisa melihat ku?


" Mereka semua adalah keluarga ku, maka, jika kau menyakiti mereka, maka kau juga telah menyakiti ku berkali- kali lipat, dan aku tidak akan membiarkannya," jawabnya dengan hazel putih yang langsung nyalang memburu.


" Kau salah, jika sekarang kau menyombongkan diri mu setelah perjanjian darah mu telah di terima oleh Sang Jiwa Kegelapan, kau pikir, perjanjian darah dengan jiwa yang telah lama tersegel akan menjadi sempurna dalam waktu beberapa jam, ha?!


" Butuh lebih dari tiga purnama, atau bahkan satu gerhana matahari, karna kau bukan pewaris murni, melainkan hanya seorang pengemis darah! Untung saja, saudara muda pendahulu ku itu benar- benar sangat rindu dengan dunia ini, dan tidak sabar menunggu jatah kebangkitannya.


" Lord Izac Manufarius Liata? Kau hanyalah seorang demon bawahan yang ceroboh... Dan ya, bodoh!!! Kau hanya akan mati konyol dengan ambisi mu yang sia- sia itu, jika di dunia ini masih ada aku,"


" Kalau begitu, aku akan membuat dunia tidak lagi berpihak kepada mu. Dengan kekuatan dari kegelapan yang di lingkupi oleh kelam, aku akan menghancurkan mulut sialan mu itu, dan menguasai dunia.


Kecuali...


Tentunya jika kau mau menjadi pendamping ku, lalu kita akan menguasai dunia indah ini bersama- sama," tawar Lord Izac.


" Apa? Cuihhh!! Aku bahkan tak tahan melihat mu dari radius mata memandang, lalu, bagaimana bisa aku harus terus berada di dekat mu setiap saat? Jangan tidur terlalu lama Lord, kau sudah meninggalkan banyak hal..." Jawab Perempuan itu.


" Cantik, tapi sayang, mulut mu sangat pedas Queen," balas Sang Jiwa Kegelapan. Yang di ajak bicara hanya tersenyum miring. Lalu memejamkan mata.


" Akan aku tunjukkan kepada mu, bagaimana rasanya kepedihan. Akan aku tunjukkan kepada mu, bagaimana rasanya kesakitan. Akan aku tunjukkan kepada mu, bagaimana rasanya kehancuran. Akan aku tunjukkan kepada mu, bagaimana kegelapan yang sesungguhnya, aku tidak akan sungkan pada mu sedikit pun!" Katanya masih dengan tenang, perempuan itu kembali membuka matanya, lalu menghembuskan nafas berat.


" Yang terpenting, aku sudah memberi mu peringatan pertama, perlu kau tau, selamanya, kegelapan tak akan pernah bisa menang, melawan cahaya, dan itu adalah takdir,


" Aku, the Queen of Shoecha, Queen dari segala lapisan dunia, pemilik perjanjian darah dengan pemimpin seluruh klan atas kedamaian. Aku, Queen atas nama keadilan dan rasa cinta, Variella Bluetania Albaroza,"


Aku terdiam, Variella Bluetania Albaroza, itu adalah nama yang Kak Al sebut untuk memanggil ku saat pertama kali kita bertemu.


Aku memper erat genggaman ku, menatapnya yang tengah terbujur kaku dengan tatapan yang lebih dalam.


" Bodoh, apa dia yang kau rindukan? Kau harus menjelaskan semua ini pada ku nanti. Aku tau, kau mengetahui sesuatu, bangunlah" bisik ku.


" dengan kekuatan gaib yang terdapat pada Batu Bintang Shoecha, ku buka seluruh segel kekuatan pemimpin para klan yang pendahulu kalian telah melakukan perjanjian darah dengan pendahulu ku secara suka rela, Lord Glenfate Enola Karafi, juga kalian, tujuh Knight utama Negri Shoecha yang telah dahulu bangkit 1000 tahun sebelum diri ku, datanglah, dan perangi Sang Jiwa Kegelapan!!!" Perintahnya dengan suara yang telah naik satu oktaf.


Alat musik itu hilang dari genggamannya, dia kembali mengangkat sebelah tangannya ke arah langit- langit. Petir terlihat menyambar kesana kemari seakan tak sudi di jadikan alat untuk menghukum Sang Jiwa Kegelapan.


Pertarungan pun kembali terjadi, hanya satu lawan satu, The Queen dari Shoecha, dan Lord Izac yang telah menyatu dengan Sang Jiwa Kegelapan, yang belum meraih kekuatan klimaksnya.


Seluruh dunia bergoncang hebat, kekuatan antara cahaya dan kegelapan yang seharusnya bersisihan, tapi malah beradu- padu.