
Semuanya terasa absurd dalam waktu yang bersamaan, antara apa yang harus ku mengerti, dan apa yang harus ku percaya.
~ Queen Variella.
Malam terlihat sepi. Membuat bangunan agung berwarna putih itu terlihat berkilau di terpa cahaya bulan sempurna dalam gelap.
Seorang perempuan dengan gaun putih panjang dan elegan berjalan ringan menuju Paviliun Kolam Cahaya. Di situ dia selalu melerai lelah, keluh, dan kesahnya menghadapi keadaan.
Rambutnya menjuntai panjang berwarna putih dengan mahkota kecil dan juntaian mutiara yang menghiasinya.
Tapi tatapannya sangatlah dingin, penuh dengan beban. Wanita itu menyanyikan sebuah lirik yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan menangis karena merasa tidak pernah menjadi orang yang benar- benar berguna dalam hidup.
Dia adalah Queen dari Negri yang makmur dan damai itu. Dia adalah wanita yang menjadi alasan Shoecha tetap kokoh berdiri dan berjaya selama beberapa tahun terakhir.
Air matanya menetes begitu saja, tanpa suara. Lagi- lagi tatapannya membeku menatap air yang tak beriak. Angin berhembus kuat seketika. Dia menoleh, mendapati seseorang sedang berlutut padanya.
Dia adalah laki- laki yang kuat, itu yang bisa Queen lihat dari lingkar aura di atas kepalanya. Rambutnya putih panjang dengan ikatan pita berwarna hitam tidak sempurna yang sama panjangnya. Dia mengenakan pakaian berwarna hitam juga, sangat pas menempel di badannya yang atletis.
Dari badannya juga muncul aroma bunga sedap malam. Aroma yang sangat jarang di gunakan oleh orang- orang.
Saat laki- laki itu menengadah, satu hal yang membuatnya tertarik, laki- laki itu mengenakan topeng rata setengah wajah dengan ukiran yang elegan, tidak memperlihatkan satu sisi matanya. Ukiran itu adalah gambar sebuah naga yang di lingkupi api.
Perempuan itu mengusap air matanya.
" Siapa kau? Aku tidak mengenal mu. Jadi apa yang kau inginkan dari ku?" Tanyanya penuh dengan tekanan. Itulah sosoknya, Queen yang tegas dan tidak memiliki rasa ampun pada ketidak adilan.
Laki- laki itu mengeluarkan sebuah belati kecil dari balik pakaian belakangnya yang juga penuh dengan ukiran, dari situ Queen tau orang itu bukan orang biasa, mungkin, adalah seorang bangsawan, atau pemuka bangsa. Lalu tanpa ragu orang itu menggores telapak tangannya dengan belati kecil itu hingga darah mengucur membasahi lantai paviliun yang terbuat dari marmer biru.
Darahnya berwarna putih. Membuat tatapan perempuan itu meluluh. Karena hanya ada satu kelompok orang yang dia tau sebagai sang pemilik darah berwarna putih. Yaitu orang- orang yang di berkati dengan cahaya keadilan dalam legenda Klannya.
" Saya memberi hormat kepada Yang Mulia Airesa Suizu, the Queen of Shoecha. Saya bersumpah demi langit dan bumi yang saling menyempurnakan, siang dan malam yang saling melengkapi, dan demi Shoecha yang menjadi simbol akan kesempurnaan penciptaan. Saya akan setia pada setiap langkah dan keputusan anda selama sisa hidup saya, Yang Mulia." Kata laki- laki itu cukup serius. Tidak ada getaran sedikit pun ketika dia mengatakan sumpahnya yang terdengar penuh akan keyakinan dan rasa percaya diri.
" Dari mana kau berasal?" Tanya Suizu menyelidik.
" Saya berasal dari tempat di mana anda tidak akan pernah menemukan saya untuk yang ke dua kalinya, tempat di mana anda tidak akan pernah menyangkanya," jawab laki- laki itu sangat berani.
" Siapa yang menyuruh mu datang kepada ku?" Tanyanya lagi karena sangat penasaran.
" Dia yang sangat mencintai anda lah yang mengirim ku kemari," jawab laki- laki itu apa adanya. Laki- laki itu tidak melihat orang yang dia anggap Tuannya itu tersenyum menanggapi kata- katanya. Tapi hal itu malah membuatnya terlihat begitu senang.
Ya, senyumnya hanya dia berikan kepada satu orang saja. Orang yang berhasil membawanya pergi dari rasa terbuang yang membentengi dirinya dari dunia luar. Orang yang memberikan judul baru bagi syair yang kerap dia nyanyikan.
" Bagaimana aku bisa memanggil mu?" Tanya perempuan itu lagi.
" Anda bisa memanggil saya, Topeng Iblis," jawabnya menatap dalam ke dua mata sang Queen. Dalam kamusnya tidak pernah ada kata takut atau apa pun. Tapi lebih tepatnya kenapa dia menatap tepat kepada ke dua mata sang Queen bukanlah karena itu, tapi karena ketertarikannya yang tidak akan pernah pupus.
" Saya akan menerima mandat dari Yang Mulia dengan senang hati," jawab laki- laki dengan julukan Topeng Iblis itu.
" Kau bisa pergi dari sini sekarang!" Perintah Suizu pada si Topeng Iblis, dia sudah membalikan badannya kembali ke arah kolam. Menancapkan penglihatannya pada keheningan.
Saat Suizu larut dalam lamunannya, sepasang tangan yang kekar melingkar pada pinggangnya yang ramping, memberinya sebuah kehangatan yang lebih.
" Kau terbangun, Glen?" Tanya Suizu lembut kepada orang yang tengah berdiri di belakangnya, tanpa menoleh pun dia bisa mengetahui siapa seorang itu dari aroma mawar segar yang tiba- tiba menusuk penciumannua.
Glen menghirup aroma rambut Suizu sedalam mungkin yang dia bisa hingga berkali- kali.
" Mana mungkin aku bisa tertidur, tanpa seorang istri di samping ku?"
Blussshhh...
Tanya Glen menjawab pertanyaan Suizu dengan sama lembutnya. Membuat wajah dingin sang Queen seketika membiaskan warna merah matang.
Suizu membalikan badannya, mengusap ke dua sisi pipi milik Glen dengan gerakan halus.
" Maafkan aku," jawabnya, berdiri di antara jari- jari kakinya, lalu menyapu lembut bibir Glen yang tengah menundukan kepala ke arahnya. Hanya sekilas.
Panas.
Dadanya selalu saja berdebar kuat saat dia berada dekat dengan sang kekasih. Tak peduli sesering apa itu, rasanya sangat memuaskan.
Tapi di saat Suizu hendak melepaskan pagutan sederhananya, Glen malah berinisiatif lebih dengan semakin mengeratkan pelukannya pada sang Queen. Tidak terima. Sekarang berganti dia yang sangat aktif, tidak memberikan celah sekecil apa pun untuk Queen nya pergi.
" Kau milik ku malam ini, my Queen Airesa Suizu," kata Glen di tengah- tengah ciumannya.
Ke duanya terlihat amat sangat serasi. Selalu begitu. Kapan pun, bahkan dimana pun.
Tak terasa, seseorang di kejauhan menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.
Dia bukan orang jahat, tapi bukan juga orang baik. Karena sedari malam itu, dia menjadi seseorang yang bahkan tidak bisa di kenali oleh dirinya sendiri.
" Cih!" Tukasnya, berjalan pergi di tengah kegelapan.
🌀🌀🌀
" Uhh'..." Variella membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berdenyut- dentut kuat dan begitu menyakitkan. Menyentuh pelipisnya dan menekannya berharap tekanan itu akan berkurang meski sedikit.
" Sudah bangun?" Sebuah suara bariton laki- laki mengagetkannya. Suaranya di penuhi aura yang dingin. Variella melongok ke segala sisi, mencari sosok yang mengajaknya bicara, tapi tidak berusaha untuk menjawabnya.
Dia, laki- laki itu berdiri tepat di hadapan sebuah jendela yang amat sangat besar yang di biar terbuka. Punggungnya sangat kokoh dan kuat. Rambutnya sangat panjang berwarna hitam.