
Sekembalinya mereka dari Typherus, tempat itu berubah. Bunga- bunga mati. Sungai kembali menghitam. Tanaman- tanaman dan pohon- pohon rindang menutupi jalannya cahaya matahari. Lebih menyedihkan ketimbang keadaan Typherus sebelumnya.
Benar- benar simbol nyata dari kegelapan yang sesungguhnya.
" E'h..." Tangan ku terangkat, menutupi ke dua mata ku.
Terang, aku mengerjapkan mata berkali- kali, menyesuaikan cahaya sangat silau yang tertangkap oleh indra penglihatan ku.
Samar aku melihat seorang dengan rambut putih panjang dengan pakaian gagah khas Knight yang beberapa saat lalu ku lihat.
" Var," panggilnya.
" Arguza?..." Aku berusaha untuk duduk, apa ini masih di dunia itu? Sesuatu terjatuh dari kening ku, sebuah handuk kecil yang basah.
" Siapa Arguza?" Tanyanya. Aku menatapnya lekat, lekat sekali.
" Aleta?" Ucap ku ragu, aku menatap sekitar. Suasana yang familiar, ini adalah kamar ku.
Tapi, aku yakin yang ku lihat barusan adalah Arguza, tunggu...
Memang iya, jika saja rambut merahnya itu agak panjang dan menjadi putih.
Aku memukul dahi ku pelan, bodoh! Sepertinya tadi aku benar- benar sedang bermimpi.
ALETA
Aku membuka pintu, tidak di kunci. Dia memang selalu sembrono. Harusnya dia mengingat pesan ku untuk selalu mengunci pintu saat sedang tidak di rumah.
Aku bergegas masuk. Rasanya aku sangatlah merindukan bangunan ini. Pulang sekolah nanti aku akan menjemputnya sebagi kejutan. Variella pasti sudah merindukan ku.
Aku bergegas naik menuju kamar ku di lantai dua untuk segera beristirahat setelah perjalanan yang cukup jauh dan memakan banyak tenaga ini. Kamar ku bersebelahan dengan kamar Variella.
Aku berhenti,
" Ck," decak ku, aku berjalan mendekat ke arah kamarnya, berniat hendak menutup pintu. Biasanya dia akan mempersulit ku jika ingin menengok kamarnya, tapi sekarang dia malah membukanya lebar- lebar karena aku sudah jarang pulang.
" Vaaar!" Aku bergegas mendekat, apa yang terjadi? Pencuri kah, atau?...
Aku menggendongnya, menidurkan Variella kecil ku di atas ranjang. Hidungnya mengeluarkan banyak darah, masih basah, berarti baru saja. Dia pingsan di sisi ranjang dekat jendela.
Tubuhnya demam, sangat panas. Aku langsung turun untuk mengambil air dan handuk kecil. Membersihkan wajahnya, kemudian mengompresnya.
Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika saja hari ini aku tidak jadi pulang ke rumah. Astaga! Aku memang tidak pernah bisa di andalkan sedikit pun.
" E'h..." Tangannya terangkat, menutupi ke dua matanya.
Dia mengerjapkan mata berkali- kali, menyesuaikan cahaya sangat silau yang mungkin tertangkap oleh indra penglihatannya.
" Var," panggil ku, memastikan dia masih baik- baik saja.
" Siapa Arguza?" Tanya ku. Dia menatap ku lekat, lekat sekali. Kenapa dia mengenal nama itu. Dari mana? Segel itu masih tak berubah sedikit pun, hanya bergeser satu koma lima puluh tiga persen sejak terakhir kali aku meninggalkan rumah ini.
" Aleta?" Ucapnya ragu, dia menatap sekitar.
" Kau sudah kembali, sejak kapan? Dan, hey!! Kenapa kau masuk ke dalam kamar ku, ini adalah area larangan bagi mu!!!" Teriaknya tersadar akan aturan anehnya, membuat tubuh kecilnya malah limpung karena masih terlalu lemah untuk bayak di gunakan bergerak. Aku menopang ke dua bahunya dengan tangan ku.
Aku tersenyum...
" Oh, ayolah Var, aku menemukan mu pingsan dengan darah di hidung mu, apa yang terjadi, kau seharusnya menghubungi ku jika terjadi apa- apa, atau membutuhkan sesuatu," kata ku. Memeluknya. Dia masih terdiam. Aku khawatir. Amat sangat khawatir, meski pun sebenarnya dia sangatlah menjengkelkan, dan tak pernah berhenti berulah dengan selalu mencari banyak cara untuk memancing emosi ku keluar.
" Ku kira kau sama saja dengan Mom dan Dad yang tidak pernah mau tau apa yang sedang ku lakukan, apa yang terjadi dengan ku, dan apa yang sedang ku rasakan." Jawabnya lirih, terkesan sangat menyedihkan. Di hadapan ku, Variella tetaplah adik kecil ku yang sangat ku sayangi.
" Maaf, sekarang aku memang terlalu sibuk dengan dunia ku sendiri, sehingga membiarkan mu menjadi kesepian, sedih, dan berdikir terlalu berlebihan, Var, aku kakak mu, jadi aku sangat menyayangi mu, percayalah... Juga Mom dan Dad, jangan pernah membuat ku khawatir lagi, okey?... Maaf atas kelalaian ku selama ini..." Jawab ku berusaha menenangkannya.
" Aku sangat merindukan mu, Aleta rese!" Terkanya berkaca- kaca.
" Aku juga sangat merindukan mu, Variella bodoh," balas ku mencium puncak rambutnya, seperti yang kerap ku lakukan.
Variella memang hanya anak angkat dari keluarga Souju, di belakang namanya pun marga Souju di hilangkan dengan alasan mengikuti marga Ibu ku yang kebetulan bernama Namira Aesyel. Hanya saja kata Aesyel di taruh di bagian depan. Tapi, bukan berarti kami tidak pernah menyayangi Variella.
Sejak Kirana, adik semata wayang ku meninggal karena kecelakaan, Variella lah yang bisa membuat Mom kembali membaik dari kesedihannya. Variella juga yang membuat ku selama ini tak pernah merasa kesepian.
Kami menemukan Variella delapan belas tahun yang lalu di sebuah taman pinggir kota. Saat itu umur ku baru menginjak lima tahun, kejadian itu terjadi satu tahun setelah meninggalnya Kirana.
Aku melepaskan pelukan ku pada Variella, merogoh kantung celana ku, dan mengeluarkan sebuah kotak tanggung berwarna ungu. Mengangsurkannya pada Variella.
" Selamat ulang tahun adik kecil ku, maaf, kakak tak bisa pulang tepat waktu," timpal ku, sudah terlewat sepuluh hari. Dia menerimanya, lalu membuka kotak itu.
Aku mengambil gelang berwarna perak dengan paduan sedikit warna hitam itu, lalu meraih tangan kiri Variella, memakaikannya.
" Terlihat cocok, dan, cantik," puji ku apa adanya.
" Terima kasih," katanya tulus.
" Maaf," ucap ku lagi, memeluknya.
Semenjak Variella tumbuh menjadi gadis remaja, aku sadar bahwa kasih sayang ku padanya sudah berubah.
Bukan lagi seorang kakak kepada adiknya, tetapi, lebih sangat condong ke arah kasih sayang seorang Aleta, untuk Variella.
Aku menyadari semua itu, aku seorang laki- laki normal. Aku tidak ingin menyalahkan keadaan yang telah membuat ku sangat dekat dan akrab pada Variella. Melihat seluruh perubahan pada dirinya setiap saat.
Tapi, aku juga sadar, semua ini merupakan sebuah kesalahan yang besar. Karna aku, tidak seharusnya memiliki perasaan ini... Kepadanya, Tuan yang sangat ku hormati pada kehidupan ku yang lalu.
Di sisi lain, aku tidak ingin dia tau, Keluarga adalah sesuatu yang sangat ia prioritaskan. Dia juga sangat menyayangi ku. Aku benar- benar tidak ingin melihatnya merasa sedih karena kenyataan seperti itu. Jadi, siapa pun, asal jangan dia. Sangat banyak perempuan di luar sana.
" Istirahatlah, aku akan menjaga mu di sini,"