Shoecha

Shoecha
Ch 18- Makan Siang



VARIELLA


Aku sibuk memainkan bolfoin ku, mengetuk- ngetukkannya di atas meja, atau terkadang menepuk- nepukkannya di pipi.


" Nama ku, Anasita Amber Albaroza, senang bisa turut bergabung dengan kalian semua, sebelumnya aku hanya siswa Home Schooling karena suatu alasan, jadi mohon bantuannya," katanya memperkenalkan diri, lalu sedikit membungkukan badan untuk memberi salam penghormatan, membuat ku tersadar dari lamunan ayam ku.


Hhh... Murid baru lagi, dua hari ini sudah ada dua murid baru masuk di kelas ku, apakah iya akan terus seperti ini hingga hari- hari setelahnya?


Terdengar suara beberapa siswa asik bergumam dan bisik- bisik sendiri membicarakannya. Benar- benar tidak sadar tempat, bahkan orang yang sedang mereka bicarakan jelas- jelas masih berdiri di depan mereka semua... Dan kurasa, orang itu juga masih memiliki pendengaran yang baik...


Dia bergegas, berjalan santai menuju kursi paling pojok belakang dekat jendela seperti yang telah di perintahkan oleh Nyonya Laeli.


Aku meliriknya sekilas. Dia menengok ke luar lewat kaca jendela, mengabaikan pelajaran pertamanya sebagai murid baru di sini. Apa dia adalah tipe orang seperti ku yang juga sangat malas untuk bersekolah?


Kasihan sekali, dia cantik, yah... Sebelas dua belaslah dengan ku, Tapi tatapannya terlihat, penuh beban...


🌀🌀🌀


" El,"


" Oh ya," ucap ku menjawab sapaannya, dia membawa nampan berisi makan siangnya, duduk di sebelah ku.


" Kau tau tentang murid baru Jome Schooling itu?" Tanya Falisya, memulai kegegerannya yang tidak seberapa.


" Kenapa memang?" Tanya ku kurang antusias seperti biasa setiap kali meladeni kata- katanya yang gak penting. Tapi kenapa dia tidak pernah peka ya?


" Namanya seketika saja langsung melesat sampai ke kalangan siswa senior, kau tau? Dia memang cantik, ku dengar si Anasita itu juga sangat cerdas, ah... Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau saja edisi limited edition para pria tampan sesekolah akan tertarik padanya, ini sangat tidak adil!..." Rajuknya.


" Buk," aku dan Falisya langsung memandang ke arah sumber suara. Tapi yang di tatap malah tersenyum seperti biasanya. Mengedipkan sebelah mata dengan iris hitam itu.


" He, piss," dia duduk tepat di sebeah ku, di depan Falisya yang masih melongo kaget.


" Hay?.. Aku Falisya," katanya mengulurkan tangan seketika saat telah sadar dari longoannya. Oh astaga! Mata itu lagi...


" Zere," jawab Zere menerima uluran tangan Falisya.


" Zere," panggil ku.


" Ah, iya..." Jawab Zere menoleh ke arah ku dengan wajah polosnya yang selalu saja terlihat sedang bahagia.


" Aku ing~"


" Zere!!..." Panggil seorang memotong kata- kata ku, dia mengambil tempat duduk tepat di sebelah Falisya, di hadapan ku.


" Bisa ikut gabung?" Tanya Anasita rusuh yang baru saja datang. Oi, harusnya kau bertanya dulu sebelum duduk. Percuma kalau kau menanyakan persetujuan kami jika kau saja sudah duduk manis di situ...


" Silahkan," jawab Zere.


Hm... Sepertinya aku salah tentang Zere yang pasti akan sangat mudah untuk mendapatkan teman di sini. Karena mungkin akan jadi lebih tepat bila kata- katanya, dia pasti akan sangat mudah untuk mendapatkan penggemar, kekasih, atau sejenisnya.


" Hay, aku Falisya, senang berkenalan dengan mu, semoga hari pertama mu di sini terasa menyenangkan," Beo nya membentuk sebuah rumus volume limas.


" Aku, Anasita, senang kembali bisa berkenalan dengan mu," jawab Anasita lembut.


" Nama ku, Aesyel Variella Quenner, kau bisa memanggil ku dengan kata apa pun, asalkan kata itu ada di dalam nama ku."


Dia tersenyum sangat manis, menutupi mulutnya dengan telapak tangan.


Princess Variella yang lemah lembut, kenapa kau sekarang menjadi seentahlah ini? Apa ini benar- benar kau???~ Anasita.


" Tak di sangka, ternyata Variella dan Anasita sangat mirip ya dari dekat..." Ceplos Zere sekenanya.


" Hm?" Tuntut ku, mendongak ke arahnya. Membuat Falisya sontak langsung memperhatikan kami secara bergantian dengan ekspresi bodoh.


" Hm, iya, kalau saja rambut Variella berwarna merah, atau rambut Anasita yang berwarna hitam. Dan ya, kalau saja Variella sedikit merubah tampilan dan sikap brandalnya, atau, Anasita saja yang jangan terlalu lembut." Jelasnya panjang kali lebar. Brandal?...


Ternyata mulut mu bisa berbau busuk juga ya?... Aku kira kamu orang yang baik hati lo ya...


Sialan!


" Sejak kapan kau memanggil ku Variella?" Tanya ku kepada Zere, menghentikan tawa jelek si Falisya.


" Sejak kemarin, bukankah lelaki yang menjemput mu kemarin memanggil mu begitu? Ku kira lebih cocok saja, dari pada harus memanggil mu dengan kata, El... Itu terkesan, sangat pelit." Jawabnya, selalu santai.


" Hey, meski kau tampan, kau tidak bisa seenaknya saja dong bilang kalo aku itu pelit, itu kan cuman biar terdengar sederhana dan tidak terlalu panjang," sangkal Falisya.


Jadi, yang kemarin itu ya, kakak...


" Ngomong- ngomong, siapa sih laki- laki itu, tampan sih, tapi sangat sombong, dingin, agak sedikit tidak tau sopan santun juga..." Sambungnya.


Malu... Malu... Malu... Malu... Malu...


" Spertinya aku tau~"


" Ah, bukan siapa- siapa juga kok," kata ku agak gugup, memotong kata- kata Falisya. Memberinya tatapan kesepakatan seperti biasa.


" Ah ya... Bukan siapa- siapa," katanya kemudian.


Huh...


Hanya album terbaru grub band kakak, pasti akan aku berikan nanti sebagai bea tutup mulut... Mestinya itu tidak akan susah kan? Aku akan mengambilnya diam- diam nanti di kamar si Aleta yang sama- sama sialan itu.


" He... Maaf Master, aku tidak bermaksud mengolok mu di belakang ku." Batin Zere.


" Ck ck ck," balas Anasita.


" Anasita, kau mendengarnya ya?..."


" Kau berfikir dengan terlalu keras, siapa yang tidak bisa mendengarnya,"


Sedangkan di sisi lain,


" Haaaccchiiiii," dia menggosok- gosokkan jari tangannya di bawah hidung.


" Siapa yang sedang membicarakan ku? Dasar, fans tidak tau diri, seenaknya saja mengusik ketenangan batin ku..." omelnya tak bertujuan.


" Sabar... Sabar... Kalo gak ada fans juga, kamu gak akan seterkenal ini, Aleta..." gumamnya lagi. Bergeser hampir tiga ratus enam puluh derajat lebih. Berhasil mengontrol kesabaran diri sendiri.


" Eh, iya, kenapa dari tadi kauu hanya diam saja? Sedang tidak enak badan kah?" Tanya Falisya menatap Anasita penuh kekhawatiran. Bahkan dia tidak pernah menunjukkan muka seperti itu kepada ku.


Aku menatap Anasita sebentar, mata kami saling bersitatap dan mengunci.


Deg deg deg...


Aku menyentuh dada ku, sesak lagi... Kali ini, tidak mungkin kan, kalau aku sedang jatuh cinta pada Falisya?...


Di ke dua matanya terlihat sebuah lapisan menyerupai kaca,


Tapi saat dia tau aku mengamatinya dengan lekat, Anasita memalingkan wajahnya sesaat.


" Sepertinya aku harus ke toilet," timpalnya, berdiri.


" Perlu ku temani?" Tawar Zere, membuat ku, Falisya, dan Anasita sontak menoleh ke arahnya.


" Tidak perlu," Anasita berlalu. Sedikit ada rona merah di ke dua pipinya.


" Zere, ternyata kau sangat mesum... Kau membuatnya sangat malu, pasti," Terka Falisya, membuat Zere terdiam dengan ekspresi sangat lucu.


" Aku hanya sedikit mengkhawatirkannya..." Jawab Zere apa adanya.


Aku menatap ke arah dia pergi, apa benar dia sedang baik- baik saja? Tadi dia terlihat, seperti hendak menangis bukan?


Aku, juga mengkhawatirkannya.