
Selalu ada kata rindu yang mendalam, atau mungkin cuman delusi semata.
Seperti hujan yang jatuh secara alamiah, tanpa rasa, dan tanpa iba.
Tapi... Semua itu, nyata.
~ Lord Alberta.
Dan hal terakhir yang ku ingat saat itu, adalah salju.
Butiran- butiran lembut berwarna putih itu berjatuhan seiring waktu kian deras. Tapi, hawa dingin sama sekali tak menyentuh ku. Jarak di antara wajah kami hanyalah tinggal satu kepal tangan.
Aku memejamkan mata, mencoba untuk terus menikmati saat ini dengan lebih leluasa lagi.
Semuanya...
Aroma mawar segar yang masih berembun dari tubuhnya, butiran salju yang mengenai kami dengan leluasa, Malam dengan segala ornamenya yang kemudian hilang tak bersisa, angin lembut dan air sungai yang meramaikan sepi...
Dan kehangatan ini, rasa nyaman yang dia hadirkan ke dalam diri ku, yang tak ingin lagi memedulikan apa pun. Hanya saat kami berdua.
Karena ke esokan paginya, aku tau, cinta, hanya milik mereka yang merdeka. Perhatian, hanya untuk mereka yang lemah.
Kami bukan lagi aku, dan dia. Kami hanyalah sepasang titah langit, Lord dan Queen yang harus bersikap penuh tipu muslihat, tanpa ekspresi. Menjadi orang, yang bukan lagi menjadi milik diri sendiri, melainkan milik semua orang yang percaya akannya.
Andai waktu bisa berhenti untuk sesaat...
Tidak tidak! Andai waktu berhenti saja, di antara aku, dan dirinya.
Aku tak membutuhkan apa pun lagi dari isi dunia, bahkan jika aku tak lagi dapat bereinkarnasi kedepannya. Setidaknya, dialah yang sekarang mendekap ku dengan seluruh sisa kekuatan yang ia punya.
Tapi takdir berkata lain, yang kami dapatkan bukan rasa bebas, tapi justru sebuah singgasana bertatahkan emas. Hal yang bahkan orang lain banyak yang ingin merengkuhnya.
" Aku mencintai mu, jangan pergi lagi... Diamlah, dan biarkan malam ini, seluruh semesta iri dan cemburu. Aku, hanya ingin berada di sisi mu, mencintai mu, dan terus seperti ini," bisiknya lirih. Membuat hati ku berdebar kencang.
Tapi aku lelah...
Sangat...
Lelah...
🌀🌀🌀
Aku mengerjapkan mata ku berulang- ulang. Dan, hal yang pertama ku lihat, adalah...
" A... Apa yang kakak lakukan di sini?" Tanya ku. Tangannya menyentuh leher ku, dan wajahnya terlihat sangat serius.
Dekat... Sekali.
Aku mencoba untuk bangun, tapi Kak Aleta mencegah ku, membuat ku kembali berbaring. Memungut handuk kecil yang tadi tak sengaja jatuh dari kening ku. Menaruhnya di atas nakas di sebelah ranjang ku.
Canggung...
" Tidak, kakak hanya penasaran dengan tambalan di leher mu," aku spontan meraba bagian leher ku. Huh, bodoh! Dia itu kakak mu... Memang apa yang bisa dia lakukan?
" E'h, tidak papa kok," sangkal ku. Kak Al malah sengaja menekannya kuat- kuat.
" Au!! Dasar! Kau benar- benar bodoh kak, sakit tau!" Teriak ku asal. Saat aku menyadarinya aku langsung terdiam.
" Tadi kau tiba- tiba saja memejamkan mata saat masih dalam perjalanan pulang. Tubuh mu terasa sangat panas, wajah pucat, lebih menakutkan dari mayat, jadi kakak menggendong mu ke kamar, memang apa yang bisa kakak lakukan lagi?"
Wajah ku mungkin sekarang terlihat semerah tomat. Bodoh! Bodoh! Bodoh!...
" Mayat tidak akan ada yang masih kelihatan cantik kali," jawab ku, cemberut.
" Up to you deh kak," pungkas ku. Cowok tidak peka... Pokoknya semua stempel baiknya sudah lama hilang.
" Itu juga, kalau ada sakit bilang, nanti biar kakak antar ke dokter, luka di leher mu cukup dalam, lain kali hati- hati dong," kenapa malah jadi secerewet itu coba.
" Aku mana tau kak, tiba- tibas aja terasa perih, ketika di cerminin, ternyata sudah ada luka seperti ini... Aku tidak mau kakak khawatir, jadi sengaja tidak bilang," jawab ku mengelus- elus tengkuk ku.
" Sudah- sudah, makan ya tadi kakak sudah memasak bubur, biar kakak suapin," tawarnya. Kemudian Kak Aleta membantu ku untuk bangun, menatakan bantal agar aku bisa duduk bersandar ke dinding dengan nyaman.
Aku menatapnya dalam. Kadang- kadang kakak memang terlihat sangat romantis. Dia bahkan mengganti plester luka di leher ku, yang malah aku kira... Sudah- sudah...
Dan sekarang, dia malah sibuk meniup- niup bubur yang masih panas di atas sendok. Kak Aleta menyuapi ku dengan sangat sabar. Sorot matanya sangat menawan. Saat ini, aku baru sadar, bahwa Kak Aleta, memang benar- benar seorang idola.
Beberapa menit yang lalu.
ALETA
" Bagaimana kalau kita ke dokter," lampu lalu lintas masih belum berubah menjadi hijau, aku menoleh ke sisi kiri.
" Var, Variella," aku mengguncangnya pelan, tak ada respon. Wajahnya terlihat sangat pucat, sebenarnya apa yang dia rasakan? Dahinya panas, suhunya tinggi sekali, sejak kapan dia demam? Sepertinya pagi tadi masih terlihat baik- baik saja.
Setelah kendaraan- kendaraan yang berada di depan melaju, aku menginjak pedal gas lebih dalam. Berharap lekas sampai ke rumah.
Butuh beberapa waktu, aku memarkirkan mobil sembarangan. Membawa Variella kembali ke kamarnya. Lalu menyiapkan air untuk mengompres dan memasak bubur kalau- kalau nanti dia siuman.
Sore semakin padam, menyapa langit yang perlahan mulai memetang dengan sendirinya. Aku hanya duduk di sisinya. Menunggu.
Rambutnya berantakan, aku menggunakan jari- jari ku untuk menyibakan anak rambutnya, menyimpannya di balik telinga.
Deg... Deg... Deg...
Wajah pucatnya masih terlihat sangat cantik, bulu matanya yang panjang, dan, bibirnya yang... Ranum.
Apa yang ku pikirkan!!! Aleta... Dia, dia adalah... Queen mu, junjungan yang harus selalu kau hormati, adik yang selalu harus kau lindungi.
Aku mendekatkan wajah ku, aku tak berharap apa pun dari mu, di lahirkan kembali menjadi orang yang sangat dekat dengan mu, menjadi orang yang selalu ingin kau percaya dan memercayai mu, adalah sebuah kebahagiaan.
Sebelah tangan ku terus membelai rambut hitamnya yang terasa halus. Nafasnya terasa lemah, huh... Aku tidak bisa, meskipun, meskipun aku sangat menginginkannya, meski aku sangat mencintai mu, Queen.
Maaf...
~ Arguza.
Aku menarik wajah ku, tapi sebelum sempat terlalu jauh, aku menangkap sesuatu,
" Plester?" Aku melepasnya. Luka yang dalam. Dari mana dia mendapatkan bekas luka seperti itu?
Luka itu masih baru, aku menempelkan jari telunjuk ku di situ, lalu menciumnya.
" Bukan luka biasa, ada aroma seorang Vampir, sangat memalukan! Beraninya gigi- gigi kotor mereka menyentuh adik ku!" Vampir itu tidak menggigitnya seperti apa yang biasa mereka lakukan kepada mangsa- mangsa yang lain, berarti tujuannya bukan mencari darah untuk pelepas dahaga, atau untuk memperbanyak jumlah.
Tapi mungkinkah dia memberikan goresan yang cukup dalam seperti ini tanpa alasan?
Semoga tidak terjadi hal buruk pada mu. Aku meraih tangannya, lalu menciumnya lembut. Mengganti plester yang tadi sudah ku lepas dengan plester yang baru.
Hingga kemudian,
" A... Apa yang kakak lakukan di sini?" Tanya Variella. Tangannya menyentuh leher, dan wajahnya terlihat sangat serius.
Apa dia sedang, salah faham kepada ku?