
Paduan antara rasa malu dan harga diri, atau keberanian dan rasa takut.
Cinta... Kenapa malah menjadi semembingungkan ini?
~ Lord Faizal.
AUTHOR
" Tok tok tok,"
" Masuk," jawab Lord Faizal singkat. Seorang pemimpin Klan Demon yang sangat arif dan bijaksana. Tapi juga terlihat kejam dan tegas dalam waktu bersamaan.
" Krieettt..." Dua orang prajurit dengan baju kuning kecoklatan mendorong pintu besar ganda ruangan pribadi Lord Faizal dari sisi luar, setelah mereka mendapat jawaban persetujuan, menampakkan sosok tegap dengan aura yang hampir sama pekatnya dengan sang Lord.
Pintu kembali di tutup rapat setelah orang itu masuk, berjalan dengan tenang penuh wibawa, tanpa ada sedikit pun rasa canggung. Mendekat pada Lord nya yang tengah fokus membaca sebuah buku tua berisi sejarah dunia ini yang sangat tebal.
Ya... Itu adalah kebiasaan rutin Lord Faizal hampir setiap hari, mempelajari sejarah yang ada, untuk di ambil pelajaran dalam semua bidang- bidang kepemerintahan, kemudian lebih menyempurnakannya agar cocok di gunakan pada masa sekarang.
Orang itu duduk dengan bertumpuan pada satu lututnya, sedang tangan kirinya memegang sebuah pedang bersarung yang ia tegakkan dengan ujung mengenai lantai ruangan, membuat Lord Faizal menegakkan kepalanya sesaat. Gaya yang sungguh anggun.
" Hormat saya Lord, Para pemberontak bayaran itu telah kembali bertindak, mereka semua bahkan berupaya mengepung dari segala sisi menuju pusat pemerintahan Kerajaan," Lapornya dengan tidak mengurangi kewibawaannya sedikit pun.
" Rupanya mereka sudah berani membuka topengnya..." Jawab Lord Faizal tidak kalah datarnya. Sangat tenang, seperti hanya menghadapi segerombol alap- alap yang tengah mengintai merpati- merpati cantik miliknya.
" Slhesshhh..."
" Kurang ajar! Beraninya mereka..." Sambung seseorang bersurai kuning dengan pakaian resmi berwarna putih dan paduan merah, sedikit tegas. Perempuan cantik berhazel biru itu berdiri dengan menyandarkan tangannya pada jendela besar ruang pribadi Lord Faizal.
Membuat Lord Faizal dan Kavyla menoleh dengan serempak. Lord Faizal hanya menepuk jidatnya pelan, terlihat ada ekspresi frustasi di wajahnya. Kavyla hanya tersenyum kecil. Drama yang sangat lucu.
" Selalu saja begitu," gumam Kavyla, pelan. Tuan Putrinya yang hebat sudah kembali lagi. Entah bagaimana Lord nya akan mengatasi hal ini.
" Brakkk," Princess Atsannia melompat ke bawah, menapakkan ke dua kakinya dengan mulus ke lantai. Menatap Kavyla singkat, mengedipkan sebelah matanya yang kemudian di balas dengan anggukan. Membuat orang yang memiliki ekspresi seperti tembok layaknya sang majikan itu bersemu merah. Lalu mendekat ke arah sang Lord, memeluknya.
" Aku pulang, Aku sangat merindukan mu, Lord tampan yang galak..." Ucapnya. Lord Faizal membalas pelukan Princess Atsannia pula walau kaku, bagaimana pun, dia sangatlah mencintai adik perempuannya itu.
" Kau membuat ku tidak punya muka di depan Paman Kavyla. Kau harusnya bertindak lebih sopan San, kakak sedang tidak sendiri, dan kami sedang mendiskusikan hal serius," jelas Lord Faizal lembut. Membelai puncak rambutnya yang wangi.
" Apa di Academy Kebangsawanan mu tidak ada yang mengajari tentang tata krama?" Tanya Lord Faizal.
Deg!... Atsannia hanya bergeming lirih.
" Lord, apa kata- kata mu itu tidak terlalu kejam," batin Kavyla. Bagaimana pun, Princess Atsannia adalah seorang gadis kecil.
" Hari ini aku bolos mata pelajaran Manajemen Ilmu Sihir dan Keahlian Khusus hanya karena ingin bertemu dengan kau yang angkuh, tapi kakak malah mengatai ku, benar- benar tidak sopan!"
" Baiklah, kalau begitu, silahkan lanjutkan diskusi mu dengan tembok, aku hanya ingin bawa Kak Kavyla," timpal Princess Atsannia melepas pelukannya, lalu berjalan cepat menuju ke arah Kavyla, menarik tangannya.
" Temani saja dulu dia," titah sang Lord. Kavyla hanya mengangguk, keluar menerobos pintu ruangan Lord nya dengan sangat tidak sopan, tanpa penghormatan pula. Hhh... Princess Atsannia.
" Kau... Susah sekali jika aku ingin mengerasi sikap mu yang selalu semaunya itu... Dasar, gadis pengatur, kau masih saja kekanak- kanakan. Cih! Bahkan aku tidak akan pernah membiarkan mu menikah jika sikap mu masih saja tidak berubah... Kau pikir jika kau membawa Kavyla pergi aku bisa melanjutkan diskusi ku?" Gumam Lord Faizal tanpa pendengar. Tersenyum samar, juga merasa sedikit, heran... Bisa- bisanya dia memiliki seorang adik perempuan yang, brutal.
" Maaf, kakak mengatai mu terlalu kasar hari ini, Atsannia,"
🌀🌀🌀
Di taman Havricaslia, mereka berdua duduk- duduk di bawah sebuah pohon.
" Princess, sebaiknya pakailah gaun, atau hanfu yang sederhana saja, agar Lord tidak terus- terusan memegang kepalanya saat anda datang berkunjung," sarannya.
" Apa aku terlihat tidak pantas mengenakan model baju resmi seorang ksatria? Apa kecantikan ku memudar?" Tanya Princess Atsannia, dia tidak pernah menganggap berat sesuatu.
" Eh, tidak, anda selalu terlihat cantik, bahkan dengan dandanan anda yang tidak memperlihatkan sosok wanita anggun dan lemah lembut sekali pun," jawab Kavyla.
" Kau tau alasannya kak... Aku tidak ingin menikah di usia muda hanya karena mereka akan tertarik pada ku yang feminim, aku hanya ingin menikah dengan mate ku saja saat suatu hari nanti aku menemukannya," jawab Atsannia lagi.
" Kalau masalah aku yang selalu berbuat tidak sopan, aku hanya ingin Kakak memerhatikan ku, bukannya malah terus auto fokus pada kerajaannya, kami hampir tak pernah memiliki waktu untuk bersama sejak kecil, dulu Ayah selalu mendidik kakak agar mampu memegang Havricaslia, dan sekarang kakak sudah terbuai di dalamnya,"
" Slusshhh, krekkkk, bukkk!" Lelaki bersurai hijau muda, melompat turun dari atas pohon, membuat dedaunan- dedaunan dan ranting- ranting rapuh pohon itu berjatuhan secara suka rela.
" Kan, anda bisa melihatnya, masih ada orang yang nilai kesopanannya jauh di bawah batas rata- rata, juga sangat... Jauh, di bandingkan anda," kata Kavyla menatap Lauzy dengan tatapan mengintimidasi. Atsannia masih diam melongo, terkejut.
" Hormat ku pada Princess Atsannia, anda sangat cantik hari ini," terka Lauzy yang berkepribadian lebih santai dari pada Kavyla.
" Kakak Lauzy...." Teriak Princess Atsannia memeluk Lauzy asal. Kavyla hanya mendengus kesal.
" Kali ini aku menang, Kavyla.." Seringai Lauzy dalam hatinya. Agak terkejut juga.
🌀🌀🌀
" Ngomong- ngomong, saya mendengar anda melakukan transfer academy ke Amethyst, apa itu benar?" Tanya Lauzy. Mereka bertiga kini tengah duduk bersama di rerumputan bawah pohon tempat Lauzy tadi muncul dengan tiba- tiba.
" Huh, bukankah kau mendengarnya dari ku? Lauzy sialan," gumam Kavyla dalam hatinya. Lauzy langsung menggunakan tangannya untuk mengipasi Princess Atsannia.
" Cuaca sangat mengerikan akhir- akhir ini, Princess..." Kata Lauzy melirik ke arah Kavyla yang hanya bisa berlagak sok manis, lalu ke duanya hanya bermain mata dengan ekspresi yang cukup unik.
" Hhhm mhmhm..." Princess Atsannia hanya menahan tawanya tiap kali berada di dekat ke dua orang kepercayaan Kakaknya. Mereka benar- benar telah saling mengenal, seperti seorang, teman...
" Yah, sebenarnya sudah tiga atau empat bulan ini sih aku di sana. Kalian juga seharusnya tau kan kak? Academy Amethyst adalah salah satu akademi tertua yang telah banyak meluluskan orang- orang hebat. Kakak dulu juga lulusan dari Academy itu, aku benar- benar ingin seperti kakak," katanya, menerawang.
" Jangan Princess, jangan, anda lebih baik begini..." Sela Kavyla rusuh.
" Eh... Yang pasti bukan arogan, menjengkelkan, tidak tau malu, dan paket- paket sifat buruk kakak yang ingin ku tiru, hanya saja, kakak adah orang yang disiplin, cerdas, dia merupakan salah satu siswa terbaik lulusan itu." Sambungnya, merasa kagum.