
" Yah, sebenarnya sudah tiga atau empat bulan ini sih aku di sana. Kalian juga seharusnya tau kan kak? Academy Amethyst adalah salah satu Akademi tertua yang telah banyak meluluskan orang- orang hebat. Kakak dulu juga lulusan dari Academy itu, aku benar- benar ingin seperti kakak," katanya, menerawang.
" Jangan Princess, jangan, anda lebih baik begini..." Sela Kavyla rusuh.
" Eh... Yang pasti bukan arogan, menjengkelkan, tidak tau malu, dan paket- paket sifat buruk kakak yang ingin ku tiru, hanya saja, kakak adalah orang yang disiplin, cerdas, dia merupakan salah satu siswa terbaik lulusan itu." Sambungnya, merasa kagum.
" Aku tidak mengerti, setelah berpuluh- puluh tahun berlalu, hubungan para Makhluk Immortal Negri Bawah, dan makhluk- Makhluk Suci Negri Atas belum juga kunjung sembuh dan membaik. Masih saja terlihat berseteru dan memiliki batas, meski itu samar dan tidak terlalu memancing kecurigaan. Bahkan keadaan itu sangat kentara di Academy hebat seperti Amethyst juga..." Keluh Princess Atsannia.
Di sudut lain, jauh di dalam salah satu ruangan di dalam Istana besar tersebut. Lelaki itu sedang sibuk memandang ke luar jendela.
Dia benar- benar telah di sibukkan oleh aktivitasnya menguntit adik pengaturnya yang sedang bersama dengan dua orang kepercayaannya. Sedari awal, hingga sekarang mentari hendak kembali turun ke peraduannya. Warna merah mengambang menembus biru yang tengah bercampur dengan keemasan yang berwibawa.
Adik pengaturnya terus saja tertawa, sepertinya sangat menikmati kebersamaan itu. Sang Lord hanyalah terlalu naif dan gengsi kepada Princess Atsannia. Dia tidak pernah secara jelas menunjukkan apa yang di rasakannya kepada orang lain, Lord Faizal sendiri hanya berkesimpulan, bahwa ini sudahlah nasib dari seorang Lord.
Bahkan dia telah di tuntut untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Putra Mahkota kecil malang yang telah kehilangan kasih sayang dan masa kecilnya sendiri karena harus mengabdi pada masyarakat setelah ke dua orang tuanya memutuskan untuk rehat selama beberapa ratus tahun ke depan.
Mereka bertiga beranjak dari duduknya, berdiri, dan bergegas kembali ke arah Istana.
" Krieettt..." Pintu ganda besar yang menjulang itu terbuka setelah para prajurit mendengar komando dengan suara berat dari arah dalam.
Menampakkan seorang Lord dengan rahang kuat dan tatapan tajam beraura Demon tingkat tinggi. Berjalan pelan- pelan ala seorang bangsawan, mendekati Princess Atsannia yang terpaku diam di tempat, dengan Kavyla dan Lauzy yang masih setia di belakangnya.
" Sebelum kau pergi, apa ada yang ingin kau bicarakan dengan kakak tampan mu yang galak ini, ha?" Kata Lord Faizal dengan nada datar, ekspresi angkuh, kata- kata pelit, dan tatapan sialannya seperti biasa. Bertanya kepada Atsannia.
" Huh, tidak sama sekali, aku hanya berfikir, tadi aku datang dari jendela ruangan mu, maka akan lebih baik jika aku pergi juga dari situ," jawab Princess Atsannia mengerucutkan bibirnya.
Kakak yang benar- benar dia sayangi, tapi kelakuan yang benar- benar tidak dia harapkan. Dia berjalan berbalik dengan tergesa, tapi kemudian sebelah tangannya diraih oleh sang Lord, di tariknya, sehingga jarak mereka berdua sangatlah dekat. Dekat sekali...
" Apa kau masih marah dengan sikap ku?" Tanya Lord Faizal.
" Kau bodoh Lord, kau tidak mesti menanyakan hal itu pada ku. Dan lagi, kau selamanya benar, okey? Jadi, lepaskan aku sekarang! Aku harus sampai ke asrama sebelum malam," timpal Princess Atsannia.
Lord Faizal tidak menggubrisnya sama sekali, dia menangkup kepala adik kecilnya itu, lalu mencium lembut puncak surai kuningnya.
" Apa di Academy Kebangsawanan mu dulu tidak ada satu pun guru yang mengajari Yang Mulia Lord tentang tata krama?" Sambungnya.
Deg!... Itu adalah sebuah pukulan keras bagi Lord Faizal. Sangat, sangat, tidak bisa di ungkapkan dengan kata- kata, berfikir, apakah Atsannia benar- benar sangat tersinggung dengan dirinya.
" Dimana letak tidak tahu malunya San? Kau adalah adik ku. Apakah ada hukum, bagi seorang kakak laki- laki, untuk tidak mendekati adik perempuan satu- satunya yang ia miliki, menciumnya, mengucapkan kata maaf, dan ingin mengatakan bahwa dia sangat mengkhawatirkan adiknya karena dia menyayanginya lebih?" Ucap Lord Faizal, menatap tepat pada manik mata sang adik. Hancur sudah image dan wibawanya di depan para bawahan.
Princess Atsannia kemudian melepaskan pegangan tangan kakaknya yang kuat dari ke dua bahunya. Berpaling. Di ke dua bola matanya sudah terbentuk sebuah lapisan menyerupai kaca yang sangat tipis dan rapuh yang siap pecah kapan saja, lalu menumpahkan apa pun yang ada di dalamnya.
" Aku hanya ingin mengatakan agar kau berhati- hati. Hari mulai malam, kalau perlu, kakak akan menyuruh paman Kavyla dan paman Lauzy untuk mengantar mu sampai ke depan gerbang asrama jika kau tidak keberatan," kata Lord Faizal, hendak berbalik kembali ke dalam ruangannya.
" Lord bodoh, dasar! Kakak tidak peka! aku sayang pada mu!... Apa harus aku yang berinisiatif seperti ini lebih dulu? Lalu bagamana nanti aku akan punya Kakak Ipar?" Kata Princess Atsannia berbalik kembali, memeluk kakaknya erat dengan air mata yang mengalir tanpa kompromi.
Lord Faizal mengusap puncak surai Atsannia berulang- ulang. Terkejut.
" Maaf," timpal Lord Faizal lirih.
" Permintaan maaf di terima... Tapi aku ingin kakak sendiri yang mengantar ku kembali ke asrama Academy, dan pastikan aku tidak kehilangan sehelai saja dari rambut indah ku ini sampai aku masuk ke dalam kamar ku di asrama Academy," jawab Princess Atsannia dengan nada cerianya yang sudah kembali.
Lord Faizal menggunakan ke dua tangan kekarnya untuk menghapus jejak air mata itu di ke dua sisi pipi adik pengaturnya.
" Tentu saja, sungguh kehormatan bagi kakak bisa menghantarkan Princess Atsannia, dan di beri tanggung jawab untuk menjaganya pula hingga ke asrama Academy, jangan lagi menangis, kakak benar- benar meminta maaf," Kata Lord Faizal, menarik ke dua sudut bibirnya keatas dengan canggung. Tersenyum bukanlah kebiasaannya semenjak menjadi seorang Lord. Dan dia naik tahta saat masih mendekati remaja, bibirnya sangat kaku.
" Aku masih membenci nada datar, ekspresi angkuh, kata- kata pelit, dan tatapan sialan mu kak! Kau lebih lucu dengan wajah seperti itu, meskipun senyuman terpaksa mu masih kurang terihat anggun," komentar Princess Atsannia.
" Sudah, jika kau mengoceh terus, kita akan tiba ke asrama Academy tahun depan," jawab Lord Faizal. Mereka berdua berbicara dengan ikatan seorang kakak beradik. Sama sekali tak menghiraukan sedikit pun tatapan, bahkan komentar dari para maid dan prajurit yang berlalu lalang silih berganti dengan senyuman bahagia dan pikiran mereka masing- masing.
Sedang Kavyla dan Lauzy yang sedari tadi tidak beranjak dari posisinya, hanya tersenyum dan tanpa sadar juga saling berpelukan.
Hubungan antara kakak beradik yang sangat, ROMANTIS...
Setelah itu, Princess Atsannia hanya terdiam dalam dekapan sang Lord, membiarkan kakaknya terus mengepakkan sayap lebarnya membelah langit yang tenang. Bersatu dengan kawanan burung- burung yang mungkin juga sedang bahagia hari ini, seperti dirinya, Atsannia. The Five Knight of Shoecha.