Shoecha

Shoecha
Ch 23- Pertanda



You are my best reason so that i am who i am today, and i will never regret it.


~ Lord Alberta.


Hingga beberapa jam setelah itu, di sinilah dia.


Typherus.


Tepat di hadapan segel Jiwa Kegelapan. Bersama Lord nya, dan seorang Wizard aliran hitam, yang terusir dari Klannya karena sebuah penghianatan.


Sebuah kekuatan lain mendekat.


Bukan... Tapi Auranya terasa seperti penghuni Negri Atas. Hingga seorang dengan busana resmi dan sayap senada memperlihatkan sosoknya. Pria itu terlihat sedang terkejut.


" Hari ini kita kedatangan tamu tak di undang rupanya, ha ha ha..." Ucap seorang perempuan serba hitam di antara dua orang yang amat pria itu kenali, Lord Sykralipe, dan Pang Limanya.


" Dewa Hujan dari Teriovalefi, salam hormat saya pada paduka..." Menunduk sesaat. Lalu mengalihkan tatapannya pada ke dua orang yang mengapitnya.


"Jangan biarkan dia mengganggu ritual terlarang ini," Titahnya yang kemudian di sertai pergerakan dari Lord Girel dan Affrel maju untuk menyerang sang Dewa.


Dewa Hujan yang saat itu belum siap dengan kondisi pertarungan pun terpental. Lalu serangan bertubi- tubi mereka lancarkan sebelum sempat terbalaskan satu pun.


Sang Dewa yang benar- benar kecolongan start telak, hanya bisa mengerang kesakitan saat tubuhnya terhempas jatuh menimpa rerimbunan " alipharapus" yang tumbuh subur di setiap sudut tanah hutan.


Tak berdaya. Tubuhnya benar- benar terasa hancur tak bersisa. Seperti sudah tidak ada harapan untuk bertahan, atau sekedar kembali bernafas.


Lord Girel memusatkan seluruh tenaga dalam tubuhnya agar berpusat pada ke dua tangannya yang bebas. Sebuah gumpalan cahaya berwarna abu- abu tercipta dengan seringaian sadis yang khas.


" Mati kau!!!" Teriaknya.


" Plash..." Sebuah cahaya hitam menghantam gumpalan cahaya abu- abu itu tepat sebelum mengenai tubuh tak berguna Dewa Hujan saat ini. Matanya nyalang.


" Rafinder... Apa maksud mu?!" Teriak Lord Girel tidak terima.


" Bodoh, tidak akan pernah ada satu orang pun di dunia ini yang akan mampu bertahan dari serangan racun alipharapus, yang hanya tumbuh di Negri Bawah.


" Apalagi itu tumbuhan yang sudah lama berpadu dengan aura kegelapan Typherus yang telah terkutuk.


" Tumbuhan itu sudah lebih dari cukup untuk meretakan belulang, dan membuat semua organ- organ dalam tubuh mati fungsi dalam beberapa jam. Bahkan bagi dia yang seorang Dewa sekali pun, juga akan hancur ketika terkena racun dari tumbuhan cantik itu.


" Biarkan dia pergi ke Negrinya. Kita lanjutkan ritual kita. Sangat tidak menyenangkan jika kebangkitan Sang Jiwa Kegelapan tidak mereka sambut dengan meriah," jawab sang Wizard.


" Kau dengar?! Pergi sebelum aku berubah fikiran!" Suruh Lord Girel dingin. Juga bergidik ngeri atas apa yang bisa ia cerna dari penjelasan Rafinder. Sepertinya memang sekutu yang memuaskan.


🌀🌀🌀


" Maaf Lord, apa yang sedang Lord fikirkan? Sepertinya anda terlihat sangat gelisah..." Tanya Kavyla yang bingung melihat tingkah Lord nya.


" Benar Lord, bahkan anda sudah mondar mandir selama lebih dari dua jam terakhir," tambah Lauzy yang juga merasa bingung dan ganjal.


" Entahlah, aku rasa ada yang salah dengan semua ini... Aku merasa darah ku mengalir dengan cepat, dan, sedang sedikit mencemaskan sesuatu," Kedua pengawal kepercayaannya hanya merasa ngeri mendengar penuturan pemimpin sekaligus sahabat mereka.


Tidak seperti biasanya, Lord Faizal yang dingin dan sangat kuat, pemimpin Klan Demon tertinggi, dan merupakan salah satu dari Tiga Besar Lord Utama Negri Bawah, bisa mencemaskan sesuatu yang bahkan tidak ia ketahui.


" Jiwa Kegelapan ya... Apa bedebah itu benar- benar masih bisa bangkit lagi?" Gumam Lauzy setelah menatap judul buku yang ada di depannya.


Kavyla dan Lord Faizal menoleh secara bersamaan ke arah Lauzy, yang di tatap langsung kelabakan.


" Em, maaf Lord, atas kelancangan saya, saya hanya tidak sengaja karena judul buku ini," Ucap Lauzy bingung dan sungkan. Siapa yang tidak tau tentang pertarungan yang meninggalkan banyak kesan itu? Apalagi Lord Faizal yang merupakan pemimpin Klan Demon tertinggi, dan merupakan salah satu dari Tiga Besar Lord Utama Negri Bawah, juga turut andil dalam pertempuran.


" Tidak, bukan itu yang sedang ku fikirkan, tapi sepertinya, perkataan mu itu bisa ku pertimbangkan sebagai alasan kecemasan ku yang membingungkan ini."


Kavyla dan Lauzy langsung bertatapan. Peristiwa kelam 450 tahun yang lalu kembali berputar dalam ingatan masing- masing.


Berawal dari kemarahan putra Dewa Hujan yang ingin menjemput mate nya. Hingga bangkitlah jiwa Shoecha dari sang Putri Cahaya yang ternyata adalah mate putra Dewa Hujan.


Keduanya tenggelam dalam pembicaraan panjang, hingga Kavyla dan Lauzy tak menyadari bahwa Lord mereka sudah entah pergi kemana.


🌀🌀🌀


" Kita harus segera pulang," Pinta Alberta khawatir.


" Aku tidak selemah yang kau kira kak, aku hanya terjatuh saja tadi..." sangkalnya.


Alberta meraih tangan Variella sebelum tubunya benar- benar menyapa tanah, memosisikan mate nya dalam dekapan hangat yang dia bisa. Alberta dapat dengan jelas mendengar betapa jantung kekasihnya itu bisa berdebar begitu kencang.


" Srettt.... Chhi hi hiitttttt..." Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan gerbang kokoh High School. Seorang pria berwajah dingin keluar dan berjalan mendekat ke arah Variella dan Alberta dengan tanpa ekspresi.


Keduanya hanya diam di tempat.


" Aleta... Sepertinya aku sudah membuat seorang Iblis Besar marah," gumam Variella.


" Aleta? Siapa laki- laki itu?" Tanya Alberta ketika ia bisa melihat aura yang terpancar dari puncak kepalanya.


" Lagi- lagi seorang bangsawan yang bukan orang biasa," batin Alberta.


" Dia, penggemar fanatik ku, dia sedikit gila, jadi jangan hiraukan~"


" Pulang!!" Perintah Aleta, menarik lengan kiri adik perempuannya.


" Apa kau bisa berkata dengan lebih lembut pada seorang perempuan?" Tanya Alberta hendak melepaskan tangan Variella dari cengkraman Aleta yang katanya fans fanatik gila itu.


" Apa kau bisa belajar lebih menghargai wanita? Ini sudah sangat malam," terka Aleta merasa tidak senang, menatap tajam Alberta yang masih terlihat santai.


" Aura yang sangat berbeda dari orang pada umumnya... Siapa sebenarnya lelaki ini?? Apa mereka semua sudah mulai turun tangan, aura Shoecha nya juga mulai sedikit lebih menguat dari sebelumnya, aku harus memberikannya portal tambahan sesampainya di rumah," kata Aleta dalam hatinya.


" Aku tidak tau siapa diri mu, tapi jangan mencoba untuk terlalu dekat dengan wanita ku! Dan jika aku tau dia terluka karena mu, sedikit saja, aku pasti akan mengirim mu ke dunia tak tersentuh," ancam Aleta dengan penekanan pada kata " wanita ku". Pergi menyeret Variella yang menunjukan ekspresi tidak suka.


Aleta membuka pintu belakang mobilnya, mendorong Variella masuk dengan kasar, lalu membanting pintu, menutupnya.


Mobil bergerak pergi meninggalkan halaman sekolah yang sudah sepi.


Alberta berjalan ringan seorang diri, menikmati malam yang semakin larut.


" Dunia tak tersentuh, rupanya dia juga telah menyadari kalau aku bukanlah seorang manusia," dia tersenyum sinis.


" Siapa diri mu yang sangat angkuh itu? Ha??? Aleta, aku juga akan melakukan hal yang lebih, dari apa yang hendak kau lakukan kepada ku. Jika mate ku, terluka di tangan mu, dan bersedih, karena ulah mu. Dia adalah mate ku, bukan, dan tidak akan pernah bisa jadi wanita mu..."