Shoecha

Shoecha
Ch 16- Salam Pertemuan



" Tidak usah repot- repot menjemput ku, aku bisa pulang sendiri," jawab ku masih sebal, menutup telepon dan memasukkannya ke dalam saku seragam ku.


Sial, Falisya malah entah sudah kemana nyawanya. Aku berjalan malas keluar dari kelas.


" Bisa bareng?" Tanya lelaki itu, Zere.


" Bareng?" Jawab ku bingung. Menatapnya yang sekarang tengah berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di pintu masuk kelas. Menuntut jawaban.


" Bareng sampek gerbang aja," katanya lebih memperjelas, kemudian tersenyum. Sepertinya dia adalah tipe lelaki yang sangat easy going.


" Oke, gak masalah," jawab ku.


Kami pun berjalan bersama, sekolah agak sepi, sebagian siswa sudah berada di asrama masing- masing, dan sebagian lainnya sudah pulang.


" Mm... Anak asrama ya?" Tanya ku memecah canggung yang terasa sangat jelas.


" Heem, gedung asrama selatan tingkat tiga, nomor kamar seratus satu. Tinggal mampir aja kalo lagi longgar, aku bakal ngerasa sangat tersanjung kok bisa dapet kunjungan di hari- hari awal ku sekolah di sini," jawabnya sangat lengkap. Aku hanya mengangguk.


Untuk menuju gerbang, kami harus melewati sebuah taman yang cukup besar, dan cukup menghabiskan waktu juga. Dia bercerita tentang banyak hal, termasuk kasus kepindahannya yang sudah berkali- kali terjadi karena harus mengikuti ke daerah mana ayahnya di dinaskan oleh perusahaan.


Aku hanya menanggapinya sedikit- sedikit. Bagaimana bisa, seorang lelaki benar- benar terbuka, dan memperlihatkan sisi ke cerewetannya di depan orang yang bahkan baru ia kenal tadi pagi?...


Aku dapat memastikan, kalau Zere pasti akan sangat mudah untuk mendapatkan teman di sini. Dan mungkin juga di sekolah- sekolahnya yang dulu. Apa lagi Zere sangat ramah dan juga, tampan... Friendly sekali.


" Shyuuuut..."


" Ah,.."


" Slashh..." Aku menutup wajah ku asal, terkejut.


" Zere?" Lelaki berambut biru itu merentangkan sebelah tangannya dengan telapak terbuka menutupi wajah ku. Menghadang sesuatu mengenainya. Sebuah gumpalan cahaya berwarna hitam pekat. Lalu dengan enteng mementalkannya.


" Apa kau terluka?" Tanyanya dengan nada khawatir.


" Ti, tidak," terka ku.


Aku, tidak, siapa sebenarnya orang yang tengah melindungi ku ini? Zere, dia?...


" Hak, ha," dia terus menampik segala serangan yang tiba- tiba saja terjadi.


Aku hanya berlindung di balik tubuhnya yang gesit. Aku tidak tau harus bagaimana. Diam.


" Keluar, cuih!!! Dasar pengecut!!" Teriaknya menantang. Tatapannya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan Zere yang barusan berbicara pada ku dengan hazel teduhnya.


Lalu seekor kelelawar terbang menukik, turun ke tanah, dan, wush...


Terlihat sebuah abu gelap yang kemudian menampakkan sesosok laki- laki dengan, baju resmi, kostum cosplay Kerajaan. Lelaki itu menundukkan kepalanya dengan tangan kanan menyentuh dada, seakan memberikan penghormatan.


" Anda sangat jeli, Tuan Zere, tak ku sangka bisa bertemu dengan anda di sini. The Second Knight of Shoecha. Ternyata anda bisa lebih dulu menemukan Queen Variella ketimbang saya... Tenanglah, saya juga tidak berniat untuk membuat onar sedini ini. Anggap saja ini hanya sebagai salam perkenalan, permisi," katanya, melompat ke udara, kemudian kembali menjelma menjadi seekor kelelawar dan pergi.


Zere masih terdiam dalam fikirannya, Princess Variella?... Knight?... Aku menatap Zere penuh dengan tanda tanya besar.


" Ze~"


" Variella," aku menoleh, terkejut, begitu juga dengan Zere.


Aleta... Ah, selalu saja datang pada waktu yang salah..


Aleta berjalan mendekat, menggandeng tangan ku, tapi tatapannya terhenti sesaat kepada Zere.


" Salam~"


" Terima kasih, kami pergi," terka Aleta memutus kata- kata Zere, menarik ku. Sangat buta sopan santun, dasar kakak yang memalukan. Syukurlah aku tidak pernah mengakuinya di sekolah ini...


" Salam, Zere, senang dapat kembali bertemu dengan mu," ucap Aleta me mind link Zere, tersenyum.


" Juga, salam hormat ku pada Master Arguza, Leader of Knight, the First Knight of Shoecha, memang tak bisa di sangka sebelumnya, kalau kita akan bertemu dalam keadaan seperti ini," balas Zere.


" Sejak kapan kau berada di sini, dan apakah kau sudah mulai merasakan aura Shoecha dari tubuh Queen?"


" Aku kemari dengan status murid pindahan dari luar kota pada hari ini, Master. Sepertinya, aura Shoecha itu memang sudah mulai terasa meski lemah, firasat ku mengatakan hal buruk, Prince Saifar tadi datang menghadang,"


" Prince Saifar?" Tanya Aleta tak percaya.


" Iya Master, Prince Saifar, adik kandung dari Lord Izac Manufarius Liata, seorang Vampir yang mengikuti marga Ibu, Kerajaan Santania." jawab Zere.


" Aku mendapat kabar bahwa Prince Teriovalefi juga berada di sini, ku perintahkan kau untuk mencari beliau, lebih cepat kita bersatu, maka akan lebih baik, kita tidak pernah tau, kapan kegelapan akan kembali setelah mereka berhasil menghimpun kekuatan lagi selama beberapa tahun terakhir. Oh ya, aku titipkan Queen juga pada mu jika aku sedang tidak ada, dia, adalah adik perempuan ku,"


" *Eh, ba, b**aik, Master, akan saya laksanakan*,"


" Kakak," panggil Variella, Aleta pun memutuskan mind linknya.


" Iya," jawab Aleta.


" Kau sangat tidak sopan hari ini! Jangan seenaknya, Zere sudah menyelamatkan ku, dan kau bahkan tak memberi ku kesempatan untuk mengucapkan rasa terima kasih... Dan lagi, kau tak membiarkan dia menyelesaikan kata- katanya tadi," hardik ku. Mau ku taruh mana muka ku besok jika bertemu dengannya lagi?... Ah!!!... Dasar, Aleta sialan... Sialan!!!


" Maaf," katanya.


" Enak banget bilangnya... Kakak ku yang paling tampan... Aku merasa tidak enak, bagaimana aku harus bersikap kalau bertemu dengannya besok pagi, ha?!"


Dia membuka pintu mobil dan masuk ke sisi pengemudi. Membiarkan ku terus berdiri di luar pintu yang telah sempurna di tutup. Dia menurunkan kaca pintu mobil itu sedikit.


" Mau pulang, atau masih ingin berdiri meratapi nasib?" Tanyanya. Aku berjalan kesal menuju pintu belakang, membukanya, lalu menutupnya lagi dengan kasar.


" Kenapa kau sangat suka mempermainkan ku Al?... Bahkan tadi pagi kau membuat ku mual dengan sikap romantis mu, kau benar- benar cuman mau pamer tampang di depan teman- teman ku ya?" Oceh ku teringat kejadian pagi tadi.


" Anggap saja begitu," jawabnya tanpa sungkan.


" Aleta!...." Teriak ku menjambak rambutnya.


" Ah, ampun Tuan Putri.... Ampuni saya..." Timpalnya dengan nada sok kesakitan. Bodo, aku tidak akan memperdulikannya.


" Hey... Variella, apa kau benar- benar ingin masuk berita Nasional karena mati dalam kecelakaan mobil dengan seorang lelaki tampan dengan jutaan fans begini?" Tanyanya yang membuat ku melepaskan jambakan ku. Aleta hanya menyeringai penuh kemenangan.


Sejak kapan dia belajar menjadi orang brengsek seperti ini?... Mungkin aku adalah seorang adik yang sangat tidak beruntung di dunia ini... Apa sih yang mereka banggakan dari seorang Aleta Souju bangke ini?!!!


Menyebalkan!!!


" Kau menang kali ini, tapi lihat saja apa yang bisa ku lakukan pada mu besok pagi," jawab ku. Melipat ke dua tangan ku ke dada.


" Apa barusan kau sedang mengancam ku, Variella?" Tanyanya, tersenyum kecil. Kenapa sejak kemarin selalu saja membuat ku jengah, kalau begitu tidak usah pulang saja sekalian.