
CINTA, bukan berarti kita harus berlemah lembut, bukan berarti kita harus beramah tamah, bukan berarti kita harus mengalah, bukan berarti kita harus menurut.
CINTA, adalah sebuah bahasa yang mengabarkan kasih dan sayang, tak peduli dengan intonasi keras, atau nada yang buruk, atau mungkin pelampiasan yang tidak sempurna.
~ The Last Knight Anasita.
" Sts... Ah... A!!..." Aku berlari mendekatinya, dia masih berteriak kencang dengan suara yang sarat akan rasa sakit.
Dada ku berdebar sangat kencang, dia tidak lagi mirip dengan Kak Alberta, tapi...
" Prin... Cess... Apa itu, benar kau? Var, Var, iella... Eh," air mata ku mengalir, darah ku berdesir keras mengalir ke jantung dan otak ku.
Dia melihat ku, mengenali ku,
" Kak Al," ucap ku, tangan ku terangkat hendak membelainya yang tengah kepayahan.
Suara dentuman- dentuman besar terdengar berkali- kali. Aku menoleh ke arah belakang, tempat di mana pertempuran masih berkecamuk.
Tujuh orang bersayap itu membagi tugas dengan segera, sebagian tetap berusaha menetralkan aura jahat yang menyelimuti tempat ini, sebagian lagi menggantikan tugas orang- orang yang menurut ku adalah sekutu dari Kak Alberta, lalu seorang di antara mereka bertarung dengan Sang Jiwa Kegelapan, laki- laki yang ku anggap adalah Leader mereka tadi.
" Agr, astaga!" Aku terkejut, kembali membalikkan badan ke arah, Kak Al, tangannya terasa sangat dingin.
" Kak?..." Panggil ku, aku merasa sangat khawatir, tapi dia malah terus mencoba tersenyum di balik rasa sakitnya. Apa serangan tadi terlalu kuat?
Aku hendak berusaha untuk memapahnya berlindung ke tempat yang lebih tertutup dari pertempuran, tapi dia menggelengkan kepalanya lemah, mencegah ku.
" Al- li, pa- ra- phus, Var," katanya lemah, memberi isyarat dengan melirik rimbunan tanaman berduri halus berwarna ungu pucat bercampur merah darah yang mengenai hampir seluruh tubuhnya. Tapi aku tidak tau apa yang dia maksud sama sekali.
Aliparaphus, apa itu yang tadi dia katakan? Sebuah tanaman. Ada apa dengan tanaman itu?
Aku melihat mata kelam Kak Al menatap tajam tepat di tengah hazel perak si leader yang sesaat berhasil memukul mundur Sang Jiwa Kegelapan.
" Jika kemungkinan buruk terjadi, cukup, tolong bawa Princess Variella pergi dari sini, selamatkan dia, dia adalah Queen kalian, jaga dia untuk ku," Prince Alberta me mind link Arguza, Leader dari para Knight tertinggi Negri Shoecha.
***Arguza yang di ajak bicara menoleh ke arah Variella yang malah hanya terlihat seperti bayangan samar dari tubuh aslinya.
Perempuan itu, Princess Variella, the Queen of Shoecha?~ Arguza***.
" Aku mengerti, tapi aku tak akan pernah membiarkan semua ini terjadi begitu saja, dan kita berada di titik bawah kekalahan, selamanya Sang Jiwa Kegelapan akan berulah karena ambisi bodoh dan sumpah gilanya, kita akan menang, percayalah, Prince Teriovalefi," jawab Arguza ikut meyakinkan diri.
" Ini adalah tugas ku, melindungi Queen, dan menjaga keseimbangan seluruh sunia, jadi, aku akan melakukannya, sebaik yang ku bisa," lanjutnya.
" Sring, slep, slle... Shhh," Arguza menoleh, Sang Jiwa Kegelapan menyerang dengan sangat bersemangat dan penuh emosi- emosi negatif.
" Aku pamit dulu, doakan saja," jawab Arguza memutus mind link secara sepihak.
" Kak Al, kenapa?" Tanya ku saat ku lihat dia sekilas sedang melamunkan sesuatu.
" Ma, af, Prin, cess." Aku mempererat genggaman ku pada telapak tangannya.
" Bertahanlah, Kak," beo ku tak terlalu berguna.
Menurut ku, tujuh orang bersayap itu telah sampai pada puncak kekuatan mereka. Tapi mereka semua masih berusaha untuk terus bertarung meski telah jatuh berkali- kali.
Aku tidak tau kenapa keadaan di sini seperti ini, pertempuran, darah, dan nyawa. Hanya ada hidup, mati, kalah, dan menang. Tidak ada keharmonisan sama sekali. Ego dan ke naifan yang memuakkan.
Keterpautan telapak tangan kami semakin memudar,
" Kak?" Aku sangat khawatir
" Kak!"
" Kak Al..."
Tidak ada jawaban, matanya memejam, kulitnya pun mulai membiru, dingin, yang ku tau, sesaat sebelum bibirnya mengatup rapat, dia sempat mengucapkan kata- kata dengan lemah,
" Aku akan terus mencintai mu saja, jika waktu tak memberi ku ijin untuk merindukan mu, Variellla," aku terkejut.
" Kak Aaaalll...." Teriak ku, di susul dengan seringaian kejam dan bengis dari Sang Jiwa Kegelapan. Tujuh orang bersayap itu telah tersungkur tanpa daya. Mungkin sekarang tinggal aku seorang yang masih dalam keadaan baik- baik saja di sini.
Tidak, ralat, aku, dan setumpuk rasa sedih, tidak terima, serta amarah. Sang Jiwa Kegelapan sepertinya tak dapat melihat ku.
Aku benar- benar bersumpah kalau dia sangatlah pantas untuk binasa. Sang Jiwa Kegelapan yang sangat menjengahkan,
" Aku akan terus mencintai mu saja, jika waktu tak memberi ku ijin untuk merindukan mu, Variella," matanya terbuka, hazel biru itu berubah menjadi putih menyala, atau lebih tepatnya menyerupai warna silver yang sangat indah.
Surai kalem berwarna biru laut itu pun juga berubah, menjelma menjadi warna putih bersih, sama seperti ke dua hazel matanya.
Di puncak rambutnya terdapat mahkota kecil berwarna putih dengan permata hitam kecil yang menjuntai menghiasi rambutnya dan melintang membentuk sebuah tiara cantik di dahi.
Hanfu merah kecoklatan yang ia kenakan berubah menjadi sebuah pakaian berwarna putih yang berpadu dengan warna hitam anggun, mengekspos kaki telanjangnya dengan perut seksi yang masih dapat di lihat dari balik gaun yang ia kenakan.
Dua buah sayap keluar dari balik punggung datar gadis itu di ikuti dua buah tanduk rusa yang juga ikut tumbuh di ke dua sisi kepalanya, masih dengan warna putih yang penuh wibawa.
Tatapannya sangat tajam berkilat- kilat, pandangannya terasa kosong. Dia, tidak terima. Perempuan cantik itu tengah marah.
" Dueeerr.... Bruuukkkk, Dertttt brak," aku meluruskan pandangan ku pada arah puing- puing kerajaan yang hampir sebagiannya roboh.
Seorang perempuan terlihat berjalan keluar dari puing- puing bangunan itu dengan santai. Dia sangat, cantik.
" Kau pikir siapa diri mu, berani- beraninya menghakimi nyawa orang lain yang bukan hak mu. Kehidupan dan Kematian bukanlah milik mu. Heh, kau benar- benar membuat ku merasa jijik dengan cara mu memperlihatkan betapa congaknya kegelapan,"
Katanya dengan nada ringan, tapi cukup membuat semua orang yang mendengarnya merasa merinding. Kata- kata itu seakan- akan merupakan sebuah tantangan, atau mungkin, lebih tepatnya, ancaman, kepada Sang Jiwa Kegelapan.
Semua orang yang berada di situ langsung menatap perempuan cantik itu. Terpesona, dan juga terkejut dalam satu waktu. Tak terkecuali dengan Lord Izac sendiri.
" Wujud dari kekuatan Shoecha dalam diri Princess Variella, telah bangkit," kata lelaki bersurai putih itu lemah.
Dia mengangkat ke dua tangannya, kemudian, cahaya keputihan menguar memenuhi sekitar.