
" Aku selalu benar," gumam Lauzy penuh kemenangan.
" Puk!"
Kavyla dan Lauzy terjungkat karena seseorang menepuk pundak keduanya.
" Kal~" Kavyla dan Lauzy sontak membekap mulut orang di belakangnya itu dengan cekatan. Meminimalisir adanya keributan sedikit pun.
Saat tatapan Faizal terarah pada batu besar yang banyak di selimuti rimbunan semak- semak, mereka bertiga menundukkan tubuhnya sedalam mungkin.
" Ump.. Ah!" Orang itu melepaskan bekapan tangan Kavyla dan Lauzy begitu saja.
" Kalian~"
******. Princess Atsannia???~ Kavyla.
Astaga, kenapa mau memiliki kepala yang utuh saja harus sangat sulit?~ Lauzy.
Kavyla dan Lauzy mau tidak mau membekap mulut Atsannia lagi lebih erat.
" Ssttss... Princess, tolong ya... Kita masih harus memiliki kepala jika mau menikah," kata Lauzy yang malah terdengar seperti bercanda. Memberi kode ke arah Faizal dan maid itu.
" Kalian? Apa yang kalian lakukan? Mengintip kakak ku yang membosankan itu tidak berguna banyak," jawab Atsannia selirih mungkin.
" Lauzy memang bodoh," sambung Kavyla.
" Hey! Aku benar- benar tidak membohongi mu tau!" Geram Lauzy. Ingin memukul saudara seperjuangannya itu rasanya.
" Sudah- sudah!" Atsannia mendorong wajah Kavyla dan Lauzy dengan kedua telapak tangannya agar menjauh. Lalu keluar begitu saja saat melihat kakaknya sudah pergi.
" Princess!" Seketika Kavyla dan Lauzy tercekat. Tapi hanya mematung di situ. Mereka berdua melihat Atsannia yang tengah sibuk berbicara dengan si maid entah tentang apa.
" Sudahlah," Kavyla melangkah mundur karena merasa bosan. Mungkin calon Queen nya lelah. Mau di tunggu sampai besok pun belum tentu ada hasil. Atau, mungkin juga Lauzy yang hanya terlalu banyak berfikir sehingga menimbulkan halusinasi tingkat tinggi. Mana mungkin Lord nya membawa pulang seorang calon Queen untuk mereka.
" Hup!"
" Sebentar," kata Lauzy sambil menghalau sebuah tangan yang bersandar di bahunya.
Tangan itu kembali menengkreng di pundak Lauzy, tapi dia menyingkirkannya lagi. Masih sibuk menatap ke arah depan. Tapi lagi- lagi tangan itu kembali pada posisinya.
" Kavy~" Lauzy memutar tubuhnya tepat di saat dia merasa tidak di indahkan. Tapi betapa terkejutnya saat dia tau ternyata orang yang ada di belakangnya itu adalah seseorang yang malah menatapnya bingung.
" Princess Ataannia menyuruh saya mengantar berendam ke Kolam Cahaya Lord, saya masih ada hal yang harus segera di urus, mohon undur diri," kata Lauzy cepat tanpa kesalahan lalu begitu saja melesat pergi sebelum Tuan nya memberikan jawaban.
Kavyla sialan!~ Lauzy.
Faizal menggeleng dengan respon Lauzy yang seperti tikus kepergok kucing, tatapannya beralih ke arah depan. Memang Atsannia.
Tidak biasanya dia pulang tanpa mengganggu ku lebih dulu~ Faizal.
Dia hampir lupa kalau sekarang sudah liburan semester. Karena tidak merasa ada ganjalan, akhirnya Faizal memutuskan untuk kembali ke ruang baca pribadinya. Masih banyak dokumen tergeletak yang harus dia urus secepat mungkin.
Sesampainya di sana, Faizal tersenyum miring. Dia terlalu meremehkan kemampuan adik kecil pengaturnya yang brutal itu. Faizal hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya sambil memegang pelipisnya.
Faizal mengangkat tangannya, lalu melepaskan sebuah bola cahaya berkekuatan kecil ke arah dinding.
" Huh! Persetan! Kuda, dia hanyalah seekor kuda," gumam Faizal menenangkan dirinya sendiri. Xawas mengacak- acak ruangannya sampai tidak bernentuk. Menjatuhkan buku- buku di rak sehingga semuanya berserakan indah tak beraturan di lantai.
Di sisi lain, Atsannia menggunakan sihir pengendali anginnya untuk menggerakan pepohonan- pepohonan di sekitar kolam. Membuat kelopak- kelopak bunga dengan warna putih dan merah muda itu berjatuhan bebas lebih banyak di atas permukaan kolam.
Variella yang menatapnya merasa kagum. Tak menyangka angin begitu saja berhembus menjatuhkan bunga- bunga indah itu. Itu terjadi cukup lama, membuat hatinya yang tadi terasa sakit menjadi tersapu bersih tanpa sisa.
Variella tersenyum.
" Aku tidak mengijinkan mu sakit, biarkan mereka saja yang luruh untuk menghibur mu, karena kau adalah seorang Queen,"
" Ah!" Dia mengernyitkan dahinya karena sedetik yang lalu kepalanya terasa sangat pening, bersamaan dengan datangnya siluet seorang wanita dengan hanfu merah muda menengadah ke arah langit untuk menikmati bunga- bunga sakura berguguran, juga seorang lelaki yang memeluk erat pinggang ramping wanitanya dari sisi belakang.
Variella seakan dapat merasakan kalau bisikan lembut lelaki itu adalah di tujukan untuknya. Apalagi suasana sejuk dan damai yang dia rasakan di tempat itu.
Atsannia masih menggerakan tangannya lembut ke udara. Jurus Buaian Seribu Rasa. Itu adalah sihir pengendali angin yang bisa membuat orang yang terkena sihir itu menjadi teringat tentang momen yang pernah dia lupakan bersangkutan dengan suasana yang ada.
Juga bisa sebagai bahan relaksasi karena memberikan ketenangan di setiap hembusnya dan aroma harum musim semi. Itu mengapa Atsannia sangat menyukai jurus Buaian Seribu Rasa itu.
Variella menoleh setelah selesai dengan kekaguman geguguran bunga di sekitarnya, mencoba mencari- cari sesuatu yang seperti tengah mengawasinya dalam diam sedari tadi.
Tatapan mereka terkunci. Variella masih terdiam, dia takut dengan semua orang di tempat ini, bukan tidak mungkin kalau spesies dengan kepribadian seperti orang yang menyebut dirinya sebagai Lord itu banyak tersebar di mana- mana di setiap penjuru.
Sedangkan Atsannia? Dia tepesona.
Rambut hitam Variella yang terurai panjang dan hampir seluruhnya terendam di dalam air, kulit putihnya yang terlihat berkilat- kilat di terpa cahaya matahari pagi dari sela- sela dedaunan. Lalu, hazel matanya yang lembut dan berbinar.
Satu kesan yang di tangkap oleh Atsannia pada waktu kedua matanya terkunci pada tubuh Variella. Cantik.
Atsannia berjalan mendekat dengan perlahan, membuat jurusnya pecah. Tapi angin itu tetap tidak berhenti.
Ya, sekarang semuanya ada di bawah kendali Variella tanpa sadar. Dia was- was, tapi tidak dengan perasaannya yang malah dirembesi dengan kehangatan dan rasa tenang.
Variella masih menatap perempuan bersurai kuning dengan iris biru terang itu mendekatinya dengan tatapan yang bisa di artikan sebagai rasa terpesona, dan mungkin juga, terkejut.
Sekarang kedua kaki Atsannia sudah berada di anak tangga teratas, basah dengan air hangat yang penuh kelopak bunga.
" Apa kau, adalah Kakak Ipar ku?" Tanya Atsannia penasaran.
Dia tidak menyangka apa yang di ributkan oleh Kavyla dan Lauzy itu benar. Dia tidak menyangka kalau kakaknya membawa pulang seorang wanita. Dia tidak menyangka kalau pada akhirnya Paviliun Tenggara itu akan berpenghuni.
Paviliun Tenggara adalah paviliun yang di bangun dan di persiapkan untuk tempat tinggal seorang Permaisuri Kerajaan Havricaslia sedari dinasti pendahulu.
Paviliun Tenggara adalah paviliun dengan dekorasi yang paling indah, tatanan paling strategis, dan kesan yang paling spesial.
Dulu Lord pertama pada dinasti kedua Havricaslia sebelum paviliun itu dibangun, katanya dia mendapatkan mimpi tentang Dewa Bulan Artemis yang menjatuhkan cahayanya tepat menyinari tempat itu. Membuat siluet seorang perempuan tampak dari arah kegelapan.
Di tempat itu juga ada sebuah kolam yang tidak tau kenapa selalu mengeluarkan sumber air panas yang tidak pernah kering, dan juga di kelilingi pohon persik putih dan ceri dengan bunga merah muda.
Kolan itu di kemudian di beri nama Kolam Cahaya karena di setiap malam hari airnya akan mengeluarkan cahaya berwarna biru cerah seperti cahaya dari neon.