
" Aku tidak bohong, buku itu tersimpan di perpustakan sebuah Kastil yang sudah berumur ratusan ribu tahun dan sudah melewati beberapa generasi. Namanya adalah Kastil Havricaslia. Tapi lupakanlah, tempat itu sangat berbahaya,"
" Tidak tidak, dimana tempat itu berada? Aku akan ke sana, aku sangat ingin tau isi buku itu," kata ku penuh dengan keyakinan.
" El, menurut rumor yang beredar, tak semua orang dapat ke sana, Kastil itu di pimpin oleh seorang lelaki yang sangat kejam dan menakutkan, dan ada banyak monster- monster mengerikan yang dia pelihara, aku bahkan juga belum pernah mencoba untuk kesana,"
" Aku tidak takut, bagaimana pun, dia tetaplah seorang manusia kan? Apa yang harus ku takuti dari sesama manusia?" Aku terus mencoba meyakinkan Falisya agar dia mau memberi tau ku di mana letak kastil itu. Lebih- lebih mau menemaniku pergi ke sana. Toh aku juga cuman mau ikut numpang baca buku di perpustakaannya kan? Apa itu termasuk ke dalam sebuah kejahatan?
" Em, dia adalah, seorang Demon," jawabnya lagi dengan ragu.
" Pufft, embbb... hahhaha," Tidak bisa, aku sudah tidak bisa menahannya. Kenapa dia, bisa- bisanya si Falisya membacakan ku sebuah cerita horor seperti ini. Padahal aku juga bukan tipe seorang penakut.
" Aku serius, lagi pula, kenapa sangat penasaran dengan Shoecha? Kata ibu ku, Negri itu berhubungan dengan Makluk- Makhluk Immortal, Dewa, dan sejenisnya. Mungkin saja itu cuman dongeng pengantar tidur."
" Ibu mu pernah menceritakan kisah itu pada mu?" Tanya ku. Apa benar kalau para aktivis sejarah zaman sekarang saja yang terlalu ketinggalan. Mungkin cerita tentang Shoecha memang sudah di temukan beberapa waktu yang lalu, tapi tak terpublikasi?
Afau jangan- jangan, ini tanda kalau Falisya memang bukan manusia? Apa ini juga berarti tanda, kalau dunia imajinasis itu memang nyata?
" Ya, dulu saat aku kecil, setiap malam. Katanya cerita itu sangatlah baik untuk ku dengar, sangat heroik,"
Yah, bahkan cerita seperti itu di anggap sangat penting hingga harus di masukan ke dalam mata pelajaran resmi.
Aku tidak tau tentang ke validan cerita itu sebenarnya. Karena pada akhir dari cerita, di katakan bahwa Negri Shoecha itu hilang dari peradaban, beserta seluruh isinya. Bahkan tak meninggalkan jejak sama sekali.
Hingga lewat beberapa dekade kedepan, sedikit demi sedikit peninggalan sejarah kejayaannya muncul di berbagai daerah.
Yang ku tau, semua orang yang berasal dari belahan dunia selain dunia lemah ini, pasti akan mengetahuinya.
Tentang Havricaslia, tempat itu memang menyeramkan, aku tidak pernah ingin berhubungan dengan Demon misterius itu. Lagi pula dia adalah salah satu dari Tiga Lord Besar Utama Negri Bawah. Kakak ku saja sangat segan terhadapnya, padahal dia juga seorang Prince dengan kekuatan pilih tanding~ Falisya.
" Fal, apa kau juga percaya tentang adanya Negri yang bernama Shoecha itu?" Aku penasaran.
Aku tidak terlalu memikirkannya, selain supaya dapat naik kelas dengan memuaskan di academy waktu itu. Simpel~ Falisya.
" Tidak tau," Aku sedikit kecewa.
" Semua keanehan di sekitar ku, dan kekuatan ini, kemungkinan besar berhubungan dengan Shoecha. Karena itu aku sangat penasaran,"
" Apa kau yakin?" Dia menjadi sedikit antusias, lebih ke arah, tidak percaya.
" Ya," jawab ku.
" Aku kerap mendapat mimpi, dan kejadian- kejadian de javu. Semua itu, berpusat pada, Shoecha," jelas ku, aku sangat lelah.
Mimpi. Sebenarnya aku juga kerap mengalami hal- hal aneh yang selalu saja memunculkan kata Shoecha dalam fikiran ku~ Falisya.
" Aku akan mencari informasi lebih banyak lagi, jangan terlalu di fikirkan, aku pasti akan membantu mu," Falisya berusaha menenangkan rasa penasaran dan kebingungan ku.
" Tidak ada hubungannya dengan ku," membuang muka.
" Ku kira akhir- akhir ini kalian jadi lebih dekat. Ayahnya meninggal," aku kembali menoleh ke arah Falisya yang mengatakannya dengan santai.
" Tadi pagi Tuan Holwis yang mengatakan ketidak hadirannya di kelas tiga, dan kabar itu menyebar dengan sangat cepat," aku menggenggam ponsel ku erat. Pesta besar apa yang akan di adakan oleh keluarganya lima hari kedepan, ketika sang kepala keluarga, baru saja meninggal?
" Kenapa?" Aku tergagap, memunculkan senyum simpul dengan segera.
" Tidak papa, hanya tidak menyangka saja, Kak Alberta sebenarnya adalah orang yang baik,"
Kami terus mengobrol panjang kali lebar kali tinggi, menghabiskan waktu di UKS berdua, karena Falisya tidak ingin kembali ke kelas untuk melihat wajah menggemaskan Natalia, katanya dia tidak ingin nafsu seorang pembunuhnya itu muncul di depan banyak orang.
Hm, dia sangat pintar menetralkan suasana. Membuat ku kagum, jengkel, tersenyum, dan merasa aman.
🌀🌀🌀
Aku terduduk di samping kemudi, Kak Aleta yang menggendong ku tadi. Rasanya seluruh tubuh ku hendak rubuh ke tanah. Lelah dan sakit tanpa alasan. Hingga semuanya menjadi gelap. Hitam.
Deru mesin yang ricuh, suara Kak Aleta yang tengah mengajak ku bicara, AC mobil yang tiba- tiba terasa lebih dingin, suara gerimis yang dari tadi pagi saat aku mau ke UKS belum berhenti, jalanan sore yang padat dan beragam. Semuanya hilang.
Hingga aku merasa tubuh ku terombang ambing bagai terbang di atas langit yang tinggi, atau tenggelam di dalam lautan yang dalam, terus... Pening, berputar- putar tanpa arah.
Wajah ku terasa sangat hangat, tiba- tiba aku berdiri di atas sebuah jembatan, yang di bawahnya mengalir sebuah sungai bening. Cahaya bulan yang tak menampakan wujud sempurnanya memantul memberi kesan lembut. Bintang- bintang betebaran memenuhi langit kelam yang tak meninggalkan kesan menakutkan.
Dan di hadapan ku, seorang yang sangat tampan, tatapannya yang tajam seperti pedang, hampir mengingatkan ku pada mata seseorang. Tapi aku yakin, dia yang tengah berada di hadapan ku ini, adalah segalanya.
Dia mengaitkan ke dua tangannya di belakang tubuh ku, begitu pun aku memperlakukannya. Rambutnya yang berwarna perak keputihan hingga lutut terus beradu dengan rambut putih bersih ku yang terembas angin.
Dia mengenakan baju resmi berwarna putih dengan paduan hitam yang elegan, yang umumnya di pakai oleh setiap penguasa sebuah Negri yang besar. Tapi tanpa mahkota.
Sedangkan aku, aku selalu ingin menjadi serasi dengan sosoknya yang sangat istimewa. Aku bukan siapa- siapa. Aku hanya ingin terus berada di sisinya, menemaninya, memeluknya dengan erat.
Malam kian meninggi, hening... Inilah hamparan surga kami. Tempat yang selalu ku harapkan untuk kami singgah menikmati rasa aman, berbagi kasih, dan menyemai cinta.
Sebuah gubuk kecil yang sederhana, taman bunga, kemudian air terjun, aliran sungai, dan jembatan ini.
Tempat dimana angin, pohon, air, dan alam telah menjadi saksi tentang kisah kami yang baru akan bermula.
Tempat yang akan menjadi saksi ketika dia, mulai mendekatkan wajah dinginya kepada ku. Menarik satu tangannya membelai anak rambut ku yang berantakan. Dia tersenyum sekilas.
Aku dapat merasakan aroma mawar yang masih segar menguar dari tubuhnya. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang sangat hangat mengenai wajah ku.
Dan hal terakhir yang ku ingat saat itu, adalah salju.