
Bahagia itu kerelatifan, apa yang kau rasakan saat ini adalah sugesti mu sendiri dalam merasakan keadaan.
~ Lord Arthur.
Setelah selesai dengan Anasita dan Zere, sekarang di sinilah Arguza, di kamar yang di tempati oleh Falisya.
Kamar di rumah mewah dua lantai ini kira- kira ada sepuluh. Tidak bisa di bayangkan memang ketika Aleta tinggal sendirian, atau Variella tinggal sendirian, atau mereka tinggal berdua saja.
" Au!..." Sengah Falisya merasa sedikit sakit ketika Arguza tengah sibuk melilitkan perban ke lengannya kuat- kuat. Falisya masih saja bingung dengan sosok di depannya yang terlihat serius.
" Kak, Kak Aleta tidak menuduh ku yang ngilangin Aesyel?" Tanya Falisya kikuk karena sifat Arguza yang membuatnya sedari tadi hanya diam. Terasa begitu asing, rasanya untuk mengeluarkan candaan kecil saja penuh tekanan.
" Kalau aku tau itu bukan kau?" Tanya Arguza kembali.
" Seseorang yang paling tidak pernah ku sangka yang membawa Variella pergi," timpal Arguza melanjutkan perkataannya.
" Siapa kak?" Tanya Falisya bersemangat ingin tau. Walaupun sebenarnya Falisya juga penasaran dari mana orang itu mengetahuinya.
" Penguasa Havricaslia," Kata Arguza dengan tatapan menerawang.
" Lord Faizal Licia?" Tanya Falisya yang malah lebih pada dirinya sendiri.
" Kurang lebih memang seperti itu," jawab Arguza tidak yakin, tapi tatapannya memberi tau kalau dia lebih ingin bukan Lord sadis itu yang membawa pergi Variella.
" Kak, apa kau, juga berasal dari dunia itu?" Tanya Falisya ragu- ragu, mencari titik terang dari pemikirannya yang sudah buntu. Arguza hanya menggeleng ringan. Lalu bangkit.
" Aku adalah Knight, bukan dari dunia ini, dunia itu, atau Dunia Atas, tapi aku berasal dari satu dunia yang sekarang sudah terpecah belah menjadi beberapa bagian itu. Dunia yang mungkin sudah di lupakan oleh mayoritas orang," jelas Arguza, Falisya melongo sesaat, sedikit tidak percaya.
" Beristirahatlah untuk nanti malam, aku akan membawa mu pergi ke perjamuan keluarga Souju- ku," kata Arguza berjalan menuju pintu untuk keluar kamar.
" Ingat baik- baik, nama ku, adalah Arguza, aku seorang Werewolf, dan Aleta, adalah seorang Demon, jangan pernah salah lagi mengenali kami, atau kalau tidak aku akan merasa tersinggung, Falsya Lin..." Imbuh Arguza keluar dari kamar Falisya, menutup pintu rapat- rapat dengan perlahan.
" Arguza? Werewolf? Aleta adalah seorang Demon? Tidak, itu tidak mungkin, lalu kenapa dia tau nama ku yang sebenarnya? Kninght... Astaga!!" Falisya menggeleng- gelengkan kepalanya karena terlalu banyak menerima informasi, yang bahkan akan sangat sulit untuk di percaya.
" Apa yang terjadi? Mimpi? Atau aku sebenarnya sudah mati?" Tanya Falisya pada dirinya sendiri. Menampar- nampar ke dua pipinya berharap tersadar dari situasi aneh dan mengejutkan yang sekarang dia alami.
" Perjamuan keluarga Souju, tidak, aku tidak siap untuk itu..."
ARGUZA
Aku berjalan keluar dari kamar Rubah Lin itu dengan menahan sedikit perasaan aneh di hati ku. Aku sangat marah pada Saifar si Lord brengsek itu.
Tapi anehnya aku marah karena Falsya, bukan karena Queen. Apa yang terjadi? Cinta?
Tidak mungkin, aku tidak pernah mencintai orang lain kecuali Queen ku, apalagi adanya Segel Hati level tinggi di dalam tubuh ku.
" Apa kau sudah puas untuk bersenang- senangnya?" Tanya seseorang dengan nada sinis.
" Aleta, aku kira siapa... Apa kau bisa berbicara sedikit lebih santai?" Tanya ku melengos.
" Kau bodoh! Kenapa kau harus terlalu dekat dengan Falisya? Jangan pernah mempermainkan perasaannya sedikit pun!" Timpal Aleta geram.
" Kenapa? Kau cemburu? Aku tertarik dengannya. Lagian aku juga sudah memperkenalkan diri, jadi dia tidak akan mengganggu mu," kata ku tidak peduli dengan celotehan Aleta.
" Hei berhenti menancapkan gas, kepala ku menjadi pening mendengar suara mu. Kenapa juga seorang Demon seperti mu malah berwajah tipis? Tubuh mu, tubuh ku juga, bukan?" Tanya ku lagi melecehkannya.
" Werewolf sialan!" Umpat Aleta.
" Kau yang sialan, kemana dulu kau saat aku ingin melihat dunia? Ingat baik- baik ini juga tubuh ku!" Ketus ku tidak peduli.
" Salah mu sendiri menjadi lemah," jawab Aleta tambah tidak peduli. Lemah?
" Kak Arguza, Kak?" Panggil Zere mencari- cari.
" Ah, sudahlah, waktunya bocah lemah untuk tidur," timpal Aleta mencoba mengambil alih tubuhnya kembali dari ku. Sesaat kepala ku terasa berputar- putar sebelum dia memperoleh kesadarannya secara utuh.
" Bangke! Tunggu saja ketika kekuatan ku kembali," kecam ku jengkel. Rasanya ingin sekali aku mencabik- cabik dia seandainya kita tidak berada di dalam satu tubuh yang sama.
" Apa seorang bocah sedang mengancam ku?" Tanya Aleta tersenyum miring pada dirinya sendiri.
AUTHOR
" Kak, apa kau barusan sedang berbicara sendiri?"Tanya Zere yang tiba- tiba sudah ada di samping Aleta.
" Um, Kak Aleta, apa kabar?" Sambung Zere setelah menyadari Arguza sudah pergi di sertai aksen SKSD nya.
" Walaupun aku tidak suka membelanya, tetap saja, kau ini harus memanggil ku Master! Memangnya sejak kapan aku menjadi kakak mu? Kapan kau berencana menikahi adik perempuan ku?" Tanya Aleta sambil menginjak sebelah kaki Zere kuat- kuat.
" Au... Master... Ku kira setelah beberapa tahun tidak bertemu kau akan menjadi lebih halus dan bersahabat," kata Zere menarik kakinya. Memang benar- benar Masternya, memiliki dua jiwa bukan berarti sifat kejamnya itu berkurang.
" Salah siapa kau berfikir terlalu banyak," tukas Aleta.
" Ah sudahlah, Queen saja tidak terlalu perhitungan seperti mu," gumam Zere lebih pada dirinya sendiri.
" Ada apa? Kenapa kau masuk ke dalam kamar ku tanpa di undang?" Tanya Aleta to the point.
" Itu, tentang Falisya~"
" Rubah Klan Lin itu? Dia urusan ku, kau tenang saja. Bukan dia yang menyembunyikan Queen," kata Aleta seperti tau kemana arah pembicaraan Zere.
" Lalu?" Tanyanya penasaran.
" Dia ada pada saudara ku," jawab Aleta.
" Saudara?" Telitinya, yah... Jiwa Aleta memang belum lama hadir di dalam tubuh yang sama dengan Arguza. Dulu Arguza banyak menggunakan kekuatan aura dan tenaga dalam sehingga jiwanya terkoyak parah, itu mengapa mereka bisa menjadi satu, karena Arguza membutuhkan " tempat" baru untuk hidup. Tapi itu termasuk sebuah penyatuan yang bisa di bilang paling sempurna tanpa penolakan. Walau pun tidak bisa bersatu seutuhnya.
" Ya... Lord Havricaslia, salah satu dari Tiga Lord Besar penguasa Dunia Bawah." jawab Aleta, Zere melongo kaget setelah mendengar kalimat itu.
" Apa kau tengah memikirkan hal yang juga ku fikirkan?" Tanya Aleta serius.
" Mungkin, aku hanya berfikir, ternyata status sosial mu di dunia itu sangatlah tinggi," jawab Zere bergegas pergi dari kamar setelah melihat kerutan di leher dan pelipis Aleta. Itu berarti dia sedang marah.
" Zereeee!!!!" Teriak Aleta.