
Setelah aku melompat, aku melihat beberapa penjaga kewalahan menghadapi Orc yang lumayan banyak itu, aku berteriak dari atas, “MUNDUR!!”
Merasakan bahaya beberapa 10 Orc Menyebar menjauh, sementara itu Para penjaga beserta penduduk desa berlari secara berkelompok.
Kelompok anak-anak dan perempuan lebih banyak penjaga yang mengikuti mereka, sementara itu kelompok laki-laki sedikit.
“SMASH!”
*Duaar
"Tekanan angin yang ditimbulkan tidak terlalu kuat, apakah aku secara kebetulan berhasil mengendalikan kekuatan ini?" Pikir ku kebingungan.
Meski kekuatan yang dikeluarkan agak lemah, tetapi sudah cukup untuk membuat tengkoo Orc itu hancur.
[Master secara kebetulan menggunakan 30% kekuatan One For All saja selamat, kalau tadi master tidak bisa menahan kekuatan nya, entah apa yang akan terjadi pada penduduk desa]
Penduduk desa melihat ku dan sebagian orang mulai bergumam sesuatu.
“Anak itu, dia putranya Ayato ya?” Ucap Emak-emak 1
“Bukanya tadi dia tidak ada disini?” Kata bapak-bapak 1
“Kyle datang dari langit, tadi aku melihatnya dan itu sangat keren!!” Aku tiba-tiba mendengar suara Finn.
Yah, rasa penasaran para penduduk pun hilang ketika para Orc yang berpencar mulai kembali berjalan ke arah kita. Yah aku berada di posisi kurang menguntungkan, karena berada di tengah-tengah kelompok penduduk desa itu.
Masalahnya para penjaga dan penduduk desa berdiri di belakangku, seolah-olah, mereka berkata “Kami serahkan kepada mu.”
Tiba-tiba sudah ada Orc yang lumayan dekat, Orc itu melompat dan mulai mengayunkan pedangnya.
“Delaware Smash!” Aku menjentikan jari ku menggunakan 100% kekuatannya.
"Dua ******." Pikir ku.
Aku mendengar beberapa penduduk desa kaget, dengan gelombang kejut yang kuat hanya dari sentilan ku saja.
Dua Orc mengepung ku, dari dua arah, tetapi tiba-tiba ada Orang yang melemparkan pedangnya dan pas mengenai kepala salah satu Orc tersebut.
Itu adalah ayahku, dengan armor kulit yang sudah agak robek, jalan agak sempoyongan, dia menyusul ku ke sini.
Sementara itu Orc yang satu lagi sudah di bereskan oleh ku.
“Ayah Mundurlah!” Kata Ku.
"Aku harus membuat Orc itu berada pada satu titik, sehingga Detroit Smash bisa digunakan untuk menghabisi mereka dalam sekejap, OH!" Aku tiba-tiba terpikir kan sesuatu.
“Kage bunshin.”
*Poof.
“Kamu pancing Orc itu supaya berkumpul di satu tempat atau sejajarkan dengan posisiku saat ini.” Perintah ku kepada bunshin itu.
Bunshin itu mengangguk dan segera memancing Orc itu dengan cara mendekati mereka sambil berlari-lari.
Setelah beberapa saat semua Orc yang tersisa mulai mengejar kage bunshin ku.
Bunshin ku itu berlari menuju ke arah ku, dengan semua Orc yang tersisa berada di belakangnya. Setelah lumayan dekat aku mulai melancarkan serangan ku.
“Detroit Smash!!!”
*Booom
Pukulan itu menghasilkan gelombang kejut yang sangat kuat sehingga para penjaga dan warga setempat terpental kemana-mana. Awan-awan juga ikut terpengaruh oleh gelombang kejut itu. Sehingga cuaca menjadi sangat cerah.
(Asalnya Cerah berawan)
“Aduh.....” Aku melihat sekeliling ku.
.
.
.
Besoknya
Setelah kejadian kemarin, aku banyak ditanyai tentang skill ku oleh Ayah, Ibu dan Kepala desa.
Kondisi desa saat ini ancur, akibat Detroit Smash kemarin. Untungnya ada beberapa tenda, dan selimut yang selamat. Selimut memang tidak hancur, tapi yah... Kotor, jadi para emak-emak desa mencucinya di sungai terdekat.
Aku juga mengungkapkan skill ku, kepada beberapa orang, tapi nama One For All ku ganti, menjadi skill penggandaan kekuatan. Sementara itu Sage Mode kuceritakan yang sebenarnya.
Pada saat menceritakan asal muasal skill ku, aku sedikit mengarang cerita, karena kalau sistem ketahuan bisa gawat. Jadi aku mengarang cerita kalau ada kakek-kakek yang mengajariku skill ini.
Dan sekarang aku sedang mengumpulkan chakra senjutsu, supaya aku bisa membantu para penduduk desa. Seperti biasa untuk mengumpulkan chakra senjutsu aku harus diam tak bergerak, selama 10 menit, yah... Setidaknya durasi pengumpulan nya akan berkurang pada saat penguasaan skill ku naik ke bintang dua.
.
.
.
"Huh, selesai juga akhirnya." Aku berkata dalam ku.
[Ingat, siapkan Kage Bunshin agar kamu bisa langsung masuk kedalam mode Sage lagi dengan cepat]
"Oke." Kata ku dalam hati.
Aku membuat dua Kage Bunshin dan menyuruh mereka untuk mengumpulkan chakra alam. Sementara aku sendiri pergi keluar untuk membantu para warga desa.
Ketika di luar tenda aku bertemu beberapa temanku yang sedang bermain-main.
“Ah! Kyle, mau kemana kau?” Kata Jero, ketika dia mengatakan itu, beberapa temanku dan dia langsung menghampiri ku.
Ini adalah temanku, Jero dia anak petani biasa.
“Oh, aku mau membantu warga-warga yang lain.” Jawab ku kepada mereka.
“Wah, benar itu skill lagi ya?” Para anak-anak yang lain mulai membicarakan mataku yang aneh.
"Kemarin akibat lompat, sekarang mata, hadeh dasar bocil. Eh gua kan bocil ya?" Kata ku dalam hati.
“Tapi daripada skill mata aneh ini, skill Smash kemarin sangat hebat!!” Kata Finn yang kemarin ada di tempat kejadian.
Ternyata waktu serangan Orc kemarin, tidak semua warga ada yang di belakang desa kemarin, ada juga yang bersembunyi dirumahnya masing-masing. Yah, meskipun mereka terkena dampak Detroit Smash, tapi untungnya orang dunia ini kuat-kuat, jadi reruntuhan kayu itu bukanlah apa-apa.
“Tapi kenapa kamu ingin membantu orang dewasa Kyle?” Tanya Hanna.
“Umm.... Kemarin kan banyak rumah yang hancur karena skill ku, jadi aku merasa bersalah saja, jadi aku pergi dulu.” Jawab ku dengan senyum Pepsodent.
Pertama-tama aku akan membantu menebang pohon-pohon disekitar untuk mengumpulkan kayu. Sebelum itu aku akan meminta izin kepada ayahku terlebih dahulu, karena ayahku agak kuat, dia ikut menebang pohon juga.
“Ayah!” Aku menghampirinya sambil berlari.
“Ah, Kyle ada apa?” Ayahku menghentikan pekerjaannya.
“Aku akan membantu ayah!” Kata ku dengan bersemangat.
Ayahku terdiam sesaat, dan sedikit terlihat terkejut karena permintaan ku.
“Emm, ayah tau kalau Kyle kuat, tapi kamu harus minta izin pada ibu terlebih dahulu.” Kata Ayahku dengan senyumnya.
“Haha! Ayato memang takut pada istrinya!!” Kata Ayahnya Finn.
Dan setelah ia mengatakan itu para bapak-bapak yang lain mulai tertawa terbahak-bahak, sementara itu ayahku terlihat agak gugup.
“Y-yah... Pokoknya harus minta izin sama ibu, kalau ibu sudah mengizinkan kembali kesini.” Ayahku terlihat agak gugup sekarang, dan melanjutkan pekerjaannya.
“Kalau begitu aku akan kembali!” Aku mengatakan itu, dan berlari dengan cepat ke tempat ibuku.
Ngomong-ngomong aku belum memberitahukan kalau ada tiruanku, di tenda, yah... Seharusnya dia masih ngobrol-ngobrol sama emak-emak yang lainnya. Kamu tau kan kalau ibu-ibu sudah ngobrol, gimana lamanya.
Setelah lumayan dekat dengan ibuku, aku mulai memperlambat kecepatan berlariku.
(Maah minta Kiko!!!!)
“Ibu, aku akan membantu ayah mengangkut batang pohon ke desa!” Aku meminta izin pada ibuku.
“Jangan! Lagipula memang kamu bisa mengangkat kayu yang besar itu?” Ibuku menolak permintaan ku.
“Emm, mungkin bisa.” Aku masih ingin membantu ayah, dan yang lainnya.
“Tunggu sebentar, ada yang aneh dengan mata mu.” Ibuku memegang pipi ku dengan kedua matanya, dan mengamati mata ku.
“Ah, ibu tolong lepaskan, jadi boleh?” Aku menanyakan kembali permintaan ku yang tadi.
“Pertama, jawab dulu pertanyaan ibu, apa yang terjadi dengan mata mu?” Ibu ku bertanya kepadaku.
“Ini efek skill ku Bu, skill ini memperkuat kekuatan fisik, reflek dan energi sihirku, makanya aku ingin membantu ayah dan yang lainnya.” Jawab ku.
“Umm.... Aku tau ibu khawatir, tapi aku akan baik-baik saja, Asal ibu tau anakmu ini kemarin telah menghabisi Orc yang ada disini.” Aku tersenyum kepada ibuku.
“Baiklah, tapi kalau nggak kuat kembali ke tenda.” Meskipun ibu agak berat hati, tapi apa boleh buat.
“Oh iya, ngomong-ngomong di tenda ada tiruanku, jadi jangan kaget ya!” setelah mengatakan itu aku berlari ke tempat ayah.
.
.
.
“Ayah, ibu sudah memperbolehkan ku membantu ayah.” Kata ku kepada ayahku.
“Seriusan!?” Ayah terlihat kaget.
“Iya, dan sekarang apa yang harus aku lakukan?” Tanyaku.
“Pertama, kamu harus belajar cara menebang pohon, kamu tidak memiliki masalah kekuatan kan?” Kata Ayahku.
“Iya.” Ucap ku.
Singkat cerita, aku berlatih menebang pohon dan bisa dalam sekali coba, pada akhirnya aku terus-terusan menggunakan Sage mode ku sampai tugas menebang benar-benar berakhir, aku pun pulang ketenda ku dan ibuku sudah memasak makan malam.
Saat sedang makan malam, Ibu ku bertanya sesuatu kepada ayahku.
“Hei, suamiku.” kata ibuku.
“I-iya.” Ayahku menjawab dengan wajah takut.
“Kamu, menyuruh Kyle untuk membantu mu kan?” Ibu berkata dengan nada seram.
Tangan Ayah yang sedang memegang sendok mulai agak gemetar.
“Ti-tidak, mana mungkin aku berani.” Jawab ayahku.
“Iya Bu, aku memang sudah berniat membantu ayah, karena kemarin aku tidak sengaja menghancurkan banyak rumah, aku jadi agak merasa bersalah, bahkan rumah kita yang jauh dari gerbang belakang desa, kena dampak nya juga.” Kata ku.
Ngomong-ngomong rumahku berada di pojok kanan desa, jadi aku bisa langsung melihat pepohonan apabila melihat ke sebelah kanan.
“Tuh, Kyle sendiri yang ingin membantu, jadi ya, apa boleh buat, toh.” Kata Ayahku dengan panik.
Ibu ku memelototinya, seolah-olah mata ibu mengatakan "aku akan mengurus mu nanti!"
Setelah itu kami melanjutkan makan malam dengan damai.
---------
Bersambung
---------