
"Aduduh.... Kali ini, ada dimana aku?" Kata ku.
"Sistem?" Aku mencoba menghubungi sistem namun dia tidak merespon.
Aku kaget, karena tanpa sistem sebagai pemandu ku, aku bisa nyasar di tempat aneh ini.
"Pertama-tama, aku harus tenang." Aku menarik nafas dan melihat sekeliling ku.
Yang kupijak adalah tanah, namun di tanah itu tercium bau terbakar, langit-langit berwarna merah disertai awan berwarna hitam.
Setelah dipikir-pikir, sepertinya disini bukan di tempat sistem seperti biasanya. Karena, suasananya nggak seseram ini.
Aku juga melakukan beberapa test terhadap skill skill ku, namun itu semua percuma, Rinnegan dan skill ku yang lainnya tidak bisa digunakan di sini.
"Huh..... Ini adalah reaksi dari batu besar tadi, Fujiwara tidak mungkin menyuruh hal yang buruk kepadaku." Kata ku.
Yap, karena sebelum kesini, dia bilang batu itu mungkin bereaksi, dan aku harus bisa bertahan dari reaksi batu ini.
Aku mencoba berjalan kedepan, dan belum terjadi hal apapun. Karena bingung harus ngapain ujung-ujungnya aku berjalan terus selama 10 menit.
Setelah sepuluh menit berjalan suasana disekitar ku berubah, menjadi lebih hidup, bahkan disekitarku tiba-tiba muncul orang-orang.
Mereka adalah ras Demihuman, disekitar ku sekarang ada desa yang sangat indah, beberapa puluh meter dari desa itu ada hutan, dan tepat di depan gerbang desa itu ada Padang rumput.
Langit-langit yang awalnya merah, berubah menjadi biru kembali, awan hitam pun berubah warna menjadi putih. Yap ini adalah siang yang indah.
"Permisi pak? Ini dimana ya?" Tanya ku kepada bapak-bapak yang sedang menimba air disumur.
Bapak itu tidak merespon, setelah itu aku mecoba berbicara kepada semua warga yang ada, namun mereka tidak merespon ku sama sekali.
Pada akhirnya aku hanya memperhatikan aktivitas mereka yang nampaknya lancar.
Disana terdapat Ras setengah Kucing, dan anjing sedang bermain tanah.
Disisi lain ada dua remaja perempuan dan laki-laki yang terlihat sedang mengobrol santai, melihat mereka, aku langsung teringat Rin.
Disana juga terdapat beberapa Ras setengah rubah, sapi, kelinci dan lain-lain.
"Desa ini luas juga." Kata ku.
Sambil keliling-keliling, beberapa jam aku mengamati aktivitas mereka, dan tiba-tiba saja ada ledakan terdengar dari arah gerbang depan.
Aku segera berlari kesana, dan ternyata itu adalah ulah seorang pemanah yang menggunakan Explosive Shot. Dilihat dari efeknya, sepertinya penguasaan Skill nya sudah sekitar bintang 3.
Dari kepulan asap terlihat 100 prajurit bersenjata lengkap datang menyerbu tempat ini menggunakan kuda mereka.
Secara reflek aku mencoba mengalirkan Energi Sihir Ke tangan ku.
Namun sama seperti tadi, hal yang kulakukan ini percuma saja.
.
.
.
Aku mendengar teriakan kesakitan, terlihat tanah yang sepertinya panas, rumah-rumah yang hangus, dan langit yang penuh asap.
Laki-laki di desa ini dibantai habis-habisan oleh pasukan itu, sementara para perempuan sebagian ditangkap, bahkan perempuan di awal tadi, aku melihatnya ditangkap, sementara itu si laki-laki kepalanya sudah tergeletak.
Disituasi seperti ini, aku hanya dapat melihat mereka kesakitan, dan menderita. Sebelumnya aku sudah mencoba menyerang pasukan itu, namun serangan ku hanya menembus tubuh mereka saja.
Aku tidak tahan, emosi ku saat ini sedang meluap-luap, Tanto yang kupegang sebelumnya tiba-tiba muncul di tangan ku.
Tangan ku bergetar, bukan karena takut, namun karena saking besarnya amarahku saat ini.
"Biarkan Amarah Dewi Rubah menyelimuti pedang mu.... Bunuh mereka yang menghalangi jalan mu.... Buang rasa empati mu terhadap bajingan seperti mereka....." Bisikan itu muncul dikepala ku secara berulang-ulang tanpa henti.
"AAAHHHH!!!" Pandangan ku memerah, kekuatan ku kembali, namun emosi ku masih belum stabil.
Aku menerjang maju menuju pasukan berkuda tadi, kali ini mereka Notice keberadaan ku, dan berniat menyerangku. Namun diriku yang sedang dirasuki amarah yang sangat besar membunuh mereka dengan brutal, nggak sampai 5 detik.
"Haaa.... Hah..... Hah.... Apa itu tadi?" Aku masih kebingungan.
Aku masih belum kembali kedunia nyata, dan setelah itu, aku diperlihatkan pembantaian yang terjadi ditempat lain, berulang-ulang, dan pada akhirnya aku menyadari, ini adalah ingatan masa lalu para Demihuman yang didesa-desa itu, dan aku hanya spectator saja.
Baru kali ini aku menangis, melihat sesuatu seperti itu.
.
.
.
"Huh... Huh...." Aku kembali tersadar di dunia nyata, dan masih di waktu yang sama ketika aku selesai mengukir nama ku di batu itu.
[Selamat Master Mendapatkankan Skill Rage Of Fox Goddess (S+), Demonic Fox Sword Style (S+), Special Skill : Fox Warrior Army (S+) ]
[Selamat Master Mendapatkankan Title False Hero, Warrior Of The Fox Clan]
"Skill yang bagus, namun suasana hatiku sedang buruk sekarang." Pikir ku.
Aku yang sekarang ini benar-benar lagi down banget, dan pengen menenangkan diri.
"Kyle, kamu melihat sesuatu ya?" Kata Fujiwara.
"Iya.... masa lalu yang sangat buruk." Aku duduk dan menarik nafas secara perlahan-lahan.
"Tenang dulu, kamu melihat masa lalu seperti apa? Rin, ambil minum." Kata Fujiwara.
Aku menceritakan apa yang kulihat dari awal, sampai akhir kejadian yang ku alami.
"Begitu ya...." Fujiwara langsung memelukku.
"Nah... Kamu tidak perlu membalaskan kematian mereka, balas dendam itu tidak baik, meskipun kamu berhasil membalas dendam kepada seseorang, namun itu semua tidak akan mengembalikan sesuatu yang sudah hilang, hanya kehampaan yang akan kamu rasakan." Kata Fujiwara.
"Jangan biarkan Amarah menguasai mu Kyle." Kata Charlotte.
[Master, segeralah meditasi, untuk menenangkan pikiran mu.]
"Aku akan meditasi sebentar..." Kata ku.
.
.
.
Sekitar jam 9 malam.
Pikiranku sudah tenang, dan aku berniat untuk tidur.
"Mereka benar, aku harus tenang, itu adalah masa lalu." Kata ku.
[Iyap, ngomong master inilah efek skill dan title yang kamu dapatkan tadi.]
[Rage Of Fox Goddess]
Skill yang diberikan Oleh Dewi Rubah.
Efek
-Memberikan Efek [Fear] dan [Paralyze 50%] kepada musuh (Tidak bisa ditahan)
-Penggandaan Kekuatan Fisik 5x
Penguasaan: ★★★★★
[Demonic Fox Sword Style]
Gaya bertarung yang dikhususkan untuk membunuh lawan dengan brutal, dan pertahanan yang kuat.
Penguasaan: ★★★★★
[Special Skill : Fox Warrior Army]
Memanggil 332 Roh Petarung dari klan rubah, yang siap bertempur.
Penguasaan: ★★★★★
Pahlawan yang lahir di dunia ini.
[Warrior of The Fox Clan]
Prajurit dari Clan Rubah.
Aku lalu berjalan ke rumah Fujiwara, lalu masuk kedalam.
*Tok-tok-tok
"Aku masuk ya." Kata ku.
"Iya." Kata Fujiwara.
Setelah itu aku masuk, dan Fujiwara tidak menggenakan pakaian apapun.
"Kyaa!" Aku berteriak dan menutup mata ku.
"Kenapa kamu menutup mana mu?" Kata Fujiwara.
"Kenapa kamu nggak pake baju!!" Kata ku.
"Laki-laki biasanya bahagia, ketika melihat sesuatu yang seperti ini kan? Ayo kemarilah dan mainkan tubuhku." Kata Fujiwara.
"Pake baju, atau aku tidak akan mencium mu malam ini." Kata ku.
"Mhmm.... Curang." Kata Fujiwara.
.
.
.
"Sip, sudah sekarang mana ciuman selamat malamnya?" Kata Fujiwara.
"Iya-iya." Kata ku.
Aku pun berciuman dan
-----
Bersambung
-----
Tapi boong.
400 kata lagi lah, kagok.
-------
"Aduduh...." Aku mencoba menggerakkan tubuhku.
"Hmm? Sudah bangun?" Kata Fujiwara.
"Iya, ngomong-ngomong kemarin katana ku dibawa kemana?" Kata ku.
"Tengok kanan." Kata Fujiwara.
Katana ku ada di dekat vas bunga disebelah kanan, agak jauh sih, soalnya kamar Fujiwara lumayan luas meski nggak ada apa-apa disini.
Kemarin juga aku nggak melakukan apa-apa, jangan salah paham, aku cuman berciuman lalu tidur.
"Sip, aku mau mandi dulu, jangan nerobos masuk." Kata ku.
"Hehe." Kata Fujiwara.
"Serah dah." Lagian dia istriku sih.
Aku mandi seperti biasa.
Setelah mandi, aku segera keluar dari rumah Fujiwara dan ke lapangan yang ada ditengah (lapangan pelatihan).
Seperti biasa ada Haruka dan beberapa orang yang sedang berlatih disana.
"Selamat pagi." Kata ku.
Dia hanya menundukkan kepalanya kepada ku, aku tau dia lagi sibuk, jadi aku hanya melakukan pemanasan ringan di pinggir.
"Haruka, kalau nanti Fujiwara atau yang lainnya nyariin, aku keluar bentar." Kata ku.
Aku ingin berburu, apapun itu, asal jangan orang nggak bersalah atau monster yang tidak agresif. Aku hanya membawa katana dan Tanto, yang ku simpan di pinggang sebelah kiri ku.
Pakaian ku hanya pakaian yang biasa kupakai ketika ada di pemukiman klan rubah. You know lah.
.
.
.
*Sraat...
Aku menebas leher goblin.
"Ini yang terakhir ya." Kata ku.
Aku berada di desa goblin, dan membunuh semua goblin yang ada disini.
"Huh.... Melihat desa yang hancur seperti ini, jadi teringat kejadian kemarin." Kata ku.
[Mereka Monster, justru dengan membunuh mereka kamu bisa menyelamatkan beberapa nyawa, makanya punya Clairvoyance tuh dipake.]
"Iya sih, duh... Gua jadi kek makhluk nolep yang overthinking." Kata ku.
Setelah itu aku mencari beberapa monster, lagi, dan membunuhnya dengan cara menembakinya dengan GoB.
"Sip." Aku lanjut berkeliling lagi.
.
.
Singkat cerita, aku membunuh 30 monster dalam 12 menit, aku bergerak dengan cepat, jadi ya... Nemu Monster nya juga cepat.
"Itu.... Bandit." Aku melihat bandit yang sedang membegal orang.
Aku ingin mengetest skill Rage Of Fox Goddess ku. Sehingga aku langsung maju saja. Aku berjalan ke arah mereka, dengan kondisi aku sudah mengaktifkan skill itu.
Mereka semua langsung menengok ke arah ku dengan badan yang gemetar, wajah mereka seperti sedang melihat seorang monster yang akan segera mengambil nyawa mereka.
Mereka diam membeku, ada yang sampai kencing dan tidak mampu berdiri. Jumlah bandit itu 12 orang.
Setelah cukup dekat, aku memenggal salah satu bandit itu, dilanjutkan dengan membunuh bandit yang lainnya dengan cara membelah kepalanya secara vertikal.
Setelah mereka mati, aku menonaktifkan skill ku dan menyuruh orang yang sedang di begal pergi. Dengan wajah takutnya yang penuh air mata dia lari terbirit-birit.
"Barang bawaan mu tertinggal!!" Kata ku.
"Hadeh.... Skill yang lumayan berguna." Yap, ini lumayan berguna untuk menghancurkan mental lawan, dan juga skill ini menambah kekuatan ku.
Namun dalam penggunaan skill itu, aku mendapat bisikan-bisikan yang menyuruhku untuk membunuh mereka dengan brutal. Ya.... Setidaknya di tebas secara vertikal nggak- eh itu lumayan sadis juga ya...
"Dahlah, aku balik aja, baru mandi tubuh dah berlumuran darah." Kata ku.
-------
Bersambung
-------