
"Mata mu glow in the dark." Kata ku kepada Fujiwara yang matanya menyala.
"Bukannya mata mu juga sama." Kata Fujiwara.
Kita sedang berada di sarang goblin, aku bisa merasakan sekitar 90 - 145 goblin di markas ini.
"Jalannya nyebelin, belok-belok kayak labirin." Kata Seline.
"Iya, hmm?" Aku melihat sesuatu di depan.
"Sikat." Kata Fujiwara.
Aku maju kedepan, lalu melemparkan beberapa kunai.
"Seperti biasa, kemampuan membidik mu memang hebat." Kata Seline.
"Aku bisa melihat di kegelapan loh, meski agak aneh gitu warna nya." Kata ku.
[Baru segitu sudah merasa hebat, dasar manusia.]
Yap... Dia bukan Ai-chan yang biasanya, karena suatu hal dia sedang sakit, aku mengetahui nya ketika tidur, yah... Kek biasa lah.
Berbeda dengan Ai-chan yang kek onee san, cewek pengganti ini kayak loli, berambut twin tail dan agak nyebelin. Makannya mending Ai-chan.
"Berisik..." Kata ku.
"Kita harus menghancurkan markas ini kan? Kenapa nggak di ledakin dari luar aja?" Kata Seline.
"Iya juga, Pake Ground Control mu." kata ku kepada Fujiwara.
"Pake Susano'o mu aja, biar langsung hancur." Kata Fujiwara.
"Intinya kita kembali ke pintu luar dulu, pegangan." Kata ku.
Kita pindah ke pintu depan markas goblin itu. Markas itu berada di bawah tanah, ya mirip-mirip lah dengan markas si penjual budak kemarin-kemarin, namun markas goblin ini lebih rumit jalannya, dan jebakannya nyebelin.
"Sip, aku akan memukulnya sehingga tanah disekitar sini akan ambles, jadi kalian menjauhlah." Kata ku.
"Nanti kalau kamu ikut jatuh gimana?" Kata Fujiwara.
"Nggak akan jatuh kok, tenang saja." Kata ku.
Teknik yang berdaya hancur tinggi hanya sedikit, Yaitu Perfect Susano'o, Shinra Tensei, Chibaku Tensei, Fire Release : Goddess Fox Punch, Lightning Release : Heavenly Lighting Wrath, dan Wind Release : Wind God Rage.
Bukannya itu banyak ya? Entahlah, yang pasti kata sistem segini sudah lumayan. OFA nggak ku masukan karena itu sama kayak sihir penguatan aja, namun lebih kuat.
"Pake itu aja lah, harusnya orang-orang di kota nggak akan kena sama jurus ini." Kata ku.
"Pake apa?" Tanya Fujiwara yang mendengar gumaman ku.
"Skill ku, mundurlah jangan sampai terhisap." Kata Ku.
"Baiklah, Seline Ayo." Kata Fujiwara.
Aku tunggu sampai mereka lumayan jauh.
.
.
.
"Sip, seharusnya mereka sudah jauh." Kata ku.
Aku menyatukan kedua lengan ku, dan bola hitam terbentuk di telapak tangan ku.
"Chibaku Tensei..." Kata ku.
Aku bisa menggunakan Chibaku Tensei dengan memfokuskan mata kanan ku ke arah sesuatu yang ingin kamu segel kek waktu Sasuke lawan Momoshiki di era bortod, atau aku bisa menggunakan bola hitam kek Pain.
Tanah-tanah dan bebatuan disekitar terangkat ke bola hitam itu, goblin-goblin yang di dalam markas itu berusaha melarikan diri dengan cara memanjat melalui batu-batu yang terangkat namun usaha mereka sia-sia.
Aku menggunakan Perfect Susano'o lalu terbang menjauh dari area itu. Setelah sekiranya cukup besar aku berniat menghancurkan inti dari Chibaku Tensei ku.
"Sip, hancurin lah." Kata Ku.
*Boom.... !
Dampaknya tidak terlalu besar karena ya aku nggak pake kekuatan penuh susano'o ku. Dengan kata lain aku menebasnya dengan pelan-pelan saja.
Aku menonaktifkan Susano'o ku dan segera menghampiri Fujiwara dan Seline.
"Mereka dah jauh keknya, toh Seline di bawa sama Fujiwara." Kata ku.
Meski begitu aku tetap khawatir sehingga aku menggunakan Mode Rubah lalu mengikuti bau mereka. Ngomong-ngomong markas goblin itu sudah hancur, lengkap dengan pohon-pohon disekitarnya juga.
Untung dampaknya nggak terlalu parah, kalau sampai kota aku jadi buronan nanti.
"Hei, tunggu!!" Kata ku.
"Oh, Sudah beres?" Fujiwara berhenti berlari.
"Iya." Kata ku.
"Skill apa tadi? Tanah disekitar kok bisa kayak gitu ya? Dan juga yang biru-biru gede tadi apaan?" Seline terlihat kebingungan.
Aku dan Fujiwara hanya tersenyum.
"Ngomong-ngomong sembunyikan Ekor mu, biar nggak menarik perhatian." Kata ku.
Fujiwara segera menghilangkan Ekornya, aku juga menonaktifkan mode rubah ku.
"Ngomong-ngomong Kyle, kamu manusia kan?" Tanya Seline.
"Menurutmu?" Kata ku.
"Jangan nanya balik." Seline terlihat kesal.
Aku mengabaikan pertanyaan nya.
"Balik yuk, sudah siang." Kata ku.
Aku langsung menteleport mereka tanpa sebelum mereka merespon ku, ya... Kita keguild dulu sih, setelah itu aku akan pulang sebentar dan ke istana.
Fujiwara ikut atau nggak nya aku gak tau, malahan aku belum bilang kalau aku akan bertarung dengan Si Ksatria Berzirah hitam itu.
"Kami sudah menyelesaikan misinya." Kata ku.
"Cepat juga, kalau begitu mana?" Kata Hyura.
Ngomong-ngomong Fifi, dan Ruri sedang melayani pemburu yang lain, sehingga aku menghampiri resepsionis yang lagi nganggur saja.
"Mana apa?" Aku kebingungan.
"Kalung Raja Goblin." Kata Hyura.
"Nggak punya." Kata ku.
"Kamu beneran menghancurkan tempat itu kan? Kalau begitu kamu pasti melawan raja goblin kan?" Kata Hyura.
"Aku langsung menghancurkannya dari atas, kalo nggak percaya cek aja tempatnya, mau ku antar?" Kata ku.
"Sebentar." Dia pergi ke ruangan Joseph.
.
.
.
"Kau lagi ya? Apa kamu benar-benar menghancurkan tempat itu?" Kata Joseph.
"Mau di antar ke tempatnya langsung?" Kata ku.
"Ayo." Kata Joseph.
Aku segera teleport pergi ke tempat quest tadi.
"Skill apa yang bisa menyebabkan keresakan seperti ini?" Dia kebingungan.
"Jadi gimana?" Kata ku.
"Baiklah serahkan kertas Quest tadi." Kata Joseph.
Singkat cerita, Quest ku nggak jadi gagal, dan pada saat aku ingin pulang, ada pemburu lain yang datang, zirah mereka fantasy banget, dan juga orang-orang langsung mengalihkan perhatian mereka ke para pemburu itu.
"Pulang yok." Kata ku.
Fujiwara terlihat kesal.
"Kita nggak akan itu dulu..." Bisik Fujiwara.
Ada orang yang tiba-tiba menabrak ku, Yap itu adalah si pemburu Berzirah keren.
"Kamu menghalangi, minggir!" Kata Si pemburu itu.
"Dah lah." Pikir ku.
"Kita minggir dulu." Kata Ku.
"Hmph, kenapa wanita secantik dia mau sama pria pengecut seperti mu." Dia lalu pergi ke Resepsionis.
Fujiwara terlihat kesal, dia belum pernah terlihat seperti itu sebelumnya.
"Sudah-sudah, ayo kita jalan-jalan sebentar." Aku menepuk kepalanya dan membawanya ke luar markas.
Sebenarnya aku ini orangnya lumayan sabar kok, kata-kata hinaan seperti itu nggak terlalu kerasa. Tapi kalau dia terus mengganggu ku, ya udah besok dia ilang.
(Dalang pembunuhan Munir adala-)
"Kenapa kamu tidak menghajarnya?" Kata Fujiwara yang masih terlihat kesal.
"Kalo terus di abaikan nanti juga dia bosen kok, ngomong-ngomong jajanan itu kayaknya enak." Aku melihat jajanan yang mirip dengan Crepes.
Aku membeli dua, dan ternyata bukan mirip lagi cuy, ini beneran Crepes, setelah membeli itu aku mengajak dia ketaman Kota.
"Enak..." Fujiwara memakan Crepes itu secara perlahan-lahan.
Ngomong-ngomong Klan rubah itu makanan pokoknya adalah buah-buahan dan ikan. Mereka jarang makan nasi, karena klan mereka itu jarang keluar wilayah mereka.
Mereka juga misqueen, nggak punya duit, oleh karena itu mereka menanam pohon buah-buahan yang sangat banyak di wilayah mereka.
Meski sekarang, mereka sudah sering memakan nasi karena nasi di inventory ku kebanyakan. Daripada dibuang mending dikasih aja ke yang membutuhkan.
"Ngomong-ngomong Kyle, kapan kita berkembang biak supaya klan rubah tidak punah?" Tanya Fujiwara dengan wajah merahnya.
"Eh? Aku masih terlalu muda." Kata ku.
"T-tidak mungkin, yah... Terlalu muda juga tidak apa-apa, jadi mau?" Kata Fujiwara.
"Lain kali saja." Aku mengelus kepalanya.
Dia terlihat sedih.
"Kalau begitu kamu harus berjanji untuk tidak mati dalam pertarungan, baik dengan monster, iblis atau apapun itu." Kata Fujiwara
Aku hanya tersenyum saja.
"Kenapa hanya senyum!" Dia memukul diriku dengan pukulan pelan.
"Ayo pulang, aku ada urusan sebentar." Kata ku.
"Eh Kok ngajak pulang? Jangan-jangan kamu marah?" Dia terlihat sedih.
"Nggak-nggak, aku memang ada urusan di istana, sekarang sudah sekitar jam 13:29." Kata ku.
Dia masih terlihat cemberut, entah memang masih ingin bersama dengan ku, atau apa.
"Kalo nggak salah aku sudah membuat sesuatu dari inventory ku." Aku berusaha mengingat-ingat sesuatu.
[Dia masih ingin bersama dengan mu, ditambah gadis rubah itu memang tergila-gila dengan mu, yah... Entah kenapa sih]
"Oh." Aku mengingatnya.
"Sebelum aku menteleport kamu pulang, aku mau memberikan ini untukmu." Aku mengeluarkan cincin yang terbuat dari kayu, ya kayu pohon dunia yang dari dulu nggak kepake.
"I-ini!?" Muka Fujiwara terlihat lebih memerah dari biasanya.
"Eh bentar, bukannya harusnya pake emas ya?" Kata ku.
"Sudahlah, pasang saja." Kata Fujiwara.
"Iya." Aku memasangkan nya di jari manis nya.
Dia terlihat senang, namun si petualang Berzirah keren itu datang.
"Wah-wah, Si pengecut itu melamar sudah berani melamar seorang wanita, sepertinya wanita itu tidak beruntung karena memiliki suami pengecut seperti mu." Kata Dia.
[Ngapa sih ni orang, sikat aja lah, geprek pake Susano'o.]
"Iri bilang bos, buat bagus dulu sifat mu setelah itu armor mu, armor aja bagus kelakuan kayak tukang NTR." Kata ku.
[Dia emang mau nge NTR mu lho, kamu di anggap lemah, jadi dia berniat merebut istrimu tercinta.]
"Huh!?" Aku baru sadar bahwa mukanya itu kayak fuckboy, ya kek kalian.
"Grr...." Mata Fujiwara menjadi ungu.
"Y-yah... Tenanglah, biar aku saja." Bisik ku.
"Hmm? Istri mu marah? Haha kemarilah wanita, di kota ini tidak ada yang bisa melawan ku selain Joseph, dan Angelina, memiliki hubungan dengan ku akan membawa dampak bagus untuk mu." Kata Kang NTR.
"Dahlah, kesel aing." Pikir ku.
Aku mengaktifkan EMS ku, dan bersiap menghajar orang itu.
"Huh? Berani melawan? Aku akan melaporkan hal ini ke bangsawan di kota ini, dan setelah itu..." Dia langsung tertawa terbahak-bahak.
"Daripada memikirkan hal itu, kamu sebaiknya berpikir bagaimana cara agar bisa lolos dari Kematian." Kata ku.
"Njer orang-orang ngeliatin, tapi bodo amat." Pikir ku.
"Bansho Ten'in."
Aku menariknya, dan dia langsung mengeluarkan pedang yang ada di pinggangnya. Ia berniat menebas ku ketika ditarik, namun serangannya hanya menembus tubuhku.
"Huh!?" Dia kaget, lalu aku menendang selangkangannya.
"Hehe." Aku tertawa kecil.
Dia berteriak, lalu aku menginjak kepalanya sampai pecah.
"Berisik." Kata ku
Semua orang yang disana menatapku, dengan wajah ketakutan. Yah.... Mending daripada Fujiwara marah, kalau dia ngamuk bisa bahaya, ibarat kyubi nyerang Konoha.
"Huh... Mood kita sepertinya hancur." Kata Fujiwara.
"Iya." Kata ku
"Ngomong-ngomong, aku nggak akan pulang, kita pergi ke istana bareng-bareng." Kata Fujiwara.
"Oke." Kata ku.
Setelah itu aku pergi ke istana, dan suasana disana sepertinya sedang kurang baik.
"Oh, kau datang ya? Dan dia?" Tanya Kakak.
"Aku." Dia membuat ekor dan telinga menjadi terlihat kembali.
"Eh? Guru? Ngapain kesini?" Tanya Raja.
"Tentu saja untuk menemani suamiku tercinta, soalnya dia agak nekat orangnya." Kata Fujiwara.
Ya... Kadang-kadang aku suka menahan kekuatan ku meski sedang terdesak, karena emang seru aja, jadi kesannya aku nggak OP.
Ketika musuh meremehkan ku disitulah aku menang, contohnya kayak tadi.
"Sepertinya terjadi sesuatu ya? Suasana disini nggak enak." Kata Ku.
"Sebenarnya..."
Raja menceritakan kalau para monster muncul lagi di sebelah selatan kota ini, dan juga Hozuki dan Lucia sedang dalam perjalanan pulang dari Kota Yama.
Yap, daerah selatan itu pegunungan.
"Huh.... Biar aku saja yang menyusulnya." Kata ku.
"Aku ikut." Kata Fujiwara.
"Yuk." Kata Ku.
"T-tunggu, kalian yakin mau pergi berdua?" Kata Si Ksatria Berzirah hitam.
"Iya, kita pergi sekarang ya, ayo." Aku segera keluar dari tempat itu.
-----
Bersambung.
-----