
"Hei.... Bangun."
Aku mendengar suara perempuan, dan langsung membuka mata ku. Seperti yang kuduga, aku berada di ruangan putih, tapi nggak ada Ai-chan disini.
"Kamu siapa?" Tanya ku.
"Aku adalah Alice, bukan Ai." Kata Alice.
Dia menggenakan pakaian seperti tuan putri, berambut pirang, dan bermata hijau cerah. Berbeda dengan Ai-chan yang menggenakan Jaket training lengkap dengan celananya.
"Jadi Ai-chan mana?" Tanya ku.
"Dia sedang #!#!*!#!"!$)/" Alice menggunakan bahasa yang tidak kumengerti
"Ngomong apa tadi?" Kata ku.
"Nggak, nanti siang juga balik." Kata Alice.
"Ngomong sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri di dunia nyata." Kata ku.
"3 hari 2 malam, dan sekadang kamu akan sadar dalam waktu 2 jam." Kata Alice.
"Jadi apa yang terjadi kepadaku setelah menggunakan pedang itu?" Tanya ku.
"Stamina mu Kering, tangan kanan mu remuk, dan yah.... Kamu udah sembuh kok, paling agak Letoy dan tangan kanan mu agak sakit." Kata Alice.
"Kok bisa ya, bukanya dulu kata Ai-chan aku nggak akan kenapa-kenapa?" Kata Ku.
"Ya.... Kalau penggunaan normal sih nggak apa-apa, tapi kalau pake skill tertanam dalam pedang itu kamu belum cukup kuat, kamu tau, Divine Slash bukan skill sembarangan, itu adalah kunci kemenangan pahlawan kedua loh." Kata Alice.
"Oh.... Pantes, berarti aku harus lebih banyak latihan." Kata ku.
"Latihan fisik akan sia-sia, mengingat kekuatan fisik mu yang sudah lumayan kuat, mending kamu menaikan level saja." Kata Alice.
"Iya, tapi dengan levelku yang sekarang ini, akan sulit untuk menaikan level lagi." Kata ku.
"Hmm...... Pergi ke dungeon aja, dengan tingkat kesulitan sedang sampai tinggi, meski agak berbahaya, tapi ya hasilnya nya gak akan bohong." Kata Alice.
"Dimana dungeonnya?" Tanya ku.
"Tingkat sedang berada di Kota Horus, agak jauh dari ibukota sih, soalnya kota itu ada di dekat perbatasan dengan kerajaan Aegiva." Kata Alice.
"Kalau yang kesulitannya tinggi?" Tanya ku.
"Jauh, di kerajaan Demihuman, dimana kamu akan melewati kekaisaran dan Kerajaan iblis." Kata Alice.
"Hmm...... Nanti aja deh, 2 bulan lagi mungkin aku bisa." Kata ku.
"Ya terserah sih mau perginya kapan juga, ngomong-ngomong bentar lagi akan ada update sistem Versi 4.5" kata Alice.
"Oh, kamu akan pergi?" Kata ku.
"Nggak tau, yang pasti waktu update nanti kamu akan kayak tidur biasa a-." Kata-kata Alice terpotong dan pandangan ku gelap.
.
.
.
"Uh.... Tubuhku lemas...." Aku membuka mata ku dan melihat cahaya remang-remang.
Aku perlahan-lahan mencoba untuk berdiri, namun saking lemasnya aku gagal.
Aku menyadari sesuatu ketika aku bangun, Fujiwara sedang tidur di samping ku.
"Tangan kananku agak mati rasa." Pikir ku.
"Kyle...?" Fujiwara terbangun.
"Ah, kamu terbangun? Maaf-maaf aku terlalu berisik ya?" Kata ku.
"Enggak-enggak, pendengaran ku saja yang sensitif." Kata Fujiwara.
"Ngomong-ngomong, bantu aku berdiri, aku mau membersihkan tubuh ku." Kata ku.
"T-tenang saja, aku sudah membersihkan nya kok." Kata Fujiwara dengan wajah merah.
"Hmm!?" Pikir ku.
"O-oh, terima kasih, dan juga pedang ku mana?" Kata ku.
"Pedang mu ada di tengah tengah lapangan pelatihan, dan kalau bisa kamu ambil lagi pedang itu, karena pedang itu menancap di tanah kita jadi tidak bisa latihan." Kata Fujiwara.
"Bisa kok, bantu aku berdiri." Kata ku.
Di luar masih gelap, mungkin sekitar pukul 4 - 04:30.
Fujiwara membantu ku berdiri, dan membawaku ke dekat lapangan pelatihan. Aku menyadari baju ku telah berubah, dari yang awalnya pakaian tempur ku, jadi pakaian dari klan rubah.
"Maaf, aku tidak bisa terlalu dekat dengan pedang itu, jadi-" Aku memotong perkataannya.
"Tidak apa, jangan melakukan hal yang berbahaya." Kata ku.
Aku bisa melihat pedangku itu mengeluarkan aura yang membuat tumbuhan disekitarnya mati, dan itu semakin meluas secara perlahan-lahan.
Ketika aku memasuki jangkauan dari aura itu, ternyata tubuhku baik-baik saja, dan tidak terkena dampak dari aura tersebut.
Fujiwara terlihat keheranan. Aku terus berjalan dengan pelan hingga akhirnya ketika aku mencabut pedang itu dari tanah, aura aneh tadi hilang, aku berjongkok dan menumbuhkan rumput baru.
"Kemarilah, bantu aku berdiri lagi, auranya sudah hilang kok." Kata ku.
Fujiwara menghampiri ku, meski agak takut.
"Pedang itu mengerikan, kamu jangan terlalu sering menggunakannya." Kata Fujiwara.
Mungkin kalau dia tau aku pingsan gara-gara pedang ini, dia akan menyuruhku untuk berhenti menggunakannya.
Terkadang Fenrir, Ai-chan, sama Fujiwara itu terlalu overprotektif, bahkan pernah ketika aku kegores doang, mereka langsung panik dan berlari untuk mencari potion tingkat tinggi.
Aku memarahi mereka, dan akhirnya agak mendingan.
"Akhirnya bisa latihan disini lagi."Kata Fujiwara dengan senang.
"Pedang ini agak berbahaya sih, ngomong-ngomong kamu tidak melakukan hal aneh lainnya kepada tubuh ku kan?" Kata ku.
"Em.... Tidak.... Beneran kok istri yang baik tidak akan membohongi suaminya." Kata Fujiwara.
"Yah.... Sekarang pedang ini sudah tidak berbahaya, ngomong-ngomong aku akan meditasi dulu disini." Kata ku.
"Sebelum itu mendekat lah kepadaku." Kata Fujiwara.
"Iya." Aku mendekatinya.
Dia menarik ku dan mencium bibir ku.
"Ciuman selamat pagi." Dia tersenyum
"E-eh!?" Aku error sebentar.
"Aku akan menyiapkan sarapan, dah." Fujiwara pergi.
"Tenang Kyle..." Aku langsung meditasi.
.
.
.
Beberapa jam kemudian....
Aku mengakhiri meditasi ku, dan membuka mata perlahan-lahan.
"Kok rame?" Gumam ku.
[P]
"Cepet amat update sistemnya, biasanya seharian." Kata ku.
[Hehe, kangen ya, sama onee san berkacamata ini.]
"Lumayan sih, aku lumayan kesepian karena nggak ada yang bacot di kepala ku." Kata ku.
[Aku juga masih disini lho.]
"Alice ya, kamu nggak jadi pergi?"
[Aku sudah seperti orang nolep ini sekarang.]
[Aku nggak nolep, aku memang tidak bisa berkeliaran tau, lagi PSBB.]
Setelah itu mereka berbicara dengan bahasa yang tidak ku mengerti.
"Berisik!" Kata ku.
"Kyle kenapa kamu bengong?" Kata Haruka.
"Oh.... Maaf." Aku segera berdiri.
"Kamu tidak terlihat baik, ada apa?" Kata Haruka.
"Sedikit kelelahan." Kata ku.
"Potion dong." Kata ku.
Tangan ku perlahan membaik, dan terdengar suara yang memanggil ku dari jauh.
"MASTEER!!"
"Jangan lari-lari." Itu Fenrir.
"Huh.... Huh.... Kamu tidak sadar selama tiga hari, aku sangat khawatir, kenapa kamu bisa tidak sadar? Apakah ada seseorang yang menyakiti mu?" Kata Fenrir.
"Tenang, aku baik-baik saja kok, hanya perlu memulihkan stamina." Kata ku.
"Syukurlah, kalau begitu ayo ikut, yang lainnya telah menunggu." Kata Fenrir.
"Tumben mereka akur." Kata ku.
[Ya.... Kamu pernah menyuruh mereka untuk akur kan.]
"Iya sih, bagus mereka akur." Kata ku.
Biasanya Fujiwara sama Fenrir itu kalau ketemu pasti ada aja hal-hal kecil yang menyebabkan mereka berantem, meski nggak sampai memukul sih.
Kalau sampai mukul, ane pasti marahin kok, kalem.
Aku dibawa ke rumah Fujiwara, dan disana sudah ada Orang tua ku, Rin, Hozuki, dan Eru.
(Eru adalah bocil elf berambut hitam, baca ch sebelumnya)
"K-kakak." Eru langsung memelukku.
"Sudah-sudah, aku baik-baik saja kok." Kata ku sambil mengusap kepalanya.
Setelah itu aku memakan sarapan ku, ya sambil menghibur Eru dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan ibuku, dan yang lainnya.
"Begitu ya... Naga hitam, ras iblis, dan kekaisaran." Kata Fujiwara.
"Jadi itu penyebab aku pingsan karena ngetest skill doang, cuman ternyata tubuhku belum cukup kuat." Kata Ku.
"Kalau begitu, sebaiknya kamu tidak menggunakan pedang itu secara berlebihan, atau malah lebih baik gunakan saja ketika terdesak." Kata Hozuki.
"Lawan naga pake Wakizashi nggak enak banget, pake kapak agak gimana gitu...." Kata Ku.
"Bentar, sejak kapan kamu punya senjata kapak?" Tanya Fujiwara.
"Ntar aku ambil dulu." Aku pergi ke dimensi kamui untuk mengambil Kapak ku, sebenarnya kapak ku ada di inventory, cuman biar sistem nggak ketauan aja.
Aku kembali lagi Rumah Fujiwara.
"Nih kapaknya." Kata ku.
"Eh?"
"Eh?" Fujiwara dan Fenrir sama-sama terlihat kaget.
"Kenapa wajah kalian seperti itu?" Aku jelas bingung.
"Master, darimana kamu dapat kapak itu?" Kata Fenrir.
"Sistem help me!!" Kata ku.
[Bilang aja tiba-tiba ada Sambaran petir yang menyambar tanah, dan di bekas samabaran itu terdapat kapak ini.]
"Waktu aku lagi melawan monster, tiba-tiba ada Sambaran petir di hari cerah begini, nah di bekas Sambaran itu sudah ada kapak ini." Kata ku.
"Dulunya kapak itu adalah senjata punya ku loh master." Kata Fenrir.
"Eh?" Aku juga kaget.
"Ya..... Kamu pasti bingung, kok bisa sih Fenrir ilang senjatanya, alasannya karena dulu waktu lawan orang kekaisaran itu, senjata ku di tendang sama dia, terus ilang." Kata Fenrir.
"Yah.... Kekaisaran emang bukan tempat untuk para demi human, bahkan Kyle, ketika kamu pergi kesana usahakan jangan sampai berurusan dengan bangsawan yang ada disana." Kata Fujiwara.
"Benar, hanya ada satu pilihan ketika kamu berurusan dengan bangsawan di kekaisaran, lawan atau kamu mati." Kata Fenrir.
"Jadi..."
"Iya, dulu mereka menculik ras serigala ku, dan berniat menjadikannya budak, aku mengejarnya sampai akhirnya aku berhasil menyelamatkannya namun telinga hewan ku hilang." Kata Fenrir.
"Yah.... Semoga tidak terjadi apa-apa, ngomong-ngomong aku ada rencana pergi Kedungeon, ketika musim dingin." Kata ku.
"Serius? Jarang lho orang berpergian di musim dingin." Kata Hozuki.
"Oh iya, Charl kenapa kapan kamu kesini?" Kata Ku.
(Charlotte itu adalah nama Hozuki setelah bereinkarnasi.)
"Ehm.... Setelah mendengar mu nggak pulang-pulang." Kata Charlotte.
"Kyle, dungeon itu sangat berbahaya loh, selain jalannya yang rumit, monster-monster disana akan terus muncul, dan ada banyak jebakan." Kata Fujiwara.
"Oh."
"Jangan cuman oh! Kalau kamu nggak bisa pulang gimana?" Yap mereka langsung berteriak kepadaku.
"Kalian lupa ya? Aku bisa langsung kabur dengan berteleport, atau memulihkan diri ku sendiri di dimensi ku." Kata Ku.
"Meski begitu, setidaknya kamu jangan pergi sendirian..." Kata Rin.
"Benar, sendirian itu terlalu berbahaya." Kata Ibuku.
"Kalian tenang saja, aku nggak sendiri kok." Kata ku.
Yah.... Ada sistem sih, hehe.
"Maksudmu?" Semuanya terlihat kebingungan.
"Jangan dipikirkan, ngomong-ngomong, aku disana tidak akan lebih dari dua bulan kok, kalau lebih berarti ada sesuatu, kalau itu terjadi jangan mencari ku." Kata ku.
"Kata-kata mu terdengar seperti orang yang mau melakukan misi bunuh diri saja." Kata Charlotte.
"Jadi tujuan mu kesana mau ngapain?" Tanya Fujiwara.
"Menjadi lebih kuat, dengan cara yang agak ekstrim." Kata ku.
"Kamu harus berjanji untuk kembali hidup-hidup, terserah kamu mau kembali kapan pun, tapi ingatlah, kamu tidak memiliki alasan untuk kalah, petarung dari klan rubah tidak ada yang pernah meninggal di dungeon, dan kamu adalah petarung terakhir sejak 400 tahun yang lalu." Kata Fujiwara.
"Kamu dan yang lainnya bukan petarung?" Kata ku.
"Aku ini ibarat raja di klan rubah, Haruka adalah tangan kanan ku, yah... Kamu juga belum menjadi petarung resmi kok." Kata Fujiwara.
Yang Fujiwara katakan benar juga, yang sering melatih anggota klan yang lain adalah Haruka, dan yang sering melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lain juga dia. Ya... Bukan berarti Fujiwara pemalas loh ya.
"Jumlah para petarung dari klan rubah nggak banyak loh, cuma sekitar 333, ditambah kamu apabila ingin menjadi petarung resmi." Kata Fujiwara.
"Ini bukan kayak ksatria gitu yang banyak kode etik nya kan?" Tanya ku.
"Bukan, Yang pasti para petarung harus melindungi seluruh klan rubah, pemberani, dan setia." Kata Fujiwara.
"Oh, kalau begitu apa persyaratannya?" Aku menerimanya karena aku ini be yourself and never surrender.
"Nggak sulit sih, kamu cukup menulis nama mu di batu besar yang ada di dekat lapangan pelatihan, dan memakai peralatan yang dibuat oleh klan rubah." Kata Fujiwara.
"Aku pernah membaca dari buku soal petarung, dari klan rubah, kalo nggak salah, mereka menjaga kedamaian di kerajaan Demihuman selama ribuan tahun, sebelum terjadi perang melawan ras iblis ke 4 kalinya." Kata Charlotte.
[Itu terjadi beberapa ratus tahun yang lalu.]
"Kekaisaran menggunakan embel-embel akan melarang perbudakan di negaranya, dan memanfaatkan para Demihuman untuk menghabisi para iblis." Kata Charlotte.
[Dari jaman dulu memang budak Demihuman yang paling laris dan banyak di perjual belikan.]
"Setelah itu mereka para petarung dari klan rubah, membantai ratusan ribu dari iblis, dan pada akhirnya mereka mulai tumbang satu persatu, dan tersisa aku, aku yang menyadari kalau ras setengah manusia hanya di manfaatkan saja langsung segera kembali ke kerajaan, namun sudah terlambat." Kata Fujiwara.
"...." Aku terdiam mendengar cerita mereka.
[Demihuman mempunyai rasa empati yang tinggi, namun memiliki kecerdasan yang sedikit lebih rendah, ya... Tergantung rasnya juga sih.]
"Waktu itu, para lelaki dari klan rubah, pergi bertempur, sementara beberapa wanita di bawa entah kemana, aku yang shock dan bingung waktu itu langsung memutuskan untuk mengasingkan diri bersama dengan anggota klan yang tersisa." Kata Fujiwara.
"Jadi alasan kamu ada disini...." Kata ku.
"Ya." Kata Fujiwara.
[Karena Fujiwara dan klan rubah nya tiba-tiba menghilang, di beberapa kerajaan termasuk kekaisaran, mereka sudah dianggap punah.]
"Apa yang dilakukan pahlawan waktu itu?" Kata ku.
"Mereka tidak tau hal ini." Kata Fujiwara.
[Pahlawan generasi ke 1-3 merupakan pahlawan yang mencintai seluruh ras, bahkan pahlawan ke 3 hampir berhasil menyatukan seluruh kerajaan di daratan ini.]
"Maaf telah membuat mu mengingat kenangan buruk, mari kita bahas hal lain, tentang peralatan ku apa bisa menggunakan bahan-bahan punya ku?"
Kata ku.
Fujiwara menarik nafas, dan menghapus wajah sedihnya.
"Bisa kok."
Bersambung