Reincarnated To Another World With The Gacha System

Reincarnated To Another World With The Gacha System
Chapter 26 : Menjadi Pemburu



Aku sedang melihat aliran mana seseorang menggunakan mata ku.


"Agak aneh anjer liatnya." Kata ku.


[Kamu belum terbiasa doang, ngomong-ngomong kemarin kok bisa langsung gitu ya? Biasanya kamu ampas]


"Iri bilang bos." Kata ku.


[....]


Ngomong-ngomong sekarang itu sekitar jam setengah lima subuh, dan aku sedang melihat aliran mana Fenrir.


"Jadi kek byakugan." Kata ku.


[Nggak juga]


Setelah itu aku berniat membuat topeng yang mirip seperti milik Obito, biar keren aja. Aku mengeluarkan kayu dari inventory ku, lalu membentuknya menggunakan skill ku.


Aku melatih skill Forming ku dengan cara membentuk benda random sesuai dengan keinginan ku. Awalnya aku mencoba membentuk batu kecil menjadi bulat sempurna.


Meski nggak bulat-bulat amat, tapi setidaknya hampir mendekati sempurna. Setelah skill itu naik ke Rank S aku jadi bisa membentuk apapun sesuai dengan keinginan ku.


"Huh, nggak ada warnanya." Gumam ku.


Setelah itu aku memberi warna putih, dan mengeringkan catnya dengan mana ku.


Setelah itu aku mengeluarkan beberapa baju tempur buatan ku, ini full terbuat dari kain yang di Enchant oleh ku sendiri.


Aku diajari oleh temanya Fujiwara yang bernama Yuuko. Bahasa yang digunakan untungnya berasal dari bumi, ngomong-ngomong huruf didunia ini mirip seperti alfabet, namun agak aneh aja bentuknya.


(Mirip \= Hampir Sama)


Aku mencoba nya menggunakan bahasa lain dari bumi, dan ternyata bisa juga.


"Hmm.... Yang ini aja keknya." Aku memilih baju berwarna biru tua yah baju ini keren sih, meski efeknya nggak banyak-banyak amat.


Efek di baju itu hanya ada 4, yaitu


Regenerasi


Penguatan


Tahan panas


Bersih


Aku sengaja menulis bersih agar tidak usah mencucinya, males ***.


"Pelindung lengan ku hanya satu, jadi pake aja dah." Gumam ku.


Pelindung lengan ku lumayan kuat, terbuat dari bahan-bahan pilihan. Efek pelindung lengan ku ada 5.


Shock absorber


Magic Shield


Hardening


Pain Reduction


Unbreakble


"Huh, harusnya aku menambahkan lebih banyak efek lagi, tapi yaudah lah."


Aku pergi mandi, lalu menggunakan pakaian yang kupilih tadi, aku lalu menyuruh Fenrir untuk melatih Rin.


"Huh.... Lebih baik aku makan aja dulu." Gumam ku.


Setelah itu aku membuat nasi goreng dengan bahan-bahan yang mantap, di inventory ku itu ada banyak bahan pangan.


Setelah itu, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ku pagi-pagi sekali.


"Sebentar!" Kata ku.


Aku pergi keluar dan melihat seorang pengantar surat datang ke rumahku, entah siapa yang ngirim tapi surat itu ditujukan untukku.


"Makasih bang." Kata ku.


Aku masuk kedalam dan makan sambil membaca surat itu.


Untuk Sahabatku Kyle.


Kyle bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan? Semoga desa mu itu baik-baik saja.


Kyle, entah kenapa aku pengen banget ketemu sama kamu, kita sudah dua tahun nggak bertemu, sejak saat kamu pulang waktu itu aku sudah tidak mendengar lagi kabar mu.


Meski saat ini keadaan ibukota sedang tidak aman, tapi aku berharap kamu mau menuruti keinginan egois ku ini, keinginan ku hanya ingin bertemu denganmu saja.


Oh iya, sekarang aku sudah lumayan bisa masak loh, nggak bakalan gosong kayak dulu lagi, jadi kalau kita bertemu lagi, aku akan memasak banyak hal untuk mu.


Sekian dulu ya Kyle, semoga kamu baik-baik saja, dan jangan lupa temui aku.


Sahabatmu,


Charlotte.


"Bjir panjang." Kata ku.


"Charlotte siapa?" Aku bingung.


[Hozuki]


"Oh iya."


Aku menghabiskan makanan ku, dan langsung pergi ke ibukota, aku nggak mau membangunkan ibuku dia sudah berusaha mengurus Miyuki.


"Pake kamui ajalah, males jalan." Pikir ku.


Sebelum aku menggunakan Kamui, aku mengeluarkan Wakizashi ku dari inventory, aku sangat sering menggunakan senjata ini, dibandingkan dengan Black Reaper ku.


Aku menaruhnya di pinggang sebelah kiri ku.


"Sip."


Aku langsung teleport di dekat ibukota, di tempat laba-laba yang dulu mati itu loh.


"Njer sepi." Kata ku.


Aku belum menggunakan topengku.


"Agak malu juga njer, topeng nya gini amat." Kata ku.


[Terus ngapain buat!]


"Kalem neng." Kata ku.


Setelah itu aku masuk kekota menggunakan Shadow Movement. Suasana pagi di kota itu rame banget, jalanan sumpek, dan untungnya aku pake Shadow Movement jadi aku ada di bayangan orang-orang yang sedang berlalu-lalang.


"Ok, akhirnya aku sampai juga disini." Di depan ku ada Markas pemburu monster, dan disana rame bener.


Mungkin disebabkan oleh serangan monster kemarin-kemarin, jadi di tempat ini rame. Aku menyerobot antrian dengan cara muncul tiba-tiba didepan resepsionis.


"Hyaah!" Resepsionis itu kaget.


"Ah maaf, aku ingin daftar menjadi seorang pemburu." Kata ku, ngomong-ngomong ujung-ujungnya topeng ku nggak di pake.


"Ehm, anda yakin mau mendaftar sekarang?" Tanya resepsionis itu sambil melihat Rinnegan ku.


"Iya, meski situasinya seperti ini, tapi tidak apa-apa." Kata ku.


"Kalau begitu silahkan ikuti saya kesini." Resepsionis itu membawaku ke sebuah ruangan


Di sana terdapat alat yang digunakan untuk mengukur status Seseorang dengan bentuk yang agak berbeda, karena dibawah alat itu terdapat sebuah kartu yang tidak ada tulisannya.


"Nah, sekarang letakan tangan mu di atas bola itu." Kata Resepsionis.


Aku pun meletakan telapak tangan ku di atas bola itu, setelah itu kartu itu bercahaya. Cahaya nya meredup lalu resepsionis itu melihat kartu itu.


"Kok gini?" Kata Resepsionis itu yang nampaknya kebingungan.


Resepsionis itu adalah Demihuman, dia setengah kucing, aku ingin sekali menyentuh telinganya.


[Sentuh aja punya mu sendiri]


"Aku juga punya njer." Pikir ku.


"Level mu sangat tinggi, tapi kenapa Rank mu rendah sekali?" Kata Resepsionis itu.


"Kartu ini jangan sampai hilang, biaya pembuatan ulangnya mahal loh, dan juga kartu ini bisa menunjukan berapa jumlah monster yang telah kamu bunuh selama menjadi pemburu." Kata Resepsionis itu.


"Apakah jumlah monster itu bisa menaikan rank ku?" Tanya ku.


"Tidak, rank itu tergantung status milik mu, meski levelmu tinggi statusmu aneh." Kata Resepsionis itu.


Aku melihat kartu itu.


Nama : Kyle


Level : 145


Title : ???, ???, ???


STR : ???


DEF : ???


AGI : ???


MP : ???


Skill : ???


Rank : E


"Iya deh, aku bisa mengambil misi sekarang kan?" Kata ku.


"Bisa, tapi dengan rank segitu kamu harus membentuk party untuk bisa mengambil quest, minimal kamu harus punya satu anggota party." Kata Resepsionis itu.


"Hmm.... Siapa kira-kira ya?" Gumam ku.


Setelah itu tiba-tiba, ada seseorang yang membuka pintu ruangan lagi, disana ada seorang resepsionis lagi, dan satu elf yang sepertinya akan mendaftar juga.


.


.


.


"Level 94, dengan Rank B wow status mu lumayan tinggi." Kata Resepsionis yang satunya lagi


"Tunggu sebentar senior, status anak ini kenapa sangat aneh ya?" Resepsionis Demihuman menunjuk ku.


"Hmm? Aneh bagaimana?" Kata Resepsionis manusia.


Setelah itu si elf dan resepsionis manusia itu salfok dan melihat Rinnegan ku.


"Mata sihir yang unik, ngomong-ngomong biarkan aku melihat kartumu." Kata Si resepsionis manusia.


Aku menyerahkan kartu ku kepadanya.


"Oh ini, ini dikarenakan alat pengukur yang satu ini tidak bisa mengukur status nya, batas yang bisa alat ini ukur hanya sampai tiga ratus ribu saja, sedangkan punya anak ini lebih dari itu." Kata Resepsionis manusia itu.


Aku hanya tersenyum.


"Walah... Aku minta maaf, kita tulis ulang kartunya!" Resepsionis Demihuman itu terlihat panik.


Sementara elf itu terlihat tidak mengerti sama sekali.


"Sebentar, aku akan membawa alat pengukur yang lain." Kata Resepsionis manusia.


Dia pergi keluar ruangan, dan diruangan ini hanya ada aku, Resepsionis Demihuman, dan Si Elf.


"A-anu, kenapa kamu terus menatap kepala ku?" Tanya Si Resepsionis Demihuman.


"Hmm.... Telinga mu imut, aku ingin menyentuhnya." Kata ku.


"E-eh, kenapa bisa terlihat." Si Resepsionis dan elf itu terlihat bingung.


Aku bisa melihatnya, tentunya pake Rinnegan.


"Kurasa itu karena mata kanan mu." Si Elf tiba-tiba ngomong.


"Ah, iya mata kanan mu aneh, biasanya mata sihir akan ada di dua bola mata, tapi kamu hanya satu." Kata Resepsionis Demihuman.


"Aku juga kebingungan, ditambah mata ini nggak bisa ku nonaktifkan, orang-orang yang pertama kali bertemu dengan ku pasti langsung melihat mata ku." Keluh ku.


"Jadi kemampuan apa yang dimiliki mata mu itu?" Tanya Si elf.


"Berpindah atau bertukar tempat." Kata ku.


Aku mencoba menunjukkan kemampuan bertukar tempat ku. Aku menggunakan Amenotejikara dan bertukar tempat dengan elf tadi.


"Eh?" Dia terlihat kebingungan.


"Ya, seperti itulah." Kata ku.


"Cepat sekali..." Kata Si Elf.


Setelah itu resepsionis manusia datang kembali sambil membawa alat pengukur yang baru.


"Baiklah, serahkan kartumu." Kata si resepsionis manusia.


"Nih." Kata ku.


Setelah itu hal yang sama terjadi lagi, dan akhirnya rank ku berubah.


"Level 145 dengan Rank S, kekuatan mu jauh lebih kuat dari Kapten Ksatria." Kata Si Resepsionis manusia.


"Status mu kok bisa lebih tinggi dari level mu ya?" Si Resepsionis Demihuman kebingungan.


"Yah.... Mungkin karena latihan?" Kata Si Resepsionis Manusia.


"Oh iya, nama ku Kyle." Kata ku.


"Aku Fifi." Kata Resepsionis manusia.


"Aku Ruri, dan sekali lagi aku minta maaf, aku baru tiga hari bekerja disini jadi masih belum berpengalaman." Kata Resepsionis Demihuman.


"Nggak apa-apa kok, dan juga jangan beritahukan Rank ku kepada siapa-siapa." Kata ku.


"Eh? Biasanya para pemburu Rank S pasti langsung membanggakan kekuatannya." Kata Ruri.


"Aku hanya ingin mencari uang dan memburu monster saja, ngomong-ngomong kita ini di beri misi atau harus berburu sendiri?" Kata ku.


"Hmm.... Bisa dua-duanya, soalnya terkadang misi di papan permintaan habis, jadi para pemburu harus mencari monster sendiri dan menjualnya." Kata Fifi.


"Ngomong-ngomong harga mosnter bisa menurun apabila kamu memberikan kerusakan yang parah ke tubuhnya." Kata Ruri.


"Ngomong-ngomong mbak elf, mau membentuk party dengan ku?" Tanya ku.


"Boleh, ngomong-ngomong namaku Seline mohon bantuannya." Kata Seline.


"Kalau begitu aku mau mengambil quest yang biasa-biasa aja."


Setelah itu kita pergi keluar ruangan tadi dan melihat papan permintaan.


"Wah, banyak juga." Aku mulai membaca satu persatu permintaan-permintaan itu.


Ada yang meminta untuk membasmi monster di desa, memburu serigala petir, menghabisi Orc, dan bahkan memburu naga.


"Hmm.... Kita bantu desa itu saja." Kata ku.


"Bayarannya rendah loh." Kata Seline.


"Aku ingin membantu mereka, uang belakangan." Kata ku.


"Ayo." Seline mencabut kertas di papan permintaan itu, dan menyerahkannya ke Ruri.


"Mbak Ruri, kita memilih quest yang ini." Seline menyerahkan kertas yang tadi ia cabut.


"Baiklah!" Ruri menandatangani kertas itu, lalu diserahkan lagi kepada Seline.


"Dasa ini terletak di sebelah barat kota ini, kalau berjalan kaki kira-kira akan memakan waktu enam jam. " Kata Ruri.


"Tak masalah." Aku dan Seline langsung pergi ke sana.


-------


Bersambung


-------