Reincarnated To Another World With The Gacha System

Reincarnated To Another World With The Gacha System
Chapter 27 : Quest



Aku sedang berjalan bersama Seline menuju ke desa yang terletak di sebelah barat ibukota. Perjalanan kali ini agak lama karena aku nggak lompat-lompat kayak biasanya.


Aku juga nggak bisa menggunakan kamui karena aku belum pernah kesana. Yap kemampuan kamui ku di nerf anjer, harusnya aku bisa teleport kemana saja.


"Emm... Kyle, kamu kan kelas S kenapa memilih membuat party dengan ku?" Kata Seline.


"Karena kamu juga sama-sama baru jadi pemburu, dan juga aku agak malu untuk berkenalan dengan orang lain." Kata ku.


"Tapi tad-" Aku memotong perkataannya.


"Aku bisa menahannya tau, dan juga kalian terlihat ramah, hal itu mengurangi kegugupan ku." Kata ku.


"Begitu ya... Nampaknya juga kamu tidak terlihat seperti pemula." Kata Seline.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Kata ku.


"Hanya firasat." Kata Seline.


Setelah sekitar 2 jam kemudian Seline terlihat kelelahan.


"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Ku.


"Aku masih bisa kok, panas doang." Kata Seline.


"Mau disiram?" Kalau kepanasan aku sering menyiramkan air ke diriku sendiri, ya waktu latihan sih.


"Nggak lah, jangan bercanda." Kata Seline.


"Masih 4 jam lagi lho, atau mau ku gendong biar cepet." Kata ku.


[Hmm... Modus...]


"Iri bilang bos." Kata ku


[Hah... Andaikan aku su- AAHHH!!]


"Mulai dah." Kata ku.


Sistem atau Si Ai-chan biasanya akan disetrum bila nge spoiler hal-hal penting, yah ane penasaran juga tapi kasian sistem, di setrum terus.


"...." Dia malah diam.


"Hoi, jangan pingsan disini, aku siram loh! Wajahmu merah!" Kata ku.


"J-jangan siram, aku berat loh, aku hanya akan merepotkanmu." Kata Seline.


"Aku sudah terbiasa menggendong seseorang, jadi naiklah, dan pegang tas ku." Kata ku.


Orang yang hobi sekali digendong oleh ku adalah Rin.


"A-aku naik ya..." Seline perlahan-lahan menaiki punggung ku.


"Jangan sentuh yang aneh-aneh." Kata Seline.


"Pegangan." Kata ku.


Dia melingkarkan tangannya di leherku, lalu aku berlari dengan kecepatan yang lumayan tinggi, sekitar 60 km/jam.


"Trra lu cpp at!!" Seline ngomong nya nggak jelas.


"HAH!!"


[Jangan terlalu cepat]


Aku menurunkan kecepatan ku, dan berlari secara normal.


"Hah... Hah.... Apa itu tadi?" Kata Seline.


"Maaf, kebiasaan." Nggak separah Rin dulu sih. Rin pernah merasakan ektrim nya lompatan One For All ku.


"Kebiasaan ya? Aku jadi penasaran seberapa kuat kamu sebenarnya?" Kata Seline.


"Entahlah skill ku emang pada kuat tapi statusku kentang cuy." Kata ku


"Kentang?" Seline terlihat kebingungan.


"Maksudnya nggak tinggi-tinggi amat." Kata ku.


[Yah... Status tersebut sudah termasuk tinggi loh, menurut standar umat manusia]


"Standar ku status Fujiwara cuy." Kata ku.


[Dia OP, ngomong-ngomong.... Nggak jadi]


"Apa sih?" Aku jelas kebingungan.


Aku berhenti berlari, karena melihat jejak-jejak energi sihir di sekitar sini.


"Kenapa berhenti?" Kata Seline.


"Turun sebentar." Kata ku.


"Sudah kuduga aku memang berat ya?" Dia terlihat sedih.


"Bukan itu, sini mendekat." Kata ku.


Aku melihat beberapa orang yang siap menyerang kita dari pepohonan dan semak-semak. Selina mendekat.


"Ada apa?" Dia terlihat kebingungan.


"Shinra tensei!!" Aku menggunakan teknik itu untuk mendorong orang-orang disekitar ku, makannya aku menyuruh Seline mendekat.


"Eh? Apa itu?" Seline jelas kebingungan.


"Teknik ku, mereka seharusnya masih belum mati, hanya terpental saja." Kata ku.


"Mereka? siapa?" Seline terlihat kebingungan.


"Bandit lah, gunakan Skill pendeteksi mu dan bersiaplah." Kata ku


Aku mengaktifkan sharingan ku, dan segera maju. Ngomong-ngomong Seline senjata nya dagger, dia menggunakan light armor. Tinggi nya sekitar 170 an, dan rambutnya berwarna merah gelap.


Aku maju dengan cepat dan langsung menendang salah salah satu kepala bandit itu. Hanya satu tendangan kepala bandit itu langsung hancur.


Temannya terlihat terkejut, dan ia bersiap menembak ku dengan Crossbow, namun aku sudah berada di hadapannya dan dia terlalu lambat untuk bereaksi, sehingga aku menghancurkan kepalanya sama seperti sebelumnya.


Aku melihat kebelakang namun sepertinya Selina baik-baik saja. Setelah itu aku langsung menghabisi sisanya.


"Huh... Selesai." Kata Seline.


Bandit-bandit yang dibunuh Seline penuh dengan luka sayatan dan tusukan, sementara yang dibunuh oleh ku kepalanya kek ayam geprek.


"Ayo lanjut." Kata ku.


.


.


.


"Kalo nggak salah.... Disini yak?" Aku melihat gerbang desa yang ada di depanku.


"Mungkin sih...." Kata Seline.


"Help!" Teriak ku kepada sistem.


[Sistem.exe not responding, AAAAHHH!!]


[Duh... Lagi main ML gua, untung pake bendera Myanmar jadi bisa AFK]


"Akhlak not found, btw dah bener kan desanya?" Kata ku.


[Udah kok, tinggal lurus 70 meter, terus belok kanan ada rumah kayu dua lantai, nah pergi kesana.]


"Ok, ngomong-ngomong jangan buat yang aneh-aneh lagi." Kata ku.


[Geh... Kamu masih mengingatnya, aku sedang main Mobail lejens]


"Ok, jangan lupa giveaway alok kalau aku dapet Skill S+" kata ku


[Aku main ML, bukan game itu]


"Kyle kenapa kamu bengong?" Kata Seline.


"Otak 5G ku sedang berpikir." Kata ku.


"Paip ji?" Seline terlihat kebingungan.


"Lupakan, Ayo kita kesana." Kata ku.


Aku dan Seline langsung masuk ke desa itu. Di gerbang desa kami ditanyai apa tujuan kita datang ke desa, lalu Seline memperlihatkan kertas Quest tadi.


Mereka menatap kita dengan tatapan kasihan, dan membiarkan kita masuk.


"Hmm.... Aku mencurigakan..." Pikir ku.


[Kenapa emangnya?]


"G." Kata ku.


Aku pergi ke rumah kepala desa.


*Tok


*Tok


*Tok


Aku mengetuk pintu rumah itu, dan seseorang meresponnya.


"Sebentar!" Terdengar suara Kakek-kakek di dalam rumah itu.


"Oh kalian para pemburu itu ya? Silahkan masuk." Kata Kakek itu.


"Iya." Kita masuk kedalam rumah kakek itu.


"Sebelumnya aku minta maaf, sebenarnya ini bukanlah quest kelas C, karena sepertinya quest ini lumayan berbahaya, bila kalian ingin membatalkannya silahkan saja." Kata Kakek itu.


"Tidak masalah, jadi apa yang terjadi?" Tanya ku.


"Belakangan ini, sering terjadi kasus penculikan di desa ini, korbannya adalah anak-anak dan gadis, menurut beberapa penjaga desa mereka diculik oleh bandit, yang berkerja sama dengan pedagang budak." Kata Kakek itu.


"Bentar, perbudakan itu ilegal di kerajaan ini?" Kata ku.


Tidak seperti Fenrir, para budak itu memiliki kalung di lehernya, kalung itu membuat mereka tidak bisa menolak apa yang diperintahkan pemiliknya.


Kalau Fenrir dengan ku itu adalah kontrak darah, tidak seperti namanya kontrak ini hanya memerlukan cairan tubuh dari ku dan Fenrir untuk melakukanya, Tapi lebih sempurna pakai darah, jadi kontrak ku dengan Fenrir tidak sempurna.


Alasan Fenrir mencium ku itu karena dia tidak ingin aku melukai tangan ku untuk melakukan kontraknya dengan sempurna.


Dalam kontrak ini Fenrir ingin menjadi pelayan yang melayani ku selama hidupku, jadi sebenarnya aku bisa dengan bebas memerintahkannya.


Oh iya, karena kontraknya tidak sempurna aku harus menggunakan tanda di tangan kiri ku.


Tanda di tangan kiri ku ini fungsinya sama kayak command Spell di Fate series, cuman unlimited.


"Iya, mungkin para gadis yang mereka tangkap akan dijual dinegara lain." Kata Kakek itu.


Aku menutup mata ku dan menggunakan Clairvoyance.


[Off Spoiler]


"Begitu ya." Kata ku.


Pedagang budak itu punya orang dalam di Kekaisaran Bernestia dan dikerajaan ini, kekuatan orang dalam memang mengerikan. Setiap orang yang akan berpindah ke kerajaan lain akan di cek seluruh barang bawaannya.


Kerajaan Foretesia tidak menjual budak ke negara lain, atau membelinya dari negara lain, jadi bila ada pedagang budak yang berasal dari Foretesia ketauan membawa budak, mereka akan langsung dikirim ke ibukota kerajaan dan di eksekusi.


Ngomong-ngomong yang memeriksanya ada dua pihak, yaitu Ksatria dari kerajaan ini, dan kerajaan lain. Jadi bisa diakalin gitu lah.


"Huh.... Kayaknya aku harus melaporkannya ke Hozuki deh." Kata ku.


"Siapa Hozuki?" Kata Seline.


"Lupakan, ngomong-ngomong apakah kalian sudah mengetahui tempat persembunyian mereka?" Kata ku.


"Kalau itu belum." Kata Kakek itu.


Aku mengeluarkan tiga Kage bunshin, dan menyuruh mereka untuk mencari tempat itu. Ngomong-ngomong para kagebunshin ku tidak bisa masuk ke mode rubah.


"Aku akan menemui seseorang, kamu tunggu disini saja." Kata ku kepada Seline.


Aku membuat bunshin lagi untuk menemani Seline, setelah itu pergi ke tempat Hozuki.


-----


Bersambung.


----