Reincarnated To Another World With The Gacha System

Reincarnated To Another World With The Gacha System
Chapter 18 : Monster tapi lemah



Saat ini waktu menunjukan pukul 13:10 dan kita sedang makan siang, Yap makan Indomie seleraku.


“Master, nambah lagi!!” Kata Fenrir.


“Kamu dah makan 4 kali.” Kata ku.


Lucia makan dua bungkus, sedangkan aku sendiri hanya makan 1 bungkus saja. Menurut ku mie goreng itu kalau satu kurang tapi kalau dua kebanyakan.


Mungkin alasan mereka makan banyak karena belum pernah merasakan betapa nikmatnya, Indomie goreng.


“Aku mau cuci ini dulu, kalian bereskan sampahnya saja.” Kata ku.


“Sampah? Nggak ada sampah disini.” Kata Fenrir yang terlihat kebingungan.


[Sisa bungkus plastik yang kamu tinggalkan, akan langsung berubah menjadi energi alam, biar nggak mencemari lingkungan.]


"Nice."


Aku mencuci piring dan panci bekas makan siang tadi, setelah mencuci piring aku segera memasukan barang-barang ku kedalam inventory, secara diam-diam.


“Ayo kita lanjutkan.” Kata ku.


Aku melanjutkan perjalanan ku, yang hanya tinggal setengah jalan, menurut sistem, dengan kecepatan ku saat ini, kita akan sampai sekitar jam 8 malam.


Dijalan juga aku sambil naikin level, jadi ketika ada monster akan langsung ku bacok, kalau nggak dibacok ya di pukul.


Meskipun Lucia terlihat sangat ketakutan.


“Kakak jangan terlalu cepat...” Lucia terlihat ketakutan.


“Ah maaf, aku tidak sadar.” Aku nggak sadar telah menggunakan OFA 19%


[Nimbih impit pirsin mih nggik kirisi.]


"Yamaap." Dulu aku pernah berkata seperti itu.


Yah, sejauh ini sih nggak ada bahaya yang terlalu besar, meski bagus enggak ada monster kuat, tapi aku ingin naik level.


"Kira-kira Fujiwara nungguin nggak ya?" Pikir ku.


[Pastilah, dia kan yang menyuruhmu untuk datang kesana lagi]


Flashback Tadi Pagi...


Fujiwara POV


"Hari ini, harusnya Kyle sudah menyadari kalau ada yang berbeda dari tubuhnya, jadi dia pasti akan datang lagi." Pikir ku dengan penuh percaya diri.


Setelah bangun dan merapikan Futon ku, aku langsung pergi mandi, dan memberitahukan kepada seluruh Ras Setengah Rubah yang ada disini, kalau akan ada manusia yang datang kemari.


Terlihat dari wajah mereka sepertinya mereka sudah tahu, kalau orang yang datang itu adalah bocil yang kemarin menghancurkan gerbang depan.


"Semoga Serigala itu tidak merebut bocah imut ku." Aku berkata dalam hatiku sendiri.


Dia berbeda dengan semua laki-laki yang pernah aku temui, biasanya ketika aku langsung menatap wajah seorang pria, mereka akan langsung terpesona dengan kecantikan ku.


Apa mungkin karena dia belum dewasa jadi dia nggak terpengaruh dengan pesona ku, atau mungkin dia emang nggak tertarik sama perempuan.


Yah... Kemungkinan terakhir sangat kecil sih.


.


.


.


Setelah satu jam aku menunggu dia tidak kunjung datang juga.


“Huh... Apa dia takut? Atau sedang ada urusan lain ya? Eh, dia masih kecil mana mungkin punya urusan penting.” Gumam ku.


4 Jam kemudian.


"Apakah dia bertemu monster yang sangat kuat, terus mati karena dia mengorbankan diri demi melindungi desanya? Tidak-tidak, itu sama sekali tidak mungkin." Pikir ku.


Tengah hari...


"Mungkin dia marah kepada ku karena dia menyangka aku telah mengubah ras nya? Kemudian dia akan membenciku, dan tidak akan pernah menemui ku lagi, Aduuh!! Aku bukan pedofil." Pikiran ku menjadi semakin aneh.


“Ah... Kamu baik-baik saja ketua?” Kata Haruka yang datang melihat ku.


“Hmm?” Aku hanya melihat wajahnya saja.


“Hah... Jangan memikirkan sesuatu yang aneh-aneh, mungkin besok dia akan datang.” Kata Haruka.


“Semoga saja.” Aku sedang bad mood.


“Yap, kalau dia tidak datang, aku sendiri yang akan menculiknya, jadi ketua tenang saja.” Kata Haruka dengan senyuman yang mengerikan.


“Nggak boleh, nanti FBI mengira kita itu Rubah pedo.” Kata ku dengan nada yang lemas.


“Hah... Jarang-jarang loh ketua kayak gini, tak ku sangka ada seorang anak kecil yang bisa membuat ketua terus memikirkannya.” Kata Haruka.


“Berisik!! Aku akan berkeliling sebentar.” Aku pergi dari rumah ku.


“Ah, Hati-hati dijalan!!” Teriak Haruka dari jauh.


Aku akan mengikuti aroma bocah itu, dan sampai di sebuah desa.


“Emm... Permisi sebelum masuk harap jelaskan apa tujuan mu kemari?” Kata Penjaga yang ada di desa itu dengan wajahnya yang memerah.


“Aku mencari anak berambut cokelat gelap, kira-kira tingginya sama dengan ku.” Kata ku.


“Oh, rumahnya ada di ujung sebelah sana.” Kata penjaga gerbang itu.


“Terima kasih.” Aku tersenyum kepada penjaga itu, dan langsung pergi.


“Dia tersenyum kepada ku...” Aku bisa mendengar itu karena pendengaran dan penciuman Demihuman itu, lebih tajam dari manusia.


Aku sampai kepada rumah yang dimaksud, dan di rumah itu juga aku merasakan jejak-jejak anak itu. Aku pun mengetuk pintu rumah itu.


* Tok


* Tok


* Tok


“Sebentar!” Teriak seorang wanita dari dalam.


Pintu rumah itu terbuka.


“Hmm? Ada perlu apa Bu?” Kata Ibu-ibu itu.


Dan ibu itu, malah memperhatikan telinga rubah ku.


(Oneesan itu kakak perempuan, ya yang sering baca manga di huruf N bersayap tau lah, bagi yang nggak ngerti sabar aja)


“Aku mencari anak berambut cokelat gelap, yang tinggi nya sama dengan ku.” Kata ku.


“Oh, ada perlu apa dengan anakku?” Tanya ibu itu.


“Yah... Aku gurunya!” Kata ku dengan percaya diri.


“Ah! Kamu pasti dari Ras setengah rubah yang kemarin dibicarakan oleh Kyle ya? Silahkan mampir dulu sebentar.” Ibunya menjadi bersemangat.


Lalu dia menceritakan kalau Kyle, dan Serigala sialan itu, sedang mengantarkan Putri kedua kembali ke ibukota kerajaan.


Ibu itu juga menceritakan kalau dia berbeda dengan anak-anak lain, yah... Itu benar sih dia nggak normal.


Aku juga menceritakan apa yang dia lakukan di tempat ku, dan ibu itu malah menyangka kalau aku minta ganti rugi.


“Nggak apa-apa, gerbang itu sudah diperbaiki kok.” Kata ku.


“Anda baik sekali, Bu Fuji.” Kata Ibu itu.


“Itu bukan masalah besar kok Bu.” Aku tersenyum.


“Kamu terlihat awet muda, kira-kira apa rahasianya Bu Fuji?” Kata Ibunya Kyle.


“Hmm... Sulit menjelaskannya sih Bu, mungkin karena levelku sudah tinggi.”


“Yah... Kalau begitu sayang sekali, ngomong-ngomong Bu Fuji sudah memiliki suami?” Tanya ibu itu.


“Ehm... Ya bagaimana menjelaskannya ya... Belum sih...” Kata ku dengan pelan.


"Aku sudah menjomblo selama 1000 tahun!!!" Teriak ku dalam hati.


Yap, sebenarnya tadi aku ingin berteriak dengan kencang. Dimana jodohku, apakah dia belum lahir, di dunia lain, atau aku memang harus sendirian.


“Eh? Aku kira kamu telah memiliki seorang suami.” Kata ibu itu.


“Kenapa ibu bisa berpikiran seperti itu?” Kata ku.


“Itu sudah jelas, kamu itu sangat cantik, lelaki mana yang akan menolakmu?” Kata Ibu itu.


"Apakah selera ku sama dengan kpopers? tidak-tidak aku sendiri sudah..." Pikir ku.


“Memang benar sih, tapi aku itu telah bertemu banyak lelaki dan mereka semu-” Dia memotong perkataan ku.


(Singkatnya Fujiwara sering ketemu Fakboi)


“Aku mengerti, mereka hanya nafsu saja kan?” Kata Ibu itu.


“Iya, aku kesulitan karena hal itu.” Kata ku.


Dan ujung-ujungnya aku yang niat awalnya mencari Kyle, malah curhat sama ibunya sendiri.


.


.


Kyle POV


Sekarang Waktu telah menunjukkan pukul 18:30, dan sudah terlihat bayangan Ibukota Kerajaan Foretesia ini.


“Woah, kayak nya kota itu sangat luas.” Kata ku.


“Perjalanan ini, terasa sangat singkat.” Kata Lucia.


“Karena, Im Speed.” Kata ku.


“Huh? Apa itu artinya?” Kata Lucia.


“Itu Artinya-” Aku segera menggunakan Susano'o ku untuk menahan serangan yang tiba-tiba datang dari arah hutan.


“Ukh! Apaan tuh?” Aku bergeser sedikit dari posisiku.


Susano'o yang kubentuk, hanya sebuah kerangka yang menyelimuti sekitaran tubuhku saja, jadi aku sedikit bergeser karena serangan dadakan itu.


Aku langsung membentuk jaringan kulit dan otot di susano'o ku, lalu menambahkan zirah, cermin yata, dan pedang totsuka.


Penampilan susano'o ku mirip seperti milik Itachi namun memiliki warna biru cerah.


“M-master, apa ini?” Fenrir terlihat kebingungan melihat susano'o ku.


“Ini salah satu kemampuan mataku, Susano'o.” Jelas ku.


Yang menyerang ku dari kegelapan adalah Poisonous Giant Spider. Kata Fenrir, racun laba-laba itu bisa membuat seseorang membusuk dalam 3 menit, dan itu adalah monster kelas S.


“Cermin Yata yang bisa memantulkan segala serangan, dan pedang totsuka dengan kekuatan penyegelannya.” Kata ku.


Laba-laba itu menyemprotkan racunnya dan aku menahan semprotan itu dengan cermin yata, setelah menyemprotkan racunnya dia melompat dan menyerangnya ku dengan tangan, eh bentar itu tangan apa kaki sih.


Sama seperti tadi serangan dia benar-benar no damage, dan sekarang aku berniat melakukan serangan balik waktu dia sedang melompat.


“Seperti yang diharapkan dari masterku!!” Entah kenapa Fenrir terlihat bersemangat.


Laba-laba itu berniat menghentikan gerakan susano'o ku dengan cara mengikat lengan susano'o ku menggunakan jaring nya. Namun itu semua sia-sia.


Aku berpura-pura kalau aku memang tidak bisa menggerakkan susano'o ku, sehingga laba-laba itu menjadi lengah dan melompat untuk menyerang ku lagi.


Ketika laba-laba itu masuk dalam jangkauan serangan ku. Aku tanpa basa-basi langsung membelahnya menjadi dua bagian.


...


...


“Ogah sih, gua menyegel makhluk kek gitu.” Kata ku.


Aku menonaktifkan susano'o ku, dan mengubah EMS ku menjadi Sharingan 3 tomoe biasa.


“Woah, mata milik master bisa berubah-ubah gitu ya?” Kata Fenrir.


“Iya dong, ngomong-ngomong kita lanjut saja, keburu kemaleman.” Kata ku.


------


Bersambung


------