Reincarnated To Another World With The Gacha System

Reincarnated To Another World With The Gacha System
Chapter 20 : Teman Lama



Belum ada sedetik, kakak ku sudah berada di depanku, lalu ia mengayunkan tombaknya dengan cepat. Aku sudah memprediksi gerakannya, dan berhasil menghindar.


Aku melompat kebelakang dan mengamati gerakan yang di lakukan kakakku, namun ia sama sekali tidak memberikan ku jeda.


Dia terus menerus menyerang ku dengan cara mengayunkan tombaknya dengan cepat, yah... Kenapa ia nggak pake tingkat aja coba.


“Spear Technique : Three Straight Stabs!” Kakakku maju, dan berniat menusuk ku dengan tombaknya yang tumpul itu, tanpa sharingan aku sudah kalah dari tadi, teknik tombak tadi sangat sulit dihindari.


Aku sudah bisa melakukan serangan balik kepada kakakku, itu dikarenakan aku sudah tau gerakan apa yang akan dia lakukan, berkat sharingan.


Sebenarnya Clairvoyance bisa digunakan untuk memprediksi gerakan lawan, namun lebih mudah pake sharingan.


“Duh... Serangan ku nggak ada yang kena.” Keluh ku karena serangan ku sering di tangkis sama perisai nya.


Perisai yang kakakku gunakan panjangnya hanya sekitar 30 cm. Bayangin aja kek Spartan yang pake tombak sama perisai gitu.


Sudah sekitar satu jam pertarungan nya gini-gini aja, aku hanya menggunakan OFA sekitar 7-9% saja di sekitar tangan dan kakiku.


“Oke, sudah cukup!” Kata Raja.


“Hah... Hah.... Serangan ku nggak ada yang kena...” Kata kakakku dengan wajah yang tampak lelah.


“Hah... Serangan ku di tangkis semua, perisai sialan itu benar-benar mengganggu!” Keluh ku.


“Hahaha!! Tidak kusangka kamu bisa imbang dengan pengawal putriku, hmm... Sebentar...” Raja itu mengamati wajah ku dan kakakku.


“Kalian lumayan mirip yah!” Kata Raja.


“Kita kakak-beradik, wajar rambut kita sama.” Kata ku.


“Kyle!! Kamu baik-baik saja!!” Fujiwara berlari menghampiri ku.


“Biar aku duluan yang memeriksa Master!!” Fenrir larinya lebih cepat, jadi dia sampai duluan.


“Serigala sialan, beraninya!” Fujiwara terlihat kesal.


“Hah....” Aku menghela nafas.


“Nak, sepertinya kamu orang yang sabar, aku bisa melihatnya.” Kata Raja.


“Nggak-nggak, aku sebenarnya sangat kesal loh, yang mulia.” Kata ku.


Terkadang wajah ku tidak menggambarkan perasaan ku sendiri, misalkan waktu kesal, wajahku hanya terlihat biasa-biasa saja. Mungkin hanya teman lama ku, ibu ku, dan nenek ku saja yang bisa menebak pikiranku.


(Nenek, dan teman di dunia sebelumnya bteue)


“Master nggak apa-apa?” Kata Fenrir.


“Aku cuman capek aja, liat kalian ribut terus.” Kata ku.


“Duh... Memang ras setengah serigala ini lumayan pemarah, padahal aku hanya ingin memeriksa Rubah kecil ku.” Kata Fujiwara sambil tersenyum.


“Berisik rubah sialan.” Kata Fenrir.


“Kamu berani menyebut dirimu sendiri ras setengah serigala tapi telinga mu ilang, pfft... Jangan bercanda.” Kata Fujiwara.


“Setidaknya dadaku lebih besar dari mu!!” Teriak Fenrir.


“Ap- kekuatan ku lebih kuat, buat apa dada besar kalau kamu tidak bisa melindungi Kyle dengan benar!!” Kata Fujiwara dengan penuh emosi.


“Kalian mau pulang ya? Aku pindahkan sekarang saja.” Aku mengaktifkan EMS ku dan bersiap menggunakan kamui.


Aku menyentuh pundak Fenrir, dan memindahkan nya kerumah ku menggunakan kamui jarak dekat. Sementara itu Fujiwara langsung menghindar.


“Hiih... Hampir saja.” Kata Fujiwara.


Aku menggunakan kamui jarak jauh untuk mengirimnya kembali ke rumahnya.


“Tunggu Kyle, jangan!!” Pergerakan dia bertambah cepat, dan dia bergerak ke kanan dan ke kiri secara cepat.


“Cih, kamui ku meleset.” Aku mencoba mencoba memprediksi gerakan nya dengan sharingan.


“Aku capek lari kesini hanya untuk bertemu kamu, jadi jangan kirim aku kerumah!!” Kata Fujiwara yang dari tadi terus menerus menghindar.


[Benerkan, dia onee san pedo]


"Takut gua ***." Kata ku kepada sistem.


Fujiwara bergerak kebelakang ku dengan sangat cepat, dan mencoba mendekapku dari belakang, namun tubuhnya menembus tubuhku.


“Eh?” Fujiwara terlihat kebingungan.


“Kena kau!” Kata ku.


“Fred-chan tolong!!” Fujiwara teriak, ketika dia hampir di kamui.


“Kyle hentikan.” Kata kakak ku yang mencoba menghentikan ku.


Aku membatalkan kamui ku, dan Fujiwara terlihat kesal.


“Ngomong-ngomong kenapa tadi kau tidak datang! Aku menunggu dari pagi sampai siang, setidaknya kalau mau pergi kamu harus bilang dulu!” Fujiwara menggembungkan pipinya.


“Nak sini sebentar.” Kata Raja.


“Iya.” Aku mengikuti raja.


“Jangan abaikan aku!!” Teriak Fujiwara.


“Huh... Aku tidak menyangka guru bisa bersikap seperti itu, padahal waktu dulu dia terkenal sangat kejam loh.” Kata Raja.


“Aku tau kok, Fenrir telah menceritakannya kepada ku.” Kata ku.


“Apa yang aneh? Frederius.” Kata Fujiwara


“Hii.... Guru, ternyata anda disini toh, tidak ada yang aneh, aku hanya sedang membicarakan putriku dengan anak ini saja, hahaha.” Kata Raja.


“Asal kamu tau saja, aku hanya bersikap seperti ini kepada orang-orang tertentu saja, dan juga mana mungkin aku galak terus-terusan.” Kata Fujiwara.


“Hah... Aku capek.” Kata ku.


“Oh iya nak, kita kembali ke ruang tahta saja.” Kata Raja.


Aku kembali ke ruang tahta, dan disana aku diberikan kunci kamar tamu yang ada di istana itu. Yah... Aku takut sih Fujiwara tiba-tiba masuk. Jadi aku langsung mengunci pintunya.


“Huh.... Akhirnya bisa tenang.” Aku langsung mandi dan ganti baju. Bajuku banyak loh, di inventory tentunya.


"Aku capek sekali sistem, pengen cepet gede." Keluh ku dalam hati.


[Sabar aja, nanti juga kalau udah gede pengen jadi kecil lagi]


“Huh....” Aku menghela nafas.


*Tok


*Tok


*Tok


[Si rubah kah?]


Aku membuka pintu kamar ku, dan ternyata bukan Fujiwara, melainkan Kakaknya Lucia. Siapa namanya ya?


“Oh, kakaknya Lucia ya? Ada perlu apa?” Tanya ku.


“Kamu ikut aku sebentar.” Dia langsung menarik tangan ku.


Dia membawa ku ke suatu tempat di luar istana, dia juga menggunakan suatu sihir agar tidak ketahuan. Tempat itu terlihat sangat indah, meski nggak seindah tempat nongkrong ku sama Rin sih.


“Emm... Aku mau bertanya sesuatu...” Kata Kakaknya Lucia.


“Nanya apa?” Kata ku.


“Kamu itu... Ayato kan?” Kata Kakaknya Lucia.


[Eh?]


Aku terdiam beberapa saat, karena kebingungan. Apakah dia mempunyai Clairvoyance juga? Nggak mungkin kan.


“Iya, tapi siapa kamu.” Kata ku.


“Benar juga, penampilan ku berbeda dengan yang dulu, ah... Aku adalah Sayaka Hozuki.” Kata nya.


Aku tinggal dirumahnya nya, setelah nenekku di tabrak sama supirnya.


“Hozu-chan ya? Hmm.... Aku jadi ingat dulu, aku sudah 13 tahun nggak ketemu kamu.” Kata ku sambil tersenyum.


“Aku juga sama, ngomong-ngomong kamu meninggal karena apa?” Kata Hozuki.


“Aku ketiban pesawat, waktu lagi olahraga di bukit yang dulu itu loh.” Kata ku.


“Bentar, aku mati karena kecelakaan pesawat loh.” Kata Hozuki.


“Hmm... Konspirasi nih, jangan-jangan kita matinya barengan?” Kata ku.


“Kemungkinannya sangat tinggi, aku mati 3 hari setelah kamu pindah.” Kata Hozuki.


Waktu itu, 3 hari sebelum Hozuki pergi keluar negeri, aku pindah kembali ke rumah nenekku, dan yah... Gitu lah.


“Fix ***, aku matinya sama pesawat yang kamu tumpangi.” Kata Ku.


“Ngomong-ngomong, sudah lama kita tidak berduaan seperti ini, ah duduklah disini.” Kata Hozuki.


Aku duduk disampingnya.


“Hei, sebelum kamu bereinkarnasi, apakah kamu ketemu kakek-kakek?” Kata Hozuki.


“Iya, jadi apa yang kamu minta kepada kakek itu.” Tanya ku.


“Aku minta supaya aku unggul di bagian sihir, eh ternyata beneran jadi jago sihir aku, kalau kamu aku sudah tau.” Kata Hozuki.


“Hehe, tentu saja.” Kata ku.


“Ngomong-ngomong, kamu sudah membangkitkan mangekyo sharingan kan? Apakah kamu telah kehilangan orang yang berharga? Atau mengalami sesuatu yang menyakitkan?” Kata Hozuki.


“Nggak juga sih, itu rahasia.” Kata ku.


“Kita kembali saja, sudah terlalu malam, ngomong-ngomong kita teleport pake kamui.” Kata ku.


Aku kembali ke depan kamar ku.


“Selamat malam.” Kata Hozuki.


“Iya.” Aku langsung ke kasur dan tidur.


-----------


Bersambung


-----------