
"Master, ada beberapa orang menuju kemari." Kata Fenrir.
"Kita cabut, sepertinya mereka melihat susano'o ku." Kata ku yang langsung lari menggunakan OFA lagi.
"Kita serahkan Lucia kepada penjaga gerbang saja." Kata ku.
"Kakak nggak akan pergi ke istana dulu?" Kata Lucia, dengan muka bingung nya.
"Nggak, kakak akan langsung pulang saja." Kata ku sambil tersenyum kepada Lucia.
[Pedo]
"Bacot sistem." Bentak ku dalam hati.
"Nah, kita sudah sampai di depan gerbang, aku akan menitipkan mu kepada penjaga gerbang." Kata ku.
Di depan gerbang itu terlihat sangat ramai, dan orang-orang disana menggunakan persenjataan lengkap, ada salah satu dari mereka yang melihat ku menggendong anak kecil.
"Hei, anak yang disana!" Kata Om-om penjaga gerbang.
Aku berhenti dan segera menoleh kearah suara yang memanggil ku.
"Ah, penjaga ya! Aku hanya mengantar gadis ini, dia tadi tersesat dan bilang kalau ia tinggal di kota ini, jadi aku mengantarkan nya pulang." Kata ku, dengan nada bocil.
[Hoax gan, jangan percaya]
"Semoga kesetrum lagi." Kata ku dalam hati.
"Gadis ini!? Putri kedua sudah ditemukan!!" Teriak Ksatria om-om itu.
Seluruh ksatria disana langsung, menghampiri om itu, dan mengerumuni kami.
"Benar, itu Putri kedua!!"
"Dia benar-benar kembali!!"
Ksatria lain nampaknya bahagia.
Ditengah-tengah ksatria yang bahagia itu, ada seorang gadis lain yang warna rambutnya sama dengan Lucia, berlari menghampiri kami.
"Lucia-chan!!" Gadis itu langsung merebut Lucia dari gendongan ku, dan memeluknya.
Dibelakang gadis itu ada ksatria lain yang menggunakan tombak, mengikuti gadis itu dari belakang. Warna rambut, dan matanya sama dengan ku, meski rambutnya lumayan panjang sehingga dia mengikatnya.
"Ah..." Putri itu terdiam ketika melihat wajahku.
"Ayo pergi, Fenrir, dadah Lucia aku pulang dulu." Aku tersenyum dan berniat langsung pake kamui, namun aku dihentikan oleh kakaknya Lucia.
"Tunggu, ini sudah malam dan di hutan ada banyak monster tau, lebih baik kamu menginap di istana dulu." Kata Kakaknya Lucia.
Aku menoleh kebelakang, dan semua orang yang melihat ku kaget.
"Ups... Aku menghargai tawaran itu, namun aku tidak ingin menghawatirkan ibu ku." Kata ku.
Aku lupa menonaktifkan sharingan ku, sehingga mereka melihatnya, yah... Meski aku hanya menggunakan sharingan biasa sih.
"Mata itu... Nak, kamu memiliki sesuatu yang berharga, aku bersyukur bisa melihat mata sihir." Kata Om-om tadi.
"Benar kata putri, kamu harus menginap dulu di istana kerajaan." Kata Ksatria yang warna rambutnya sama dengan ku.
"Hah... Aku menyerah, terserah kalian aja deh." Lebih baik aku tinggal disini sebentar, daripada langsung pake Kamui, di depan mereka.
"Mereka akan menyusul ku ke desa, kalau aku langsung pulang." Pikir ku.
"Kalau begitu ayo!!" Lucia menarik tangan ku.
"Iya-iya, Fenrir juga ikut." Kata ku.
"Tanpa disuruh pun aku akan ikut." Fenrir mengikuti ku.
Aku dibawa ke istana raja, dan disuruh untuk menjelaskan apa yang terjadi ketika aku menyelamatkan Lucia.
"Yang mulia, anak yang membawa putri kedua, telah tiba." Kata pengawal kakaknya Lucia.
Semua ksatria yang ada berlutut, aku pada awalnya kebingungan, dan langsung mengikuti mereka saja.
"Eh? Eh? Oh iya." Aku langsung berlutut.
"Hoho... Berdirilah Nak." Kata Raja itu yang terlihat bahagia.
"I-iya!" Aku berdiri dengan tegak.
[Kek, coconut]
Seperti biasa, sistem itu menyebalkan, kek Fenrir.
"Siapa nama mu? Asal? Dan usia mu?" Kata Raja itu.
"Namaku Kyle, aku tinggal di desa dekat kota Lynx, 13 tahun." Kata ku dengan gugup.
Meski dari luar aku tidak terlihat gugup sama sekali, tapi sebenarnya aku sangat gugup.
"Hmm... Bukan kah itu agak jauh berapa lama perjalanan mu kemari?" Kata Raja itu.
"Ah! Kakak itu melompat di udara, dan dia bergerak sangat cepat!" Kata Lucia.
[Sabar, dia loli polos]
"Kamu terbang?" Raja itu terlihat kebingungan.
"Aku hanya membuat pijakan menggunakan sihir angin." Jelas ku.
"Entah apa yang akan terjadi kedepannya, kalau udah gini mending jujur aja." Pikir ku.
"Bisakah kamu perlihatkan itu?" Kata Raja.
"Tentu saja, permisi dulu pak." Aku menyuruh beberapa ksatria kepinggir sebentar.
Aku langsung lompat, menggunakan Wind Step, lalu lompat lagi, dan gitu terus sampai 5 kali lompatan.
"Nak, bisakah kamu menambah kecepatan mu?" Kata Raja itu.
"Raja ini banyak mintanya dah..." Keluh ku dalam hati
"Yah... Aku takut menabrak sesuatu, jadi nggak bisa lompat dengan cepat." Kata ku.
Disana selain ksatria, terdapat wanita yang sepertinya adalah penyihir, beberapa yang kayaknya bangsawan, dan seseorang yang menggunakan armor hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Reine, tolong bawakan aku alat pengukur status." Raja memerintahkan Wanita penyihir itu.
"Baik, Yang mulia." Dia segera pergi.
"Sistem, apakah skill ku akan ketahuan? Atau title ku yang akan ketahauan?" Aku panik.
[Tenang saja nggak akan ketahuan kok, percaya sama aku]
.
.
.
"Saya telah membawakan Alatnya, Yang mulia." Wanita penyihir itu kembali.
"Kemarilah nak, letakan tangan mu disini." Kata Raja.
Aku berjalan mendekati raja, dan segera meletakan tangan ku di atas alat itu. Alat itu bentuknya bulat, dan warnanya putih.
Nama: Kyle
Usia: 13
Level: 29
STR: 4523
DEF: 4717 MP: 27700
AGI: 5100
Title : ???, ???, ???
Kecocokan Kepada Setiap Elemen :
-Api 100% -Cahaya 100%
-Udara 100% -Kegelapan 100%
-Tanah 0%
-Listrik 100%
-Air 50%
Skill:
-???
-???
-???
"Eh? Apa alatnya rusak?" Raja itu terlihat kebingungan.
"Dia menyembunyikan skillnya, Yang mulia, anak ini sangat kuat, selain statusnya yang disembunyikan, Auranya juga terasa aneh untuk seorang manusia." Kata Wanita penyihir itu.
"Terasa seperti apa auranya?" Tanya raja.
"Sekilas, auranya mirip dengan Manusia Setengah Rubah, namun aku juga merasakan ada aura Serigala, Aneh sekali apakah kamu manusia?" Kata Wanita itu.
"Aku manusia, Ayah dan ibuku manusia, mana mungkin anaknya demihuman." Kata ku.
"Mungkin kamu anak pungut?" Kata Gadis itu.
"Tidak sopan!!" Tiba-tiba aku merasakan ada hawa membunuh yang sangat kuat dari belakang, dan itu Fenrir.
Aku memasukan, sedikit energi sihir kepada tato di tangan kiri ku.
"Tenanglah Fenrir! Kau pikir aura ku jadi campur aduk gini karena siapa!!" Kata ku.
"T-tapi maste-"
"Ya... Emang nggak apa-apa sih, hanya saja hawa membunuh mu itu sangat menggangu." Kata ku.
"Maaf..." Kata Fenrir dengan pelan.
"Minta maaf sama raja sana." Kata ku.
"Kenapa sih dia?" Pikir ku.
"Sudahlah Nak, ini sudah malam lebih baik kita beristirahat dulu." Kata raja itu.
Tiba-tiba, ada ksatria dari luar yang melaporkan kalau ada seseorang yang ingin menemui raja, dan raja pun menyetujuinya.
"Hah... Sudah lama aku tidak berkeliaran di dunia luar, ngomong-ngomong bagaimana kabarmu Fred-chan." Orang itu adalah Fujiwara.
"Ah! Guru, kenapa kamu nggak bilang-bilang kalau mau mampir." Kata Raja itu.
"Kenapa dia kemari, dan juga kok ekornya ada 4?" Pikirku.
"Aku hanya sedang mencari dia saja." Kata Fujiwara sambil menunjuk ku.
"Eh, anak ini?" Raja kebingungan.
"Ya, dia adalah rubah kecil ku, jadi jangan mengambilnya." Kata Fujiwara.
"Kapan masterku menjadi, milik mu!!" Teriak Fenrir.
"Kamu serigala diamlah!" Kata Fujiwara.
"Yang harusnya diam itu kamu, Rubah iblis!!" Kata Fenrir.
"Kalian berdua harap tenang, kalau nggak aku akan benar-benar marah loh." Aku mengeluarkan mangekyo ku.
"Baik."
"Baik."
"Seperti biasa, mata sihir kakak itu menyeramkan." Kata Lucia.
"Guru, aku ingin melihat kekuatan dari anak ini, boleh?" Kata Raja.
"Boleh kok." Kata Fujiwara.
[Yang sabar, kedua makhluk pedo itu menyukai master, berhati-hatilah]
"Kalau begitu nak, kita pindah tempat sekarang." Kata raja.
Dia membawa ku kesebuah tempat yang mirip seperti arena, di sana semua orang yang ada di singgasana tadi ikut menonton. Tentunya aku gugup.
Area disekitar arena itu diterangi oleh wanita penyihir tadi jadi nggak gelap, dan aku sekarang disuruh bertarung dengan pengawal putri tadi.
"Kamu menggunakan senjata apa nak?" Kata Raja.
"Katana ada?" Tanya ku.
Pengawal itu menggunakan tombak yang ujungnya tumpul, dan perisai, sementara aku menggunakan katana yang sama-sama tumpul. Jadi meski sakit nggak terlalu berbahaya lah.
Ketika aku sedang melakukan sedikit peregangan, pengawal itu menanyakan sesuatu kepada ku.
"Hei, apa mungkin kamu itu adiku?" Kata Pengawal itu.
"Apa yang membuat mu berpikiran seperti itu?" Tanya ku.
"Soalnya aku lahir di desa yang sama dengan mu, orang tua ku masih hidup disana, dan yang paling penting Warna mata dan rambut kita sama." Kata Pengawal itu.
"Hmm... Apakah kamu dulu sekolah di kerajaan sebelah, dan nama ibumu Iroha?" Kata Ku.
"Iya-iya jadi benar ya kamu itu adiku! Aku sudah lama sekali ingin pulang, namun aku sangat sibuk beberapa tahun kemarin, maaf ya sebelumnya aku tidak pernah menemui mu, ngomong-ngomong nama kakak Hikaru, ibu sering mengirim surat kepada ku, dan mengatakan kalau adikku itu sangat kuat." Dia terlihat bersemangat.
"Yah... Hahaha..." Aku ketawa-ketawa nggak jelas.
"Ngomong-ngomong, kita mulai saja." Kakak ku memasang kuda-kudanya.
Aku pun segera bersiap untuk menahan serangan kakak ku, yah... Aku awalnya berniat mengaktifkan sharingan ku, namun aku merasa itu tidak adil, tapi Kakak ku malah menyuruh ku untuk melawannya dengan sekuat tenaga.
Jadi aku menuruti permintaannya, meski emang aku nggak menggunakan kekuatan penuhku sih. Kalau aku menggunakannya tau kan apa yang akan terjadi.
------
Bersambung
------