
"HAAAAH!!!" Aku memukulnya dengan OFA yang kekuatannya sudah melebihi batas.
*Booom.... !
Setelah terkena serangan ku, naga itu jatuh, terlihat sisik di punggung nya yang sudah hancur berkeping-keping. Tangan ku juga langsung hancur, ya nggak putus sih cuman otot sama tulang ku benar-benar sudah remuk.
"Aduduh..." Gumam ku sambil menggigit bibir ku.
Lengan ku segera sembuh karena sistem menggunakan potion untuk menyembuhkannya. Setelah itu aku segera melesat kebagian kepala naga itu dan menyerangnya secara terus-menerus.
"ORA!! ORA !! ORA !!! ORA!!...." Aku melancarkan 100 pukulan dengan OFA ku, kali ini aku nggak melebihi batasnya kok.
Naga itu kehilangan kesadarannya dan aku segera mencari dimana Sei berada.
Aku memanggilnya kapak ku, dan segera menghampiri Sei yang masih dalam posisi yang sama, sepertinya dia kelelahan karena dia tidak menggunakan Lightning Speed lagi.
Aku juga lumayan capek, pake OFA secara beruntun itu sangat melelahkan, apalagi mencoba menebus batasan kekuatan itu.
Aku juga tidak menggunakan sarung tangan ku, hanya pakaian tempur buatan ku seperti biasa, dan Kapak Dewa Petir ini.
"Hah... Hah.... Hah...." Aku berjalan mendekati Sei.
Ketika jarak ku dengan Sei tinggal 10 meter lagi, dia melakukan usaha terkahirnya untuk mempertahankan dirinya.
"Dark Release : Summoning Cylops." Sei memanggil Dua Cylops.
Setelah terpanggil, kedua Cylops itu langsung menyerangku. Mereka membawa senjata berupa pentungan besar, meski sekarang aku sedang lumayan capek, tapi mengalahkan kedua Cylops ini adalah hal yang mudah.
Salah satu dari mereka menyerangku dengan pentungan, namun aku menhindari serangannya, dan menendang kepalanya dengan keras, lalu setelah itu aku membelah kepalanya dengan Kapak ku.
Melihat temannya dibunuh, Cylops yang satu lagi langsung menyerang ku, aku melompat untuk menghindari serangannya dan menyerangnya dengan petir dari kapak ku.
"Makan nih petir!" Aku menyerang Sei dengan kapak ku.
"AAAAHHHH!!!" Dia berteriak kesakitan.
Setelah itu dia terkapar lemas, lalu aku menghampirinya.
"Baru kesetrum sekali langsung tepar, Sei ini lemah banget ya." Pikir ku.
[Kalo nggak ada naga itu, dia bakalan jadi Punisher anggota paling lemah.]
"Jadi, apa lagi yang akan kamu panggil?" Kata ku.
"Cepatlah akhiri ini...." Kata Sei.
"Dari tadi kamu salah paham, raja tidak melakukan hal itu, itu hanya rencana Kekaisaran untuk mengadu domba Ras iblis dan Kerajaan ini." Kata ku.
"Hah.... Kalau begitu bawa aku menemui raja." Kata Sei.
"Baiklah." Kata ku.
Kalau dia berbuat macam-macam gampang lah, tinggal sikat.
Aku menggunakan kamui untuk menteleport dia, ke istana.
Ya aku sudah menebak Reaksi mereka sih, tapi yaudahlah.
"Sepertinya kau membawa sesuatu nak, aku sudah menebak ini akan terjadi sih." Kata Raja.
Setelah itu, raja memperlihatkan suatu surat, dan melemparkannya kepada iblis itu.
.
.
.
Aku nggak ngerti apa yang mereka bicarakan, dan malah selama dua jam ini, aku ditatap terus sama Hozuki, dan Lucia.
Tapi aku penasaran siapa laki-laki disana.
"Sekarang antarkan aku ke tempat tadi lagi." Kata Sei.
[Quest Selesai]
"Oke." Aku langsung teleport lagi ke tempat Naga tadi.
"Nak, nanti kembali lagi kesini." Kata Raja.
"Oke." Kata ku.
Namun disana naga nya hilang.
"Naga lu mana?" Kata ku.
"Semenjak kamu pukul tadi aku melepaskan kontrak ku dengan naga itu, jadi aku tidak tau dia dimana." Kata Sei.
"Kenapa kamu memutuskan Kontrak nya?" Kata ku.
"Nanti aku mati lah, karena naga itu akan menggunakan mana ku untuk menyembuhkan luka nya, sementara mana ku sudah hampir habis, makanya tadi aku hanya bisa memanggil dua Cyclops." Kata Sei.
"Yaudah, aku mau balik." Kata ku.
Aku tidak langsung teleport pulang dengan kamui, melainkan pergi ke tempat sisa bunshin ku. Yap bunshin ku itu menemukan sesuatu..
"Kira-kira Nemu apaan ya?" Tanya ku.
[Entahlah.]
Aku segera otw menuju ke bunshin ku...
.
.
.
Huh 10 menit berlari, aku sampai ke sebuah hutan, yang nggak terlalu lebat, namun disana banyak bangkai hewan biasa dan monster.
Aku melihat bunshin ku, dan langsung menghampirinya.
*Poof...
Bunshin ku menghilang, dan aku melihat seseorang yang sedang tergeletak di dekat pohon. Orang itu memiliki rambut berwarna Hitam, bercampur abu-abu.
Ya, sebagian abu-abu sebagian hitam.
[Kyle dia...]
"Iya, pucat sekali." Dia terlihat sangat pucat.
Aku menyentuh keningnya, namun tidak seperti manusia pada umumnya, kulitnya sangat dingin. Yah.... Pakaiannya lumayan terbuka sih, para pencinta side ***** senang melihat dia.
Aku mengecek nafasnya, dan dia langsung menyerangku.
"ANJEENG!! JUMPSCARE BANG*** !!!!" Dia menggigit pergelangan tangan ku, dan menghisap darah ku.
"Aw aw, gigitannya sangat kuat, dan juga tangan kanannya ini sepertinya berusaha meraih leherku." Pikir ku.
Tangan kirinya mencengkram tangan kanan ku, dia juga menghisap darah ku dari pergelangan tangan kanan ku.
[Kyle Orang ini adalah Vampire, dia tergeletak karena terkena sinar matahari terlalu lama, dan sekarang dia sedang kelaparan, bisa-bisa darah mu kering diserapnya loh, aku akan memakaikan mu potion.]
.
.
.
45 menit kemudian...
Dia melepaskan gigitannya, warna kulitnya menjadi normal, dan dia terlihat bugar kembali. Dia terengah-engah dengan wajah yang memerah.
"Sekarang apa lagi?" Tanya ku.
[Vampire itu.... Lebih baik berikan dia mantel dulu, karena kalau dia terkena sinar matahari lagi dalam dua jam dia akan tergeletak kembali.]
Aku mengambil mantel dari tas kecil ku, yap aku menggunakan tipuan sederhana supaya gampang kalau ada orang yang
bertanya tentang bagaimana mantel Segede ini bisa ada di tas sekecil itu.
[Bukannya raja menyuruhmu kembali ke istana?]
"Woiya." Kata ku.
Aku menjauh dari Vampire itu, dan langsung teleport ke istana raja.
"Huh... Apakah terjadi sesuatu lagi?" Tanya ku.
"Tidak-tidak, aku mau membicarakan sesuatu." Kata Raja.
.
.
.
"Huh.... Begitu ya, iya juga kalau Minggu depan itu kakak mu akan menikah, jadi bulan depan saja." Kata Raja.
"Iya, Eh!? Kakak menikah? Kok nggak bilang-bilang?" Aku kaget.
"Dia baru mengirimkan surat ke rumah mu tadi, makannya dia nggak ada di ruang tahta tadi." Kata Raja.
"Oke, kalau begitu aku ma- hmm?" Aku merasakan sesuatu.
"Ada ap-"
"Evakuasi warga, sesuatu mendekat dengan sangat cepat dari selatan." Kata ku.
"Ada apa!?"
"Entahlah, intinya sesuatu yang besar." Kata ku.
Ketika aku akan pergi ke gerbang selatan, Hozuki menarik baju ku.
"Aku ikut, begini-begini juga aku mahir menggunakan sihir loh." Kata Hozuki.
"Kamu bantu warga saja, atau lindungi istana, bukannya aku meremehkan kekuatan mu, hanya saja kalau banyak warga yang belum terevakuasi, akan sulit bagiku untuk melancarkan serangan berkekuatan besar." Kata ku.
Yap bisa-bisa aku nggak sengaja membunuh orang lagi.
"Baiklah, kalau begi-"
*BOOOM!!
Tanpa ku sadari, raja sudah keluar dari ruangan itu, dan aku segera pergi ke gerbang selatan.
"Uwah.... Dah pada kebakar semua." Aku melihat keadaan gerbang selatan.
"Kalau sekarang harusnya nggak apa-apa kan, aku pake mode rubah ku."
[Mending susano'o, biar sekali tebas, namun tetap hati-hati.]
"Btw, mana Monsternya ya?" Kata ku.
*Boom!!
Aku ditembak dari jarak jauh, Yap itu si naga hitam tadi, dia menggunakan serangan yang sama.
Aku menahan serangan itu menggunakan Shinra tensei, kalau pake Susano'o nggak akan sempat.
Naga itu tiba-tiba melesat kearah ku, dan aku langsung di serang menggunakan ekornya, sehingga aku terpental ke dinding kota.
"Kok cepet ya?" Kata ku
[Sudah kubilang, lawan naga nya pake Susano'o.]
...
...
"Iya sabar." Kata ku.
Sebelum itu aku berniat memindahkan naga sebesar 200 meter ke dimensi kamui, takutnya sih, Perfect Susano'o ku nggak sengaja menghancurkan ibukota.
Tapi ya... Agak sulit sih, karena ukurannya yang besar, tambah gerakannya yang cepat. Aku harus menggunakan kamui jarak dekat ku, supaya lebih gampang.
"Hadeh, dia berputar-putar di udara itu untuk mengambil ancang-ancang ya... Siplah." Aku langsung menaiki dinding kota, dan mengeluarkan susano'o ku.
Susano'o ku hanya setengah badan, tapi ya aku akan menggunakan Yasaka no Magatama, untuk menembak naga itu sebelum benar-benar mendekat kepadaku.
Namun seperti yang kuduga, beberapa serangan ku meleset, dan mendarat di ibukota. Malahan aku RIP aim, nggak ada yang kena sama sekali.
[ADUUUH!! Master aing kok tolol... 10 Serangan nggak ada yang kena.]
Ujung-ujungnya, ketika naga itu benar-benar sudah menabrak susano'o ku, aku langsung memindahkannya ke dimensi kamui.
"Aduh... Mataku sakit, sistem insto." Kata ku.
Sebelum aku menyusul ke dimensi kamui, aku menggunakan insto terlebih dahulu.
Buka mata buka insto.
Setelah itu aku mengeluarkan Black Reaper ku, Yap pake Susano'o keknya bosenin, jadi mending pake pedang OP aja.
[Seriusan, membunuh naga hitam pake Black Reaper itu berlebihan tau.]
"Aku nggak pernah pakai pedang ini dalam pertempuran yang sesungguhnya, aku pake pedang ini cuman buat hiasan doang." Kata ku.
[Iya juga ya, sayang kalo nggak di pake.]
"Iya sayang..."
[Off Fakboi.]
Aku memasukan kapak ku ke inventory dan mengeluarkan Black Reaper ku.
"Slot buat nyimpen sarung pedang di pinggang ku kosong? Wakizashi aing mana?" Aku agak kaget karena Wakizashi ku nggak ada.
[Di inventory.]
"Oh, yaudah aing berangkat."
Setelah itu aku mengaktifkan sihir deteksi, dan berpindah ke dimensi kamui, seperti yang kuduga, naga itu sudah tidak ada karena terbang keliling-keliling dimensi ini.
"Sip, ketemu." Kata ku
[Ingat, hati-hati saat menggunakan Divine Slash, jangan menggunakan kekuatan penuhnya, atau Stamina dan Mana mu akan terkuras.]
"Kalem ae."
Naga itu terbang dan menyemburkan api dari mulutnya, dia terbang mendekat kepada ku sambil menyemburkan api itu.
"5.... 4..... 3...... 2..... 1.... Close the Door!"
Aku melompat dengan OFA, lalu menggunakan Wind Step untuk menyerang punggung naga itu kembali.
Aku mengalirkan mana ke pedang ku, dan aku sedang berusaha untuk menahan kekuatan dari pedang ini, agar tidak kehabisan Stamina.
"Divine Slash!!" Aku menyerang punggung naga itu dan kali ini, dia benar-benar hancur.
*Booom.....!
[Efek dari serangan mu membuat kawah sedalam 450 meter, dengan lebar 600 meter, jumlah mana mu tinggal 3% dan kamu sedang kelelahan, gunakan sisa mana mu untuk teleport keluar sebelum kamu benar-benar pingsan.]
Aku menteleport diriku ke Rumah Fujiwara, Yap entah kenapa aku berfikiran yang tidak-tidak tentang dia.
*Bruk...
"Hmm? Ketua ada suara dari sana..." Aku nggak tau siapa yang ngomong karena mata ku sudah sangat berat.
"Ah....... Kyle........" Kesadaran ku menghilang tepat pada saat Fujiwara menghampiri ku.
------
Bersambung
------