Reincarnated To Another World With The Gacha System

Reincarnated To Another World With The Gacha System
Chapter 23 : Istirahat



Aku telah berlatih selama dua bulan di rumah Fujiwara. Dan sekarang badan ku serasa hancur, apalagi kata sistem aku nggak boleh pake potion.


Sudah musim semi, dan sekarang sedang turun hujan. Meski nggak gede-gede banget hujannya.


"Aduuh... Fenrir jangan memelukku terlalu erat, sakit."


"Maaf master, bau mu sangat harum sehingga aku tidak bisa jauh-jauh dari mu." Kata Fenrir.


"Kamu udah sering ngomong kek gitu, badanku sakit jadi jangan peluk-peluk." Kata ku.


Tidak seperti dulu, aku sudah terbiasa tidur dengan Fenrir, entah ini normal atau tidak. Aku juga sudah beberapa kali tidur di rumah Fujiwara, meski itu karena aku kehabisan mana.


Sejauh ini perkembangan statusku sedikit tidak normal. Level 50 ku nggak sesuai sama statusku yang angkanya seharusnya dimiliki oleh seorang yang telah berlevel 100.


Tapi ya gapapa.


Aku memiliki beberapa skill baru, yaitu Element Combination, Wood Release, Dual Casting, Forming, dan Heavy Quick Slash.


Ada juga skill yang berubah, seperti Sword Mastery, menjadi Weapon Master. Skill ini berubah karena aku telah berlatih berbagai macam senjata.


Dan sekarang aku telah rebahan selama 2 jam, namun hujan masih belum juga reda, malah tambah besar.


"Kyle mau kapan sarapannya!" Kata Ibuku.


"Sebentar Mah!!" Aku berusaha berdiri dengan tubuhku yang sakit ini.


"Aduuh..." Aku berusaha bangun dari tidurku.


"Kayaknya master lebih baik nggak latihan dulu deh, aku akan memberitahu Rubah itu." Kata Fenrir.


"Iya tapi nanti saja, hujannya masih belum reda, lebih baik kita makan dulu saja." Kata ku.


Kemarin aku merasa masih baik-baik saja, tapi entah mengapa ketika bangun tidur tadi tubuhku serasa hancur.


Aku pergi menuju kamar mandi sebentar, dan mencuci muka ku. Aku melihat tangan ku sendiri.


"Tangan ini sangat kasar dan penuh bekas luka, sejak kapan tangan lembut ku jadi gini?" Aku kebingungan.


[Emang ada orang yang latihan fisik di bawah tekanan sihir gravitasi?]


"Gua, dan mungkin ada yang lebih ekstrim lagi." Kata ku dalam hati.


[Setidaknya rasa sakit itu membuktikan kalau kamu masih seorang manusia, itu batasan mu tau, tubuhmu juga perlu beristirahat]


"Aku harus ngapain ya? Hujan-hujan gini?" Gumam ku di depan cermin.


Aku langsung pergi sarapan. Menu sarapan hari ini adalah bubur buatan ibu ku, entah mengapa rasanya sama seperti punya ku.


Tangan ku bergetar ketika memegang sendok.


"Kyle, kamu kenapa?" Tanya Ibu.


"Hanya sedang tidak enak badan saja." Jawab ku.


"Huh... Apakah latihan Mbak Fuji terlalu berat?" Kata ibuku.


"Nggak, rasa sakit ini dikarenakan tubuhku telah mencapai batasnya, aku hanya perlu beristirahat saja." Kata ku.


"Tetap saja ibu khawatir..." Ibu ku memang terlihat khawatir.


.


.


.


Tengah hari.


Hujan telah reda, dan sekarang aku sedang melihat anak-anak lain bermain. Tapi tatapan mereka seolah-olah mengatakan "Tumben ada dia disini, biasanya latihan terus."


Emang aku jarang bermain sih, karena kalau aku ikutan main pasti menang terus. Jadi aku nonton saja.


"Hei, nggak mau ikutan?" Kata Finn.


"Aku nonton aja, tubuh ku sakit." Kata ku.


"Tapi jangan memberitahukan tempat kita sembunyi ya, kalau tidak kamu nggak boleh lihat kita bermain lagi." Kata Tio.


"Tenang saja, aku hanya nonton." Kata ku.


Mereka bermain petak umpet, dan aku hanya nonton. Yah... Meski terkadang greget sih, pengen ngasih tau tempat sembunyi anak-anak yang lain.


Tiba-tiba, aku merasakan kalau ada sekelompok orang yang mendekati gerbang. Aku penasaran dan langsung pergi ke sana.


Aku hanya berjalan biasa saja, dan sebenarnya aku mager sih cuman ya mau gimana lagi, takut bandit.


Eh, ternyata mereka cuman beberapa pemburu monster yang terluka parah.


Aku penasaran apa yang membuat mereka terluka parah.


Kelompok itu terdiri dari dua swordman, satu archer, satu mage, dan satu fighter.


"Katanya mereka diserang Red Demon Bear, di sebelah utara desa ini." Aku mendengar warga yang berbisik.


Aku melihat mereka pergi ke rumah kepala desa, dan sepertinya mereka meminta izin untuk beristirahat di desa ini.


"Saatnya skill spoiler ku beraksi." Pikir ku.


Salah satu swordman dari kelompok petualang itu ada yang kehilangan satu lengan dan kakinya. Sementara itu swordman yang satu lagi hanya kehilangan satu lengan.


Sementara itu mage pingsan karena mungkin habis mana, archer mengalami patah tulang, dan fighter sama-sama patah tulang namun lebih parah.


"Aku penasaran bagaimana mereka bisa selamat." Pikir ku.


Kepala desa terlihat khawatir, namun aku sih owh aja, karena meski tubuhku sakit, aku masih bisa bertarung pake sihir dan sharingan.


"Hmm...." Aku melihat tanda di tangan kiri ku.


"Apa aku suruh Fenrir aja ya?" Pikir ku.


[Terserah]


"Tapi aku mau naik level, biar ekor ku nambah banyak." Pikir ku.


[Bukannya Fenrir sudah pergi?]


"Oh iya, dia pergi ke rumah Fujiwara." Pikir ku.


Aku hanya bisa menyerang monster itu pake sihir, walau sebenarnya aku bisa memaksakan diriku untuk mengalahkannya menggunakan kekuatan fisik, namun waktu pemulihan ku pasti bertambah.


"Pake itu aja lah...." Gumam ku.


Aku sudah memiliki rencana untuk menghabisi beruang itu.


[Sasuga, Kyle-sama]


"Hehe Boi." Pikir ku.


Tiba-tiba ada seseorang yang memegang tangan ku dari belakang.


"Hei, baru kali ini kita bertemu kembali." Orang itu ternyata Rin.


"Kita hanya jarang main saja kan." Kata ku.


"Kalau begitu ayo kita main, tapi kemana ya?" Rin memegang dagunya.


"Sudah kuduga Rin itu imut." Pikir ku.


[Dasar pedo]


"Gua normal, kalian yang pedo." Kata ku kepada sistem.


(Ingat, tulisan miring itu tandanya MC kita ngomong dalam hati.)


"Ke tempat biasa, tapi bunganya belum mekar, apa kita akan keliling hutan lagi?" Kata Rin.


"Aku nggak enak badan, jadi kita bermain di desa aja, jangan keluar." Kata ku.


"Eh? Kyle bisa sakit!?" Rin kaget.


"Aku manusia tau, emang aku nggak pernah sakit sebelumnya?" Kata ku.


"Nggak, aku nggak pernah liat kamu sakit." Kata Rin.


[Itu benar master]


"Lebih baik kita lihat anak-anak lain bermain saja." Kata ku.


"Oh, itu anak kades." Kata Rin


"Ayo kabur." Kata ku.


Aku segera menjauhi anak Pa kades itu, karena dia merepotkan, ia selalu menantang ku untuk bertarung, dan gobloknya taruhanya Rin.


Jadi kalau aku kalah aku harus menjauhi Rin, tapi aku nggak kalah-kalah, hehe.


Setelah sekiranya cukup jauh, aku berhenti kabur, dan memegangi kaki ku.


"Duh... Sakit."


"Kamu beneran sakit ternyata Kyle, pantesan kamu kabur dari orang itu." Kata Rin.


"Meski sedang sakit, aku masih bisa mengalahkannya, tapi males soalnya ada hal lain yang harus aku lakukan." Kata ku.


"Hal lain yang harus kamu lakukan? Jadi kita nggak jadi main?" Kata Rin, dia terlihat kecewa.


"Nggak, kita akan main, aku akan menceritakan cerita yang menarik." Kata ku.


"Cerita lagi? Kali ini cerita tentang apa?" Tanya Rin.


"Cerita tentang, seorang seorang anak yang bernama yang bernama naruto yang berkeinginan menjadi hokage..." Kata ku.


Aku menciptakan bangku dengan Wood Release, dan duduk di pinggir jalan dengan Rin.


Aku menceritakan Naruto kecil, aku juga dibantu oleh sistem untuk mengingat-ingat jalan ceritanya, dan aku bercerita lama sekali, sampai cerita Naruto nya tamat.


--------


Bersambung


--------