One Night With Stranger

One Night With Stranger
Nyonya Vera Sang Ibu Tiri



Mobil Mercedes milik Gerald berhenti di ujung halaman. Manik mata Gerald yang sedikit abu-abu itu menoleh ke arah Yuva yang mengintip rumahnya. Bibirnya mengukir senyum. Gadis kaya yang polos. Meski harusnya Gerald tak perlu heran, kawasan ini sangat privat dan mahal. Tak sembarang orang bisa tinggal di sini. Tanah dan rumah di kawasan ini dijual dengan sistem yang rumit dan teliti. Orang kaya baru dan kekayaannya meragukan akan ditolak mentah-mentah berapapun uang jaminan yang ditawarkan. Seluruh aset diteliti dan ditelusuri, setidaknya kelangsungan usaha pembeli harus lebih dari sepuluh tahun berjalan.


Siapa penggagasnya? Tentu dia adalah seorang Gerald Alister. Pemilik area ini setelah mendapat limpahan warisan dari pihak mendiang ibunya. Gerald sendiri baru tahu kalau dia mewarisi semua ini sekitar empat tahun lalu. Namun, ia tak mengatakan ini pada ayah maupun kakeknya. Mengingat bagaimana semua ini begitu tiba-tiba, Gerald merasa kalau ada yang tidak beres soal warisan ini.


"Tuan ...." Seorang pelayan pria mengetuk pintu mobil, mengalihkan perhatian Gerald yang sedikit menikmati waktu memandangi Yuva yang sejak semalam mencuri habis perhatiannya.


Gerald membuka pintu dan menutupnya kembali. Dengan tatapannya, ia mampu membuat pelayan itu langsung berbicara.


"Nyonya Vera ada di dalam." Pelayan itu menunduk, ia tak perlu menjelaskan mengapa ia begitu perlu melaporkan kedatangan Ibu tiri Gerald tersebut.


Gerald segera berbalik dan membuka pintu mobil, dia harus mengenalkan Yuva pada calon ibu mertuanya. Gerald menarik bibirnya sekilas kala membayangkan akan menikahi Yuva alih-alih Almahira. Pasti ibu tiri Gerald itu mati kaku dalam posisi berdiri.


Ketika Gerald meninggalkannya di dalam mobil, Yuva bingung mau bagaimana. Ikut turun atau tetap di sini. Namun, larangan Eldar membuatnya tetap fokus memandang pria yang menidurinya itu. Detail sekali tanpa melewatkan satupun. Jadi Yuva agak terkejut ketika Gerald membuka pintu mobil. Tatapan keduanya kembali berpadu, membuat jantung Yuva kembali tidak baik-baik saja.


"Turunlah ... kau akan tidur di rumahku, bukan di sini." Dengan ragu, Yuva turun dan memilih diam. Pria ini agak mengerikan setiap ucapannya. Yuva lebih suka menyimpan keingintahuan dan juga suaranya untuk hal yang berguna dan mengejutkan.


Gerald membiarkan Yuva mengekorinya, walau ingin sekali rasanya merengkuh wanita itu dalam dekapannya. Ia lutut dan telapak tangan Yuva pasti terluka karena dorongan kasar ayah Yuva, tetapi dengan adanya Vera di dalam, ia tak mau Yuva mendapat tekanan dari wanita yang begitu keras padanya empat tahun ini.


Ya, setelah Almahira membatalkan pertunangan dengan pergi ke Paris, Vera selalu menuduh Gerald yang membuat Almahira pergi dan meninggalkan acara pertunangan yang disetujui oleh Alma sendiri. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu sampai dia menjatuhkan tuduhan tak berdasar lalu bersikap memusuhi Gerald.


Langkah Gerald terhenti ketika ia melihat sosok Vera sedang berdiri dengan tangan bersedekap di dada. Pasti Vera sudah menantikan kedatangannya sejak tadi sampai mata itu tak lepas darinya dan Yuva.


"Alma datang tadi siang, kau tak menjemputnya, Ge?" tanya Vera setelah beberapa saat lamanya memikirkan bagaimana ia harus membuat Gerald patuh padanya. Wanita di belakang Gerald membuat Vera harus memupuk sabar di dadanya. Pasti mereka ada hubungan, dan mungkin ini alasan Gerald terus berontak dari pertunangan dengan Alma.


Merasa Yuva di awasi berlebihan, Gerald menyembunyikan Yuva di belakang tubuhnya dengan menghalangi pandangan Vera pada Yuva dalam gerakan samar.


"Tidak ada yang memberitahuku, Bu ... dan aku sedang di rumah sakit menunggui kakek." Gerald selalu bersikap sama dengan lawan bicaranya, jadi ia mengesampingkan perdebatan sengit kemarin-kemarin, demi meladeni akting Vera.


"Lalu bagaimana kalau pihak lainnya sengaja tidak mengatakan apa-apa, bahkan sengaja menutup-nutupi? Apa anda masih akan terus menutup mata soal ketidaksukaan Alma pada saya?" Gerald menegang dan mulai marah saat Vera menyindirnya. Tau apa dia soal pria tua yanh ada di rumah sakit itu? Selama ini, Vera tidak pernah mau peduli pada ayah mertuanya itu. Vera bahkan memilih ke acara temannya dari pada menemani ayah mertuanya ke rumah sakit sebelum akhirnya dirawat dan koma seminggu ini.


Vera mendengus, "Alma seperti itu pasti karena wanita murahan itu, kan? Alma wanita baik-baik dan terhormat, tentu tidak mau bersanding dengan wanita rendahan seperti dia."


"Ini tidak ada hubungannya dengan dia, Nyonya Vera.


"Kalau begitu, dia hanya wanita yang akan kau jadikan penghangat ranjangmu? Besok akan kau campakkan, begitu?" Vera menukas dengan sengit. Sorot mata tak suka memindai keseluruhan tubuh Yuva yang berantakan.


Gerald diam saja. Membalas tatapan ibu tirinya tak bersahabat. Harusnya, Vera tau kalau Gerald bukan tipe pria yang suka sekali dengan wanita apalagi sampai membawanya ke sini. Itu terlalu beresiko.


Namun Gerald juga tak bisa mengatakan siapa Yuva, atau Yuva tidak akan aman jika Vera sudah memandang rendah Yuva seperti ini.


"Dia calon pembantumu? Sekretarismu? Asisten pribadimu? Atau bukan semuanya, karena dia—"


"Dia akan bekerja padaku," tukas Gerald cepat dan penuh emosi. "Sekarang pulanglah, jika anda kemari hanya karena hal seremeh itu. Baik Anda dan saya tahu, Alma baik-baik saja tanpa saya maupun pertolongan anda."


Yuva tertawa miris dalam hati. Ia seharusnya berpikir soal ini. Tekadnya dalam hati untuk kabur kian membesar. Bantu aku untuk keluar dari rumah ini, Tuhan, batin Yuva.


*


*


*