
Hari demi hari berlalu, akhirnya kedua orang tua Raden, baik Joana maupun Billy mampu menerima semua yang telah dilakukan putra mereka terhadap Abila. Dan kini acara pernikahan sepasang kekasih dadakan itu akan dilaksanakan, tentunya dengan restu dari orang tua masing-masing pihak.
Raden pun sangat bahagia hari ini, setelah lumayan lama berpisah dari Maura, akhirnya Raden akan kembali menikah dengan wanita yang tak sengaja ia temui di club malam dan menjalin hubungan satu malam dengannya. Tanpa diduga, dari situlah asmara mereka tumbuh hingga keduanya akan segera sah menjadi pasangan suami-isteri.
Tampak para undangan telah hadir dan duduk di kursi masing-masing, mereka semua menantikan prosesi yang akan dimulai sebentar lagi itu. Raden sendiri juga merasa gugup dan gemetaran, meskipun ini bukan kali pertama ia melangsungkan pernikahan.
Saat ini Raden telah tiba di gedung pernikahannya, sedangkan Abila masih bersiap di dalam sana dengan para perias yang ia sewa. Raden ditemani oleh kedua orangtuanya dan juga para saudara, baik jauh maupun dekat. Tak lupa pula ada Enzo yang turut hadir disana, serta Maura sang mantan yang harus menyaksikan mantannya menikah lagi.
"Duh pa, aku kok rasanya gugup banget ya? Aku jadi takut begini mau nikah," keluh Raden pada papanya.
Billy yang berada di sebelahnya pun menggeleng mendengar kalimat sang anak, "Kamu itu gimana sih Raden? Kemarin-kemarin kamu semangat banget mau nikah sama Abila, kenapa sekarang kamu malah jadi gugup?" ucapnya.
"Entahlah pa, mungkin karena udah lama aku hidup sendiri. Jadinya pas aku mau nikah lagi, aku malah jadi gugup banget," ucap Raden.
"Terus gimana dong ini? Kamu mau batalkan pernikahan kamu dan Abila?" tanya Billy.
"Waduh, ya jangan lah pa! Masa iya aku batal nikah sama Abila? Aku kan cinta sama dia pa, udah lama aku pengen hari ini terjadi!" ucap Raden.
"Yasudah, kalau emang kamu cinta sama Abila, kamu gak boleh gugup!" ucap Billy.
"I-i-iya pa, ini aku lagi coba kuatin kok. Makanya papa bantu tenangin aku dong! Biar nanti aku gak salah pas ucap ijab kabul nya," ucap Raden.
"Tenang aja, papa kan selalu ada di dekat kamu dan temenin kamu!" ujar Billy.
Raden langsung memejamkan mata dan mengusap wajahnya kasar, ia berdoa di dalam hati agar pernikahan kali ini berlangsung dengan lancar tanpa adanya gangguan. Raden juga berharap bisa segera menikahi Abila dan hidup bersama wanita yang ia cintai itu.
"Oh Abila, sebentar lagi kamu akan jadi istri saya!" batin Raden.
Lalu, Enzo bergerak mendekati papanya yang sedang gugup itu sambil tersenyum. Pria kecil itu mendongak dan menaruh tangannya di atas paha Raden berupaya menenangkan sang papa, meski ia tidak tahu apa yang dirasakan papanya saat ini.
"Papa, bentar lagi papa mau nikah sama mama Abila ya? Aku gak sabar deh buat tinggal bareng papa dan mama Abila, pasti rasanya seru banget deh!" ucap Enzo.
"Iya Enzo, nanti papa bawa kamu buat tinggal di rumah papa ya? Tapi, kamu minta izin dulu nih sama kakek kamu!" ucap Raden.
Sontak Enzo beralih menatap ke arah kakeknya, "Kakek, boleh kan aku tinggal di rumah papa nanti?" ucapnya dengan polos.
Billy terkekeh dan mengusap wajah cucunya yang menggemaskan itu, "Iya sayang, kamu gak perlu izin juga pasti kakek setuju kok. Kakek malah senang banget kamu tinggal di rumah kakek," ucapnya.
"Hore!" Enzo bersorak gembira sembari mengangkat kedua tangannya, membuat Raden sedikit merasa tenang dan tidak gugup lagi.
•
•
Sementara itu, Abila yang masih berada di ruang rias bersama dua orang perias pun juga merasakan hal yang sama dengan Raden. Ia terlihat gugup dan nafasnya terasa sesak akibat kecemasan yang ia rasakan saat ini, apalagi ini merupakan momen pernikahan pertamanya dalam hidup.
Nadya yang berada di sampingnya pun berusaha untuk menenangkan sang putri, ia tahu betapa gugupnya Abila saat ini karena akan melangsungkan pernikahan dengan Raden. Nadya perlahan mendekati Abila dan menaruh tangannya pada pundak wanita itu sambil mengusapnya.
"Sayang, pasti kamu gugup ya?" tanya Nadya pelan yang dijawab dengan anggukan oleh Abila.
"Wajar kok, namanya orang yang mau nikah itu pasti akan mengalami perasaan seperti ini. Dulu mama juga gitu kok waktu nikah sama papa kamu," sambungnya disertai senyum lebar.
"Oh ya? Terus gimana cara mama buat hilangin rasa gugup itu? Soalnya aku udah coba daritadi tetap aja gak hilang-hilang," ujar Abila.
"Kamu harus tenang sayang, coba atur nafas kamu dan jangan terlalu tegang! Kamu jangan mikirin yang belum terjadi, fokus aja ke apa yang akan kamu lakuin sekarang!" saran Nadya.
"Huh susah ma, aku rasanya mau pingsan deh dan mungkin aku gak kuat buat jalan ke depan ketemu sama mas Raden," ucap Abila.
"Hahaha, kamu udah gugup banget sayang. Ayo kamu harus bisa hilangin rasa gugup itu! Kamu ambil nafas yang panjang, terus buang secara perlahan. Ulangi aja seperti itu selama beberapa detik!" ujar Nadya.
"Iya ma." Abila mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan mamanya, ia mulai mengambil nafas dan membuangnya perlahan.
Setelah mengulangi kegiatan itu berulang-ulang, akhirnya Abila bisa merasa sedikit lega dan tidak terlalu tegang seperti sebelumnya. Abila pun beralih menatap mamanya dan tersenyum puas, membuat Nadya merasa senang lantaran ia berhasil menenangkan putrinya itu.
"Gimana sayang? Kamu udah tenang belum?" tanya Nadya sambil terus mengusap rambut putrinya.
Abila mengangguk pelan, "Udah sedikit tenang kok ma, ya walau aku masih belum bisa sepenuhnya tenang," jawabnya.
"Bagus deh, seenggaknya udah ada perkembangan. Masalahnya sebentar lagi kan akad nikah kamu sama Raden akan dimulai," ucap Nadya.
"Iya itu dia ma, semoga aja deh disana nanti semuanya lancar!" ucap Abila.
"Aamiin, mama juga doain semoga pernikahan kamu dan Raden lancar sampai selesai! Walau mama masih gak nyangka kamu akan menikah sebentar lagi sayang," ucap Nadya.
Nadya tiba-tiba saja memeluk Abila erat dari samping dan membuat sang empu kebingungan.
"Mama sedih banget sayang, sebentar lagi mama harus berpisah sama kamu. Tapi, mama juga ikut senang kalau kamu merasakan bahagia bersama Raden nanti," ucap Nadya disertai isak tangis.
"Aku juga sedih ma, tapi kan kita juga gak harus pisah. Nanti aku bisa sering datang ke rumah buat ketemu mama sama papa," ucap Abila.
"Iya sayang, tapi tetap aja rasanya beda. Mama gak bisa tinggal bareng sama kamu seterusnya seperti biasa," ucap Nadya.
"Mama gausah sedih, nanti aku minta ke mas Raden buat sering-sering nginep di rumah bareng mama sama papa," ucap Abila.
"Benar ya sayang?" tanya Nadya.
"Iya mama," jawab Abila sambil tersenyum.
Mereka pun terus berpelukan untuk meredakan kesedihan di dalam diri masing-masing, sebelum akhirnya Abila selesai dirias dan berjalan ke luar dengan bantuan Nadya serta kedua perias itu.
•
•
"Saya terima nikahnya Abila Cassia Divya binti Devano Alexander, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Raden dengan lantang.
"Bagaimana para saksi? Sah?" ucap sang penghulu sambil melirik ke arah saksi-saksi yang hadir.
"Sah!" jawab mereka semua serempak.
"Alhamdulillah..." penghulu pun mulai membacakan doa setelah prosesi akad nikah Raden dan Abila selesai dilaksanakan.
Raden menyempatkan diri melirik wajah sang istri yang tengah duduk di sebelahnya dengan menunduk, Raden tersenyum di sela-sela doanya saat melihat cantiknya wajah Abila. Jujur Raden sangat senang karena ia akhirnya telah resmi menikah dengan Abila dan menjadi suaminya.
"Abila, akhirnya saat-saat yang saya nantikan tiba juga. Kamu sekarang sudah sah jadi istri saya, lihat saja saya pasti akan buat kamu bahagia selamanya sayang!" batin Raden.
Abila sadar bahwa Raden terus mengamatinya, ia pun juga melirik ke arah pria itu dan langsung berpaling begitu saja saat Raden menyadarinya. Abila benar-benar malu, wajahnya mungkin sudah memerah saat ini seperti udang rebus. Namun, ia masih berusaha fokus dengan doanya.
Setelah semua selesai, kini Abila dan Raden sudah berada di pelaminan, bersanding berdua. Tangan keduanya masih terus menyatu seolah tak ingin dilepas, Raden tampaknya sangat menyukai menggenggam tangan sang istri yang halus tak seperti tangan wanita-wanita lainnya.
"Mas, lepas dulu dong!" pinta Abila lirih.
"Nanti dulu sayang, aku masih pengen pegang dan usap-usap tangan kamu yang lembut ini. Lagian emang kamu gak suka apa dipegang sama aku?" ucap Raden.
"Suka mas, tapi kan kita nanti harus salaman sama tamu yang datang. Gimana caranya coba kalau tangan aku dipegang terus sama kamu?" ucap Abila.
"Ya gapapa, kan bisa pake tangan yang satunya. Udah sih sebentar aja aku masih pengen pegang tangan kamu sayang," ucap Raden.
"Iya deh mas iya.." Abila akhirnya menurut.
"Mama Abila!" keduanya terkejut saat Enzo tiba-tiba berteriak dan muncul disana.
"Eh Enzo?" ucap Abila sambil melepas paksa tangannya dari genggaman Raden.
"Mama, aku boleh gak peluk mama?" tanya Enzo.
Abila tersenyum dan lalu merentangkan kedua tangannya, "Boleh dong sayang, yuk sini mama peluk!" ucapnya.
"Yeay asik!" Enzo berteriak kegirangan dan lari mendekati Abila lalu memeluknya erat.
Mereka pun berpelukan disana, sedangkan Raden hanya tersenyum memandang keduanya dari samping. Raden sangat senang karena putranya begitu cepat akrab dengan Abila, sehingga ia tak perlu susah-susah meminta putranya itu menerima Abila sebagai mamanya.
Namun, tanpa sengaja Raden melihat Maura berdiri di depan sana dan tengah menatap ke arahnya. Tampak wanita itu tak suka sebab Enzo lebih dekat dengan Abila saat ini, tentu saja Raden sedikit tidak enak pada mantannya itu, tapi Raden memilih diam saja dan tak memperdulikan Maura.
"Enzo, papa ikut pelukan sama kalian boleh?" ucap Raden pada putranya.
"Boleh pa, yuk sini sini!" ajak Enzo.
Raden sontak tersenyum, tanpa izin dari Abila pria itu langsung saja memeluk istri juga anaknya dengan erat untuk meluapkan rasa bahagianya.
"Aku benar-benar bahagia saat ini.."
...~Selesai~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...