One Night With Stranger

One Night With Stranger
Ingin Bekerja



Napas Yuva terengah saat Gerald melepaskan ciumannya yang begitu memabukkan. Kedua pasang mata itu saling bertatapan, yang satu bingung menerjemahkan, yang satu dipenuhi kepuasan.


"Oke Nyonya Alister, cukup ini saja ciuman pertama kita, kau boleh memintanya kapan saja setelah ini." Gerald mengusap bibir Yuva dengan ibu jarinya dengan gerakan lembut dan sensual.


Bibir Yuva berkedut, ingin rasanya Yuva menampar mulut kurang ajar Gerald.


"Jangan marah seperti itu, nanti malam pasti akan aku beri lagi, yang semalam pasti kau tidak tahu rasanya bagaimana."


"Aku tidak berpikir seperti itu, Gerald. Aku sama sekali tidak butuh mengingat malam itu." Yuva memanas di pipi sampai ke telinga.


"Lalu kau mau apa?" Gerald agak tidak ramah menatap Yuva. Sepertinya dia kesal dengan sikap Yuva yang terus menyangkal.


Sejenak otak Yuva berputar. Menimbang baik buruknya tawaran Gerald ini.


"Aku bukan orang yang akan ingkar jika sudah bertanya, tetapi aku punya batas waktu dan tidak ada kesempatan kedua." Gerald semakin dingin berkata.


"Terima atau kau benar-benar akan berakhir menjadi pajangan."


Yuva menelan ludah susah payah. Otaknya menggabungkan satu-satu ingatan soal Alister yang terlewatkan. Namun, dia sama sekali tidak menemukan pengetahuan soal pria ini. Dia buta pada pria sejauh ini. Atau setidaknya empat tahun ini, setelah kepergian Rara, dia sama sekali tidak tahu perkembangan pria.


Yuva menatap mata Gerald, memutuskan untuk tidak menjadi gampangan. "Pertama mari kita luruskan pernikahan ini."


Gerald bergeming tanpa berkedip menatap Yuva. Memangnya pernikahan ini bengkok apa?


Yuva merasa dipersilakan dengan diamnya Gerald. Ia mendorong keberaniannya lebih jauh. "Pertama, aku ingin melanjutkan kuliahku yang tertunda dengan biaya penuh darimu."


Gerald tidak bereaksi sama sekali. Itu kecil sekali bukan?


"Kedua, aku ingin diperlakukan layaknya istri, bukan orang lain, baik di depan semua orang, maupun di rumah. Juga aku ingin tetap bekerja, aku tidak mau jadi pengangguran." Yuva memikirkan ini berat untuk orang sekaya Gerald. Biasanya, istri pengusaha hanya menghabiskan uang, sementara Yuva ingin membuat Gerald kelimpungan menahan malu. Kebetulan ia masih belum resign dari hotel Keluarga Gerald, jadi itu bisa dia jadikan ajang balas dendam Yuva.


"Hanya itu?" Gerald dengan angkuh meremehkan permintaan Yuva. Kenapa dia tidak meminta Gerald membalas dendam pada keluarganya yang sudah membuangnya dengan kejam?


"Ya ... apa kau keberatan?" Yuva tersenyum sinis membalas Gerald.


"Apa itu?" Yuva seketika mengevaluasi permintaannya. Dia berniat kaya dari hasil usahanya sendiri, meski Gerald membiayai kuliahnya. Lalu membawa Chester dan Mamanya pergi dari rumah itu setelahnya. Ia yakin, Sang Mama mampu bertahan beberapa tahun lagi.


"Ikutlah denganku, maka kau akan tahu semuanya." Gerald berdiri dan berjalan mendahului Yuva yang menjadi sangat penasaran akan ucapan Gerald..


Setibanya mereka di halaman gedung, sebuah mobil menyambut. Gerald dengan santai membukakan pintu untuk Yuva, kemudian menyusul duduk di sebelah Yuva sebelum mobil itu melaju meninggalkan halaman gedung.


Tak ada percakapan selama perjalanan mereka, Yuva hanya terpaku melewati jajaran gedung yang begitu akrab di mata Yuva, sementara Gerald tak lepas dari ponselnya sejak tadi.


Menara gedung yang tergabung dalam sebuah grup perusahaan besar menjadi tujuan mereka kali ini. Selain pusat perbelanjaan, juga ada apartemen, hotel, dan perkantoran. Yuva tahu tempat ini, tetapi ini bukan milik Alister.


Gerald membimbing tubuh Yuva yang kaku, melewati beberapa orang yang menunduk saat berpapasan dengan Gerald, sampai pada sebuah ruangan yang Yuva pikir adalah sebuah toko perhiasan berlian ternama.


"Ini tempat kerjamu dan mereka anak buahmu." Gerald berbisik saat menempatkan Yuva pada tengah ruangan yang penuh kaca. Etalase kaca, dinding kaca, sekat kaca, bahkan langit-langit berwarna kuning temaram karena sinar lampu ini juga kaca, memantulkan bayangan Yuva yang begitu pucat dan kecil di kemewahan yang Gerald punya.


Gerald begitu tenang bak lautan yang menghanyutkan.


"Dari semua permintaanmu, aku hanya tidak bisa menyebut terang-terangan kalau aku pemilik tempat ini, oh ... seluruh area ini. Ini sangat rahasia, tetapi aku sudah memberitahukannya padamu, yang artinya keselamatan nyawaku ada padamu."


"Apa maksudnya?" Yuva berkedip tak mengerti.


"Grup ini tidak punya pemilik, bahkan ayahku siap menembak siapa saja yang memiliki tempat ini. Bagi mereka ini seperti harta karun sampai pemilik aslinya keluar dan mengumumkan dirinya."


Yuva menjatuhkan rahang saking tak percayanya pada ucapan Gerald. Mereka kan keluarga? Kenapa tidak sharing dan berbagi?


Yuva kemudian mengangguk, segera paham apa maksud Gerald. Keluarganya sendiri malah lebih buruk, anaknya dijadikan korban untuk mencari modal. Yuva langsung berubah dingin ketika ingat itu.


*


*


*