One Night With Stranger

One Night With Stranger
Suasana tegang



Seketika itu juga Raden merasa panik, ia khawatir Devano akan menceritakan semuanya pada kedua


orangtuanya saat ini. Namun, biar bagaimanapun Raden pasrah saja jika memang Devano akan mengatakan semuanya. Lambat laun pastinya Billy dan Joana juga akan mengetahui semua itu.


"Raden, kamu ikut juga ya sama kita! Kali ini kamu harus bicara sejujur-jujurnya ke orang tua kamu, mereka juga berhak tau apa yang terjadi dan kenapa semuanya bisa sampai begini," ucap Nadya.


"Ya tante, saya pasti akan jujur kok. Tapi, gimana dengan pertunangan kami?" tanya Raden.


"Kalian bisa lanjutkan pertunangan kalian, setelah saya dan istri saya mengetahui semuanya," jawab Billy dengan tegas.


"Iya pa," Raden mengangguk saja menurut dengan ucapan papanya yang terlihat emosi itu.


Lalu, mereka semua berjalan menuju sofa dan memutuskan menunda sejenak prosesi pertunangan yang sebetulnya tinggal sedikit lagi selesai itu. Ya Raden sudah selesai memasang cincin di jari Abila, hanya saja Abila belum sempat memasangkan cincin pada Raden akibat Tony yang tiba-tiba datang kesana.


"Sial! Padahal sedikit lagi saya resmi tunangan sama Abila, kalau gini ada kemungkinan buat saya gagal milikin Abila nih!" batin Raden merasa kesal.


Devano, Nadya, Billy, Joana bersama Abila dan Raden terduduk di sofa. Suasana tampak tegang, Billy langsung menatap Devano dengan penuh tanya. Billy sudah sangat penasaran apakah benar putranya telah merenggut kesucian Abila secara paksa sebelum ini.


"Pak Devano, bisa tolong jelaskan ke kami yang terjadi sebenarnya?!" pinta Billy.


"Tentu pak Billy, dengan senang hati saya akan menjelaskan semuanya. Tapi, ada baiknya kalau Raden sendiri yang berbicara dan menjelaskan semua pada pak Billy dan Bu Joana," ucap Devano.


Raden bertambah panik, terlebih saat ini papa mamanya menatap ke arahnya dengan tajam dan menunggu jawaban darinya. Raden menunduk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia melirik wajah Abila di sebelahnya, namun wanita itu hanya bisa menggeleng bingung.


"Raden, ayo kamu jelaskan semuanya ke papa dan mama kamu! Mereka butuh penjelasan dari kamu, saya rasa mereka juga berhak tahu," ucap Devano.


"I-i-iya om, beri saya waktu untuk menguatkan diri saya dulu!" pinta Raden.


Devano mengangguk, namun tidak dengan Billy. Sang ayah dari Raden itu justru menggertak dan meminta Raden untuk segera berbicara, menurutnya sudah tidak ada waktu lagi sebab ia sudah dilanda rasa penasaran yang amat sangat dan ingin tahu apa yang Raden lakukan pada Abila.


"Tidak ada waktu lagi, kamu katakan sekarang atau papa akan membenci kamu Raden!" sentak Billy.


"Benci? Kok papa bilang begitu sih sama anak papa sendiri? Emangnya papa bisa benci aku? Ayolah, ini bukan masalah besar kok pa. Aku akan jelaskan sekarang sesuai permintaan papa," ucap Raden.


"Ya bagus, kalo gitu cepat kamu cerita sekarang ke papa dan juga mama! Supaya gak ada lagi yang kamu tutup-tutupi dari kita," ucap Billy.


"Iya Raden, papa kamu benar!" sahut Joana.


Raden tersenyum sembari menghela nafasnya, ia menguatkan diri sebelum mulai berbicara dan menjelaskan semuanya pada kedua orangtuanya. Jujur saja ia belum siap melihat reaksi dari papa maupun mamanya, namun ia tak memiliki pilihan lain saat ini karena dirinya sudah benar-benar terdesak.


"Baiklah pa, ma. Aku disini mengakui kalau apa yang dibilang sama Tony tadi benar adanya, aku memang sudah meniduri Abila sewaktu di club malam itu. Tapi, Abila dalam keadaan tidak sadar karena mabuk," ucap Raden dengan tegas dan lantang.


Seketika Billy serta Joana syok mendengarnya, sedangkan Devano dan Nadya kembali merasakan sakit atas apa yang dilakukan Raden.




Kini pria itu sudah menjauh dari halaman rumah Abila, tapi tanpa diduga ia malah bertemu dengan Hesti yang sepertinya sengaja mengikutinya. Gadis itu menyentuh pundak Tony hingga membuat Tony terkejut lalu sontak menoleh ke arahnya, hampir saja Tony memukul wanita itu jika ia tidak menahannya.


"Lo ngapain sih ngagetin gue? Jangan bikin gue emosi deh! Terus juga ngapain lu ngikutin gue? Sana pergi ah, balik aja tuh ke tunangan teman lu yang udah nyakitin hati gue!" sentak Tony.


"Buset deh sewot amat sih lu, santai aja kali Ton! Gue tuh mau ngobrol sama lu sekarang," ucap Hesti.


"Ngobrol apa? Jangan bilang lu pengen salahin gue lagi dan marah-marah sama gue karena gue udah ganggu acara Abila!" ujar Tony.


"Sabar Ton, yuk kita ngobrol pelan-pelan aja sambil duduk!" ajak Hesti.


"Gue gak ada waktu, gue mau pulang. Tugas gue disini udah selesai, sebentar lagi pasti si Raden itu bakal dikerubungi keluarga besarnya dan ditanya soal apa yang gue bilang tadi," ucap Tony.


"Lo kenapa ngelakuin itu sih Ton? Lo gak suka Abila nikah sama Raden?" tanya Hesti penasaran.


"Jelas lah, gue cinta sama Abila dan cuma gue yang boleh milikin dia!" jawab Tony dengan tegas.


"Kalau lu cinta sama dia, harusnya lu bisa relakan Abila dengan yang lain. Justru dengan lu berbuat kayak gini, makin susah lu buat bisa dapat maaf dari Abila, Tony!" ucap Hesti.


"Lu gausah ikut campur deh, lu belum pernah ngerasain cinta mana tau! Udah deh sana lu pergi aja, jangan ganggu gue!" usir Tony.


"Ton, ayolah nurut dan jangan berbuat hal-hal kayak gitu lagi! Biarin aja Abila nikah sama Raden, toh mereka saling cinta," ucap Hesti.


"Kata siapa? Emang lu tau isi hati Abila?" tanya Tony.


"Dia sendiri kok yang bilang sama gue, katanya dia emang udah mulai nyaman dan jatuh cinta sama om Raden. Lo harus bisa terima itu Ton, lu ikhlasin mereka!" jawab Hesti.


Tony menggeleng, "Gak, gue akan terus cari cara supaya mereka pisah! Gue gak mungkin biarin mereka menikah, dan lu jangan coba-coba buat halangi niat gue!" ucapnya.


"Lo beneran udah gak waras ya Ton? Denger Ton, mending lu jangan lakuin itu deh!" pinta Hesti.


"Gue gak bakal ngelakuin itu, asalkan Abila mau putus dari Raden dan kembali ke gue. Lu bilang aja kayak gitu sama dia!" ucap Tony.


"Ton, itu gak mungkin Ton. Abila udah pasti bakal nikah sama Raden," ucap Hesti.


"Yaudah, kalo gitu gue bakal halangi mereka supaya pernikahan mereka gak bisa terlaksana!" ujar Tony.


Hesti menggeleng heran, sedangkan Tony langsung pergi begitu saja meninggalkannya. Hesti mencoba menahan pria itu, namun usahanya gagal sebab Tony sudah melangkah menjauh.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...