One Night With Stranger

One Night With Stranger
Tiba-tiba romantis



Abila masih tak terima dengan ucapan Raden, namun ia tidak ingin menghancurkan semua itu dan membiarkan saja Raden berbuat sesukanya.


Lalu, Enzo beralih mendongak menatap Abila sambil tersenyum. Ia meraih tangan Abila dan menciumnya begitu saja tanpa disuruh.


"Halo tante! Aku Enzo anaknya papa Raden, tante cantik deh!" ucap Enzo.


Abila tersenyum mendengarnya, Enzo memang sangat menggemaskan dan berhasil membuat siapapun yang melihatnya luluh.


"Hahaha, kamu bisa aja. Makasih sayang atas pujiannya, kamu juga ganteng banget deh. Pasti nanti kalo udah gede kamu jadi tambah ganteng," ucap Abila.


"Kayak saya ya?" sela Raden sambil tersenyum miring.


"Dih, kege'eran banget kamu!" cibir Abila.


"Emang iya kok tante, papa aku ini paling ganteng di dunia. Aku juga mau begitu dewasa bisa jadi kayak papa," ucap Enzo dengan bangga.


"Eee iya Enzo, papa kamu ganteng kok kayak kamu. Tadi tante bercanda aja," ucap Abila.


Raden tersenyum saat Abila mengatakannya, ia bangga sebab Abila akhirnya mau mengakui kalau ia memang tampan.


"Kamu kenapa senyum-senyum gitu? Jangan ge'er ya, aku bilang begitu cuma karena Enzo aja!" ucap Abila.


"Sayang, denger tuh tante Abila masa bilang begitu sih sama papa. Kamu tegur dong calon mama kamu yang cantiknya kebangetan ini," ucap Raden pada putranya.


Abila membulatkan matanya, Raden sungguh menyebalkan dan membuatnya ingin sekali menghajar pria itu.


"Enggak kok Enzo, tante cuma bercanda," ucap Abila sambil tersenyum.


Maura yang merasa dicuekin, mencebik kesal lalu menarik tangan putranya. Ia tak terima kalau Enzo akrab dengan wanita lain.


"Enzo, udah yuk kita balik aja! Papa kamu kayaknya lagi sibuk deh," ajak Maura.


"Ah gak mau ma, aku masih pengen sama papa dan mama baru aku," rengek Enzo.


"Enggak Enzo, ayo kita pulang ya! Jangan ganggu papa kamu!" ujar Maura.


"Maura, jangan paksa Enzo dong! Dia kan masih mau sama aku, lagian aku juga gak ngerasa terganggu. Aku malah senang Enzo ada disini," ucap Raden menegur mantan istrinya.


Maura sungguh kesal, matanya menatap tajam ke arah Raden serta Abila.


"Kamu gak bisa ajak Enzo ke dalam urusan gak bener kamu mas, biarin Enzo pergi sama aku. Toh kamu juga lagi sama pacar kamu kan?" ujar Maura.


"Apanya yang gak bener Maura? Justru kamu tuh yang udah gak bener, dengan cara kamu paksa buat bawa pergi Enzo dari sini," ucap Raden.


"Kamu jangan asal ya mas! Aku bawa Enzo pergi juga karena aku sayang sama dia," ucap Maura.


"Kalau kamu emang sayang sama Enzo, harusnya kamu gak egois dan biarin Enzo tetap disini sama aku!" ujar Raden.


"Aku bukan egois mas, aku cuma—"


"Ah udah deh Maura, gak ada debat lagi. Aku akan ambil hak asuh Enzo dari kamu!" sela Raden.


Maura langsung terbelalak, tidak mungkin ia membiarkan Raden mengambil hak asuh Enzo darinya. Oh tentu Maura tak siap jika harus kehilangan Enzo, anak yang sangat ia sayangi. Apalagi ia tahu Raden sudah akan menikah dengan wanita di sampingnya.


"Gak mas, kamu gak bisa lakuin itu. Enzo selamanya akan tinggal sama aku, bukan kamu!" ucap Maura.


Raden langsung menarik tangan Maura secara paksa, membawanya ke ruangan pribadinya.


Sementara Enzo sendiri sudah mendekap erat tubuh Abila dengan raut ketakutan, ia memang paling cemas ketika mendengar ayah dan ibunya saling bertengkar seperti sekarang.


"Abila?" tiba-tiba saja Hesti dan Tony muncul, lalu menegur Abila dan membuat gadis itu terkejut.




Kini Maura dibawa secara paksa oleh Raden ke dalam ruangan pribadi pria itu, pintu sudah ditutup dan Raden langsung menghentak tubuh mantan istrinya begitu saja sampai menabrak meja.


"Akh, kamu kasar banget sih mas!" kesal Maura.


"Diam kamu Maura!" sentak Raden emosi.


Maura mencoba kuat, ia berdiri tegak menghadap sang mantan dengan tatapan tajam. Ia tidak boleh lemah di hadapan Raden, atau nantinya pria itu akan bersikap semena-mena kepadanya.


Namun, Raden bukanlah pria yang mudah ciut atau iba pada seseorang. Ia justru mendekat dan lalu mencengkram rahang Maura sembari memberikan tatapan tajam seolah ingin membunuhnya.


"Eeugghh sakit mas... kamu bisa gak jangan kasar begini sama aku?" mohon Maura.


"Mana bisa aku lembut sama kamu Maura? Kamu aja selalu bikin aku emosi, jadi ini emang pantas buat kamu!" ujar Raden.


"Enggak mas, aku mohon lepasin!" ucap Maura menepuk-nepuk tangan Raden.


Barulah Raden melepaskan tangannya dari rahang Maura, ia tatap dengan tajam wanita itu disertai seringaian iblis yang muncul keluar. Maura dibuat takut dengan itu, tatapan Raden kali ini benar-benar membuatnya gemetar tak tahan.


"Kamu kenapa sih mas? Aku cuma gak mau Enzo jadi ganggu momen kamu sama calon istri kamu itu, apa salah?" protes Maura.


"Jelas salah, karena saya justru mau mengenalkan Enzo ke Abila. Dia itu calon ibu sambung buat Enzo, jadi aku mau Enzo akrab sama Abila," ucap Raden dengan tegas.


"Buat apa mas? Masih ada aku disini sebagai ibu kandungnya, Enzo gak butuh ibu sambung," ucap Maura.


"Kamu mau larang saya buat menikah dengan Abila, gitu maksudnya?" tanya Raden.


"Ya enggak lah, ge'er banget sih kamu. Buat apa aku harus larang kamu? Kalau kamu mau nikah ya nikah aja, tapi jangan ambil Enzo dari aku!" jawab Maura tegas.


"Pemikiran kamu terlalu jauh Maura, aku gak ada niatan bawa Enzo dari kamu kok," ucap Raden.


"Terus maksudnya apa kamu pengen Enzo dekat sama calon istri kamu?" tanya Maura.


"Supaya Enzo kenal aja, jadi kalau nanti dia main ke rumahku dia udah tau siapa Abila," jawab Raden.


"Cih, alasan aja kamu mas! Aku gak percaya sama kamu!" cibir Maura.


"Kamu tuh maunya apa sih? Jangan sampai aku kesal dan bikin kamu nyesel sekarang!" ujar Raden.


"Cukup ya mas, kamu gak bisa ancam atau sakitin aku lagi! Aku ini udah bukan istri kamu, jadi kamu biarin aku pergi sekarang!" sentak Maura.


"Kamu gak bisa pergi dari sini, sebelum kamu biarin aku sama Enzo!" ucap Raden.


Maura memalingkan wajahnya, "Terserah kamu, aku izinin kamu bicara sama Enzo dan Abila. Tapi, cuma untuk makan siang ini," ucapnya.


"Gak masalah, itu udah cukup buat aku. Yang penting aku bisa ketemu dan ngobrol sama Enzo," ucap Raden sambil tersenyum.


Tanpa diduga, Raden mengusap rambut Maura dengan lembut dan menyelipkannya di atas daun telinga wanita itu. Maura terkesiap saat Raden tiba-tiba juga mengecup pipinya lembut, sungguh suatu hal yang jarang dilakukan Raden termasuk ketika mereka masih menjadi suami-istri.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...