One Night With Stranger

One Night With Stranger
Gagal



Matahari memang belum seberapa tingginya, tetapi cukuplah membuat keringat di badan Yuva mulai berbulir. Dengan memakai pakaiannya semalam, Yuva menyusuri jalan meninggalkan bangunan megah di kawasan rumah Gerald. Pikiran Yuva yang sederhana berpikir, bagaimana mendapatkan uang sebanyak mereka, padahal papanya yang juga pengusaha, terkadang nyaris tak punya uang setelah akhir bulan. Konon katanya, semua uangnya diputar ulang untuk modal, menyisakan sedikit untuk kebutuhan rumah tangga mereka yang besar. Walau sedikit yang dimaksudkan tetap pada jumlah yang ratusan juta. Mungkin Papanya tidak punya sisa uang yang cukup untuk hidup bermewah-mewahan.


Manda masih saja menyayangi ponselnya yang sudah usang. Nando juga belum berganti mobil sejak beberapa tahun terakhir. Mereka liburan saat family gathering bersama karyawan pabrik tahun lalu. Lagian, dalam kamus Yuva, liburan hanya akan membuat kepalanya pusing. Dia akan melayani kakaknya dan bantu mengawasi anak Manda. Belum lagi Chester.


Itu melelahkan. Dia tidak pernah benar-benar liburan. Salah sedikit pasti diomeli, dibentak, dicaci maki. Huft ....


"Aku ingin cepat kaya," gumam Yuva seraya membuang pandangan ke jalan raya yang ramai.


"Yuva!"


Gadis itu menoleh refleks. Ia tampak terkejut, lalu kembali biasa saja melihat pria berkaca mata abu-abu tua mendekatinya. Setelan khas berwarna putih kebiruan dan celana panjang abu-abu muda yang membalut tubuh tinggi ramping atau lebih mirip kurang gizi itu membuat Yuva membuang wajahnya.


"Aku ada klien di sekitar sini, kau tinggal di rumah siapa di sini?" tanya Nando sok akrab. Nando terlihat mengedarkan pandangannya ke rumah-rumah dan pertokoan di luar kompleks Gerald.


"Nggak usah sok peduli!" sahut Yuva ketus. Hubungan mereka tidak sedekat itu untuk saling mencemaskan. Jadi Yuva merasa ini sangat asing dan aneh. Ia menduga, Nando akan membujuknya untuk pulang. Yang pasti mereka akan memaksanya untuk menikah lagi.


"Aku minta maaf soal kemarin, Yuva. Kau tau aku masih sangat bergantung pada Papa, jadi selain patuh, aku tidak bisa melakukan apa-apa." Nando berusaha tidak peduli dengan sikap Yuva yang sebenarnya membuatnya kesal. Dalam hati ia ingin menggampar mulut Yuva yang kurang ajar itu.


"Ya, aku melihatnya!" Yuva menyipitkan mata saking sebal yang tak mampu ia ungkapkan pada Nando. "Aku melihat kau begitu ingin membelaku sampai senyum kepuasan di bibirmu kemarin, saat aku dilempar keluar oleh papamu begitu membekas di dalam ingatanku!"


"Ayolah, Yuva ... kau sudah dewasa. Kau pasti paham bagaimana susahnya berada di posisiku. Jadi sebagai gantinya, aku mencarimu, aku ingin membantumu sekarang." Nando membujuk.


Tawa mencemooh keluar begitu saja dari bibir Yuva. Tetap dia tidak mau dibantu oleh siapapun yang masih berhubungan dengan keluarga Armani. Dalam bentuk apapun.


"Aku pasti bodoh jika ikut denganmu begitu saja, Nando! Pasti kau sedang mengincar imbalan dari bantuan yang kau tawarkan padaku!"


"Lepaskan!" Yuva benci suara yang menyebalkan itu. Ia begitu jijik dengan kepedulian Nando. "Sekalipun aku mati, jangan pernah peduli padaku, Nando. Katakan pada siapa saja yang menyuruhmu, Yuvara lebih baik mati daripada menerima bantuan dari orang yang tidak pernah menghargai orang lain!"


Yuva menarik tangannya kuat-kuat, lalu ia berlari menyeberang jalan yang ramai agar Nando tak bisa mengejarnya.


"Yuva! Tunggu!" Nando berteriak sembari terus mengejar Yuva. Dia tidak boleh gagal, demi posisi yang begitu menggiurkan. Ah, betapa indah posisi bergengsi yang akan ditawarkan Gerald jika ia sampai berhasil membawa Yuva ke tangan pria itu.


Yuva panik dan mempercepat laju larinya, hingga sampai ada sebuah taksi melintas, Yuva menghentikannya. Ia lupa jika tak punya uang sepeserpun. Itu bisa ia pikirkan nanti kalau sudah selamat dari Nando. "Cepat jalan, Pak!" perintah Yuva pada sopir taksi yang memakai topi itu.


Mata Yuva sibuk mengawasi belakang, seolah takut kalau Nando bisa mengejar taksi ini. Padahal Nando sedang kesulitan melewati jalanan dan beberapa kali mendapatkan umpatan dari pengguna jalan.


"Sial!" Nando mundur seraya meraup wajahnya kasar. "Harus bilang apa sama Gerald kalau begini jadinya!"


Namun demikian, Nando tetap menghubungi Gerald, tidak tahu bagaimana reaksi Gerald nantinya.


Meski telah selamat, Yuva menjadi tidak tenang ketika sopir taksi itu menyeringai penuh kemenangan.


"Berhenti di depan, Pak," ucap Yuva saat ia agak familiar dengan mata itu. Namun agaknya, sopir itu tuli, sehingga ia malah menambah kecepatan mobilnya.


.


.


.