
Ketika Yuva selesai mandi, ia hanya mendapati satu stel piama pria dan sebuah kotak obat diatas tempat tidur. Yuva memakai piyama tersebut dan segera mengobati luka di lututnya. Luka itu tak seberapa dibandingkan luka hati yang dialaminya selama ini.
Yuva pernah berjanji pada dirinya sendiri, jika nanti ia bebas dari keluarga yang menyiksanya, ia akan bekerja keras hingga sukses, dan menunjukkan kepada semua orang, bahwa dia mampu tanpa bantuan Armani, tanpa pernikahan paksa yang mengerikan, atau berakhir tak punya pilihan dan mati seperti Lola. Membayangkan hidup Lola, Yuva merinding sendiri. Lamunannya perlahan membuat matanya berat dan mengantuk, hingga Yuva berguling, lalu mendengkur.
Sementara Gerald pergi ke rumah sakit karena Kakek Ryuji dinyatakan kritis. Harapan hidup pria tua itu sudah tidak ada lagi, bahkan jika alat-alat medis penopang di tubuh di lepas, Ryuji dipastikan akan menghembuskan napasnya yang terakhir.
"Kami menyerahkan semua keputusan kepada Anda, Tuan Gerald. Saya hanya menyarankan yang terbaik saja buat Tuan Ryuji. Tubuhnya sudah tak kuat lagi menahan beban kehidupan yang menyakitkan, dan alat-alat itu hanya akan membuatnya tersiksa." Dokter Zayn berkata dengan lembut, agar Gerald yang keras itu mampu mencerna maksudnya.
"Biarkan alat-alat itu tetap terpasang, biarkan malaikat maut yang menciptakan kematiannya." Gerald menatap lurus-lurus wajah yang tampak kesusahan bernapas itu. Jika Dokter Zayn menganggap Gerald belum siap kehilangan, jelas itu salah. Gerald merasa senang jika kakeknya tersiksa. Setidaknya itu adalah balasan untuk hidupnya yang penuh luka selama ini. Agak aneh memang sikap kakeknya yang keras selama ini padanya. Itu terjadi hanya padanya saja. Dua kakak laki-lakinya masih bebas berkencan dengan wanita manapun yang mereka sukai, sementara dia, sejak masih SMP sudah dijodohkan dengan Alma. Itu hanya salah satu yang paling mencolok dan dengan mudah Gerald merasakan perbedaan perlakuan itu. Belum yang lain.
Dokter Zayn mengatakan iya-nya lalu karena memang alat medis itu baru saja ia periksa, dan tidak bisa memberikan efek apa-apa, ia meninggalkan Gerald seorang diri.
"Besok aku akan menikah, Kek ... tapi tidak dengan Alma. Aku ingin lihat apa Kakek akan bangun dan menghunuskan pedang di leherku? Atau kau hanya akan terus memejamkan mata, menikmati tidurmu yang damai ini?" Gerald terlihat dingin menatap kakeknya.
Seutas senyum sinis kemudian terbit. "Kau boleh mengatur dengan siapa aku bertunangan, tetapi aku tetap memilih wanita yang akan aku nikahi. Cinta bisa datang belakangan, asalkan aku bisa membangkangmu, akan aku pertarukan apapun. Bangun atau pergilah. Lihat dan sumpahi aku dari langit sana!"
Kebencian Gerald menguap kemana-mana tetapi ia tetap tidak puas. Ia seperti sedang menampar angin saat ini. Hatinya hampa. Lalu Gerald menggeram dan meraung. Memukul tembok di belakangnya. "Sialan kalian semua!"
Dalam hati ia mulai bertekad untuk hidup mandiri tanpa bayang-bayang nama besar Ryuji. Sejenak ingatannya tertuju pada perusahaan properti yang mendadak menjadi miliknya. Semula Gerald enggan menerima semua itu, tapi ia butuh tempat tinggal lain selain rumah Ryuji. Apartemen miliknya juga tak pernah benar-benar bebas ia miliki. Ada cctv dan terkadang Gerald tak bisa masuk ke unitnya sendiri. Ryuji terlalu berkuasa dan Ibu tirinya mendadak seperti orang asing belakangan ini.
"Eldar!" panggil Gerald, tetapi belum selesai Gerald berucap, Eldar sudah muncul dengan wajah datar seperti biasa.
"Ada seseorang yang saya pikir anda harus menemuinya." Eldar harus benar-benar punya alasan mengganggu Gerald yang sedang berduka. Ia yakin ini penting.
"Dimana?" Gerald mendadak tegang. Pasti Vera atau ... Yuva.
"Di ruang tunggu—"
"Lantai satu," sambung Eldar terlihat kecewa dan pasrah. Paling buruk, ia harus menyusul Gerald ke ruang tunggu VIP di lantai yang dikosongkan oleh keluarga Alister Ryuji.
Nando sendiri hanya mampu menyentuh lantai satu karena yang ia temui tidak diperkenankan dikunjungi dengan bebas. Cukup ia mengetahui kalau Alister membawa adiknya, lalu ia dengan keyakinan penuh datang kemari.
Desas desus soal keluarga Alister tak perlu dikulik sampai berkilo-kilo meter dari permukaan. Pertunangan dengan Alma yang tak lain adalah sahabat Yuvara sang adik, lalu fakta bahwa Gerald mungkin punya hubungan spesial dengan Yuva, cukuplah menjadi alasan Nando datang kemari.
Gerald jauh lebih mudah dihadapi dengan ancaman mengingat ia butuh sekali pernikahan ini. Nando akan memanfaatkan situasi ini dengan baik.
"Kau memang pion Papa yang paling bodoh dan beruntung, Yuva." Senyum Nando terukir sangat jahat. Dia memang tidak ikut-ikutan menyiksa Yuva. Tidak ada waktu dan alasan ia ikut membuat Yuva menderita. Toh buat apa? Tidak ada untungnya buat Nando. Ia hanya ikut datang dan tersenyum saja, menimpali saudara perempuannya. Selebihnya, tak ada perasaan apapun pada Yuva. Kalau pun ada sekaranglah saatnya. Saat gadis itu berguna baginya.
"Sangat mendesakkah sampai Anda menemui saya malam-malam begini?" Nando berjengit sampai nyaris jatuh terjungkal saking kagetnya dengar suara Gerald yang begitu mendominasi dan menakutkan.
"S-saya kakaknya Yuvara!" jawab Gerald dengan keberanian yang dipaksakan.
"Katakan tujuanmu!"
"Saya mau meminta sesuatu yang kecil dari anda ...," sambung Nando pelan dan mengangkat kepalanya.
.
.
.