
Devano yang sudah sangat emosi, langsung mencoba mendekati Raden dengan tangan terkepal. Akan tetapi, Abila berhasil mencegah dan menahan Devano agar tidak melakukan hal yang buruk pada Raden. Biar bagaimanapun, Abila tentu tak mau jika terjadi keributan disana.
"Lepasin papa, Abila! Papa harus kasih pelajaran ke pria gak tahu diri ini! Dia sudah merenggut kesucian kamu kan Abila?!" sentak Devano.
"Tenang dulu pa! Aku bisa jelasin semuanya, kita bicara baik-baik aja di dalam yuk!" bujuk Abila.
"Gak bisa sayang, ini gak bisa dibicarakan baik-baik. Orang kayak dia harus dikasih pelajaran supaya gak semena-mena!" geram Devano.
"Papa ayolah! Aku mohon papa nurut sama aku, jangan pakai kekerasan ya!" ucap Abila.
"Kamu kenapa malah belain dia? Dia itu udah lecehin kamu sayang, papa gak terima!" ujar Devano.
Raden bergerak maju mendekati Devano, "Om, saya minta maaf. Saya akui kesalahan saya, memang saya yang sudah melecehkan Abila malam itu," ucapnya pelan.
Sontak Devano semakin emosi, nafasnya memburu dengan tangan terkepal. Baru saja ia hendak memukul mulut Raden yang berkata seperti tadi, namun lagi dan lagi Abila menahan tubuhnya. Devano sungguh heran, ia menatap tajam wajah putrinya seolah tak mengerti.
"Kamu kenapa selalu halangi papa sih? Lepas sayang, papa harus hajar pria ini! Dia sudah berani-beraninya sentuh kamu, lalu sekarang dia malah datang dan mengakui perbuatannya di depan papa!" geram Devano.
"Aku mohon pa, papa jangan emosi! Aku akan jelasin semuanya di dalam, papa tenang ya!" pinta Abila coba menenangkan papanya.
"Ini gak bisa dibicarakan baik-baik, dia harus diberi pelajaran! Kamu lepasin papa, jangan sampai papa berlaku kasar ke kamu Abila!" ucap Devano.
"Aku gak mau lepasin papa, please pa nurut dong sama aku!" mohon Abila.
Bukannya menurut, Devano justru mendorong tubuh Abila sampai tersungkur di jalan. Gadis itu meringis kesakitan memegangi sikunya yang terbentur aspal, sedangkan Devano sendiri kembali melotot ke arah Raden. Melihat Abila terjatuh, Raden berinisiatif menolongnya, tetapi Devano menghadang dan malah memukul wajahnya.
"Abila!" teriak Raden yang reflek ingin mendekati dan menolong wanita itu.
Bugghhh
"Mau apa kamu? Jangan berpikir kamu bisa sentuh anak saya lagi!" ucap Devano yang baru saja melayangkan tinjunya ke wajah Raden.
"Papa! Kenapa papa mukul om Raden? Dia gak salah pa," ucap Abila.
"Diam kamu Abila! Berhenti bela dia dan biarin papa urus semuanya secara lelaki!" bentak Devano.
"Jangan pa! Aku gak mau papa sama om Raden ribut, aku mohon udah pa!" rengek Abila.
Devano pun menahan emosinya demi sang putri, meski begitu pandangannya tetap tak beralih dari wajah Raden yang juga kini sedang menunduk menyesali perbuatannya. Abila merasa lega sebab papanya kini bisa ditenangkan, sehingga ia tak perlu khawatir lagi akan terjadi keributan.
"Pa, papa tenang ya! Aku bisa jelasin semuanya di dalam, tapi tolong papa jangan marah-marah lagi sama om Raden!" ucap Abila.
"Yasudah, kali ini papa nurut sama kamu. Ayo kita ke dalam dan bicara disana, kamu juga ikut Raden! Kamu jelaskan semuanya di dalam, tapi jangan sampai bikin istri saya kaget!" ucap Devano.
"Baik om, saya pasti akan menceritakan semuanya dan bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan!" ucap Raden dengan lantang.
Devano berjalan lebih dulu meninggalkan putrinya bersama Raden disana, ia terlihat sangat kesal sampai tak perduli pada Abila yang masih tersungkur akibat dorongan darinya.
•
•
"Mas, ini ada apa sih? Kenapa wajah kamu sama Abila tegang semua? Aku jadi penasaran deh," heran Nadya.
"Eee nanti kamu juga tau sayang, pokoknya ada sesuatu yang mau dibicarakan Abila dan Raden sama kita. Kamu diam aja dulu ya sayang? Biar mereka yang cerita sekarang," ucap Devano.
"Iya mas, tapi emang ada masalah apa sih? Kalian mau omongin soal apa?" tanya Nadya penasaran.
Abila terlihat bingung dan melirik ke arah Raden seakan meminta bantuan, dirinya benar-benar belum siap jika harus menceritakan apa yang ia alami pada mamanya saat ini. Pasalnya, ia yakin sekali pasti Nadya akan sangat syok dan kaget berat jika mengetahui semua itu.
"Begini tante, saya datang kesini berniat untuk menjelaskan semuanya sama om dan tante," ucap Raden pelan.
"Menjelaskan apa? Memangnya ada masalah apa sih yang saya gak tahu?" tanya Nadya penasaran.
"Nadya, kamu diam dulu! Raden dan Abila akan bicara sekarang, kamu dengerin aja ya perkataan mereka!" ucap Devano merangkul istrinya.
"I-i-iya mas," Nadya mengangguk pelan.
Lalu, Raden melirik ke arah Abila yang terduduk di sebelahnya. Ia masih merasa tidak enak jika harus menceritakan semuanya pada Nadya dan juga Devano disana, ia khawatir orang tua Abila akan sangat syok jika mengetahui semua itu. Tapi semua sudah terlambat, mau tidak mau Raden memang harus menceritakan itu pada mereka berdua.
"Saya dan Abila mengalami one night stand di bar om, tante." Raden terpaksa melakukan itu, tentu saja baik Nadya maupun Devano langsung terperangah mendengar ceritanya.
"Apa? Maksud kamu gimana? Ka-kalian sudah??" Nadya terkejut dan bahkan sulit untuk berkata-kata.
"Aku minta maaf ma, aku gak bisa jaga diri. Malam itu aku mabok dan om Raden juga begitu, kami berdua sama-sama gak sadar," ucap Abila.
"Enggak tante, mungkin Abila emang gak sadar karena dia mabuk. Tapi, saya akui kalau saat itu saya sepenuhnya sadar tante, om," ucap Raden.
Abila terperangah tak percaya dengan pengakuan Raden, itu bisa saja membahayakan pria tersebut.
Nadya menggeleng terkejut, "Maksud kamu gimana? Kamu melakukan itu secara sadar ke anak saya? Kurang ajar banget kamu! Terus mau apa kamu kesini, ha?" ucapnya penuh kekesalan.
"Saya hanya ingin bertanggung jawab tante atas kesalahan yang sudah saya lakukan ke Abila, saya rasa ini yang terbaik daripada saya harus lari dari masalah. Sekali lagi saya minta maaf tante, om!" ucap Raden menunduk.
"Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu pikir saya bisa memaafkan kamu? Enggak ya, sekarang kamu pergi dari rumah saya!" sentak Nadya.
"Hey hey sayang, kamu tenang ya jangan emosi! Kamu gak boleh kebawa emosi kayak gini, kamu sabar ya Nadya!" ucap Devano coba menenangkan istrinya.
"Mas, gimana aku bisa sabar coba? Dia udah tidurin anak kita dan dia akui juga kalau dia lakuin itu secara sadar loh!" ucap Nadya.
"Ya aku tahu, tapi—"
"Udah cukup ya mas, aku gak mau banyak omong lagi. Pokoknya aku minta dia buat pergi dari sini dan jangan pernah kembali!" potong Nadya.
Raden menatap tak percaya, Nadya benar-benar emosi saat ini dan tidak seperti sebelumnya. Abila pun juga tak menyangka jika mamanya bisa sampai semarah ini, namun ia mewajarkan sebab pengakuan Raden tadi memang sungguh di luar nalar.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...