One Night With Stranger

One Night With Stranger
Bab 2



Yuva mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru area kedatangan yang mampu di jangkau oleh matanya. Dikejauhan ia melihat Rara tengah berlari seperti anak ayam kegirangan bertemu induknya. Tangannya melambai dan bibirnya terlihat melebar memanggil namanya.


"My Baby, cintaku, sayangku, manisku ... lo apa kabar?" Rara menabrakkan tubuhnya ke tubuh Yuva tanpa ampun. "Gue kangen tauk!" Tangannya mendekap erat leher Yuva yang posisinya sedikit lebih tinggi mengingat sepatu hak yang Yuva kenakan setinggi sepuluh senti yang membuat tubuhnya yang sudah tinggi semakin tinggi.


"Lebay kamu, Ra ... tiap hari VC juga! Tiap hari telponan ngalahin pacar, masih saja bilang kangen," cibir Yuva hingga bibir seksinya membentuk gelombang.


Rara tertawa lebar, "kejam banget lo ngatain gue lebay!" ia menepuk pundak Yuva keras-keras hingga wanita itu meringis dan mengaduh.


"Ya, emang gitu kan kenyataannya?" Yuva menaikkan bahunya yang telah di lepaskan Rara.


"Udah, yok balik ...!" Ia mengamit lengan Rara yang langsung bergelayut manja, dan menyeret salah satu koper yang berukuran lebih besar daripada yang di bawa Rara.


"Kamu menyelundupkan bom? Berat sekali!" Rara tertawa lagi.


"Ya, itu bom yang akan meledakkan pesta pertunangan gue dengan Gerald Alister, seminggu lagi." Rara tertawa bangga. Nampak ada keseriusan dalam ucapan wanita itu.


"Perasaan dulu kamu ngga suka sama Alister ini, kenapa sekarang terlihat senang?" Yuva sedikit merasa aneh, pasalnya, dulu sahabatnya ini kabur demi menghindari perjodohan yang dianggapnya menyebalkan dan terkesan kolot—kata Rara empat tahun lalu. Namun, semua ini tersamar berkat kelihaian Rara dalam berkelit dan membujuk orang tuanya. Dia memakai trik halus dan itu berhasil membuat Rara lolos dari pertunangan mendadak waktu itu.


Rara tersenyum kecut, dia berhenti dan menimbang sejenak apa yang menjadi dilema hatinya.


"Tidak usah bicara kalau itu menyakitkan ... sepertinya aku bisa menebak kalau kamu mulai suka sama Alister dan menyesal tidak menikahinya dari dulu!" tandas Yava lugas.


Yuva selalu memanggil Gerald dengan nama belakangnya, sebagaimana orang tuanya memanggil nama keluarga besar Alister yang kaya raya. Yuva, yang tak pernah tertarik membahas keluarga kaya manapun, tak pernah ingin tau Alister yang mana yang akan menikah dengan Rara. Ada tiga Alister yang melajang seingatnya, mengabaikan dua Alister paling tua dan yang bungsu yang berjenis kelamin perempuan. Entahlah, dia tak pernah benar mencerna info tentang Alister, Lucas, maupun Oliver—keluarga lain yang pernah dipermalukan Yuva ketika melamarnya dulu. Dan tersisa Lucas yang bertahan sampai sekarang.


"Kita bicara di tempat lain, Vava ... kurang nyaman jika bicara di sini!" Rara menarik tangan Yuva yang langsung memberat, membuat Rara menoleh dan memandang tangan Yuva yang menekuk ke belakang. "Lo ada acara?"


Yuva menggeleng lemah. "Mama menungguku di rumah, sudah berkali-kali Mami menelponku tadi ...."


"Tumben Mama lo perhatian sama lo?" Rara tahu, Mami Yuva tak pernah memperhatikan Yuva sejak kecil karena sibuk dengan Lola. Bahkan ketika Lola sudah meninggal, Maminya tak juga bersikap lembut pada sahabatnya itu. Masih sama, suka berteriak dan membentak-bentak Yuva.


"Setelah Lola gagal, kini aku harus menikah dengan Lucas demi mendapatkan suntikan dana untuk perusahaan papi. Kamu tahu, kan, usaha kami kembang kempis beberapa tahun ini? Mengandalkan siapa? Nando? Manda?"


Dua orang kakak Yuva ini, kini telah menikah dan tinggal serumah dengan mereka. Ya, bisa dibilang parasit bagi papinya, tapi meski diusir ribuan kali oleh papinya, Manda dan suaminya selalu kembali lagi ke rumah. Nando sedikit lebih baik, dia mau bekerja meski tidak banyak yang bisa ia lakukan untuk sang Papa. Dan kini, dirinya, mungkin juga akan menambah daftar panjang kebobrokan keluarga Armani.


"Setidaknya, kamu masih bisa meraih semua yang kamu impikan, Ra ... bedalah sama aku." Yuva tersenyum kecut, lalu melepaskan semuanya lewat hembusan napas. "Sudahlah ... mungkin takdirku memang harus seperti ini. Asal Mama bahagia, aku juga bahagia."


"Lo bener." Rara menatap kosong sembarang arah. Dia banyak berpikir. "Awalnya gue mau menggagalkan pertunangan gue, Va ... tapi kayaknya enggak jadi. Gue rasa ada cara lain agar semua berjalan sesuai rencana orang tua gue, tapi gue juga nggak terlalu dirugikan."


Yuva menatap Rara dengan mata menyipit. "Maksud kamu, Ra?"


Entah mengapa ini akan menjadi sesuatu yang buruk menurut Yuva. Tatapan mata Rara itu seperti yag pernah ia lihat empat tahun lalu sebelum Rara pergi ke Paris.


Rara nampak terkejut dan menoleh dengan cepat ke arah Yuva. "Bukan apa-apa," jawab Rara dengan senyum yang terpaksa.


"Mending sekarang lo pulang, daripada Mama lo marahin elo habis-habisan."


Rara menarik tangan Yuva untuk mengalihkan topik pembicaraan. Keduanya segera meninggalkan bandara, dengan Yuva masih memikirkan perkataan Rara. Sementara Rara tersenyum dengan rencana kudeta pertunangan yang begitu sempurna.


*


*


*


.


.


.


.


.