One Night With Stranger

One Night With Stranger
Putus



Abila sangat panik ketika Hesti berkata jujur padanya bahwa dia sudah mengatakan semua yang dialami Abila di malam itu bersama Raden kepada Tony, kekasihnya. Tentu Abila tidak mau jika ia harus kehilangan Tony yang sangat ia cintai, hanya karena kesalahannya di malam itu.


Abila bertambah panik ketika Tony mengirim pesan yang berisi ajakan untuk bertemu, ia bingung apakah harus pergi menemuinya atau tidak. Namun, Abila akhirnya memilih opsi pertama yakni menemui Tony di taman. Abila tidak mau lari dari masalah dan ingin semuanya selesai dengan cepat.


Saat ini Abila telah tiba di lokasi yang dikirim oleh Tony, gadis itu pun mencari-cari keberadaan sang kekasih di sekitar sana sambil duduk pada kursi panjang yang tersedia. Tak lama, Tony datang dengan ekspresi dingin. Pria itu menyapa Abila, namun tampak jelas jika Tony sedang emosi.


"Sayang, kamu kenapa ajak aku ketemuan tiba-tiba kayak gini? Pasti ada suatu hal penting yang mau kamu omongin ke aku ya?" tanya Abila.


"Iya Abila, ini menyangkut hubungan kamu dan pak Raden. Aku yakin kamu pasti tau arah dan tujuan aku ngomong ini kemana, karena masalah kalian kan cuma satu," jawab Tony.


Abila menunduk, "Ya aku ngerti Tony, aku juga gak masalah kalau kamu mau bahas itu sekarang. Tapi, jangan pake amarah ya!" ucapnya lirih.


"Tenang aja, aku gak mungkin bisa marah sama kamu Abila. Aku ajak kamu ketemuan untuk selesaikan semuanya, bukan untuk marahin kamu. Jadi, aku minta kamu jujur sekarang!" ujar Tony.


Abila mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan, "Bukannya kamu udah tahu semuanya dari Hesti?" tanyanya.


Tony sedikit tersentak, "Hesti cerita ke kamu kalau dia udah kasih tau aku?" ia justru balik bertanya pada sang kekasih.


"Iya, semalam dia telpon aku dan minta maaf ke aku karena udah ceritain semuanya sama kamu," ucap Abila santai.


"Lalu respon kamu gimana? Kamu marah sama dia?" tanya Tony.


"Enggak, justru aku senang karena aku gak perlu repot mikirin gimana caranya buat aku cerita ke kamu. Lagian aku tau Hesti cerita pasti karena dipaksa sama kamu, ya kan?" jawab Abila.


"Iya sayang, aku emang paksa dia. Tapi itu karena aku udah gak tahan lagi sama rahasia yang kamu sembunyikan dari aku," ucap Tony.


Tony mendekat dan meraih dua tangan Abila, "Sayang, kamu tuh kenapa sih sembunyiin masalah sebesar ini dari aku?" ujarnya tegas.


"Aku juga bingung sayang, aku gak tahu harus gimana buat cerita ke kamu tanpa bikin kamu emosi," ucap Abila terisak.


"Tapi gak seharusnya kamu sembunyikan ini dari aku sayang, kalau aja kamu cerita ke aku dari awal pasti aku bakal berusaha buat bantu kamu. Orang kayak si Raden itu harus diberi pelajaran!" ucap Tony.


"Kamu jangan bertindak yang macam-macam ya Tony! Aku gak mau ada masalah lagi," pinta Abila.


"Kenapa sayang? Aku cuma pengen kasih pelajaran kok ke dia, supaya dia gak bertindak semena-mena sama perempuan. Apalagi perempuan itu adalah pacar aku sendiri," ucap Tony.


"Ya aku tahu kamu emosi, tapi gak gitu juga Tony. Kamu gak boleh balas dendam sama Raden, nanti urusannya malah jadi panjang," ucap Abila.


Tony bangkit dari duduknya dan menatap Abila dengan emosi, "Kamu tuh kenapa sih sayang? Kok malah jadi belain si cowok yang udah perkosa kamu itu? Ohh, jangan-jangan kamu bukan diperkosa, tapi kalian begitu atas dasar suka sama suka, iya?" ucapnya.


Abila terkejut mendengarnya, emosinya tersulut saat Tony mengatakan itu padanya. Belum pernah ia merasa direndahkan seperti ini oleh kekasihnya sendiri, ia pun ikut bangkit dan menatap Tony.


"Dengar ya Tony, aku bukan perempuan begitu. Kalau kamu gak mau dengerin aku, yaudah kita putus aja sekarang!" ujar Abila tegas.


Deg!


Tony terkejut dan lemas seketika.




Bahkan Tony juga tak bereaksi apa-apa saat Abila meminta putus tadi, seakan-akan pria itu setuju dengan keputusan Abila. Kini Abila pun sangat menyesal, ia berharap bisa menarik semua kata-kata yang ia lontarkan tadi tetapi sulit sebab di lubuk hatinya juga ia masih merasa sakit.


"Harusnya gue gak buru-buru mutusin hubungan sama Tony, sekarang gue jadi nyesel sendiri. Aaarrrgghhh emang payah banget lu Abila!" gumam Abila dalam hati.


Tiba-tiba saja, tangannya ditahan dari belakang oleh seseorang yang membuatnya terkejut. Abila menoleh lalu menemukan sosok Raden berdiri di depannya, pria itulah yang memegang tangannya saat ini. Sungguh Abila sangat heran, ia tak tahu bagaimana caranya Raden bisa ada disana.


"Om, kok om bisa ada disini? Om ngikutin aku ya?" tanya Abila dengan mata berkaca-kaca.


"Sembarangan kamu panggil saya om, panggil kayak biasa aja kali! Disini kan gak ada papa kamu, jadi kamu gak perlu kayak gitu!" pinta Raden.


"Biarin ah, umur kita kan beda jauh tau. Aku harus sopan sama orang yang lebih tua," ucap Abila.


"Ya terserah kamu deh, kalo gitu sekarang kamu ikut saya ya Abila! Gak baik kamu pulang sendiri dalam keadaan sedih kayak gini," ucap Raden.


"Nanti dulu, om kasih tau dulu darimana om tau kalau aku ada disini!" ucap Abila.


"Iya iya, saya ngikutin kamu tadi sewaktu kamu pergi dari rumah. Saya penasaran makanya saya ikutin kamu, eh ternyata keputusan saya tepat. Buktinya kamu nangis begini dan butuh bantuan dari saya," ucap Raden.


"Aku gak butuh bantuan kamu kok, udah deh lepasin tangan aku!" ujar Abila.


"Jangan bandel Abila! Kamu habis putus kan sama pacar kamu? Yasudah, ini kesempatan untuk kita bersatu loh. Saya akan berikan yang terbaik buat kamu Abila," ucap Raden.


Plaaakk


Abila justru menampar wajah Raden menggunakan tangannya yang lain, hal itu membuat Raden tersentak kaget dan reflek memegangi pipinya sehingga pegangannya pada tangan Abila terlepas dan dijadikan kesempatan oleh Abila untuk menjauh dari pria tersebut.


"Kamu jangan gila ya om! Aku emang udah putus dari Tony, tapi bukan berarti aku mau nikah sama kamu. Karena sampai kapanpun, itu gak akan pernah terjadi!" tegas Abila.


"Mau kamu apa lagi Abila? Saya sudah berusaha untuk bertanggung jawab loh sama kamu, tapi kamu malah begini ke saya!" ujar Raden.


"Aku gak butuh tanggung jawab kamu, udah sana kamu pergi aja dan jangan pernah ganggu aku lagi!" sentak Abila.


"Enggak Abila, selamanya saya akan ganggu kamu. Sampai kamu benar-benar bisa terima saya di hidup kamu, jujur aja Abila tubuh kamu bikin saya candu dan saya gak rela kamu dimiliki oleh laki-laki lain!" ucap Raden to the point.


Abila menatap tajam ke wajah Raden, satu tamparan kembali mendarat tepat di wajah pria itu. Kini kedua pipinya sudah merah pekat akibat tamparan Abila yang sangat keras itu.


Plaaakk


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...