
"Abila, kamu cantik sekali sayang. Gaun itu sangat cocok di tubuh kamu, saya gak sabar buat selipin cincin ini di jari manis kamu," ujar Raden.
Wanita itu dibuat tersipu dengan perkataan Raden, ia menunduk menyembunyikan senyumnya yang justru membuat Raden makin gemas. Rasanya Raden ingin memegang dan mencubit kedua pipi Abila karena rasa gemasnya, tapi ia harus menahan diri karena disana banyak orang.
Setelahnya, acara pun dimulai dan MC mulai berbicara di tempatnya. Semua bertepuk tangan, yang mereka tunggu-tunggu akan segera tiba, yakni prosesi penautan cincin di jari masing-masing pasangan. Yang pertama tentunya Raden akan memasangkan cincin itu di jari manis Abila dengan perlahan.
Saat cincin itu sudah terpasang di jari Abila, gemuruh tepuk tangan kembali terdengar dan membuat Abila sedikit malu. Kini tibalah saatnya Abila yang berganti memasangkan cincin di jari kekasihnya, dengan senang hati Raden memajukan tangannya agar memudahkan Abila melakukan itu.
Melihat Abila yang sedikit ragu, Raden pun mulai berbicara, "Kamu pasti bisa Abila." mendengarnya membuat Abila tersenyum dan mengambil nafas sejenak sambil memejamkan mata.
Lalu, Abila mulai memasangkan cincin itu pada jari Raden. Baru setengah jalan, tiba-tiba suara teriakan terdengar dari arah depan.
"Tunggu!!"
Raden dan juga Abila sama-sama menoleh ke asal suara, begitupun dengan yang lainnya. Mereka melihat sosok Tony berdiri disana dan menatap ke arah Abila dan Raden dengan penuh emosi, sehingga seketika semuanya pun bingung untuk apa Tony menyetop acara itu.
"Jangan dulu diteruskan pasang cincinnya, Abila!" pinta Tony sembari mengangkat telapak tangannya ke depan.
"Ada yang mau aku bicarakan ke kamu Abila, jangan dilanjut dulu ya!" sambungnya.
Abila mengernyit heran, ia tidak jadi memasang cincin di jari Raden dan beralih menatap pria disana itu. Sontak Raden terkejut lalu berusaha menahan Abila yang ingin menghampiri Tony, ia tak mau jika acara tunangannya dengan Abila dirusak oleh Tony.
"Sayang, tunggu! Kamu mau apa samperin dia? Kita selesaikan saja proses tunangan kita, gausah urusin dia!" ujar Raden.
"Sebentar dulu mas, aku harus tau apa maksud Tony datang kesini. Biar acaranya bisa dilanjut dengan aman," ucap Abila.
"Ya Abila, tapi ini sudah tanggung loh. Kamu tinggal masukkan cincin itu ke jari aku," ucap Raden.
"Maaf ya mas Raden, bukannya aku gak mau masukin cincin ini ke jari kamu. Tapi, aku cuma pengen bicara sebentar sama Tony," ucap Abila.
Raden menggeleng heran, "Ohh, kamu juga masih perduli sama dia gitu? Terus buat apa kamu terima aku, Abila? Kamu mau mempermainkan cinta aku? Jangan begini dong Abila!" ucapnya emosi.
"Mas, gak gitu. Setelah ini aku akan kembali dan pasang cincin di jari kamu, tapi aku mau tau dulu apa maksud Tony datang kesini," ucap Abila.
Raden memutar bola mata sembari mengusap hidungnya, ingin sekali ia marah dengan perlakuan Abila, namun ia tetap mencoba sabar dan membiarkan gadis itu pergi mendekati Tony. Meski begitu, Devano serta Nadya juga sama-sama tak mengizinkan Abila untuk pergi dari sana.
"Abila, kamu mau kemana? Kamu pengen tinggalin calon tunangan kamu demi lelaki itu?" tanya Devano.
"Enggak pa, aku cuma mau tau Tony pengen bicara apa sama aku. Papa sama mama gausah khawatir, aku gak akan jauh kok," jawab Abila.
"Tapi Abila, buat apa kamu masih perduli sama dia? Bukan dia udah ngerendahin kamu?" tanya Devano.
"Sebentar aja kok, pa." Abila langsung berlari menghampiri Tony dan membuat Devano kesal.
Beruntung Nadya mampu menenangkan suaminya itu agar tidak membuat rusak acara mereka, dan akhirnya Devano pun bisa ditenangkan.
•
•
"Ada apa lagi Tony? Kamu mau ngerusak pesta pertunangan aku dan mas Raden? Tolong ya Ton, kita udah gak ada apa-apa lagi. Jadi, kamu lebih baik pergi dari sini!" ucap Abila.
"Aku gak akan pergi Abila, aku mau tetap disini. Aku cuma mau lihat prosesi pertunangan kamu sama pria yang udah meniduri kamu itu," ucap Tony dengan senyum mengejek.
Abila tersentak, raut wajahnya berubah malu mendengar perkataan Tony barusan. Ia khawatir ada yang mendengar selain dirinya dan mengira ia bukan wanita baik-baik, tapi Tony sepertinya memang sengaja ingin mempermalukan Abila di hadapan banyak keluarga besarnya.
"Kamu apa-apaan sih Tony? Bisa gak jangan bahas itu disini! Kamu mau bikin aku malu di depan keluarga besar aku?" kesal Abila.
"Loh emangnya mereka semua belum pada tau? Kamu ini gimana sih Abila? Kamu mau menikah sama Raden, tapi kamu belum kasih tau hal sepenting itu. Harusnya kamu makasih sama aku, karena aku akan bantu kamu," ucap Tony.
"Bantu apa? Kamu jangan macam-macam ya Ton! Aku bisa suruh satpam buat usir kamu kalau aku mau, sekarang mending kamu katakan apa maksud kamu kesini yang sebenarnya!" ujar Abila.
"Ya itu, mau kasih tau kebenaran yang kamu tutup-tutupi dari keluarga besar kamu," ucap Tony.
"Gak Tony, kamu gak boleh lakuin itu. Biar aku yang urus semuanya dan kamu jangan ikut campur!" sentak Abila.
Tony menggeleng, "Mereka berhak tau sekarang Abila, kenapa juga harus kamu tutup-tutupi? Kamu malu ya sama skandal kamu itu?" ujarnya.
"Tony cukup! Kalau kamu kesini cuma mau mempermalukan aku, lebih baik kamu pergi aja dan jangan ganggu aku!" usir Abila.
"Oh kamu berani usir aku Abila? Kamu gak tahu dulu seberapa besar cinta kita, ha?" tanya Tony.
"Itu dulu Tony, sekarang aku udah gak sama sekali ngerasain jatuh cinta sama kamu!" tegas Abila.
"Secepat itu Abila? Okay, gapapa aku bisa terima kok semuanya. Tapi, aku akan tetap disini dan beritahu semua keluarga kamu tentang kelakuan bejat pria itu. Dia gak pantas buat dapatin kamu Abila," ucap Tony.
"Terus menurut kamu, kamu yang pantas gitu? Jangan mimpi Tony! Aku gak akan pernah balikan sama orang yang udah ngerendahin aku!" ujar Abila.
"Tapi kamu justru memilih menikah dengan orang yang sudah melecehkan kamu, dimana pemikiran kamu Abila?" ucap Tony geleng-geleng kepala.
"Kamu gausah ikut campur urusan aku ya, Tony. Kamu gak ada hak lagi buat atur-atur hidup aku, sekarang kamu pergi atau aku akan panggil security buat usir kamu!" ucap Abila.
"Aku gak mau Abila, aku akan tetap disini. Sana kembali saja ke Raden dan lanjutkan pertunangan kalian!" ucap Tony.
"Tony!" tiba-tiba Raden berteriak dan melangkah menghampiri keduanya.
Sontak Tony menoleh, lalu tersenyum seringai ketika melihat Raden mendekat ke arahnya dengan penuh emosi, inilah yang ia inginkan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...