
"Pak!" seru Yuva seraya memajukan badannya lebih dekat ke arah sopir itu. Namun, detik berikutnya, bahkan tanpa Yuva sadari, sama sekali ia tidak menyadari apa yang terjadi, mobil berhenti dan kunci pintu terbuka.
Tanpa memedulikan apa-apa lagi, Yuva turun dan berlari. Sampai sebuah suara menghentikannya.
"Begitukah caramu berterimakasih, Yuva?" Suara familiar itu membuat Yuva menoleh dengan kebencian yang menumpuk. Kenapa semua orang yang dihindarinya datang satu persatu? Rencana busuk siapa ini?
Ketika topi itu diangkat, tampaklah wajah yang selama ini jarang sekali berinteraksi dengannya, ikut memandangnya sinis dan mendukung penuh setiap provokasi yang datang. WTF! Pria itu mengeluarkan senyum jahatnya seperti biasa.
"Silakan pergi kalau kau masih ingin bertemu Nando kembali!" Dengan tidak acuh juga, pria yang tak lain adalah suami Manda, berlalu begitu saja dengan ekspresi yang membuat Yuva selalu ingin menonjoknya jika ada kesempatan. Ia akan melakukannya dengan senang hati.
Namun Yuva mempertimbangkan sesaat setelah kepergian Eric. Tatapan Yuva secara tak sadar menyapu seluruh bangunan gedung. Dan benar, Yuva mulai memikirkan apa kata Eric, kakinya berjalan masuk ke arah gedung itu, lalu ia menuju sebuah ruangan yang merupakan bekas pernikahan. Yuva menatap dirinya sendiri, lalu berpikir ia bisa mendapatkan pekerjaan pertamanya di sini. Mungkin Eric yang selalu pulang larut itu bekerja pada Wedding Organizer atau semacamnya.
"Saya butuh pekerjaan, Bu," ungkap Yuva pada wanita yang melintas di depannya. Wanita itu agak prihatin melihat Yuva.
"Ikutah denganku!" perintahnya dengan gerakan kepala yang angkuh. Langkahnya cepat dan panjang, namun Yuva ikut dengan senang.
"Masuklah, dan bereskan semua barang yang ada di sana, sepuluh menit lagi datanglah ke aula, di sana akan lebih banyak pekerjaan lagi!" perintah wanita itu. Tatapannya menyelidik sinis. "Pakailah salah satu sepatu di sana, kau ini seperti manusia purba saja! Asalmu dari gua mana?"
Yuva tersenyum menyeringai. "Saya kabur dari rumah ...." Entah mengapa Yuva merasa wanita ini baik dibalik sikapnya yang angkuh dan menjengkelkan.
Wanita itu berlalu, dibawah tatapan Yuva yang penuh rasa terimakasih. Tak berlama-lama Yuva segera membereskan pernik pernikahan yang tampaknya tidak jadi dipakai dan mengambil salah satu sepatu kanvas yang muat dengan kakinya. Kemudian ia melihat ada sebuah blazer wanita yang agak berkerut di antara tumpukan barang itu. Yuva memutuskan membawanya, barang kali ia bisa memakai baju itu jika tidak ada yang memiliki.
Celana jeans robek-robek berwarna biru muda pudar dan kemeja lengan panjang kebesaran miliknya memang lah tidak buruk tetapi dengan tanktop putihnya, Yuva bisa berganti pakaian nanti dengan ini. Oh, benarkah dia resmi jadi gelandangan hari ini?
Aula utama sepi, Yuva menoleh kanan kiri. Hanya ada seseorang yang Yuva duga sebagai pendeta di atas altar. Ia tampak sibuk membaca sesuatu. Yuva menimbang sejenak, mengganggukah bila ia bertanya kemana semua orang? Mereka terlihat lenyap tanpa jejak. Yuva meletakkan dua kotak yang cukup berat yang ia bawa, lalu melangkah ke depan altar dengan ragu-ragu.
Detik dimana ia merasa hatinya jatuh dari tempatnya adalah saat sebuah tangan menekan kepalanya dan tatapannya mendadak buram karena terhalang kain transparan. Meski begitu, ia tak salah mengenali wajah di depannya. Gerald Alister.
Pria itu tersenyum dingin dan mencengkeram lengan Yuva. Bibirnya berkata keras-keras, tanpa mengalihkan perhatiannya dari Yuva yang ingin kabur tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kakinya seperti tersihir dan menjadi beku.
"Pengantin saya sudah datang, Pendeta!"
Mata Yuva membeliak semakin lebar, napasnya terhirup dan berhenti di tenggorokan.
Gerald mendekatkan bibirnya ke telinga, "apa perlu Pendeta itu tau bekas percintaan kita agar dia saja yang memaksamu mengucap janji di hadapan Tuhan? Di sini kau yang akan dianggap buruk, sementara aku sudah bersedia bertanggung jawab menikahimu."
Alam bawah sadar sialan!
Bakhan Yuva langsung merasakan bagaimana pria itu mencumbuinya kemarin malam.
"Pikirkan baik-baik! Hanya pria berhati mulia saja yang mau mencari dan menikahi gadis tidak jelas sepertimu."
Sadar perbedaan mencolok antara Gerald yang begitu berkelas dengan dirinya yang tampak compang camping, Yuva membuang napasnya pelan. Sudut matanya melirik altar yang tampak menunggunya.
Gerald dengan mudah menuntun Yuva yang terlihat bimbang dan linglung. Sepertinya bicara dengan sedikit mendesahkan napas di telinga wanita tetaplah manjur. Titik lemah yang begitu memabukkan sampai Yuva yang keras saja patuh begitu saja.
Pendeta dengan cepat mengambil posisi, saat Gerald meletakkan tangannya yang penuh bunga ke tangan Yuva. Dengan cepat pula ia mengucapkan kalimat ikrar pernikahan.
Yuva tak sadar sampai pada kata 'anda bersedia, Yuvara Angeline'
"Ya!" teriak Yuva kaget. Cepat sekali sih?
Ucapan penuh syukur pendeta itu dan Gerald dengan senyumnya yang menyusup ke dalam kerudunganya membuat Yuva bingung.
"Aku tau kau lebih dari senang saat menikah denganku, Sayang. Aku tidak keberatan dengan penolakanmu sebelumnya, demi mendengar teriakan 'ya-mu' yang bersemangat itu." Senyum yang menurut Yuva adalah senyum paling jahat dan licik, keluar dari bibir indah Gerald. Ya, dari jarak dekat tampak seperti itu. Sensual dan menggoda. WTF! Apa yang kau pikirkan Yuva?
Gerald yang sedang mengusap pipi Yuva memiringkan kepala, bersiap mencium bibir Yuva yang mungil bulat penuh getar gugup itu.
"Tidak! Tunggu!" Yuva menekan dada Gerald kuat-kuat. "Aku tadi bertanya, meminta pendeta mengulangi pertanyaannya, bukan mengiyakan pernikahan ini."
Katakan itu pada Tuhan, Yuva!
Pendeta memilih pergi, sementara Gerald memilih menggunakan tangannya untuk merapatkan pinggang ramping Yuva ke perutnya. Lalu menenggelamkan bibir mungil yang dalam sekali sambaran telah dilahap habis oleh bibir Gerald yang perkasa.
Terserah Yuva setelah ini, yang pasti Gerald akan memperlakukan Yuva dengan baik. Ia tidak tahu kalau akan menemukan wanita yang bisa membuatnya jatuh hati saat bertemu pertama kali. Tidak-tidak. Mungkin saat ia merobek-robek selaput gadis polos ini. Tapi itu memang indah dan tak akan terlupakan oleh Gerald.