
"Tunggu, Tuan!" Yuva menahan tangannya saat mencapai pintu mobil. Mata Yuva yang sadar tentu tidak mengenali pria didepannya ini, hanya sentuhan itu terasa hangat dan familiar.
Gerald bersusah payah dalam usahanya menemukan alamat Yuva. Dia harus menunggu Eldar seharian penuh untuk mencari alamat Yuvara yang bekerja di hotel milik kakeknya. Gadis yang cukup cerdik dan sederhana, atau seorang gadis menyimpan luka, tak menginginkan siapapun tahu betapa ia menderita, sehingga ia menyembunyikan jati dirinya. Alamat yang Yuvara berikan adalah alamat seorang nenek tua di sebuah kawasan padat penduduk, yang ketika di datangi Eldar, nenek itu tidak mengenal Yuvara sama sekali.
Gerald harus menggerakkan tangannya yang berharga untuk mengetahui siapa Yuva. Dengan sikap manisnya pada Rara, Gerald berhasil mengetahui alamat Yuva. Dan yang ia saksikan tadi sungguh membuat Gerald mau tak mau harus bertanggung jawab. Dia seharusnya menolak gadis yang mabuk, tetapi juga mungkin tidak masalah, toh dia hanya membantu.
"Anda siapa?" tanya Yuva saat Gerald mengarahkan tatapannya pada Yuva. Tatapan itu agak familiar dan Yuva menyimpannya di sudut memori yang jauh.
Gerald dengan kurang ajar menyentak kaos sweater yang dikenakan Yuva, membuat gadis itu memekik.
"Anda jangan bertindak tidak sopan, Tuan!" Yuva menahan bajunya, tatapannya mendelik, membuat Gerald berdecak.
"Itu buatanku!" katanya santai. "Kau yang menunjukkan dimana aku harus membuat tanda ini, Yuvara Ang-el-line!" Seutas seringai yang terkesan jahat membuat Yuva mengerang pasrah. Segila itukah dia semalam?
"Mau aku beritahu lagi, bagaimana kau meminta untuk kupuaskan?"
"Hng ... hentikan!" Yuva tak tahan lagi. Dia masih ingat sedikit ketika ia tak sabar meminta Gerald memasukinya.
"Jadi anda kemari ingin minta imbalan?" tanya Yuva setelah berhasil menguasai diri.
"Kita bicara di dalam mobil." Gerald tampaknya sedang sibuk, sehingga ia terburu-buru meminta Yuva masuk ke dalam mobil yang dibukakan Eldar, usai memindai rumah besar Armani.
"Tapi—"
"Aku tidak akan memakanmu—kau aman bersamaku."
"Kita selesaikan semua sekarang, Tuan ... saya tidak meminta anda bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada saya. Saya akan membayar anda dengan pantas atas semua bantuan anda." Yuva sungguh tidak ingin terlibat masalah dengan pria itu. Lebih baik ia hidup sendiri, mandiri, dan sesuai keinginannya.
Gerald memainkan lidahnya di dalam bibir, sungguh gadis yang sok. "Kau ditendang keluar dari sana, jika kau lupa. Dan kau hanya membawa baju selapis di badanmu ini."
"Ta—anda benar!" Yuva semula ingin mendebat, tetapi segera sadar kalau dia tidak diberi apapun keluar dari rumah orang tuanya.
"Rumahku luas jika kau tidak ingin malam ini menjadi santapan pria-pria lapar di jalanan. Kuakui, tubuhmu bagus, jemariku benar-benar dimanjakan oleh kulit indahmu—"
"Baiklah, saya ikut anda malam ini. Besok pagi saya akan pergi untuk mencari tempat tinggal baru." Yuva masuk dan duduk dengan tenang. Berusaha tenang lebih tepatnya. Padahal wajah dan tubuhnya sangat panas. Sungguh ia malu pada keadaan semalam yang ia pikir sangat gila.
Gerald tersenyum miring saat duduk dengan kaki yang ia silangkan. Matanya melirik Yuva yang tampak tegang. Gerald hanya tidak menyangka kalau ada gadis perawan keluar bar dalam keadaan mabuk. Pikirnya, semua gadis telah rusak segelnya. Lalu dia bertanya-tanya saat Yuva—yang ia yakin hanya setengah mabuk—meminta digauli lagi untuk kedua kali, di gua mana gadis itu tinggal. Amatir, kasar, dan menggebu tak sabar.
Gerald menerapkan satu hati untuk satu wanita. Alma akan ia kesampingkan usai ia merusak segel gadis muda yang labil. Toh, Alma tampak mudah diajak kompromi dalam hal apapun.
Kawasan yang ia datangi adalah kawasan privat dengan lahan yang luas untuk tiap rumahnya. Yuva samar-samar menduga kemana ia akan tinggal malam ini. Manda sering membicarakannya, memimpikannya, dan berani mempertaruhkan segalanya untuk sepuluh menit tinggal di salah satu rumah ini. Dan Yuva akan tidur di salah satu kamar di sini semalaman penuh.
Ia mencibir seolah Manda bisa melihat senyumnya. "Untuk semalam tinggal di sini, aku malah harus kalian lempar dengan tidak hormat. Hng, bagaimana jika kalian melepaskanku dengan mudah? Pasti aku telah memiliki satu istana di kawasan ini."
*
*
*