One Night With Stranger

One Night With Stranger
Kau Harus Hadir



"Kau bisa mengatakan kau bekerja di sini, atau manager disini, atau kau boleh terang-terangan mengatakan tempat ini milikmu, jika kau mau." Gerald menjeda. Ia menatap Yuva.


"Ini terlalu berlebihan." Yuva mengatakan itu jujur dari dalam hatinya.


"Baiklah, kau bisa lihat yang selanjutnya kalau begitu." Gerald mengibaskan tangannya pada beberapa pegawai di toko perhiasan Gerald yang berpakaian formal.


Gerald menggandeng Yuva meninggalkan toko untuk ke toko selanjutnya. "Ini lebih simpel, kau bisa mengurusnya."


Gerald agak bersemangat menunjuk sebuah toko pakaian kenamaan "Louisa"


"Ini milik ibuku ... semua ini milik ibu kandungku dan keluarganya. Dan, secara ajaib aku adalah anak kandung Louisa yang dianggap ayahku tidak punya apa-apa. Empat tahun ini aku memiliki semua ini, tanpa sepengetahuan ayahku." Gerald bangga sekali akan semua itu, seakan memiliki apa yang diincar ayahnya adalah puncak kejayaan Gerald.


"Kalau begitu, bukankah aku seharusnya tidak memiliki salah satu dari ini semua?" Yuva memikirkan pertikaian yang akan timbul jika ayah Gerald mengetahui hal ini.


Gerald berbalik, "lalu kau ingin punya usaha seperti apa?"


"Yang tidak lalu kentara kalau aku didukung penuh olehmu. Lagian seharusnya, aku yang membayarmu, bukan sebaliknya."


Gerald tertawa melihat Yuva yang begitu gengsi akan bantuan darinya. "Kau bisa menjadi manager toko tadi, tetapi kau harus cakap soal perhiasan, jika tidak ... kau akan mempermalukan dirimu sendiri. Lebih enak kau jadi pemiliknya saja, tinggal perintah sana sini, biarkan anak buahmu bekerja. Apalagi, semua orang sudah tahu kau adalah istriku."


"Aku makan gaji buta, kalau begitu ...," ucap Yuva ngilu. Membayangkan saja dia sudah silau. Apa kata orang jika dia mengaku-ngaku pemilik tempat itu, atau dia bersembunyi saja jika ada orang yang melihatnya. Bisa-bisa dia ditertawakan banyak orang, belum lagi kalau Manda tahu, pasti dia dikatakan sebagai gundik. Uh, mulut Manda itu sungguh menyebalkan.


"Bukan masalah ... kau bisa menggantinya dengan cara lain." Gerald tersenyum. Tangannya meraba punggung Yuva dengan sensual. Dan berakhir dengan kecupan hangat di leher belakang.


"Yeah," kata Yuva seraya mengelak dari usapan tangan Gerald yang membuatnya ingin mendesah.


Gerald menyeringai saat melihat wajah Yuva yang memerah. "Ah, kau harus ikut merasakan, betapa indah percintaan kita, Yuva. Kau ...," bisik Gerald di ceruk leher yang baru saja disinggahinya.


"Kau sangat sempit dan rapat. Kau sungguh membuatku ketagihan."


"Kau ingat, kau menikahiku, tapi kau bertunangan Sabtu nanti?" Ia mengelak seraya membalik tubuhnya.


Namun, Gerald segera menyambar pinggang Yuva dan menempelkan tubuh mereka. "Apa hebatnya tunangan dibandingkan istri?"


Gerald mendekatkan lagi bibirnya, menyusur dan menggoda. Yuva hanya bisa mundur sejengkal-jengkal. Uh, Gerald pria yang tidak tahu makna kata menolak, ya?


"Kau sangat manis, kau tahu? Tak bisakah kita melakukannya sekali lagi?"


What? Yuvara membeliak. Di sini banyak sekali orang, bagaimana bisa dia mengatakan itu keras-keras.


"Ge ... sadarlah! Kita belum selesai bicara."


"Kau membuatku mabuk, Yuva." Gerald tahu kalau ini hanya akan membuat Yuva terus menolak. Tetapi Gerald tahu cara menjinakkan Yuva.


"Kau tahu siapa tunanganku?" tanya Gerald tanpa mau berhenti dari menciumi Yuva sampai ke telinga dan leher, walau dia harus menunduk.


"Tentu tidak, si-siapa juga ýang mau tau?" Yuvara menggeram pelan. Astaga.


"Nanti malam kami akan bertemu, apa kau mau menemaniku?"


Yuvara membeliak. "Tidak, aku tidak mau!"


"Tapi aku memaksa, kau harus hadir di sana, kalau kau tidak mau kukatakan kau tidak tahu balas budi."


Yuva terbengong. "Kenapa aku jadi bodoh begini?"