One Night With Stranger

One Night With Stranger
Bab 4



Dia belum pernah semarah ini, sekuat ini tekatnya untuk merusak sebuah rencana hidup yang telah disiapkan untuknya. Yuva berbenah, menutupi sembab di wajahnya dengan make up, lalu bersiap untuk makan malam. Entahlah, apa dia masih punya muka untuk makan di meja yang sama dengan mereka. Secara sadar, Yuva tahu, cepat atau lambat kabar ini sampai juga di telinga papanya.


"Lucas hari ini membuat Papa kesulitan menjelaskan apa yang telah anak itu lakukan!"


Yuva jelas sekali mendengar perkataan Papanya di sela denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Yuva menebak dan bertaruh, saat ini mereka yang ada di ruang makan sedang memaki dan menyumpahi dirinya dalam hati.


Armani selalu menyebut Yuva dengan panggilan 'anak itu' kepadanya, entah apa sebabnya. Panggilan itu membuatnya sakit hati dan merasa diperlakukan berbeda. Setahu Yuva, dia anak yang lahir dalam pernikahan sah orang tuanya, tetapi sikap Armani justru menunjukkan hal yang berbeda. Armani seperti orang lain baginya. Pun dengan kedua kakak tirinya. Tak ada yang menganggap Yuva keluarga mereka.


"Ini hanya kesalahpahaman saja, Pa ...," jawab Arsita. Ada getar kecemasan di sana.


"Katakan itu pada Lucas yang matanya ada dimana-mana," sarkas Armani. Benar ... ucapan Arsita itu hanya seperti omong kosong yang menggelikan bagi Armani, juga Lucas.


"Yuva hanya korban." Arsita menghentikan makan malamnya yang baru beberapa sendok ia telan. "Dia hanya korban pria itu." Mata Arsita menajam saat menyapu seluruh ruang makan.


Armani mengelap bibirnya dengan serbet putih yang tersedia. "Kalau begitu tugasmu adalah meyakinkan Lucas dan membuat anak itu mau menikah dengan Lucas. Aku tidak mau dengar kata gagal atau kau tidak mampu melakukan tugas kecil seperti ini!"


"Kerahkan semua usaha terbaikmu, Arsita. Kau tentu tahu dengan jelas apa yang akan terjadi jika kau gagal dalam usahamu yang terakhir ini. Setelahnya, aku sendiri yang akan turun tangan menyelesaikan masalah ini!"


Tatapan Arsita dan Armani terpaut beberapa saat lamanya. Wajar jika anak-anak Armani tidak menaruh hormat pada Arsita meski Arsita lah tempat dua anak Armani tersebut meminta pertolongan, karena Armani sama sekali tidak menempatkan Arsita layaknya ratu di rumah ini. Bagi Armani, Arsita dan anak-anaknya hanya benalu yang menjijikkan juga tidak berguna. Jadi untuk apa dia repot-repot menganggap Sita adalah istrinya. Sita tak ubahnya budak bagi Armani.


Ada senyum dari Manda dan Nando. Tentu mereka senang jika Arsita dan anaknya ditendang dari rumah ini. Sementara Sita hanya tercekat dengan ludah membasahi tenggorokannya. Sungguh dia takut akan ancaman Armani barusan.


Ketegangan di meja makan tersela dengan denting bel berbunyi. Yuva yang melamun terkejut bukan main. Bergegas ia menuju pintu dan membukanya.


Mata Yuva sejenak melebar kala melihat siapa yang datang, namun sedetik kemudian, bukan hanya mata, tetapi wajahnya ikut berpaling. Sebuah tamparan mendarat di pipi Yuva hingga terasa panas dan perih.


"Dasar wanita murahan!" hardik wanita dengan dandanan bold di depan pintu. Matanya melotot, tampak sangat marah terhadap Yuva.