One Night With Stranger

One Night With Stranger
Pertunangan



Selagi Devano dan Nadya berbincang di dalam kamar, Raden pun mendekati Abila yang tampak menangis di sebelahnya. Pria itu perlahan menyentuh tubuh Abila dan memeluknya, ia hanya berniat untuk menghibur wanita yang sedang bersedih karena ulahnya itu dan tidak ada niat buruk atau yang lainnya.


Abila jujurnya tidak mau disentuh oleh pria yang sudah mengotori tubuhnya, tapi mau bagaimana lagi toh saat ini kondisinya ia juga sedang membutuhkan sandaran dan hanya Raden lah yang ada disana. Abila tanpa ragu menaruh wajahnya di bahu si pria, membuat Raden tersenyum senang sembari mengusap lembut rambut wanita itu.


"Kamu tenang aja, saya akan terus ada di sisi kamu Abila! Saya juga akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan restu dari mama maupun papa kamu," ucap Raden.


"Maksud om gimana? Om Raden mau nikahin aku gitu?" tanya Abila dengan sedikit terisak.


"Ya Abila, sebagai lelaki saya harus bisa bertanggung jawab untuk apa yang saya lakukan. Maka dengan menikahi kamu mungkin saya bisa menebus semua dosa-dosa saya, walaupun pastinya kamu gak akan mudah maafin saya," jawab Raden.


Abila menggeleng sembari mengangkat kepalanya dan berbicara, "Aku gak mau nikah sama kamu, lagian itu juga belum cukup untuk menebus semua yang kamu lakukan ke aku kok."


Raden tampak bersedih mendengarnya, memang benar walau ia menikahi Abila itu tak berarti semua dosanya terhadap wanita itu sudah terampuni. Namun, setidaknya Raden ingin bertanggung jawab karena ia tahu akan sulit bagi Abila menemukan lelaki yang mau mencintainya dengan tulus jika tau dia sudah tidak suci lagi.


"Saya ngerti apa yang kamu bilang Abila, tapi tolong kasih saya kesempatan untuk bertanggung jawab sama kamu!" bujuk Raden.


"Kalau emang om sungguh-sungguh pengen nikahin aku, yaudah om bicara sama papa mama secara langsung. Aku tergantung sama mereka aja om," ucap Abila.


Raden langsung berubah sumringah, "Serius Abila? Ka-kamu mau nikah sama saya?" tanyanya.


"Sebenarnya enggak, tapi kalau emang itu yang terbaik ya aku ngikut aja. Lagian hidup aku ini udah hancur kok, gak ada salahnya aku nikah sama om-om duda yang punya anak satu. Walau dia yang udah perkosa aku," jawab Abila sedikit menyindir.


"Sekali lagi saya minta maaf Abila, saya janji gak akan menyakiti kamu lagi. Kamu mau kan kasih saya kesempatan?" ucap Raden.


Abila terdiam, berpikir sejenak apakah ia harus menerima tawaran Raden yang ingin menikahinya. Memang saat ini statusnya sudah jomblo setelah ia dan Tony berpisah, namun akan ada rasa sakit yang amat besar jika ia menikah dengan lelaki yang sudah memperkosanya.


"Beri aku waktu," jawab Abila singkat.


Raden tersenyum, setidaknya ia masih memiliki kesempatan untuk bisa menikah dan bersatu dengan gadis di sebelahnya. Ia pun memberanikan diri mendekat dan mengusap rambut wanita itu, tak ada penolakan dari Abila, bahkan dia justru merasa nyaman diperlakukan seperti itu.


"Abila!" tiba-tiba saja Devano muncul, sontak membuat keduanya terkejut dan reflek menoleh ke asal suara.


"Apa benar yang mama kamu duga, kamu suka sama Raden?" sambung Devano yang langsung bertanya pada intinya.


Abila mendelik heran, "Maksud papa gimana? Aku gak suka sama sekali sama om Raden!" ucapnya mengelak.


"Terus barusan itu apa? Kalian pelukan, dan tangan Raden usap-usap rambut kamu. Gak ada penolakan juga dari kamu kan, itu tandanya kamu suka sama dia," ucap Devano.




Singkat cerita, Raden telah berhasil mendapatkan restu dari Nadya maupun Devano. Semuanya berawal dari Abila yang mengaku dan jujur pada kedua orangtuanya bahwa ia memang menyukai Raden dan ingin menikah dengan pria itu, sebabnya tak ada pilihan lain bagi Nadya selain mengizinkan.


Dan kini acara lamaran resmi dilaksanakan di kediaman Abila, rombongan keluarga Raden datang membawa cincin di tangan untuk melamar wanita yang dia cintai. Sambutan dari pihak keluarga Abila pun tak kalah meriah, Devano sampai mengundang para rekan kerjanya untuk hadir di pesta pertunangan putrinya.


Meski Nadya masih belum bisa menerima secara seratus persen hubungan putrinya dan Raden, namun Nadya tetap mendukung apapun keputusan yang dilakukan Abila dan berharap putrinya itu akan mendapat kebahagiaan. Ia tentu tak ingin Abila akan tersakiti nantinya.


Setelah semuanya siap, Abila turun ke bawah menemui orang-orang disana. Raden terperangah menatap Abila yang sedang menuruni tangga dengan gaun biru melekat di tubuhnya, sungguh cantik gadis itu dan amat berhasil membuat Raden terpesona bahkan sampai tak bisa berkedip.


Abila menghampiri pasangannya itu dengan malu-malu, ia akui ia sudah mulai mencintai pria di hadapannya itu. Namun, bukan berarti Abila akan bersikap blak-blakan seperti dirinya pada Tony. Abila masih belum percaya jika ia dan Raden akan bertunangan sebentar lagi, sungguh ini momen yang mungkin tidak ia harapkan dari kecil, tapi berhasil membuatnya bahagia saat ini.


"Abila, kamu cantik sekali sayang. Gaun itu sangat cocok di tubuh kamu, saya gak sabar buat selipin cincin ini di jari manis kamu," ujar Raden.


Wanita itu dibuat tersipu dengan perkataan Raden, ia menunduk menyembunyikan senyumnya yang justru membuat Raden makin gemas. Rasanya Raden ingin memegang dan mencubit kedua pipi Abila karena rasa gemasnya, tapi ia harus menahan diri karena disana banyak orang.


Setelahnya, acara pun dimulai dan MC mulai berbicara di tempatnya. Semua bertepuk tangan, yang mereka tunggu-tunggu akan segera tiba, yakni prosesi penautan cincin di jari masing-masing pasangan. Yang pertama tentunya Raden akan memasangkan cincin itu di jari manis Abila dengan perlahan.


Saat cincin itu sudah terpasang di jari Abila, gemuruh tepuk tangan kembali terdengar dan membuat Abila sedikit malu. Kini tibalah saatnya Abila yang berganti memasangkan cincin di jari kekasihnya, dengan senang hati Raden memajukan tangannya agar memudahkan Abila melakukan itu.


Melihat Abila yang sedikit ragu, Raden pun mulai berbicara, "Kamu pasti bisa Abila." mendengarnya membuat Abila tersenyum dan mengambil nafas sejenak sambil memejamkan mata.


Lalu, Abila mulai memasangkan cincin itu pada jari Raden. Baru setengah jalan, tiba-tiba suara teriakan terdengar dari arah depan.


"Tunggu!!"


Raden dan juga Abila sama-sama menoleh ke asal suara, begitupun dengan yang lainnya. Mereka melihat sosok Tony berdiri disana dan menatap ke arah Abila dan Raden dengan penuh emosi, sehingga seketika semuanya pun bingung untuk apa Tony menyetop acara itu.


"Jangan dulu diteruskan pasang cincinnya, Abila!" pinta Tony sembari mengangkat telapak tangannya ke depan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...