One Night With Stranger

One Night With Stranger
Yuvara Angeline



"Oh, shiit!" Yuvara terbangun dan menyadari bahwa ruangan ini bukanlah kamarnya, melainkan sebuah kamar hotel yang terhubung dengan bar dimana ia menggila dengan beberapa teman wanitanya tadi malam. Tentu saja, dia menyewa kamar ini untuk memuluskan rencananya.


"Oh, Tuhan ...," gumamnya sambil menarik selimut yang melorot ketika ia terbangun tadi. Mendapati tubuhnya polos, ia tiba-tiba ingat pada pria yang tampak samar di matanya semalam. "Jangan bilang kalau aku tidur dengan pria itu, semalam!" keluhnya sambil mendesis getir. Sial!


Yuva segera bangkit dari tempat tidur, meski kepalanya terasa pening dan merasakan tubuh bagian bawahnya terasa kurang nyaman. "Oh, ****!" umpatnya kesal. "Berapa kali pria itu meniduriku sampai tubuhku sakit seperti ini?"


Yuva segera membersihkan diri dengan cepat, kecamuk dalam pikirannya masih bergemuruh hingga ia berulang kali menghela napas.


Yuva membalut tubuh indahnya yang tertera tanda semerah ceri di beberapa tempat. Ia mengusap tanda itu ketika ia menatap pantulan dirinya di cermin. "Ayolah, Yuvara Angeline, kau yang menginginkan ini, bukan? Kau harusnya senang bisa bebas dari Lucas," ucapnya pada diri sendiri.


"Tapi siapa pria itu, ya? Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi siapa, dimana?" Yuva menatap langit-langit kamar mandi, otaknya berusaha keras menggabungkan ingatan buram semalam dengan masa sebelumnya. Wajah tampan yang samar itu cukup familiar.


Ketika Yuva menggeleng karena pening mengingat siapa pria itu, dering ponsel dari kamar terdengar. Iapun melangkah cepat dengan handuk kimono yang ia simpulkan di pinggang.


"Sudahlah, tidak penting juga. Malah bagus kalau aku tidak berurusan dengan pria itu. Setidaknya uang yang ku siapkan aman di dompet. Bisa buat party-party lagi." Yuva meraih ponsel ketika ia mengibaskan pikiran rumit penuh teka teki tentang siapa pria yang bercinta dengannya semalam.


"Ya ...!" Nama Almahira atau yang akrab ia sapa Rara tertera di ponsel miliknya tersebut. Sahabat yang baru pulang dari Paris usai menyelesaikan pendidikan desain di kota mode tersebut dan akan bertunangan minggu depan.


"Lo jemput gue, sekarang! Gak pake lama!"


Yuva menjauhkan ponselnya, dan mencibir. Telinganya melengkingkan suara berdengung akibat teriakan Rara. "Bisa nggak sih, kalau ngomong nggak teriak-teriak? Aku bisa tuli!"


"Biarin! Sengaja biar lo bangun. Biasanya 'kan lo masih ngegelung di kasur!"


Mendengar itu, Yuva langsung mendelik. Apalagi Rara terkekeh penuh cibiran. "Baik Princess! Gue bakal jemput lo, tapi tunggu bentar!"


Tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya tersebut, Yuva langsung mematikan panggilannya. Namun, ia terkejut melihat sebuah foto yang terpampang di sana, sampai ponsel itu terlempar dari tangannya.


"Omoo ...!" Beberapa saat ia masih membelalakkan matanya dan menata irama jantungnya yang berdegup kencang, lalu ia bergegas mengambil ponsel yang menampakkan dirinya tengah 'keenakan' di bawah kekuasaan tangan besar yang menjamah perutnya.


"Ya Tuhan ... ini beneran aku?" Ia mengerut sambil menggigit bibirnya tak percaya kalau dia terlihat 'pro' dalam secarik foto tersebut. Yuva meringis ngeri melihat gambar dirinya sendiri.


Ia mengamati lebih dalam foto tersebut, tetapi ia kembali terkejut melihat siapa yang membuat ponselnya bergetar.


'Ibu Negara'


Yuva membenahi sikapnya seolah sang mama melihat kelakuannya, berdehem kecil lalu menggeser ikon hijau pada ponselnya tersebut.


"KELUYURAN KEMANA LAGI KAMU, HA? LUCAS SUDAH MENUNGGUMU DI RUMAH MALAH KAMU BELUM PULANG!"


Yuva meringis, telinganya kembali berdengung, tapi ia segera menjawab. "Yuva mau jemput Rara, Ma ... suruh Lucas pulang! Lain kali saja jalannya!"


Yuva kembali meringis menatap ponsel yang sudah diputus sambungan teleponnya, kalau sampai mamanya tahu kelakuan anaknya semalam, pasti Yuva langsung di kirim ke sungai Nil, di jadikan pakan Kuda Nil.


"Maafin Yuva, Ma!" Mau tak mau, hatinya trenyuh juga. Ia tak bisa menolak perjodohan dengan Lucas yang sering berganti-ganti wanita. Walau sebenarnya Yuva tak mau berakhir seperti Lola yang harus menjanda dan meninggal diusianya yang masih muda. Lola adalah kakak perempuannya, ia depresi karena suaminya selingkuh saat ia mengandung dan meninggal saat melahirkan Chester. Kini Chester berusia tujuh tahun dan Yuva sangat menyayangi keponakannya tersebut.


Tatapan trenyuh juga disapukan seorang pria pada ranjang rumah sakit yang diatasnya terbaring seorang pria tua. Satu sisi dia senang kalau pria itu segera meninggalkan dunia, di sisi lain dia tidak tega juga melihat penderitaan kakeknya ini. Pria tua ini adalah orang yang paling dekat dan menyebalkan. Karena keputusan yang keluar dari mulutnya adalah penyebab hidupnya terkekang dan dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolaknya.


"Tuan ...."


Pria bernama Gerald Alister itu menoleh pelan dengan hembusan napas yang berat.


Sekretaris sekaligus asisten pribadi Gerald bernama Eldar itu mendekat. Dari kelihatannya, dia akan mengatakan sesuatu yang membuat atasannya ini gusar.


"Saya sudah mendapatkan informasi siapa wanita yang bersama anda semalam," kata El saat mereka berdua sudah dalam jarak yang dekat.


Sebujur senyum kepuasan melintas di bibir Ge, lalu ia kembali menajam saat merasa kalau laporan El belum selesai. Tampak seperti El akan melempar bom ke muka Gerald.


El segera menyusuli kalimatnya, tanpa melepaskan ketegangan yang menyelimuti wajahnya. "Nona Alma telah tiba di bandara ...."


El menjeda ucapannya membuat Gerald menghadapi El dengan sempurna. Tatapan menuntut tampak membuat El segera mengembuskan napasnya yang tegang.


"Dia dijemput oleh sahabat karibnya, Nona Yuvara ... dia wanita yang bersama anda semalam."


.


.


.


❤❤❤


Hai, salam kenal readers, selamat datang di novel pertamaku. Maaf masih banyak typo karena baru belajar.


Tan akan rutin update sehari 3 kali ya ... untuk jam akan Tan infokan di update terahkir setiap harinya.


Kritik dan saran sangat Tan harapkan dari readers sekalian.


Terima kasih dan selamat membaca.


Tan❤