
Kepala Yuvara pening sekali menerima tamparan yang sangat keras itu. Rasa sakit itu menjalar nyeri sampai ke hati. Mati-matian Yuva menahan air matanya tidak turun. Dia benci menangis. Dia benci air mata yang hanya akan membuatnya terlihat lemah. Tetapi luka tetap saja membuat air mata Yuva mendesak di pelupuk mata.
"Kau wanita murahan yang tidak tahu malu! Kau wanita yang tidak tahu terima kasih! Masih bagus keluargaku mau menerima wanita rendahan seperti kamu! Tapi kamu dengan arogan menyeleweng dengan pria lain! Apa kamu pikir kamu ini sudah paling hebat?" Airin, ibu dari Lucas masih setia meluapkan setiap bilur amarah yang menumpuk di hatinya. Airin tidak terima jika anaknya yang mulia direndahkan oleh wanita yang tidak selevel dengan mereka. Keluarga Bilson yang terhormat.
Suara keras Airin tentu saja mencapai ruang makan yang hening dan tegang itu, sehingga ketika Airin menyelesaikan kalimatnya, seluruh penghuni ruang makan telah berpindah ke ruang tamu. Mata mereka melihat betapa murkanya Airin, namun tak ada yang tergerak membantu Yuva. Bagi keluarga Armani, ini sudah menjadi bagian dari tugas Sita selaku ibu dari Yuva.
Seolah memahami, Sita bergerak ke depan dengan keberanian yang dipaksakan. Lidahnya sibuk memilih kata yang pas untuk meredakan amarah Airin. "Nyonya ... anda datang tanpa memberitahu kami. Ini—"
Kilatan kemarahan Airin pindah ke wajah Sita yang langsung membisu. "Kau juga sama saja! Sudah kewajibanmu menjaga Yuva jika dia benar-benar akan dinikahkan dengan Lucas. Dari awal aku sudah tau kalau anakmu ini tak lebih baik dari kamu, Sita. Dari perut pelacur, lahir wanita pelacur juga! Setidaknya, kau harus menjaga nama baik kami, jangan sampai mereka tahu asal usul calon menantu kami yang hina!"
Bak silet yang digoreskan tajam di hati Yuva, kata-kata Airin membuat Yuva meringis ngilu.
"Saya bukan pelacur, Nyonya!" tukas Yuva keras. Perhatian Airin teralih pada Yuva.
"Bagus jika anda membatalkan saja rencana pernikahan bodoh ini!" kata Yuva masih dengan amarah yang masih coba ia tahan.
"Sombong sekali kamu!" bentak Airin kesal.
Airin mencibir. "Dasar penjilat miskin!"
Sita mendengar olokan itu, tetapi dia tidak peduli. Yang dia inginkan hanya dia harus menggenggam keluarga Lucas Bilson di tangannya, meski dia harus merendahkan diri dan bersujud.
"Saya mohon, Nyonya jangan mengubah kesepakatan yang kita buat. Yuva tidak sampai melakukan hal-hal di luar kewajaran. Dia hanya sedang bersenang-senang dengan teman-temannya—"
"Apa ini masih wajar bagimu, Sita!" Segepok lembaran kertas foto mendarat tepat di wajah Sita, membuat wanita itu memejamkan mata. "Hanya wanita murahan yang tidur dengan pria lain sementara dia sedang menjalin hubungan serius dengan seseorang!"
Foto-foto itu jatuh tepat di kaki Sita yang menunduk. Foto laknat anaknya yang terpampang di sana. Menampar seluruh harga diri Sita. Kalau sudah begini, bersujudpun tidak berguna. Sita sadar siapa wanita di depannya ini. Istri dari pengusaha yang tak tersentuh kedigdayaannya.
"Sudah sadar dimana letak kedudukan kalian?" Airin menyapukan pandangan kepada seluruh penghuni rumah yang seperti dicengkeram teror yang menegangkan. "Masih berani kalian mengharap besanan dengan keluargaku?"
Sekali lagi semua membisu.
"Bagus! Jangan sekalipun berharap! Bahkan dalam mimpi! Keluarga kami tidak akan memasukkan benalu dan kotoran hina ke dalam rumah dengan sadar."