One Night With Stranger

One Night With Stranger
Ceritain semuanya



Maura benar-benar geram dengan Raden, bisa-bisanya pria itu membandingkan dirinya dengan wanita lain. Jika bukan karena ada Enzo, maka mungkin Maura sudah menendang burung milik mantan suaminya itu karena telah membuat ia merasa marah.


"Kenapa? Kamu gak terima? Pengen coba buktiin kalau kamu lebih enak dari Abila? Aku siap kok buat rasain punya kamu lagi, udah lama juga kita gak main kan?" ucap Raden sensual.


"Dasar gila!" umpat Maura.


Raden hanya tersenyum kecil, mereka kini menghentikan langkah begitu sampai di dekat Abila serta Enzo. Namun ada sesuatu yang membuat Raden terkejut, ya keberadaan Hesti serta Tony diantara Abila dan Enzo. Apalagi tampak jelas Tony sedang menggenggam tangan Abila dengan erat.


Raden pun berpikir di dalam hatinya, siapakah pria yang bersama gadisnya itu? Apa mereka memiliki hubungan spesial dan kesempatan Raden untuk mendekati Abila akan berakhir? Sungguh Raden sangat cemas, ia tidak mau kehilangan Abila karena ia sudah mulai mencintai wanita itu.


"Ehem ehem.." deheman kecil Raden membuat keempat manusia itu terkejut lalu reflek menoleh ke arahnya.


"Papa!" Enzo tersenyum senang melihat papa dan mamanya tampak akur, ia berlari antusias menghampiri papanya lalu memeluknya disana.


Sementara Abila masih kebingungan saat ini, apa yang harus ia jelaskan pada sang kekasih mengenai identitas Raden? Dan apa juga yang akan ia katakan pada Raden mengenai kekasihnya?


"Uhh sayang, senang banget ya kayaknya kenalan sama tante Abila? Sampai kamu jadi bahagia kayak gini," ujar Raden sambil memeluk putranya.


"Iya dong pa, tante Abila baik dan asyik banget. Oh ya, terus kak Hesti sama kak Tony juga baik loh pa. Coba deh papa kenalan sama mereka!" ucap Enzo.


Raden sontak mengarahkan pandangan ke Hesti dan juga Tony, ia menatap dengan heran dan dibalas juga oleh Tony tak kalah penasarannya. Kedua pria itu memang sama-sama belum mengenal satu sama lain.


"Kak Hesti sama kak Tony itu siapa sayang? Kok kamu bisa kenal sama mereka?" heran Raden.


"Itu mereka temannya tante Abila, pa. Aku tadi diajak main sama mereka," jawab Enzo.


"Ahaha, iya bagus deh sayang. Makasih ya Hesti sama Tony, karena kalian udah mau baik sama anak saya!" ucap Raden sambil tersenyum.


"Gak masalah pak, lagian Enzo juga anaknya baik dan lucu kok. Kita senang main sama Enzo," ucap Tony dengan lembut.


"Kalo gitu kita sama-sama duduk aja, kita makan siang bareng sekarang! Belum pada makan kan pasti?" ajak Raden.


"Bener banget tuh pak, kebetulan kita juga lagi lapar nih. Ya kan Ton?" ucap Hesti.


"Ya bagus dong kalo gitu, yuk semuanya duduk! Enzo sama papa aja ya?" ucap Raden.


"Iya pa, aku juga mau makan sama papa dan tante Abila. Dia kan bakal jadi mama aku," ucap Enzo.


Seketika Tony terbelalak mendengar ucapan Enzo, bagaimana bisa pria kecil itu mengatakan jika Abila akan menjadi mamanya? Tony langsung menatap Abila, seakan meminta penjelasan gadis itu. Namun, Abila sendiri juga menunduk karena bingung harus menjelaskan apa.


"Iya sayang, tante Abila nya juga senang kok temenin Enzo makan. Yuk duduk sama papa disana!" ujar Raden.


Enzo mengangguk antusias, Raden langsung menggandengnya dan mengajak duduk di tempat yang tersedia. Sedangkan Maura serta yang lainnya juga ikut duduk satu meja dengan Raden dan Enzo. Mereka langsung memesan makanan sesuai perintah Raden, lalu memakan semuanya dengan lahap. Kecuali Tony yang masih belum mengerti apa maksud ucapan Enzo tadi.




"Hes, lu beneran gak tahu apa-apa soal hubungan Raden sama Abila?" tanya Tony.


"Gu-gue sebenarnya tahu sih Ton, tapi gue gak berani kasih tau ke lu. Gue udah janji sama Abila buat gak cerita ke siapapun termasuk lu, maaf ya Ton!" ucap Hesti.


"Gapapa Hes, tolong kali ini lu ceritain aja ke gue dengan jujur! Gue penasaran banget, kenapa si Raden itu kelihatan suka sama Abila? Terus anaknya juga bilang kalau Abila bakal jadi mama barunya," heran Tony.


"Duh, gue gak ngerti banget soal itu Ton. Lu coba aja deh tanya langsung ke Abila atau malah ke pak Raden nya," ucap Hesti.


"Gak Hes, gue mau tau dari lu sekarang!" tegas Tony.


"Lo jangan maksa gini dong Tony! Gue kan udah bilang kalo gue gak bisa, ayolah lu ngertiin perasaan gue!" kesal Hesti.


"Lu minta gue ngertiin perasaan lu? Tapi, lu gak ngerti gimana perasaan gue sekarang ini Hesti. Hati gue sakit banget loh dengar anak laki-laki orang yang bilang kalau Abila bakal jadi mamanya!" sentak Tony.


Hesti sontak terdiam, jujur ia juga merasa kasihan dengan Tony. Pria itu dan Abila sudah menjalin hubungan sangat lama, mereka saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Namun, kini keduanya justru mulai menjauh semenjak kejadian Abila dengan Raden di malam itu.


"Maafin gue ya Ton, iya gue bakal cerita sama lu deh soal Abila dan pak Raden. Tapi, lu janji ya jangan kasih tau Abila kalo gue yang bilang ini ke lu!" ucap Hesti.


"Iya Hes iya, gue gak akan bilang ke Abila kok. Sekarang cepet lu kasih tau gue!" pinta Tony.


"Eee kayaknya lu stop dulu deh mobilnya, gue takut lu kaget dan tiba-tiba ngerem mendadak nanti. Bisa bahaya buat kita juga," ucap Hesti.


"Okay, gue berhenti di depan." Tony menurut dan melipirkan mobilnya ke pinggir.


"Nah udah, sekarang lu kasih tau ke gue semuanya!" ucap Tony pada Hesti.


Hesti menatap ragu ke arah Tony, jujur ia masih bingung apakah ia harus mengatakan semuanya kepada Tony atau tidak. Ia khawatir Abila akan marah jika ia melakukannya, tapi Hesti juga tidak mau membuat Tony kecewa.


"Kenapa Hes? Jangan bilang lu ragu buat cerita sama gue!" sentak Tony.


"Iya Ton, gue masih bingung nih. Gue takut aja Abila marah sama gue," ucap Hesti.


"Cepat ceritain aja semuanya Hesti! Lo gausah takut soal Abila, gue yang bakal lindungin lu!" ucap Tony dengan tegas.


"I-i-iya, jadi sebenarnya Abila pernah cerita kalau dia dan pak Raden itu ketemu di club gitu," ucap Hesti gugup.


"Terus terus??" Tony terlihat sangat penasaran.


"Ya karena kondisi Abila lagi mabuk, dia gak sadar kalau malam itu dia dan pak Raden ngelakuin hal yang gak bener. Pak Raden perkosa Abila disana dan ninggalin uang sekoper yang waktu itu kita balikin ke kantornya," jelas Hesti.


"Apa??" kaget Tony.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...