
Plak!
Sekali lagi, tamparan mendarat di pipi Yuva. Kali ini dari Sita. Wanita yang barusan meratapi kepergian Airin itu kini memupuk amarah di matanya.
"Kau senang ini terjadi, bukan?" geram Sita. "Ini yang kau harapkan, bukan?" Sita meraih kerah blouse yang dikenakan Yuva hingga anaknya tersebut menempel ke tubuhnya.
"Ma ... Yuva bisa buat Mama bahagia tanpa melakukan perjodohan menjijikkan ini. Kita bisa pergi dari sini! Dari keluarga yang hanya menekan Mama tanpa mau menghargai Mama." Yuva tidak peduli pipinya yang berdenyut mengerikan ini. Yuva tahu Mamanya hanya sedang menutup mata akan semua sakit yang bakal mereka alami di masa depan. Dengan atau tanpa ulah kurang ajar Yuva, mereka akan tetap menderita. Dengan atau tanpa pernikahan itu, Yuva akan tetap tertindas hingga mungkin seluruh keluarga biadab itu mati.
"Kau bisa apa, Yuva? Jadi pembantu? Pegawai rendahan? Atau jadi kacung di rumah-rumah orang kaya?" Sita menamparkan fakta yang membuat Yuva down seketika. Yuva hanya lulusan SMA dan kuliah sampai di semester dua. Selama ini Yuva bekerja serabutan, apa saja asal dia bisa menabung untuk persiapannya membawa sang ibu pergi dari rumah ini.
Yuva bahkan pernah bekerja sebagai tukang antar makanan, tukang cuci piring di restoran, bahkan dia sampai sekarang masih bekerja di sebuah hotel milik keluarga Alister. Tidak ada yang memperhatikan Yuva, semua orang tidak tahu Yuva anak orang kaya. Yuva tak pernah menunjukkan siapa dia, lagian, dia juga tidak pernah dianggap sama sekali di keluarganya.
"Itu lebih baik daripada kita diinjak oleh mereka, Ma!" Yuva berkeras. Menuding Armani tepat di depan hidungnya. "Mereka hanya menganggap Mama sebagai budak. Mereka tidak akan berhenti memperalat Mama meski aku dan Lucas sudah menikah, Ma!"
Sita sedikit terkejut mendengar ucapan Yuva. Hal yang selama ini tidak pernah dia pikirkan. Tidak-tidak ... Sita bukan tidak pernah memikirkan, tetapi Sita menyangkal dan menutup mata. Sita hanya selalu menanamkan pada pikirannya bahwa jika dia berhasil mendapatkan Lucas, Armani akan mencintainya kembali. Hidupnya tenang seiring kemajuan perusahaan suaminya.
"Lagian, Mama kenapa sih, sampai bersujud di kaki Nyonya Airin? Mama akan disanjung jika berhasil dengan usaha Mama ini?" lanjut Yuvara. Sebisa mungkin, Yuva menyadarkan Mamanya selagi semua belum terlanjur.
Armani datang menyela. Kemarahan yang sejak tadi di tahannya, kini siap meledak mendengar ucapan Yuva yang dianggapnya sangat kurang ajar.
Tangan besar Armani meraih pergelangan tangan Yuva, menyeret tubuh kecil Yuva ke luar rumah!
"Kurasa kau sudah bosan tinggal dengan tidak tahu diri di rumahku, Yuva!" kata Armani kala melemparkan Yuva ke halaman rumah yang mulai mengembun dan basah. Tak dihiraukan aduhan Yuva saat kulitnya menyentuh paving halaman yang kasar.
"Kalau kau merasa hebat, pergi dan hiduplah dengan cara rendahanmu itu! Sampai aku mati aku tidak akan sudi menerima kedatanganmu di rumah ini! Najis bagi rumah ini dipijak olehmu!" Tatapan Armani yang bengis menusuk Yuva yang berusaha berdiri. Yuva sama sekali tidak takut atau gentar. Justru dia amat sangat senang. Bebas dari belenggu yang menjerat kakinya selama ini.
Manda dan Nando menatap adegan itu dengan senyum kepuasan menghiasi wajah mereka. Seringai kemudian menyusul. Mereka biasa diam selagi ayah mereka berbicara. Biasanya mereka akan bertindak jika Armani tidak berada diantara mereka.
Yuva tidak perlu berkata apa-apa. Dia hanya mengulurkan tangan pada Sita. "Ayo, Ma—"
"Di luar sana, kehidupan kejam dengan segala kesengsaraan menyertai. Jika di rumah ini kau bisa makan dan tidur dengan nyenyak, di luar sana kau hanya akan berselimut dingin malam." Armani menyela dengan nada keras yang menyindir.
Sita nanar menggeram. Hatinya dilema. Seharusnya ini akan mudah. Dia adalah ibu kandung Yuva. Tidak seharusnya ia meninggalkan anaknya sengsara seorang diri. Yuva benar, seharusnya mereka pergi dari rumah yang penuh kesengsaraan ini.
"Oma ...." Cester yang sedari tadi bersama pengasuhnya, berlari mendekati Sita. Tatapan mata itu menyiratkan ketakutan melihat keributan yang terjadi.
"Ma ...." Yuva mencoba meyakinkan Sita untuk bersamanya, apalagi Cester sudah ada bersama mereka.
Sita bergerak. Dia bersiap menyambut tangan Yuva dan mengucapkan selamat tinggal pada keluarga Armani.
"Jika kau pergi, bocah ini akan tetap tinggal di sini. Dia lahir dan hidup dari tetes keringat seorang Armani. Setidaknya sampai dia berguna, kalian tidak boleh menyentuh ujung rambutnya!"
"Pikirkan baik-baik, Sita!"
Sita mengerti benar apa maksud ucapan Armani. Baik dia pergi atau tinggal, semua akhirnya sama saja. Dia tidak akan bisa hidup tenang. Sita menoleh, menatap Armani seakan sedang bernegosiasi.
Armani memasukkan tangannya ke kantong celana, ia mengalihkan tatapannya dari Sita. Dia selalu digdaya atas Sita. Dia membenci wanita itu, tetapi dia juga tidak mau kehilangan Sita.
Sita menarik Chester ke belakang. Ia mengeraskan hati, lalu mendorong Yuva hingga anaknya itu terjerembab kembali.
"Pergilah sendiri, Yuva! Mama tidak sudi ikut denganmu. Ikut sengsara di luar sana. Kamu harus menjalani hidup yang kamu pilih seorang diri! Jangan pernah libatkan Mama ... bagaimanapun hidup yang kamu jalani di luar sana!"
Yuva membeliak tak percaya, mamanya mampu berkata sedemikian menyakitkan. "Mama ...."
"Kau sudah dengar, Yuva! Sekarang pergilah!" Armani menyeret tangan Sita dan Chester bersamaan memasuki rumah, membiarkan Yuva merangkak untuk berdiri dan mengejar ibunya.
"Mama ...! Mama jangan mau dibodohi mereka, Ma! Mama akan makin menderita di rumah ini, Ma! Mama ...!"
Percuma! Sita bahkan tak menoleh sama sekali mendengar ratapan Yuva.
"Kasihan sekali nasib anak buangan ini!" Manda mengejek dengan senyum paling puas yang pernah ia punya. Meski ia kesal karena Sita dan Chester masih tinggal, setidaknya gadis yang dianggap menyebalkan itu sudah enyah dari rumah ini.
Manda menarik tangan Nando agar ikut dengannya meninggalkan Yuva sendirian. Ia tahu, meski cuek, Nando masih punya nurani meski hanya sisa secuil. Jika bukan karena pengaruh Manda, Nando pasti akan membantu Yuva dari siksaannya selama ini.
Yuva masih terpekur dengan perasaannya yang begitu luka, sampai sorot lampu mobil menyilaukan matanya.
Tangan Yuva refleks menutupi matanya, meski masih jelas terlihat siluet tinggi ramping turun dengan tangan melipat kemeja lengan panjang yang dipakainya. Kaki panjang dengan celana bahan berat yang nampak berkilauan itu mendekati Yuva yang tergolek menyedihkan.
"Kau terlihat berbeda jika dalam posisi seperti ini."
Yuva tercekat dengan suara yang seolah melambungkan ingatannya pada kejadian semalam.
Pria itu tersenyum. "Tampaknya, bercinta saat mabuk tidak semenyenangkan saat otak kita sama-sama sadar." Tatapannya jatuh dan mengebor mata Yuva.
"Mari kita coba setelah ini, Nona ... saya sungguh penasaran."
Setelahnya, tubuh Yuva ditarik paksa dan di bawa tanpa perlawanan saking syoknya mendengar perkataan pria di depannya ini.
*
*