
Raden mengangguk menurut, ia melepaskan tangannya dari kepala Abila dan membiarkan gadis itu memiliki waktu sendiri. Ia paham betul seperti apa perasaan Abila saat ini, dan ia tidak mau membuat Abila menjadi semakin sedih hanya karena keegoisan dirinya.
Singkat cerita, mereka telah sampai di rumah Abila. Raden pun menatap sejenak wajah gadis itu dari tempat ia duduk saat ini, Abila masih tampak bersedih dan belum bisa melupakan semua kejadian tadi. Meskipun sudah beberapa kali Raden mencoba untuk menghibur gadis itu.
"Kita udah sampe, kamu langsung mau turun atau tetap disini aja?" tanya Raden.
"Gue turun aja om, lu udah boleh balik kok. Thanks ya udah anterin gue pulang ke rumah," jawab Abila.
"Yakin kamu? Emangnya kamu gak butuh saya buat menghibur kamu?" tanya Raden memastikan.
"Enggak ya om, gue bisa hibur diri gue sendiri. Udah ah gue mau turun dulu, dan lu jangan ikutin gue!" ucap Abila dengan tegas.
Gadis itu langsung keluar dari mobil dan berjalan pergi menuju rumahnya, Raden yang tak bisa meninggalkan Abila begitu saja memilih ikut turun dari mobil lalu mengejar Abila. Pria itu berhasil menyusul Abila, ia tahan dan genggam lengan Abila dari belakang.
"Tunggu dulu Abila, biarkan saya bicara sebentar sama kamu!" pinta Raden.
"Apa lagi sih om? Apa semua ini gak cukup buat om? Om udah bikin hidup aku hancur, sekarang semuanya udah gak ada harapan lagi! Dimulai dari om perkosa aku, lalu hidup aku jadi sehancur ini om!" sentak Abila.
"Abila!" keduanya sama-sama terkejut ketika suara berat memanggil nama wanita itu, Abila sontak menoleh dan menemukan papanya berdiri disana.
Devano dengan tatapan tajamnya, kini melangkah menghampiri Abila serta Raden di depan sana. Ia memang tak sengaja mendengar apa yang tadi diucapkan putrinya, tentu saja ia akan meminta penjelasan dari Abila terkait dengan perkataannya tadi.
"Apa maksud kamu Abila? Kenapa tadi kamu bilang kalau Raden sudah memperkosa kamu? Kamu gak lagi bercanda kan sayang?" tanya Devano.
Abila terdiam sejenak, menatap ke arah Raden dengan detak jantung yang sudah tak karuan. Ia benar-benar bingung saat ini, ia tak tahu harus menjawab apa pada papanya. Tapi, mungkin ini adalah saatnya ia memberitahu semua yang ia alami itu pada sang papa.
"Abila, jawab papa sayang! Kamu jangan diam aja, kamu katakan yang sejujurnya! Kalau benar Raden sudah melakukan itu ke kamu, papa gak akan ampuni dia!" geram Devano.
"Pa, tenang dulu pa!" ucap Abila menahan papanya.
Devano yang sudah sangat emosi, langsung mencoba mendekati Raden dengan tangan terkepal. Akan tetapi, Abila berhasil mencegah dan menahan Devano agar tidak melakukan hal yang buruk pada Raden. Biar bagaimanapun, Abila tentu tak mau jika terjadi keributan disana.
"Lepasin papa, Abila! Papa harus kasih pelajaran ke pria gak tahu diri ini! Dia sudah merenggut kesucian kamu kan Abila?!" sentak Devano.
"Tenang dulu pa! Aku bisa jelasin semuanya, kita bicara baik-baik aja di dalam yuk!" bujuk Abila.
"Gak bisa sayang, ini gak bisa dibicarakan baik-baik. Orang kayak dia harus dikasih pelajaran supaya gak semena-mena!" geram Devano.
"Papa ayolah! Aku mohon papa nurut sama aku, jangan pakai kekerasan ya!" ucap Abila.
"Kamu kenapa malah belain dia? Dia itu udah lecehin kamu sayang, papa gak terima!" ujar Devano.
Raden bergerak maju mendekati Devano, "Om, saya minta maaf. Saya akui kesalahan saya, memang saya yang sudah melecehkan Abila malam itu," ucapnya pelan.
Sontak Devano semakin emosi, nafasnya memburu dengan tangan terkepal.
•
•
Disisi lain, Hesti menghampiri Tony yang tengah duduk seorang diri di sebuah cafe. Kebetulan Hesti tak sengaja melihat Tony disana dengan wajah murung, karena penasaran Hesti pun memilih bergerak maju mendekati pria itu dan menegurnya hingga membuat Tony menoleh.
"Lo sebenarnya kenapa Ton? Gak biasanya kan lu sedih-sedih kayak gini, ada masalah apa sih? Coba cerita dong sama gue!" ucap Hesti.
Tony menunduk, "Gue lagi sedih Hes, gue putus sama Abila. Gue nyesel banget udah bikin Abila marah sama gue, seharusnya gue gak kayak gitu tadi!" ucapnya.
"Maksud lu apa? Emang apa masalahnya sampai lu berdua bisa putus?" tanya Hesti terkejut.
"Ya karena Abila udah gak perawan lagi, dia kan diperkosa sama cowok di club. Gue masih gak nyangka dia ternyata begitu," jawab Tony.
"Jadi, lu mutusin Abila gara-gara itu? Duh Ton, lu kenapa tega banget sih sama Abila?" ujar Hesti.
"Bukan gue yang mutusin dia, tapi justru dia yang mutusin gue. Emang sih dia begitu karena gue duluan yang bikin salah," ucap Tony.
"Lo apain Abila emangnya?" tanya Hesti.
"Gue bilang kalau Abila itu murahan, karena dia mau disentuh-sentuh sama tuh cowok di club. Abis itu Abila langsung marah, terus gue diputusin deh sama dia," jelas Tony.
Hesti tersentak kaget, "Lo gila ya Ton? Jelas lah Abila marah kalau lu bilang dia murahan, setiap cewek juga bakal marah kali!" ujarnya.
"Itu dia Hes, makanya gue nyesel udah bilang gitu ke Abila. Sekarang pasti Abila lagi nangis gara-gara ucapan gue," ucap Tony.
"Lo jahat tau Ton!" ucap Hesti.
"Iya gue tau, tapi mau gimana lagi? Gue emosi lihat Abila sama cowok yang perkosa dia malah mesra-mesraan tadi di depan gue," ucap Tony.
"Maksud lu gimana? Om Raden ada disana juga?" tanya Hesti.
Tony mengangguk, "Gue pergokin mereka tadi lagi pegangan tangan saat Abila nangis, makanya gue emosi lihatnya," jawabnya.
"Lu boleh emosi Ton, tapi gak gitu juga. Gue bisa ngerti betapa sakitnya hati Abila saat ini setelah lu bilang begitu ke dia," ucap Hesti.
"Terus sekarang gue harus gimana Hes? Abila udah terlanjur marah sama gue," tanya Tony.
"Gue gak tahu, lu pikirin aja sendiri. Pasti bakal susah buat Abila maafin lu, soalnya lu udah ngatain dia kayak gitu," jawab Hesti.
"Iya sih, tapi gue gak pengen kayak begini terus. Gue mau minta maaf sama dia Hes," ucap Tony.
"Yaudah, lu samperin aja ke rumahnya terus minta maaf sana! Siapa tahu si Abila mau maafin lu," suruh Hesti.
"Lu temenin gue ya?" pinta Tony.
"Hah? Ih gue gak mau, lu aja sendiri sana yang ke rumah Abila! Kan lu yang punya masalah sama dia, bukan gue," ucap Hesti.
Tony terdiam bingung, sambil menggaruk kepalanya ia berpikir keras harus bagaimana agar bisa mendapat maaf dari Abila. Pasalnya, Tony masih sangat mencintai wanita itu dan ia tidak ingin berpisah darinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...