
Abila diantar pulang oleh Raden secara paksa, gadis itu terus menolak tetapi Raden seakan tuli dan tetap memaksa ingin mengantarnya sampai ke rumah. Abila kini bingung apa yang harus ia katakan nanti pada kedua orangtuanya saat Raden datang ke rumahnya.
Mereka sudah tiba di depan rumah Abila, namun keduanya masih berada di dalam mobil sebab Abila ragu untuk turun bersama Raden. Ia khawatir papa dan mamanya akan banyak bertanya mengenai lelaki itu, pastinya ia akan bingung sekali untuk menjawab pertanyaan kedua orangtuanya.
"Abila, kamu kenapa belum mau turun? Perlu saya bantu juga buat turun?" tanya Raden lembut.
"Gak kok, aku cuma takut nanti ada orang rumah yang lihat kamu terus mereka banyak tanya soal kamu. Mending kamu gausah ikut turun ya? Langsung pulang aja biar aman," jawab Abila.
"Gak mau ah males, aku pengen turun dulu terus ketemu sama orang tua kamu. Sekalian aku bilang kalau aku mau lamar kamu," ucap Raden.
Abila membulatkan matanya karena terkejut, "Kamu udah gak waras ya? Aku tuh udah punya pacar, bisa-bisanya kamu bilang mau lamar aku. Dimana sih otak kamu?" ujarnya kesal.
"Biarin, pacar kamu itu yang cowok tadi kan? Dia masih anak kecil sayang, dia gak ada apa-apanya dibanding aku. Masa kamu lebih pilih dia daripada aku yang mapan ini?" ucap Raden.
"Aku gak permasalahin soal mapan, yang aku mau itu cinta dan kasih sayang," ucap Abila.
"Ohh, emang kamu pikir aku gak cinta dan sayang sama kamu? Aku cinta tau, dan aku yakin Enzo juga begitu sama kamu," ucap Raden.
"Kenapa harus sama aku? Harusnya kamu ajak aja mantan kamu itu balikan, aku yakin Enzo bakal lebih senang kok!" ucap Abila.
"Karena aku maunya sama kamu Abila, lagipula aku yang udah ambil mahkota kamu. Masa kamu mau nikah sama yang lain?" ucap Raden.
"Bisa gak, gausah bahas soal itu lagi? Aku lagi coba buat lupain itu tau, tapi kamu malah bahas lagi!" kesal Abila.
"Iya iya, aku minta maaf sama kamu. Tapi, aku boleh ya mampir ke rumah kamu?" ucap Raden.
"Terserah lah, ngomong sama lu itu bikin gue pusing tau gak?! Ayo buruan kita turun!" sentak Abila.
"Kok tiba-tiba kamu ngomongnya pake logat lu-gue sih? Udah bagus kayak awal-awal tadi, lebih enak didengarnya tau," ucap Raden tersenyum.
"Enggak ah, nanti lu jadi kege'eran lagi. Gue juga bingung kenapa gue kemarin-kemarin paket aku-kamu pas bicara sama lu," ucap Abila.
"Itu karena kamu suka sama saya Abila, udah deh gausah diubah-ubah lagi!" ucap Raden.
Abila menatap tak suka ke arah Raden, "Lo kalo ngomong dijaga ya, yakali gue suka sama lu! Gue masih waras kali pak Raden yang terhormat!" ucapnya sedikit keras.
"Masa sih? Kalau kamu waras tuh harusnya kamu turun sekarang, bukan malah ngajak debat saya di mobil ini," ujar Raden.
"Ya ini gue mau turun kok, tapi lu aja yang halangin gue mulu. Awas aja ya kalau gue turun terus lu ikut turun!" ucap Abila.
"Emang itu yang saya mau, kan tadi saya udah bilang kalau saya pengen ketemu sama orang tua kamu buat lamar kamu," ucap Raden.
"Lo jangan ngada-ngada deh!" kesal Abila.
Raden hanya tersenyum seraya memalingkan wajahnya, sedangkan Abila sudah membuka pintu lalu keluar dari mobil pria itu. Abila pun melangkah cepat menuju rumahnya, meninggalkan Raden yang masih terdiam disana.
•
•
Abila bertemu dengan sang ayah di depan pintu, ia pun menyapanya dan tak lupa mencium tangan Devano dengan lembut. Tentunya Abila juga masih terus memperhatikan mobil Raden yang tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya, ia jadi semakin khawatir saat ini.
"Abila, kamu pulang naik apa? Itu mobil siapa?" tanya Devano penasaran.
"Eee itu taksi online pa, yaudah ya pa aku mau masuk dulu?" bohong Abila.
"Masa sih taksi online? Kok dia gak pergi-pergi dari situ?" Devano terlihat tak percaya.
Tentu Abila tidak benar-benar ingin jika papanya menemui Raden, karena pastinya nanti Raden akan mengatakan yang tidak-tidak pada Devano. Oleh karena itu, Abila berharap agar sang papa tidak mau menuruti ucapannya.
"Okay, papa percaya sama kamu. Kalo gitu kita masuk yuk! Eh kamu udah makan apa belum sayang?" ucap Devano.
"Udah dong pa, aku makan siang bareng Hesti sama Tony juga tadi di luar," jawab Abila.
"Yaudah, yuk masuk!" ajak Devano yang langsung merangkul putrinya.
Abila mengangguk dan mulai melangkah, tapi tiba-tiba langkah mereka terhenti saat Devano melihat seorang pria keluar dari mobil dan berjalan menghampiri mereka. Sontak Devano berbalik, menatap heran ke arah pria itu.
"Kenapa papa, kok berhenti sih?" tanya Abila bingung.
"Itu sayang, supir taksi online kamu tadi turun dari mobil dan jalan ke arah kita. Dia senyum tuh, kayaknya dari penampilannya dia bukan supir taksi deh," ucap Devano.
"Hah??" Abila terkejut dan reflek ikut menoleh ke belakang, matanya terbelalak melihat Raden tengah berjalan menghampiri mereka.
"Permisi om," Raden langsung menyapa Devano sambil tersenyum dan sedikit membungkuk, kemudian ia juga mengulurkan tangan ke arah Devano untuk mencium punggung tangannya.
"Iya iya, maaf kamu ini siapa ya? Apa hubungan kamu sama Abila anak saya?" tanya Devano penasaran.
"Eee saya..."
"Dia ini om Raden, papanya Enzo anak laki-laki yang aku gak sengaja ketemu waktu di restoran tadi pa," sela Abila memotong ucapan Raden.
Devano menganggukkan kepalanya, namun ia masih tak mengerti mengapa Abila tadi mengatakan jika Raden adalah supir taksi online.
"Terus, kenapa tadi kamu bilang pulang sama taksi online?" tanya Devano.
"Itu cuma bercanda pa, aku kan gak nyangka juga kalau om Raden ini bakal turun dan nyamperin aku kesini. Soalnya tadi tuh dia udah pamit mau pulang," jawab Abila gugup.
"Ohh, kenapa gak disuruh mampir dulu sih sayang? Kasihan dong pak Raden ini kalau gak diajak masuk dan dikasih minum, kan dia udah antar kamu pulang tadi," ucap Devano.
"A-aku rasa gak perlu sih pa, toh dia juga harus pulang biar bisa ketemu anaknya," ucap Abila.
"Emang anaknya kemana pak?" tanya Devano pada Raden.
"Eee anak saya ada sama istri saya, jadi ya gak masalah juga sih kalau saya masih disini. Cuma kalau enggak juga gapapa," jawab Raden.
"Oh gitu, yaudah kamu masuk aja dulu yuk kita ngobrol-ngobrol di dalam!" ajak Devano.
"Pa, tapi pa—"
"Kamu itu kenapa sih sayang? Ada tamu yang mau mampir kok gak dibolehin?" heran Devano.
"Bukan gitu pa, aku cuma—"
"Udah ya, nanti aja kamu ngobrolnya di dalam. Yuk pak Raden kita masuk!" potong Devano.
"Siap om, makasih!" ucap Raden tersenyum.
Abila semakin dibuat kikuk saat Raden melangkah bersama papanya ke dalam rumah, ia tak ingin papanya tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Raden beberapa waktu lalu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...